“bukankah kau ku suruh
datang setelah kelas malam selesai?”
“ne, mianhae membuatmu
menunggu”
Keakraban yang masih melekat di antara mereka. Saat laki-laki
menjadi seorang pria dan seorang perempuan menjadi seorang wanita. Mereka di
besarkan dilingkungan yang sama. Namun, ada sesuatu yang masih membedakan
mereka. Keluarga.
“dimana wanita itu?”
“waeyo? Apakah kau cemburu?”
Wanita tersebut menggeleng.
“apakah kau benar-benar akan
melakukannya?”
“ne”
Wanita itu menghela nafas. Secangkir cappucino yang sedari tadi
dipandangnya ia teguk dengan sangat menikmati rasa cappucino yang masih tetap
sama.
Malam setelah upacara kelulusan pria itu mendatangi rumah wanita tersebut.
Seakan wanita itu di culik oleh segerombol penjahat di depan orang tuanya
secara tiba-tiba. Remasan tangan pria tersebut tak bisa ia lepaskan. Sangat
kencang. Di sebuah meja, dengan dua cangkir cappucino, keputusan tersebut ia
buat. Wanita yang mendengarnya pun terkejut. Remasan jari-jari tangan pria
tersebut tak membuat wanita itu menghentikan keinginan pria itu.
“pergilah, jika itu terbaik
untukmu”
Dengan kecupan di sebuah kedai kopi, pria itu meninggalkan wanita
tersebut. Dua cangkir cappucino yang mereka pesan tadi masih utuh. Hingga rasa
hangat minuman tersebut berubah menjadi dingin. Wanita tersebut masih duduk di
tempatnya. Kecupan itu masih terasa.
“itu ciuman selamat tinggal”
sebuah pesan yang masuk di ponselnya.
“kau tidak sopan! Mencium teman
sendiri” setelah membaca balasan pesan tersebut, pria itu melangkahkan
kakinya pergi.
㉷
Angin pagi kota Yokohama yang menyelinap masuk mengangkatnya
bangun dari tidur. Terpaan sinar matahari masuk melalui tirai jendela kamar
membuat pria 26 tahun itu beranjak dari tempat tidurnya, menanggalkan selimut
yang menutupi tubuhnya semalam. Masalah semalam masih berbekas di wajah
tersebut. Pagi yang indah selalu menyambutnya bersama poster poster abstrak
yang menempel di dinding kamar yang luasnya tak melebihi lapangan baseball.
Namun, setidaknya pria tersebut kini sudah sukses merintis kariernya
sebagai seorang barista. Anak dari mantan atlet baseball itu sering mendapat
pertentangan dari ayahnya yang selalu menginginkan dirinya menjadi seperti
ayahnya yang kini sudah menjadi pelatih baseball. Kalau pun tak menjadi seperti
ayahnya, mungkin bisa menjadi seperti noonanya yang kini lagi di atas reputasinya
sebagai artis dan model.
Barista. Sebuah profesi yang sangat tak disukai oleh ayahnya.
Pertentangan itu selalu menghiasi suasana rumah yang hanya di huni oleh 3 orang
tersebut saat pria itu meminta bahwa dirinya akan mendirikan sebuah kedai kopi.
Pria yang kelahiran Incheon, Korea Selatan itu sudah sejak 7 tahun yang lalu
melangkahkan kakinya hengkang dari bumi Korea Selatan. Lee Jung Woo. Pria yang
sangat teropsesi dengan biji kopi.
“hey! Tuan barista” panggil
seseorang saat dirinya baru saja selesai mandi.
“hmm”
Selama 7 tahun, semenjak kakinya menginjak tanah Jepang, Jung Woo
tak pernah bertandang ke kota kelahirannya, Incheon. Ia selalu fokus dengan apa
yang ia kerjakan di Yokohama. Dengan bubuk kopi yang selalu menemaninya tanpa
batas. Ia terus bergelut didalamnya dan selalu membuat menu-menu baru. Kedai
kopi itu berada di pusat kota Yokohama. Tak ada yang tidak kenal dengan kedai
kopi tersebut. Teman yang ditemuinya 7 tahun lalu pun selalu mengingatkannya
agar ia pulang ke Korea, meskipun hanya menjenguk.
“mengapa kau membawa itu
lagi?” tanya Jung Woo seraya memainkan ponsel yang tak ada apa-apanya.
“bukan apa-apa, hanya saja
mungkin kau berubah fikiran akan menjenguk keluargamu”
Tak ucapan yang membalas perkataan tersebut. Ia terus memainkan
ponsel yang ia taruh di atas meja. Setelah lama diam, seorang pegawai memanggil
Jung Woo. Ia pun mengangkat badannya berdiri.
“ahh, Takeuchi-kun, jika kau
ingin berlibur kesana, berangkat saja sendiri. Untukmu ku beri cuti
sebanyak-banyaknya” dalih Jung Woo.
Meskipun ia tak pernah mau jika di suruh menjenguk keluarganya di
Incheon. Meskipun ia selalu menaruh kebencian terhadap ayah juga noonanya,
namun setiap seminggu sekali ada seorang wanita yang memberinya kabar tentang
keadaan keluarganya di Incheon. Teman masa kecilnya yang kini juga sukses
dengan kariernya di bidang designer. Meskipun jarak rumahnya dengan jarak rumah
Jung Woo terbilang lumayan jauh, tapi ia menyempatkan diri untuk menengok ke
rumah Jung Woo.
“ahh, Min Hye Young?”
ucap Takeuchi saat mendapati Jung Woo kembali duduk.
“hmm”
“apakah kalian berdua ada
hubungan?”
“ne”
“lalu bagaimana dengan
Asami-san?”
Jung Woo tersenyum.
“mungkinkah wanita itu
menyukaimu?”
Jung Woo tegelitik mendengar kata-kata Takeuchi. Hye Young hanyalah
sebatas teman. Setelah malam kelulusan saat itu, pesan yang masuk di ponselnya
hanya kabar tentang ayah dan kakaknya saja. Sekarang pun Jung Woo tidak
mengetahui keberadaan Hye Young. Mungkin Hye Young masih di Incheon atau sudah
pindah ke Seoul, Jung Woo tidak pernah mengetahui. Hanya mendapat kabar tentang
keadaan keluarganya pun sudah cukup. Namun, hubungannya dengan Asami, wanita
yang ditemuinya 6 tahun lalu kini sedang tidak baik.
Seminggu yang lalu, Jung Woo bertandang sebentar ke rumah keluarga
Asami. Ketika ia akan mengucapkan salam, ia mendengar bahwa ternyata tanpa
sepengetahuan Jung Woo, orang tua Asami tak menyetujui hubungannya dengan
Asami. Telinga yang terus mendengar dari balik pintu rumah Asami. Enggan untuk
berpaling meninggalkan percakapan tersebut. Namun, tak lama sesuatu membuatnya
pergi meninggalkan rumah Asami.
Dan hari ini, di sudut ruang kerjanya, Jung Woo mencoba
menghubungi Asami. Namun, wanita yang bernama lengkap Komiyama Asami itu pun
tak kunjung menjawab telefon Jung Woo. Juga wanita yang kini sebenarnya tengah
bertunangan dengan pria lain sangat dikhawatirkan oleh Jung Woo.
Reuni SMA. Malam ini udara dingin kota Seoul menyentuh tubuh itu.
Senyuman yang selalu hadir tak membuat teman SMAnya pangling. Min Hye Young.
Tak ada yang tak mengenal wanita tersebut. Wanita yang dikagumi oleh banyak
pria di SMA saat itu hari ini tampil dengan busana yang apik. Make up alami tak
pernah lepas dari wajahnya yang manis.
“apakah Jung Woo bersamamu?”
sebuah pertanyaan yang menghampiri Hye Young sesaat setelah ia meneguk
secangkir bir.
“mengapa kalian tanyakan itu
padaku?”
“wae? Apakah kalian sudah putus?”
Hye Young tertawa. Tak menjawab pertanyaan teman-temannya yang
semakin konyol. Ia langsung mengalihkan pembicaraan. Hal seperi itu terlalu
membosankan jika dijadikan topik pembicaraan. Di pesta reuni tersebut tak
sedikit yang masih fokus dengan pekerjaan, namun tak sedikit pula yang fokus
dengan kehidupan cinta mereka.
Pesta reuni itu berakhir saat jam dua belas malam. Di dalam mobil
yang belum berjalan, Hye Young teringat akan kata-kata yang ucapkan temannya
tadi. Putus. Dirinya dan Jung Woo hanya teman. Meskipun kadang ada perasaan
aneh saat Jung Woo menjabat kedua tangan yang sedang memegang setir mobil
tersebut.
“apakah kau cemburu karena
aku berpacaran dengannya?” sebuah pertanyaan yang mendadak mengahampiri
pikiran Hye Young.
Foto itu masih berada di kotak cermin mobil. Foto saat Hye Young
pertama kali merasakan perasaan aneh pada dirinya terhadap Jung Woo. Senyuman
itu polos.
“geurae, joahae. Tapi,
bukankah kita berteman dari lahir?” sebuah tulisan yang berada di balik
foto kecil tersebut.
Puluhan wanita yang berjalan kesana kemari sama sekali tak menarik
perhatian pria yang kini sedang duduk mengamati tingkah laku wanita yang juga
seorang pegawai baru yang bekerja sebulan yang lalu. Dengan senyumannya Takeuchi
tak pernah absen menyapa wanita tersebut, namun hanya ojigi yang selalu ia terima. Dibelakangnya datang Jung Woo yang
menertawai Takeuchi saat dirinya menyapa wanita tersebut.
“Nana-san? Yamamoto Nana. Aku pergi dulu” pamit Jung
Woo kemudian.
Dengan wajah kesal, Takeuchi menyilahkan.
“Yamamoto nana?” bisik Takeuchi.
Di sela langkahnya, bagai mobil yang di rem secara mendadak. Jung
Woo tiba-tiba berhenti. Matanya memandang dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Saat wajah itu terlihat hatinya berbisik. Siapa pria yang bersama wanita
pujaannya kini? Siapa pria yang menggandeng tangan wanita yang selalu ia
khawatirkan? Siapa?
Takeuchi yang tadi sedang sibuk dengan komputer dan pegawai baru
pun tak sengaja memandang hal tersebut. Terkejut. Di ujung pintu masuk, Jung
Woo dan Asami serta seorang pria asing saling berpandangan. Bukankah itu
Komiyama Asami? Dengan siapa dirinya sekarang? Namun pertanyaan itu tak ada
yang menjawab. Dengan langkahnya yang berat, ia melihat Jung Woo berjalan
mengikuti kemana dua manusia itu pergi.
Kenyataan yang sangat pahit kembali ia alami. Dengan
berulang-ulang minta maaf Jung Woo tak menjawab ucapan Asami. Ia tak percaya
ini akan terjadi. Kejadian itu seminggu yang lalu. Telepon yang tak terangkat
itu, dua hari lalu. Jung Woo serasa ingin menjatuhkan badannya ke lantai bumi. Wanita
yang selalu menyemangati Jung Woo dengan karir baristanya kini telah hilang.
Dan tak lama, wanita yang umurnya hanya terpaut satu tahun lebih
muda dari Jung Woo itu pun melangkah pergi meninggalkan Jung Woo. Pria yang
menemani Asami pun hanya tersenyum licik memandang Jung Woo. Sampai suatu
malam, ia kembali ke kedai kopinya, dengan bayangan bagaimana wanita Jepang
yang selalu menjadi penyemangatnya itu berpamitan pergi. Takeuchi yang sedari
tadi sengaja membiarkan Jung Woo dengan malam yang akan menjemput raganya,
dengan polos tiba-tiba ia menyambar dengan ucapan-ucapan yang aneh.
Jung Woo menghela nafas pendek. Kedatangan Takeuchi dengan ucapan
anehnya, tak ia gubris. Bahkah ponsel yang dari tadi berdering pun tak ia pedulikan.
“Hye Young?” cletuk
Takeuchi.
Jung Woo diam di tempat.
“apakah perlu aku angkat?”
Jung Woo tetap diam.
Dan di lain tempat, Hye Young yang sangat khawatir. Mencoba
menghubungi Jung Woo terus menerus meskipun Jung Woo tak mengangkatnya. Dan Jung
Woo yang sangat terganggu dengan suara ponsel itu pun langsung mematikan ponsel
tersebut. Di balik telepon, Hye Young terkejut. Ini bukan sekedar kabar, ayah
Jung Woo sedang kritis di rumah sakit. Kakaknya yang ternyata diam-diam
menginginkan kehadiran Jung Woo, mencoba menghubungi Jung Woo melalui akun SNSnya,
namun akun SNS tersebut sedang tidak aktif.
“bukankah itu Hye Young?”
ucap Takeuchi.
“bisa kau tinggalkan aku
sendiri?” balas Jung Woo.
Takeuchi hanya mengangkat bahunya dan meninggalkan ruangan yang
penuh dengan bubuk kopi.
Setelah beberapa hari ia terdiam dengan keadaan yang ia alami,
hari ini Jung Woo berangkat ke suatu kota yang tempatnya tak jauh dari Yokohama.
Di bandara Incheon, dengan meninggalkan segala pekerjaan di Korea, Hye Young
melebarkan sayapnya terbang ke Yokohama. Mencoba menghubungi Jung Woo yang tak
kunjung ada jawaban. Ia tak peduli meskipun Mina menyayangkan Hye Young harus meninggalkan
pekerjaannya demi menjemput Jung Woo.
Entah apa yang fikiran Hye Young saat memutuskan untuk berangkat ke Yokohama.
Dan saat sampai di bandara Narita, setelah sekitar setengah jam ia menaiki
kereta, akhirnya ia sampai di Yokohama. Ia mencoba mendatangi setiap kedai kopi
yang ia temui. Di pertengahan langkahnya, Hye Young berhenti.
“apakah kau cemburu karena
aku berpacaran dengannya?” pertanyaan yang kembali singgah di pikirannya.
“inilah yang dilakukan
seorang teman” gumam Hye Young.
“apakah kau masih
menginginkannya?”
“anieyo, hanya saja aku
ingin dia kembali”
“bukankah sudah dua tahun?”
“arasseo”
Terdengar percakapan di ujung kanan sebuah restoran. Wanita yang
dari pertama sampai di Jepang itu tak pernah merubah tujuan dirinya mengapa ia
di Jepang dan untuk apa ia jauh-jauh ke Yokohama. Ya, sekalipun dirinya harus
menghitung matahari pun ia tak akan merubuah tujuannya. Meskipun dua tahun ini
dirinya belum menemukan titik terang untuk tujuan tersebut.
Pria yang di depannya pun ingin wanita itu kembali ke Seoul.
Bukankah pria yang ia cari tak pernah memandangnya? Bukankah pria yang selama
ini ia inginkan tak menginginkannya kembali? Bukankah keadaan sekarang sudah
berubah?. Mencegah. Pria tersebut tak sanggup mencegah kemauan wanita yang kini
sedang menikmati secangkir cappucino. Wanita itu terlalu indah baginya jika ia
meninggalkannya sendiri di Yokohama jika ia mencegah segala yang wanita itu
inginkan.
Sore ini, genap sudah tiga hari ia di Yokohama, ia tak menemui
kedai kopi dengan pemilik bernama Lee Jung Woo.
“mungkinkah namanya berubah?”
gumamnya sambil berjalan.
Hingga pada suatu waktu, seseorang menghampirinya yang sedang
duduk di sebuah warung kaki lima.
“apakah kau orang korea?”
Hye Young mengangguk pasti.
“di ujung sana ada kedai
kopi, racikannya sangat pas, pemiliknya juga orang korea” dalih pria paruh
baya.
Hye Young lantas berdiri. Ia langsung mendatangi kedai kopi yang
ditunjukkan oleh pria tersebut. Namun, pemilik itu bukan orang yang ia cari. Pemilik
kedai kopi itu wanita, bukan pria. Sesaat setelah Hye Young akan meninggalkan
tempat tersebut, ia melihat ada dua kedai kopi. Hye Young mencoba berjalan ke
kedai kopi yang jaraknya hanya beberapa langkah dari kedai sebelumnya.
Sudah tiga hari pula Jung Woo tak kembali ke Yokohama. Di ruangan
yang gelap, ia menyalakan ponselnya yang lama ia matikan. Dalam sekejap,
beribu-ribu pesan masuk. Baik di nomornya maupun di jejaring sosial. Isinya
sama “pulanglah ke korea”. Jung Woo
yang tak peduli dengan pesan itu pun hendak mematikan ponselnya kembali. Namun,
tiba-tiba sebuah nomor telepon baru dengan kode Korea masuk di ponselnya. Setelah
mengerutkan dahi, ia menekan tombol warna hijau di ponsel.
“Jung Woo-aa! Appa! Appa! Appa
masuk rumah sakit”
Tanpa menjawab. Jung Woo kemudian langsung mematikan telfonnya.
Telepon seperti itu sudah pernah ia terima, tapi dalam
kenyataannya ayahnya sehat dan baik-baik saja di Korea.
Disusul Hye Young yang kini telah menemukan kedai kopi Jung Woo. Hye
Young akhirnya bertemu dengan tujuannya tiga hari terakhir. Nama kedai itu
sedikit ada keanehan. “oda” yang
dalam bahasa korea artinya “datang”. Nama
apa yang Jung Woo pakai untuk kedai kopi ini. Ia sedikit tersenyum licik saat
memasuki kedai tersebut. Dan kini ia sedang berbincang-bincang dengan Takeuchi sambil
menunggu kedatangan Jung Woo.
“Min Hye Young?” sapa
seseorang. Wajahnya sedikit asing. Penampilannya lumayan nyentrik ditambah dengan make
up alami yang turut menghiasi wajahnya.
“apa kau tak mengenaliku?” lanjutnya.
Hye Young
menggeleng ringan.
“aigoo..”
“ohh, miwako-san, kau sudah datang”
sambar Takeuchi sambil membawakan minuman untuk Hye Young.
“nuguseyo?” tanya Hye Young.
Tak menyawab
pertanyaan Takeuchi, ia mengatakan namanya. Yoon Soo Jin. Sebuah nama yang di
dengar Hye Young saat ia sedang meneguk minumannya. Ia pun terkejut dan meneguk
minuman tersebut dengan paksa.
Setelah menutu
telfon tersebut, Jung Woo kemudian berjalan menghampiri mobilnya yang terpakir
begitu saja. Ia berhenti ketika akan membuka pintu mobil. Langit yang bersih
tanpa awan sore itu membuat Jung Woo menghela nafas. Sejenak ada sesuatu yang
lewat di langit. Ia tersenyum. Waktu berlalu. Ia mencoba meninggalkan tempat
itu, namun sesuatu seakan menahannya. Ia memandang ponselnya lama. Apakah benar
ayahnya kini memang di rumah sakit? Benarkah? Apakah ayahnya menginginkannya
karena kini ia berada di rumah sakit? Bahkan saat kepergiannya pun ayahnya tak
mencegah sedikitpun. Benarkah sekarang dia menginginkannya hadir disana?
Sejenak ia menghela nafasnya lagi dan kemudian meninggalkan tempat itu dengan
laju mobilnya yang sangat kencang.
Senyuman itu
terbentuk saat ia mendengar kabar tersebut. Tuan Lee sudah siuman, kabar
tersebut juga sampi telinga Hye Young yang kini sedang mendengarkan cerita Soo
Jin. Wanita yang dulu pernah dekat dengan Jung Woo. Wanita yang sempat
menentang bahwa Jung Woo akan berangkat ke Jepang 7 tahun yang lalu. Kenapa ia
berada di disini? Sebuah pertanyaan yang terlontar ketika Soo Jin memulai
pembicaraan dengan Hye Young. Jung Woo tak mengetahui bahwa wanita tersebut
sejak dua tahun yang lalu sudah berada di Yokohama. Apakah Jung Woo mengenalmu?
Pertanyaan yang kemudian keluar dari mulut Hye Young. Soo Jin menggeleng ringan
dan tersenyum.
“kenapa kau menggeleng? Bukankah kalian
saling kenal?” sambar Takeuchi.
Soo Jin
tersenyum. Jung Woo mengenalnya bukan sebagai Yoon Soo Jin, melainkan Miwako
Sakurada. Hye Young terkejut seketika. Soo Jin menyembunyikan identitas
aslinya? Bagaimana bisa? Fikir Hye Young begitu saja. Soo Jin kembali tersenyum
dan meneguk segelas moccacino.
Ia ingin Jung
Woo kembali seperti yang dulu. Dimana dia tetap bisa membuat ayahnya tersenyum
meskipun senyuman ayahnya itu palsu. Entah apa alasannya, Hye Young tidak tahu.
Saat ia mendengar bahwa Jung Woo belum kembali ke Korea membuatnya ingin
menyusul Jung Woo ke Jepang.
“apakah kau masih mencintainya?” pertanyaan yang mengejutkan bagi Soo Jin.
“apakah kau masih mencintainya?” pertanyaan yang mengejutkan bagi Soo Jin.
Sejenak Soo
Jin terdiam. Setelah itu ia tersenyum. Tapi Soo Jin mengerti bahwa itu tak bisa
lagi sekarang. Mendengar ucapan Soo Jin, Hye Young memasang raut wajah
penasaran. Soo Jin mengerti bahwa Jung Woo sudah memiliki wanita lain disini.
Karena wanita itu pula Jung Woo kini entah berada dimana.
“tapi wanita itu kini sudah bertunangan dengan
orang lain” sambar Takeuchi yang tengah meneguk secangkir kopi yang sedari
tadi masih mengepulkan asap. Pernyataan tersebut membuat Soo Jin terkejut.
Begitu juga Hye Young.
“entah apa yang menghampirinya. Jung Woo
pergi beberapa hari setelah kedatangan wanita tersebut” lanjut Takeuchi.
Terdengar
suara pintu terbuka. Pertanyaan Hye Young belum sempat terjawab. Jung Woo
kembali.
“apakah Asami benar-benar-” ucapan Jung
Woo terhenti seketika saat ia melihat wanita yang berdiri di samping kanan
Miwako. Kenapa bisa Hye Young sampai ada disini? Bukankah di Korea pekerjaannya
tak pernah habis? Bagaimana bisa? Apakah benar-benar ayahnya dalam keadaan
kritis?. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya. Suasana ruangan itu pun
mendadak hening. Hingga sebuah bunyi ponsel yang memecah keheningan tersebut.
Hye Young
mengangkat telefon tersebut. Di samping kabar lega bahwa Tuan Lee sadar, sebuah
kabar mengejutkan dari keluarganya sendiri, orang tua Hye Young yang kecelakaan
beberapa hari sebelum ia berangkat ke Yokohama, ibunya yang meninggal pagi
tadi, malam ini disusul ayahnya yang mendadak terkena serangan jantung sesaat
setelah ia sadar. Ia menutup telefon tersebut dengan tangan yang bergetar hebat.
Sejenak ia
teringat, beberapa menit yang lalu, ia mendapat pesan yang mengabarkan bahwa Tuan
Lee telah siuman. Membacanya Hye Young menghela nafas lega, namun sesaat
sesuatu juga membuatnya terkejut. Terserah akan membawa Jung Woo kembali ke
Korea atau tidak, terserah Hye Young, ucapan terakhir dalam pesan tersebut.
“wae?!” bisik Hye Young keras saat
melihat kedatangan Jung Woo di ruangan tersebut. Dimatanya, kakak Jung Woo
adalah wanita yang baik. Wanita yang sehari-harinya selalu berada di depan
kamera itu membuat Hye Young terkejut. Tidak mungkin ia berbuat seperti ini.
Sesaat setelah Hye Young berangkat ke Yokohama, Mina meminta nomor telefon Jung
Woo. Mengapa ia menghubungi Jung Woo hanya saat ayahnya dalam kedaan kritis?
Mengapa dirinya yang harus mendengar kabar tersebut. Dengan langkah sigap Jung
Woo menghampiri Hye Young. Meremas pundak Hye Young. Raut wajah Hye Young yang
bertanya-bertanya membuat Jung Woo bertanya hingga bersungut-sungut. Jung Woo
tak menginginkan kabar tak mengenakkan tentang ayahnya. Ruangan yang tadinya
hening kini berubah menjadi lautan amarah Jung Woo. Miwako/Soo Jin dan takeuchi
yang tak mengerti pun hanya melihatnya dengan polos.
“wae?!” teriak Jung Woo keras.
Hye Young
tetap saja diam.
“mengapa kau tak menjawab?!” lanjut Jung
Woo.
“orang tuaku meninggal dunia” jawab Hye
Young lemas. Tangan yang meremas pundaknya pun turun dengan perasaan terkejut
pula. Hye Young memandang Jung Woo. Mengapa kabar yang seperti ini harus ia
terima? Sebuah pertanyaan yang hadir dalam raut wajah Hye Young. Jung Woo
memeluk tubuh Hye Young yang terlihat lemas.
“apakah appa benar-benar masuk rumah sakit?”
tanya Jung Woo.
Hye Young
menggeleng. Ia ke Yokohama hanya kunjungan ke suatu tempat saja, sebuah alasan
yang keluar dari mulut Hye Young dalam pelukan Jung Woo dan membuat Jung Woo
tersenyum licik.
“apakah kau akan pulang hari ini juga?”
tanya Jung Woo setelah melepaskan pelukannya.
“anieyo, aku masih harus menyelesaikan
kunjunganku, gada” pamit Hye Young yang sudah tak kuat menahan air mata yang
memaksa keluar.
“Miwako-san, hajimemashita” lanjutnya dan
pergi melangkah meninggalkan ruangan tersebut.
“Hye Young-aa” panggil Jung Woo
menghentikan langkah Hye Young.
“appa, noona bogoshipeoyo” ucapan yang
keluar dari mulut Jung Woo saat Hye Young akan membalikkan badan.
“akan ku sampaikan saat aku sampai di Korea
nanti,”
“arasseo”
㉷
Pukul sebelas pagi. Dua hari setelah
kabar tersebut menyerbu dirinya, Hye Young hari ini siap meninggalkan kota Yokohama.
Kabar itu tak tersampaikan, kabar mengenai ayah Jung Woo benar-benar masuk
rumah sakit. Kabar yang dibawanya dari Korea tak menghampiri telinga Jung Woo.
Tapi, pesan malam itu. Apakah ia harus menyampaikannya pada kakak dan ayah Jung
Woo? Jika ia menyampaikannya, reaksi apa yang akan ia terima? Hye Young
bertanya-tanya sendiri sambil menunggu pesawat yang akan membawanya ke Korea
datang.
Apakah Jung Woo benar-benar sudah tak
diinginkan lagi? Mengapa hanya kabar buruk yang harus ia terima? Dimana Lee
ahjussi dan Mina eonni? Mengapa mereka harus seperti ini?.
“waeyo?”
cletuk seseorang yang menghampiri Hye Young.
Yoon Soo Jin. Wanita itu. Ia duduk
tepat disamping Hye Young.
“aku
akan membawanya kembali ke korea, apakah aku bisa menggantikanmu menjadi surat
kabar untuknya?” tanya Soo Jin langsung sambil menyodorkan sebuah kertas
dengan tulisan alamat E-Mail.
Hye Young tersenyum. Ia menghela nafas.
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Hye Young hingga pesawat yang akan ia
tumpangi datang. Hye Young berdiri tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Suara
itu menghentikan langkah Hye Young.
“ku
harap kau bisa menjaganya. Kabarkan padaku jika dia sedang dalam bahaya”
ucap Hye Young sambil menunjukkan kertas yang ia pegang.
Soo Jin mengangguk pasti. Setidaknya
hal tersebut melegakan bagi Hye Young dan Soo Jin yang akrab disapa Miwako. Hye
Young bisa mengabarkan sesuatu yang baik saja tanpa kabar yang buruk, setelah
ini tak akan ada lagi suaranya yang terbata-bata yang akan didengar oleh Jung
Woo. Tak akan ada lagi suara Jung Woo yang akan menghampiri telinganya.
“akankah
kau menepati janjimu? Yoon Soo Jin.” bisik Hye Young saat melangkahkah
kakinya masuk ke dalam pesawat.
Di bagian dunia lainnya, Tuan Lee yang
ternyata masih terbaring tak berdaya di rumah sakit, berharap ada Jung Woo yang
menghampirinya malam ini. Pria paruh baya yang 5 tahun lalu sempat mencari anak
prianya di Jepang, dan tidak ada hasil hingga membuatnya kembali ke Korea
dengan tangan kosong pun kini terserang struk. Entah dari mana asal penyakit
tersebut. Sudah dua hari pasca kesadarannya ia tak melihat Jung Min yang biasa
disapa Mina menghampirinya di rumah sakit. Kemana Mina yang selalu
disampingnya? Kemana Mina yang selalu menghiburnya saat ia rindu terhadap Jung
Woo?.
“eoddiseo?”
bisiknya dalam hati.
“apakah
ayah sudah bisa berjalan?” sebuah kata terdengar di telinganya.
“Mina-aa”
ucapnya seketika.
Senyuman itu menghiasi raut wajah
wanita yang baru saja berulang tahun ke 28 tahun tersebut. Begitu juga ayahnya
membalas senyuman Mina.
Lima hari kemudian, hari ini genap 8
tahun sudah ia meninggalkan Korea. Jung Woo pernah bercita-cita menjadi pemain
baseball, namun seiring umurnya bertambah, entah angin apa yang membuatnya
beralih mengambil profesi sebagai barista. Di ujung ruangannya, ia sedang
memainkan bubuk kopi. Beberapa menit kemudian ia berhenti, Takeuchi yang selalu
mengamati kegiatan itu pun kini entah sedang berada dimana. Apakah karena bubuk
ini kau tak menyukaiku? Apakah jika aku memegang bersama pemukulnya kau akan
menyayangku dan memelukku? Fikir Jung Woo yang tanpa sadar meneteskan air mata.
Hye Young melihat Mina di bandara
tersebut. Sesaat ia mengantarkan sepupunya yang akan pergi ke pulau Jaeju. Hye
Young hanya mengamatinya. Menunggu hingga fans-fans itu bubar mengerubungi
Mina.
“artis
Mina akan pergi kemana?” tanya Hye Young saat seorang fans melaluinya.
“apakah
kau tidak melihat berita? Di semua channel tv ditayangkan”
“anieyo”
“konbanwa
tuan barista” sapa Miwako yang menyerobot masuk di ruangan tersebut.
“ada
apa?” balas Jung Woo.
Ia menaruh sebuah makanan di atas meja
jauh di tengah-tengah ruangan tersebut. Tanpa dipersilahkan, Miwako duduk
seenaknya. Jung Woo menghampirinya, senyuman itu hadir saat ia melihat makanan
tersebut.
“kemana
Takeuchi?” tanya Jung Woo yang baru menyadari bahwa Takeuchi tak ada di
ruangan tersebut.
“mollayo”
jawab Miwako.
Dalam sekejap ketika Jung Woo
mendengar ucapan Miwako pun terkejut. Dimatanya, Miwako adalah orang asli
Yokohama yang selalu enggan belajar bahasa asing selain bahasa inggris. Bahkan
aksen bicara bahasa koreanya pun sangat kental. Seperti orang yang sudah lama
hidup korea.
“aku
diajari Hye Young-san” ucap Miwako.
Jung Woo mengangguk. Duduk menikmati
makanan yang dibawa Miwako. Miwako tersenyum hangat.
“Hye
Young-san, apakah dia temanmu di korea?”
Jung Woo mengangguk.
“dia
teman yang separuh hidupnya bersamaku. Sebegitu dekatkah kau dengannya?”
Miwako mengangguk pasti.
“Hye
Young yang ku kenal bukanlah wanita yang seperti itu”
“maksudmu?”
“dia
bukanlah wanita yang suka menggurui orang. Benarkah kau diajari olehnya?”
Pertanyaan Jung Woo seakan mencekik
lehernya begitu saja. Apakah Jung Woo mengetahui dirinya yang sebenarnya.
Miwako tersenyum polos. Takut, perasaan yang ada di balik senyuman Miwako.
“kau
tahu, sejak pertama melihatmu, wajahmu mirip Yoon Soo Jin, teman dekatku waktu
dulu” cletuk Jung Woo lalu meninggalkan Miwako sendirian di ruang tersebut.
New York? Syutting layar lebar?
Bukankah tuan Lee baru saja sadar. Beberapa pertanyaan hadir dalam benak Hye
Young. Ia masih tak percaya akan pernyataan fans tersebut. Dengan cepat ia
bertanya kembali. Jawaban yang ia dapat sama saja. Dengan cepat ia mendatangi
rumah tuan Lee.
“mwo?!”
teriaknya saat sampai di rumah ayah Jung Woo.
Suara radio itu menemani Jung Woo yang
sedang asyik berbincang-bincang dengan Miwako dan Takeuchi yang baru datang
beberapa menit lalu. Tiga anak manusia itu semakin gila membicarakan sesuatu
yang berada di luar akal mereka. Menerka-nerka kejadian di hari masa depan
tentang mereka bertiga. Miwako yang masih dengan perasaan takutnya, ia mencoba
mengikuti apa yang sedang Jung Woo dan Takeuchi lakukan. Namun, perbincangan
itu berhenti ketika radio itu memberitakan tentang sebuah kecelakaan. “telah terjadi kecelakaan, pesawat Korea tipe
X dengan tujuan New York. 12 luka ringan dan 10 luka berat, sisanya meninggal
dunia di tempat. Belum dipastikan apa yang menyebabkan kecelakaan tersebut”
berita yang keluar dari sound radionya. Jung Woo mengabaikan. Jung Woo yang
sangat benci dengan berita kecelakaan pun meninggalkan ruangan tersebut. Karena
dua temannya tak ingin saluran berita itu dialihkan.
Hye Young langsung menghentikan
langkahnya saat sampai di Front Office rumah sakit dimana tempat ayah Jung Woo
dirawat. “telah terjadi kecelakaan,
pesawat Korea tipe X dengan tujuan New York. 12 luka ringan dan 10 luka berat,
sisanya meninggal dunia di tempat. Belum dipastikan apa yang menyebabkan
kecelakaan tersebut” berita di TV yang muncul begitu saja.
“New
York?” bisiknya.
“apakah
itu pesawat yang di tumpangi oleh Mina eonni?” lanjutnya.
Ia semakin serius mendengarkan berita
tersebut bersama pengunjung dan para suster rumah sakit tersebut. Mata itu
membelalak seolah akan keluar saat melihat korban kecelakaan. Namun, ia sedikit
lega karena disana tak terlihat Mina. Hye Young melanjutkan langkahnya menuju
kamar rawat ayah Jung Woo.
Miwako seperti orang buronan, mendegar
berita tersebut ia langsung meninggalkan ruangan tersebut. Jung Woo dan
Takeuchi tak mengerti mengapa wanita tersebut seperti itu.
“ayah,
ayah tak boleh meninggalkanku” bisiknya dalam langkahnya yang cepat. “termasuk presdir Yoon yang juga akan
ada perjalanan ke New York” kata
dalam berita yang masih singgah di benak Miwako.
“selain
presdir Yoon, ada juga artis Lee Jung Min atau Mina yang kini sedang dalam
keadaan kritis” berita itu menyambar telinganya dengan cepat saat
langkahnya akan meninggalkan kerumunan tersebut. Ia membalikkan badannya
melihat ke layar TV. Mina, itu benar-benar Mina. Nafas Hye Young seakan-akan
berhenti saat itu juga.
“Lee
Jung Min? Seperti pernah mendengar nama tersebut” bisik Takeuchi yang masih
mendengarkan berita tersebut tanpa Jung Woo. Suara merdu dalam lagu di kedainya
membuatnya duduk santai di atas meja pengunjung. Dengan mata tertutup Jung Woo
tersenyum.
“bukankah
itu kakak Jung Woo?” tebak Takeuchi saat mengingat cerita yang keluar dari
mulut Hye Young beberapa hari lalu. Dengan cepat ia memberitahu pada Jung Woo
yang sedang asyik menikmati lagu kesukaan ayahnya di pojok kiri kedai. Masa
lalu yang mengajaknya berpariwisata itu pun membuatnya mengabaikan panggilan
Takeuchi.
“kakakmu
termasuk dalam korban pesawat itu” ujar Takeuchi begitu saja.
“Hye
Young tak mengabarkan bahwa wanita itu pergi ke New York, mungkin kau salah
dengar” balas Takeuchi.
“aku
mendengarnya”
“terserah
kau mau bicara apa”
“Lee
Jung Min, itu nama lengkap kakakmu kan?!” bentak Takeuchi ketika Jung Woo
akan meninggalkannya.
Langkahnya terhenti dalam sekejap. “Lee Jung Min” nama itu masuk ke sendi-sendi
tubuhnya melewati telinga. Mendorongnya mengangkat kerah baju Takeuchi. Dengan
emosi yang bersungut-sungut ia marah dengan sepenuh tenaga dalam tubuhnya.
“Hye
Young tak mengabarkan padaku” bisiknya dalam hati sambil menatap Takeuchi
yang tak melawannya sama sekali.
Jung Woo tak menerima kabar tersebut,
namun ada Miwako yang menerima kabar tersebut. Sore tadi, E-Mail tersebut masuk.
Saat ponselnya berbunyi, Miwako yang masih terkejut dengan ucapan Jung Woo
kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas dan meninggalkan ruang tersebut dan
kembali lagi saat ia bertemu dengan Takeuchi hingga malam saat kecelakaan
terjadi.
Senyuman itu singgah di wajah ayah
Jung Woo. Hye Young yang masih terkejut mencoba tersenyum sealami mungkin di
depan ayah Jung Woo. Pria itu masih terbaring disana, tak beranjak sama sekali.
Mengapa Mina eonni mengatakan yang lain? Bisiknya seraya menutup pintu.
“ahjussi”
“lama
tak melihatmu”
“banyak
yang harus aku kerjakan”
“arasseo”
Satu menit ayah Jung Woo membiarkan
Hye Young menyiapkan buah untuknya hingga ayah Jung Woo menyambar telinganya
dengan kabar yang kembali mengejutkan Hye Young.
“benarkah
Jung Woo enggan mengunjungiku?”
Hye Young menanggapinya dengan
senyuman seraya menyuguhkan buah yang telah ia kupas.
“bukannya
Jung Woo tak ingin mengunjungimu, dia disana sedang sibuk, mungkin bulan depan
baru bisa”
“arasseo”
balas ayah Jung Woo.
㉷
Kalimatnya terpotong saat ayahnya
bertanya hal yang diluar akalnya. Soo Jin baru saja tiba di Korea sore ini dan
langsung menuju ke rumah sakit dimana ayahnya dirawat. Pertanyaan itu sangatlah
tidak mungkin jika ia lakukan. Setelah pertanyaan tersebut muncul, ruangan itu
tak ada yang bersuara. Soo Jin tetap diam setelah ayahnya melontar pertanyaan “apakah ia kembali ke Korea karena akan
menggantikannya?”. Ia berdiri meninggalkan tempat duduknya. Langit Korea
yang menipu. Keruh namun tak mendung itu pun menjadi pelabuhan matanya setelah
melihat hiruk pikuk kendaraan di luar.
“apakah
hanya itu yang ingin ayah katakan saat aku kembali?” tanya Soo Jin.
Tak ada suara lagi. Ayahnya terdiam.
“besok
aku akan kembali ke Jepang, jadi ayah jangan berfikir yang aneh-aneh”
lanjut Soo Jin yang kemudian meninggalkan ruangan tersebut.
Ayahnya memandang lemas punggung
anaknya yang terpaksa dimakan oleh pintu. Di balik pintu itu pun Soo Jin
melepaskan pegangan pintu itu dengan lemas pula. Sudah 2 tahun lamanya ia di
Jepang. Mengapa saat ia kembali ke Korea ia harus menerima pertanyaan yang
serupa? Pertanyaan yang membuatnya pergi menyusul Jung Woo ke Jepang.
Perlahan-lahan ia melangkahkan kaki keluar dari rumah sakit.
Setelah lama ia duduk di kursi
bandara, ia pun melangkahkan kaki keluar dari bandara. Jung Woo mengurungkan
niatnya yang akan kembali ke Korea. Saat ia akan menghampiri mobilnya,
seseorang berdiri di depannya dan menghalangi jalan.
“Asami?”
bisiknya dalam hati saat melihat wajah orang tersebut.
“apakah
kita bisa meninggalkan tempat ini?”
“aku
tidak bisa, pulanglah” balas Jung Woo seraya meninggalkan Asami yang sedari
tadi menunggunya keluar dari bandara. Suara teriakan kembali menghentikan
langkah Jung Woo. Jung Woo tak membalikkan badannya, ia kembali berjalan menuju
mobilnya dan melaju kencang ke suatu tempat.
Ia menuju sebuah rumah yang tak ada
penghuninya setelah dirinya mengunjungi sebuah pemakaman. Ia melihat seluruh
ruangan rumah tersebut. Membayangkan hiruk pikuk di rumah tersebut. Bagaimana
ramainya saat itu, betapa sepinya jika salah satu tak ada. Namun, sedalam
apapun ia membayangkannya, semua itu hanya sekedar masa lalu. Tidak ada lagi
orang yang selalu menyiram tanaman dengan suara nyanyiannya yang aneh di padu
dengan gemercik air yang keluar dari slang. Tidak ada lagi orang yang selalu
membangunkannya dengan kepulan masakan yang ia bawa. Sejenak ia tersenyum dan
air matanya membasahi pipi. Ia mengusapnya dan kembali tersenyum. Melangkah ke
sebuah ruangan.
“Hye
Young-aa, hari ini eomma dan appa mengunjungi pemakaman teman ayahmu. Kalau kau
sudah di rumah, makanan sudah tersedia di dalam kulkas” secarik kertas yang
menempel di pintu sebuah lemari es. Kertas itu masih menempel disana. Kertas
yang tertulis saat dirinya menjalani tes masuk sebuah Universitas.
“mengapa
kau senang sekali berdiri di depan lemari es?” tak ada yang akan bertanya
seperti itu lagi. Ia memegang pintu lemari es tersebut. Ia mendadak terisak.
Tangisan yang keluar seakan menahan nafas Hye Young. Air mata itu tak henti-hentinya
membasahi pipi halus Hye Young.
Wanita yang pernah memiliki janji pada
ayahnya bahwa ia akan menikah sebelum ayahnya meninggal itu pun sekarang jatuh
terduduk di depan lemari es kesayangan ibunya. Memandang ke arah kursi yang tak
pernah absen diduduki oleh ayahnya, memandang dapur yang selalu ramai dengan
omelan peralatannya karena ulah tangan ibunya yang selalu ia pegang saat sakit,
yang selalu ia pegang saat kelelahan, yang selalu ia pegang saat menangis.
Semakin ia teringat semua itu, air mata tersebut semakin deras membasahi
pipinya. Tidak ada.
“eobseoyo”
bisik Hye Young di tengah tangisannya yang semakin menjadi-jadi.
Jung Woo masih berdiri di pesisir
pantai tersebut. Angin yang mengibaskan bajunya ke kanan kiri tak membuatnya
beranjak dari tempat itu. Desiran ombak yang kencang mengayunkan rambutnya yang
sedikit coklat. Ia melepaskan pandangannya jauh ke ujung lautan. Sejenak ia
memandang ke arah kanan tempat ia berdiri. Melihat sebuah keluarga yang sedang
asyik menikmati suasana pantai tersebut. Seakan ia pulang ke Korea hari ini
juga, kenangan masa kecil menghampiri Jung Woo. Namun, ia membuangnya dan
beranjak dari tempatnya berdiri 30 menit yang lalu.
Ramainya pelanggan hari ini membuat
Takeuchi tak bisa menghubungi Jung Woo yang sekarang ia tak mengerti dimana
Jung Woo berada. Pegawai di kedainya kewalahan karena hari ini pengunjung kedai
lebih ramai dari biasanya. Hari ini, untuk yang pertama kalinya ia melihat
ledakan pengunjung di kedai tersebut. Dan tanpa ia sadari, datang seseorang
memesan sebuah kopi yang harus di racik oleh pemilik kedai tersebut. Di kedai
tersebut tidak ada atasan yang lain selain Takeuchi, permintaan tersebut
membuat nyawanya seakan meninggalkan raganya seketika. Takeuchi bukanlah orang
yang handal dalam hal meracik kopi. Ia di kedai ini hanya memegang keuangannya
saja. Beberapa menit kemudian, suara Jung Woo melegakan bagi Takeuchi.
“ada
yang memesan kopi dengan racikan tanganmu” bisik Takeuchi seketika.
Jung Woo melangkah pasti menghampiri
orang tersebut. Pria seumuran ayahnya sedang membelakangi Jung Woo. Ia pun
terkejut saat yang meminta itu adalah tidak lain teman lama ayahnya yang dulu
pernah akan membawanya berlatih baseball di luar negeri.
“oreumaniya?”
ucapnya seketika.
“suaramu
tak asing sedikitpun” lanjutnya.
Jung Woo duduk tepat di depan pria
tersebut. Tanpa menghiraukan pertanyaan orang tersebut, Jung Woo langsung
menyodorkan sebuah buku menu. Tak lupa dengan senyumannya.
“apa
yang bapak pesan? Disini ada menu baru”
“sebenarnya
aku disini tidak ingin memesan kopi, aku ingin bertemu denganmu”
Tanpa banyak basa basi, Jung Woo
langsung menyilahkannya masuk ke kantor. Pria tersebut pun menolak, ia mengajak
Jung Woo ke salah satu warung kaki lima. Jung Woo pun mengikuti pria paruh baya
tersebut.
Ada suatu kabar yang membuatnya
tergopoh-gopoh memutar mobilnya kembali menuju rumah sakit tempat ayahnya di
rawat dengan kecepatan yang sangat tinggi. Di sisi jalan lain terdapat mobil
Hye Young yang juga melaju tak kalah kencang.
“ayahmu...
dia...” ucap dokter dengan gagap.
“waeyo?”
tanya Soo Jin takut.
“kita
tidak mengetahui apa sebabnya, tiba-tiba saja penyakitnya kambuh, sekarang dia berada
di ruang ICU”
Ucapan dokter tersebut bagai belati
yang menyambarnya seketika. Ayahnya tak pernah memiliki penyakit apapun. Namun,
mengapa ada penyakit yang kambuh? Fikirnya. Setelah berbincang-bincang dengan
dokter, kenyataan yang tak diketahui Soo Jin membuatnya terkejut. Setelah
perbincangan tersebut, tak lama Soo Jin pun keluar dari ruangan dokter. Air
matanya keluar. Dengan segera ia mengusapnya.
“appa,
wae?!”
“wae
nan?” bisiknya saat memasuki rumah sakit tersebut.
“dia
ingin bertemu denganmu, sekarang” ucap manajer Mina yang melihat kedatangan
Hye Young. Matanya memancarkan pertanyaan. Saat ia masuk ke ruangan dimana Mina
di rawat, untuk yang kesekian kalinya ia terkejut. Kaki wanita yang selalu
tampil menghiasi TV kini telah di amputasi, entah apa sebab semua itu, Hye
Young enggan menanyakan hal tersebut.
“anja”
ucap Mina.
Hye Young hanya menghampiri jendela
yang sedari tadi siap menyambut kedatangan Hye Young.
“waeyo?”
tanya Mina.
“wae
mwo? Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Hye Young kembali sambil menahan
air matanya.
“apakah
kau bertemu dengan Jung Woo saat itu?”
Hye Young mengangguk.
“apakah
kabarnya baik-baik saja?”
Hye Young kembali mengangguk.
“apakah
dia mengetahui bahwa aku-”
“ayahmu
tidak mengetahui ini, kau bisa lebih tenang. Aku mengatakan padanya kau akan
pergi ke New York. Aku tidak bisa lama-lama, gada. Annyeong.” pamit Hye
Young semaunya.
“Hye
Young-aa” panggilan Mina menghentikan langkah cepat Hye Young.
“jamsseuda”
ucap Mina singkat.
Tanpa merespon apapun Hye Young
langsung meninggalkan kamar Mina. Kabar tentang Mina tidak ia dengar sama sekali.
Hye Young menahan nafas. Beberapa jeda waktu kemudian, ia memasuki mobilnya. “Kenapa harus dirinya yang menerima ini
semua? Mengapa seakan-akan semua ini dilimpahkan di pundaknya begitu saja?
Mengapa ia harus ikut dalam dunia yang seperti ini?” gerutu berbagai
pertanyaan di fikirannya saat dalam perjalanan. Sesaat dia langsung membanting
setir menepikan mobilnya ke tepi jalan.
“WAE?!”
teriak Hye Young seketika.
Matanya membuka malam, ia masih duduk
di atas kursi warung kaki lima. Berjam-jam ia duduk disana. Ia tak peduli
dengan panggilan pemilik warung. Pemilik warung mengerti bahwa orang yang
sekarang masih duduk di warungnya adalah pemilik kedai kopi “oda” di sebrang.
“apakah
kau mau segelas minuman lagi?” tanya si pemilik warung.
Jung Woo menggeleng.
“jamsseuda”
ucap Jung Woo saat pemilik warung akan pergi meninggalkannya.
“apakah
kau seperti ini karena pria yang minum bersamamu tadi?” tanya pemilik
warung menghiraukan kata-kata Jung Woo yang tak ia mengerti.
“tidak,
aku pergi dulu, konbanwa” pamit Jung Woo.
Jung Woo kembali. Di tengah pintu
masuk, ia memandang sekerumunan pengunjung. Dan sekerumunan orang tersebut
tiba-tiba hilang. Kedai kopi tersebut mendadak menjadi rumah yang ia tinggalkan
8 tahun lalu. Takeuchi yang menghampirinya, tiba-tiba menjadi ayahnya yang
selalu menyambut kedatangannya saat ia pulang sekolah. Wanita di ujung yang
sedang membersihkan meja, tiba-tiba menjadi ibunya yang setiap ia pulang
sekolah selalu membersihkan meja makan. Adapun wanita lain yang sedang
memainkan ponsel, tiba-tiba menjadi kakaknya yang selalu sibuk dengan dirinya
sendiri.
Selangkah ia beranjak dari tempatnya
berdiri. Seluruh pengunjung yang sedang memesan kopi kesukaannya, yang sedang
menunggu di hampiri pelayan kedai tersebut, maupun yang sedang menikmati kopi
hangat mereka memandang Jung Woo yang sejak 10 menit lalu berdiri disana.
Seakan masa lalu yang ia lupakan menghampiri dirinya begitu saja. Tetesan air
mata membuat Takeuchi terkejut. Dengan paksa Takeuchi menutup kedainya tanpa
persetujuan Jung Woo. Semua pengunjung bertanya-tanya. Entah apa yang kini
sedang di fikiran Jung Woo, Takeuchi tidak tahu, ia membiarkan Jung Woo disana
sendirian. Saat pengunjung sepi pun Jung Woo masih berada di tempatnya berdiri.
“maldo
andwe” ucapnya.
“ayahmu
sekarang terkena struk, kakakmu salah satu korban kecelakaan pesawat”
kata-kata itu masih melekat dalam otak Jung Woo. Ia tak tahu harus melakukan
apa.
“apakah
dunia ini akan meninggalkanku?” cletuknya.
㉷
Di sabtu yang cerah, dengan pakaiannya
yang elegan, ia menyambut hari ini dengan sebongkah fikiran yang kosong. Tanpa
masalah apapun. Ratusan orang yang berlalu lalang di dekatnya membuat ia
mengurungkan niatnya untuk mengendarai mobil.
“kau
sudah baikan, kapan kau dapat izin pulang?” tanya Hye Young saat sampai di
kamar rawat inap Mina.
“besok.
Aku akan pulang ke apartemenku”
“waeyo?”
“appa...”
“dia
sudah lebih baik, dia di rumahku”
“kau
membawanya?”
Hye Young tersenyum. “seminggu yang lalu dokter mengecek
kesehatannya membaik, jadi dia boleh pulang. Dia sudah terlalu lama jika harus
di rumah sakit” dalih Hye Young panjang lebar tanpa diminta Mina.
“kau
akan menjaganya?”
“dia
sudah seperti ayahku sendiri, kalau kau pulang ke rumah, mungkin lebih baik. Gada.
Annyeong.” pamit Hye Young dengan senyum sumringah yang menghiasi wajahnya.
“ahh!
Sebelum aku mengembalikannya padamu, aku akan merawatnya hingga lepas dari
kursi roda.” lanjut Hye Young.
“arasseo”
balas Mina.
Miwako. Sudah tiga bulan ia tak
mendatangi kedai kopi Jung Woo. Takeuchi penasaran. Tiga bulan juga kedai ini
tutup. Sangat lama. Alasan penutupannya pun Jung Woo tak mengatakannya pada
Takeuchi. Jung Woo tiga bulan terakhir ini selalu pergi ke club malam. Tak ada kabar
yang ia terima dari Hye Young lagi. Ruangan itu hanya terdengar suara robekan
kertas sedari tadi. Hingga tempat sampah pun tak bisa menampung lagi. Takeuchi
yang sedang mengamatinya pun enggan meninggalkan.
“apakah
aku berbeda?” suara Jung Woo membuat Takeuchi mengedipkan matanya.
“ne.”
jawab Takeuchi seketika.
Matanya memaksa menerobos keluar
cendela di ujung ruangan. Mencoba menembus ruang waktu. Entah apa yang
membuatnya selalu membayangkan masa kecilnya selama tiga bulan terakhir.
Setelah ia bertemu dengan teman ayahnya di warung kaki lima. Setelah ia tak
pernah mendapat kabar dari Hye Young lagi. Setelah ia mulai menutup kedai
kopinya untuk sementara. “Jung Woo-aa,
bawa bolanya kesini. Jung Woo-aa, kaja! Sudah waktunya kau makan. Jung Woo-aa,
saranghae” suara itu sangat jelas dan semakin jelas setiap hari.
Jung Woo beranjak dari tempat
duduknya. Menakar gula, menakar kopi. Dibawanya ke jendela. Angin seakan sangat
bahagia saat ia membuka jendela tersebut.
“jika
kopi tanpa gula, apa jadinya?”
“dia
akan pahit”
“jika
gula tanpa kopi, apa jadinya?”
“dia
akan tetap manis”
Jung Woo tersenyum ringan. Ia menghela
nafasnya panjang berkali-kali. Disusul matanya yang ia pejamkan. Badan yang
sedang tersandar di ujung jendela itu pun seakan tertopang oleh banyak kayu
hingga dirinya mampu tersenyum sebegitu ringan.
“besok,
kita buka kembali kedai kopi kita” ucapnya seraya ia pergi meninggalkan
ruangan tersebut.
Takeuchi pun merespon bahagia.
“namun,
apakah kau akan kembali ke Incheon?” pertanyaan yang tak sengaja hadir di
fikiran Jung Woo saat akan meninggalkan jendela tersebut. Pertanyaan yang ia
terima dari Hye Young 8 tahun lalu itu belum terjawab.
“ahh
iya, apakah Miwako menghubungimu?” tanya Takeuchi.
“bukankah
kau tahu, ponsel itu kumatikan, kenapa?”
“hanya
saja, setelah berita kecelakaan itu aku tak mendengar kabarnya”
“bukankah
di kecelakaan itu juga ada presdir Yoon? Bukankah dia ayah Soo Jin? Mungkinkah
Miwako memang Soo Jin?” bisik Jung Woo dalam hati.
“apakah
kau melamun lagi?”
“tidak,
aku pergi dulu.”
Seperti ada sesuatu yang tidak ia ketahui.
Jung Woo menyetir mobilnya dengan kebiasaan menggosok-gosokkan jarinya di
hidung. Memikirkan hal-hal aneh.
Rasanya mulut jadi jantung. Jantung jadi mulut. Kata-kata berjalan
ke belakang kepala, terpompa masuk ke darah, dan ia bisa merasakan alirannya.
Kata-kata itu lantas mendaging dan mendarah. Membadan. Sel-sel baru. Dan ia
kini sedang jatuh terduduk dengan nyawanya yang seakan-akan di cabut hari ini
juga. Akan tetapi, seseorang menepiskan rangkulan di tubuhnya. Dan sebelum Soo
Jin bisa berkata-kata, dia mencerocos panjang lebar tanpa disuruh Soo Jin.
Pertama dalam 6 tahun sejak ia mengenal Soo Jin, ia berani merangkul Soo Jin
seperti ini. Tubuhnya yang sebenarnya bergetar pun tak membuat Soo Jin hengkang
dari rangkulan pria tersebut. Ia memberanikan diri menyentuh tubuh Soo Jin,
manusia yang selalu ingin memayungi Soo Jin. Di pegangnya tangan yang merangkul
tubuhnya, Soo Jin memandang wajah manusia tersebut. Park Cheon So.
“apakah ayah benar-benar
meninggalkanku?” tanya Soo Jin yang tak kuat menahan air matanya.
Dengan kulitnya yang halus nan sejuk pun Cheon So mengusap air
mata tersebut. Hampir satu menit jari itu tak meninggalkan pipi Soo Jin.
“meskipun ia pergi dengan
pesawat VIP, dia tak akan meninggalkanmu” cletuk Cheon So.
“hajiman...”
“apakah setelah pemakaman
kita harus ke pantai?” tanya Cheon So menenangkan Soo Jin.
“terlalu mempesona jika aku
harus kesana”
“geurigo, haruskah kita ke
pusat nelayan? Atau menggantikan pegawai ayahmu?”
Seketika Soo Jin membumbui wajahnya dengan senyuman. Begitu pula
Cheon So yang sedari tadi menunggu momen tersebut.
“bukankah pagi ini sangat
cerah? Mengapa kau memandang kaca itu dengan serius?” tanya Hye Young saat
mendapati ayah Jung Woo berada di dekat jendela.
“anieyo, hanya saja disana
ada Jung Woo kecilku” balas ayah Jung Woo yang membuat Hye Young kembali
merasakan apa yang sering ia rasakan tiga bulan lalu.
“ahh, geurae. Disana ada
Jung Woo kecil. Apakah kau ingin berbicara dengannya?” tanya Hye Young
seraya menyuguhkan segelas air putih.
Ayah Jung Woo tersenyum seraya menggeleng.
“wae? Apa karena dia sedang
asyik bermain”
“ne, dia sedang asyik dengan
biji-biji kopi”
Hye Young tersenyum. Lama, Hye Young dan ayah Jung Woo menikmati
khayalan tersebut. Ayah Jung Woo sudah benar-benar menerima profesi Jung Woo.
“bagaimana kalau malam ini
kita berdua karaoke?” sebuah pertanyaan yang mengejutkan ayah Jung Woo.
“aigoo, jangan bilang
seorang pelatih baseball tak pernah pergi ke karaoke” lanjut Hye Young meninggalkan
ayah Jung Woo yang masih berada di dekat jendela di atas kursi roda.
“benarkah itu?” lanjut
Hye Young dengan suaranya seakan-akan tak percaya hingga membuat ayah Jung Woo
tertawa tergelitik.
15 menit Hye Young membiarkan ayah Jung Woo tertawa seperti itu.
Sudah lama gelak tawa dari wajah tuanya tak terlihat. Hye Young tersenyum
bahagia, meskipun di benaknya kini muncul “mengapa
Soo Jin tak pernah membalas E-Mail yang ia kirim kepadanya?”.
“pergi jam berapa? Apakah
aku harus tampil gagah?”
“mwo... gagah?”
Bermenit-menit Hye Young memandang tubuh dan wajah ayah Jung Woo,
sambil mengerutkan dahinya, dengan jari yang di gosok-gosokkan di dagu.
“ahh! Kau hanya harus tampil
bahwa kau sekarang sedang ingin masuk ke ruang karaoke, itu saja”
“mworago?”
Hye Young tertawa hingga membuatnya mengeluarkan air mata.
“ayahmu hari ini akan pergi
ke karaoke” pesan yang baru masuk saat ia akan memulai hari baru. Kedai
kopinya hari ini buka kembali. Pengunjung sepertinya sudah sangat rindu. Seakan
mereka tak pernah minum kopi selama kedai kopi “oda” milik Jung Woo tutup.
“hari ini aku yang akan
meracik kopinya” cletuk Jung Woo saat selesai membaca pesan dari Hye Young.
Ia kantongi ponsel tersebut. Dengan senyuman ia keluar dari ruangannya.
Pengunjung yang sedang melihat Jung Woo di tengah-tengah kedai pun tersenyum.
“tuan! Apakah aku bisa pesan
padamu langsung tanpa melalui pelayanmu?” seorang pengunjung bertanya pada
Jung Woo yang baru saja memegang sendok kopi.
Jung Woo mengangguk. Dan anggukan itu pun membuat buku menu dan
pelayan terbuang begitu saja. Entah apa yang membuatnya hari ini kembali dengan
meja tersebut. Seakan Jung Woo mampu membuat register perilaku yang ia susun
dalam hidupnya pagi ini. Makin panjang dan makin mempesona. Ia semakin
bergairah kala gelas kopi masuk dalam genggamannya. Senyuman pengunjung seakan
mengembalikan nyawanya satu persatu.
Pohon-pohon ini menjulang tinggi melebihi tiang listrik, batang
kokohnya sebesar pelukan lengan orang dewasa, dan apabila berdiri di bawah lalu
melihat ke atas, niscaya pucuk tertingginya tak terlihat. Pepohonan itu
sangatlah rimbun. Menyejukkan. Melindunginya dari pancaran sinar matahari. Di
atas kursi rodanya, Mina tersenyum ringan.
“hari ini kau ada wawancara”
“kenapa kau menerimanya?”
“aku sudah bingung harus menjawab
apa, banyak yang ingin melihatmu pasca keluar dari rumah sakit”
Mina menghela nafas. Menerima permintaan manajernya. Ponsel yang
berada di pangkuannya pun ia raih. Menekan tombol panggil pada sebuah nama. Min
Hye Young.
“ne, yeobeosseo”
“apakah kau bisa ke rumahku
sekarang?”
“ne” jawab Hye Young
singkat.
Tak lama Hye Young sampai di rumah Mina. Terlihat banyak wartawan
yang sedang duduk di depan rumah Mina.
“di luar, mengapa banyak
wartawan?”
“mereka akan mengunjungiku”
“karena itu kau memanggilku?”
Mina tersenyum. “ini akan
tayang di seluruh chanel tv”
“kau jumpa-”
“jangan bilang kau mau
mengatakan jumpa pers. Apa otakmu tak berjalan? Mana ada jumpa pers seperti ini
ha?!”
Hye Young tergelitik. Kata-kata kasar ala Mina sudah kembali. Dan
di tempat tersebut, Hye Young menyaksikan apa yang sedang terjadi pada Mina.
Setelah wartawan itu pergi pun Mina meneteskan air mata. Hye Young membiarkan
hal itu menghampiri Mina, ia tak mencegahnya sama sekali.
Di rumah Hye Young, ayah Jung Woo menunggu Hye Young yang tak
kunjung kembali.
“dia pandai dalam memainkan
perasaan orang tua” bisiknya.
“ani, aku datang! kaja”
sambar Hye Young yang datang secara tiba-tiba. Hubungan Hye Young dan ayah Jung
Woo kini sangat akrab. Bahkan Hye Young selalu merasakan keakraban tersebut.
“bisa putar lagu-lagu lama?”
tanya ayah Jung Woo saat memasuki ruang karaoke.
“hya, ahjussi”
“hya, agashi”
Hye Young menuruti permintaan ayah Jung Woo. Hye Young tak ikut
menyanyi, hanya menikmatinya hingga selesai. Dengan sesekali menyilangkan tangannya
lama kelamaan akhirnya Hye Young menikmati lagu yang sedang di putar. Ia
mengamati bagamaina ayah Jung Woo menyanyikan lagu tersebut. Seolah tersimpan
kenangan di dalamnya. Sangat manis jika di buang begitu saja. Tergambar jelas
jika melihat ekpresi wajah ayah Jung Woo.
Lalu lalang mobil membuatnya terdiam di sebuah restoran. Soo Jin
memandang keluar kaca. Senyum itu datang. Menyisihkan awan hari ini. Di
depannya duduk seorang pria yang memakai kemeja biru. Sudah lama ia di Korea.
Sudah lama juga Soo Jin menunda perjalanannya kembali ke Jepang.
“kau tahu Cheon So”
ucapnya di tengah senyumannya.
“mwoya?”
“gidareoyo”
“mwoya?”
Seakan Soo Jin sedang dirasuki roh. Membicarakan sesuatu yang tak
dimengerti Cheon So. Namun, pria yang masih dilanda rasa tidak mengerti dengan
kata-kata Soo Jin, terus memandang wajah yang memandang jauh keluar.
㉷
Langit Yokohama malam ini di hiasi dengan hujan. Kedainya kini
hanya buka setengah hari. Di depan pintu kedainya yang masih membuka sedikit,
ia membayangkan hubungan ghaib antara air hujan dan tanah. Ia menarik nafas
panjang. Kini ia sedang menikmati aroma tanah yang basah karena air hujan.
Puluhan orang perempuan dan pria berlalu lalang di depannya dengan benda yang
melindunginya dari air hujan. Suara gelak tawa menggelitik telinganya hingga ia
pun melebarkan senyumnya.
“Jung Woo-aa,
mwohaneungeoya?” ingatan itu kembali. Saat ia tengah menengadah di bawah
derasnya hujan. Seakan ia melihat Mina berlari menghampirinya yang sedang
berdiri sendirian. Seakan Mina akan memayunginya di tengah derasnya hujan. Ia
melangkahkan kakinya keluar dari tempat persembunyiannya hingga air hujan kini
benar-benar membasahi badan yang lelah.
“oraeumanieyo?” ayahnya
seakan muncul dari belakang Mina. Dengan ibunya yang mendorong kursi roda
ayahnya, Soo Jin di sampingnya tersenyum.
“presdir, apakah kau akan
tidur disini?” tanya seorang pegawai.
“mwoya!”
“tidurmu nyenyak sekali”
sambar Takeuchi.
Jung Woo menegakkan badannya. Berlari keluar dari kedai.
“bukankah tadi hujan?”
“bicara apa kau, langit
malam ini sungguh indah dengan bintang-bintang kau bilang sedang hujan?!”
balas Takeuchi searaya menggeleng heran.
Ia tengok langit yang memang benar-benar tak ada tanda-tanda
hujan. Jung Woo merasa aneh. Jelas-jelas mereka ada di depan kedainya.
“apakah kau sedang bermimpi
bertemu seorang putri?”
Jung Woo mengerutkan dahi.
“mwohaneungeoya? Apakah
kedai ini sudah tutup?”
Jung Woo sesekali memejamkan matanya.
“mwoya! Hya! Jung Woo-aa!”
“Hye... Hye... Hye Young-aa?”
“wae? Kenapa suaramu seperti
itu? Bukankah sekarang masih sore?”
Sekejap pandangan Jung Woo menghampa. Perlahan, ia menarik lengan
tangan Hye Young hingga membuat Hye Young kesal.
“apakah otakmu tertinggal di
dalam gelas kopi?!”
“hya!”
“igo” Hye Young mengeluarkan
sesuatu dari dalam tas.
“mwoya?!”
“hahh! Hidup ini
membosankan, Jung Min, ahh Mina eonni, menyuruhku memberikan ini, bulan depan
kau harus ke Incheon, ha?! Arasseo?!”
Dengan pelan dan sabar, Takeuchi mencoba membangunkan Jung Woo
yang kembali tertidur. Sampai akhirnya, Jung Woo membuka mata dengan disaksikan
beberapa pegawainya. Ia terkejut.
“bisakah kau tidur di
ruanganmu?!” bentak Takeuchi seketika.
“aigoo, jadi semalam kau tak
pulang? Apakah semalam kau menginap di hotel?”
Hye Young menggeleng ringan.
“semalam aku tertidur di
studio, apakah kau sudah sarapan?”
Ayah Jung Woo mengumpat.
“hya! Ahjussi!”
Menghela nafas. Hanya menghela nafas. Hye Young langsung bergelut
dengan peralatan dapurnya. Bernyanyi sesuka hati.
“apakah kau sedang jatuh
cinta?” tanya ayah Jung Woo yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku Hye
Young.
“apakah bernyanyi pertanda
orang jatuh cinta?”
Ayah Jung Woo tersenyum.
“ohh sesange! Senyummu!
Senyummu masih menawan! Aigoo..”
“aigoo..”
“apakah kau ingin bercerita?
Aku akan mendengarnya sambil memasak”
Lama. Ruang tersebut mendadak hening. Hanya terdengar suara
masakan yang terpanggang di atas kompor. Sejenak suara melepas keheningan. Ayah
Jung Woo bercerita. Dengan saksama telinga Hye Young mendengarkan. Jaraknya tak
jauh dengan mulut ayah Jung Woo. Mulutnya terus bercerita, namun pandangannya
tergiring keluar jendela. Seolah sedang membayangkan sesuatu. Tubuhnya yang
gagah dan tinggi besar pupus di kursi roda. Cerita yang mampir di telinganya
semakin lama semakin terkesan ragu-ragu. Ia seakan takut tak akan bertemu
dengan anak laki-lakinya lagi. Dengan cepat Hye Young meraih pundak ayah Jung
Woo. Hye Young mencoba membuat semua itu menjadi pasti. Asap masakan yang
mengepul hangat di hidung tak membuatnya berhenti bercerita. Hye Young masih
dengan raihan tangan di pundaknya, ia menyambar cerita. Dan mata tua itu pun
berhenti menerawang, mencoba menemukan mata wanita disebelahnya. Mereka berdua
tersenyum.
“kaja!” ucap Hye Young.
Cheon So masih lelap dengan wajah yang kusut di atas bantal. Soo
Jin membiarkan. Memandang wajah tersebut dengan tamat. Polos. Kaca mata yang
biasa berada di sela-sela wajahnya kini sedang bernaung di meja. Menyaksikan
rambut coklat tua yang bertumpukan halus. Seakan sedang diabadikan di dalam
lukisan. Soo Jin tersenyum kecil.
Tak lama, mata itu merem melek. Beberapa menit hingga Soo Jin
sadar ternyata Cheon So tengah menjemput pandangannya. Seperti sudah puas
memandang wajah tersebut, Soo Jin berdiri.
“palli! Kau harus
mengantarku ke bandara!” cletuk Soo Jin.
“jam berapa sekarang?”
“bukankah di depanmu itu jam
dinding?!”
Wanita yang selama ia tidur memandangi wajahnya kini berubah sikap
dengan garang bak gangster. Cheon So tersenyum. Memaksa badannya pergi ke kamar
mandi.
Soo Jin duduk sendiri di kamar. Mencoba kembali membayangkan wajah
Cheon So. Pria yang kala di SMP sangat terkenal dengan permainan catur yang
dimainkan. Dengan selera peminum kopi yang tinggi. Dengan kaca mata yang selalu
menghiasi wajahnya yang bulat. Sekejap Soo Jin terkejut mendengar suara Cheon
So yang datang memasuki sendi-sendi tulang melalui kedua telinganya.
“wae!”
“wae mwo?!”
“arasseo”
Wajah itu memandangnya garang. Pandangan yang tajam. Langkah itu
mencoba mendekati Soo Jin.
“arata! Hya! Park Cheon So!”
Kakinya seakan menginjak paku. Cheon So tersentak. Suara wanita
itu semakin membuatnya mendekati wanita tersebut. Ia pandang wanita yang kini
masih terduduk di atas tempat tidurnya. Dengan wajah takut, Soo Jin mengumpat
tak karuan. Cheon So hanya tersenyum. Menepi di dekat jendela. Ia buka kaca tersebut.
Udara segar menyambut Cheon So.
“kenapa kau seperti itu?!”
“disini sangat indah
pemandangannya, mengapa pikiranmu sangat kotor?”
Wajahnya berubah terkejut saat mendapati Soo Jin tengah mengambil
start. Entah apa yang akan Soo Jin lakukan. Dengan lengannya yang panjang, ia
mencoba meraih tangan Soo Jin yang sedari tadi berayun-ayun.
“mwoya?!” teriak Soo Jin
saat tubuhnya jatuh di pelukan Cheon So.
Cheon So tersenyum licik.
“selama aku tidur, apa yang
kau lakukan dengan wajahku?”
“a-a-ani. Anieyo! Aku tak
melakukan apapun!” protes Soo Jin yang memaksa Cheon So untuk melepaskan
Soo Jin.
“kaja! Kita harus segera ke
bandara” ucap Cheon So ringan dan melepaskan Soo Jin begitu saja.
Ia masih mencoba mereka-reka kejadian semalam. Semalam menurutnya
bukanlah mimpi. Ayah, kakak, Soo Jin, Hye Young berada di depan kedainya. Jung
Woo masih dalam keadaan tubuh yang terbaring di sofa kantor. Dalam fikirannya,
bagaimana bisa mimpi bisa sebegitu nyata. Bahkan, ibunya yang sudah
meninggalkannya disana pula.
“bulan depan” cletuknya.
“ada apa?” tanya
Takeuchi yang tengah sibuk dengan laptop di depannya.
Jung Woo hanya menggeleng. Ia lari ke depan kedai. Memandang ke
langit yang berwarna biru cerah. Baginya, jika semalam hujan, langit pagi ini
tak mungkin secerah ini. Dapat dibayangkan. Mereka semalam benar-benar di
tempatnya berdiri. Jung Woo masih tak percaya, mungkinkah semalam itu
benar-benar hanya mimpi semata. Dengan pelan ia membalikkan badan.
“apakah kau akan pulang ke
korea?” suara tersebut membuat Jung Woo kembali membalikkan badannya
memandangi jalanan. Tak ada apa-apa. Hanya lalu lalang para masyarakat.
Nafasnya menjadi naik turun. Berat sekali.
Foto anak kecil tersebut membuatnya menyeringai. Dengan daun-daun
bougenvil yang basah dibelakangnya. Menandakan hujan turun membasai tempat
tersebut sebelum foto itu di ambil. Seorang anak pria kecil dengan wajah polos
sambil membawa sekotak sushi dan sepotong sushi di mulut membuatnya tersenyum.
“bukankah dia tampan?”
ucap Hye Young menyambar.
Belum sempat pertanyaan tersebut terjawab. Suara bunyi ponsel
mengacaukan semuanya. Ia hampiri ponsel tersebut. Senyumnya lebar. Selebar dimungkinkan
mulut.
“waeyo?”
“neol, appa, noona,
gwenchanayo?”
“dia baik-baik saja, wae?
Apakah kau ingin bicara dengannya?”
“Hye Young-aa, apakah kau
sibuk?”
Percakapan dalam ponsel tersebut sangat panjang. Jung Woo
menceritakan semua hal yang ia alami semalam. Ekspresi wajah Hye Young
berubah-ubah, membuat ayah Jung Woo yang menyaksikannya kebingungan sendiri
dengan ekspresi wajah Hye Young.
Karena nafas Jung Woo yang naik turun, Hye Young tak sedikit
kebingungan mendengarkan apa yang dibicaran Jung Woo. Hye Young yang semakin
bingung dengan apa yang dibicarakan Jung Woo menyuruh Jung Woo mengulangi apa
yang ia bicarakan.
Beberapa menit kemudian percakapan dalam telepon tersebut
berakhir. Ayah Jung Woo menanyakan apa yang sedang terjadi. Mengapa Hye Young
mengekpresikan dengan wajah yang berubah-ubah. Dengan alasan Jung Woo kecapekan
Hye Young menjelaskan apa yang ia bicarakan dengan Jung Woo di telefon.
“pasti pelanggannya sangat
banyak”
“geurae! Pelangannya
sangat-sangat banyak, hingga warung kaki lima yang jaraknya sangat jauh saja
kenal dengan kedai kopi milik Jung Woo”
“apakah dia sudah memiliki
kekasih?”
Pertanyaan yang tiba-tiba saja muncul tanpa Hye Young duga.
Pertanyaan yang sangat enggan Hye Young jawab dan ia bahas. Entah karena apa. Hanya
senyuman yang tergambar di wajah tersebut. Ya, dia sudah punya. Begitulah ayah
Jung Woo mengartikan senyuman Hye Young.
“apakah mereka sudah lama
menjalin hubungan tersebut”
Hye Young kembali tersenyum. Disusul dengan senyuman hangat ayah
Jung Woo menjemput langit sore Korea Selatan.
“bukankah kau akan kembali
ke Jepang?! Mengapa masih disini?”
Mulut tersebut mengeluarkan suara seenaknya. Soo Jin tak menjawab.
Pertanyaan yang keluar untuk kesekian kalinya.
“apakah aku bisa membawanya?”
“nugu?”
“geu namja”
“apakah kau masih
mencintainya?”
Soo Jin mengangguk. Ia terkejut. Senyumnya seakan tak
mengikhlaskan wanita yang sedang berada di depannya di ambil orang lain.
“hajiman..”
Kata yang membuat telinga Cheon So sedikit merasa lega.
“apakah ruang untukku masih
tersedia disana?”
Cheon So hanya tersenyum. Menyodorkan ice cream yang masih utuh.
Memegang tangan Soo Jin yang menghampa di atas meja. Soo Jin memandang Cheon
So. Ia mengajak Soo Jin menembus langit yang tengah dihiasi dengan awan.
Senyuman tersebut akhirnya mendarat di wajah Soo Jin.
“wae?”
“ahh! Hya! Park Cheon So!
kenapa kau memegang tanganku?! Lancang sekali” cletuk Soo Jin yang
tiba-tiba saja gugup dengan keadaan yang ia alami.
“aigoo! Sebaiknya kau cepat
pergi ke Jepang. Aku sudah bosan dengan wajahmu”
“apa maksudmu dengan bosan
dengan wajahku?!”
“sebaiknya kau ku tunggu di
mobil, aku sudah kenyang, galke”
“hya! Park Cheon So! pria
kurang ajar!” teriak Soo Jin sekeras-kerasnya hingga membuat seisi restoran
memandangnya.
Saat suaranya memanggil Cheon So yang keluar meninggalkannya di
restoran, Soo Jin menyadari sesuatu. Di dalam mobil, matanya tak berpaling dari
wajah Cheon So. hingga Cheon So yang berkali-kali bertanya pun tak Soo Jin
jawab.
“apakah wajahku mempesona?”
tanya Cheon So hingga membuat Soo Jin mengalihkan pandangannya ke arah jalan di
depan.
“hari ini kau harus pulang
ke rumahmu!” cletuk Soo Jin.
Cheon So kembali tersenyum licik.
1 tahun kemudian
Musim dingin pada awal tahun selalu memberikan kesan berbeda pada
setiap orang. Titik salju yang menghujani bumi semakin deras tercurah dari
langit. Wanita muda itu sedang asyik menikmati salju yang jatuh di pangkuannya.
Dengan rambut yang terurai, mengapung sebuah ingatan. Semilir angin musim semi
membuat wanita tersebut menggosok telapak tangannya yang halus.
“alangkah indahnya musim
dingin kali ini” ucapnya.
Wanita yang menemaninya pun tersenyum. Ia melirik sebuah kaki yang
berjalan ke arah mereka. Senyuman tersebut tak absen.
“appa,”
“Mina-aa,”
Terdengar dua suara tersebut bersahutan. Terasa kebahagiaan di
antara mereka.
“apakah kau bersama Hye
Young?”
Ayahnya menggeleng. Musim dingin kali ini hal yang paling di nanti
oleh Hye Young. Namun, Hye Young sekarang sedang tak berada di Korea. Sayapnya
yang sudah lama sembunyi di balik punggungnya sebulan lalu kembali terbang
dengan asyik. Karyanya di pesan seorang yang sangat terkenal di New York. Itu
sebuah penghormatan bagi Hye Young.
Kaki tersebut hari ini kembali menginjak bandara Incheon.
Senyumannya melebar. Pria yang berkaos biru dengan jaket biru gelap itu
berjalan keluar dari bandara Incheon.
“selamat datang kembali di
korea”
Pria tersebut mengangkat bibirnya. Wanita yang menyambutnya
tersenyum. Perjalanan hidup yang tak pernah mereka sangka. Wanita itu sedang
menggandeng tangannya. Sebuah kata berdengung di tengah telinganya yang sedang
sibuk dengan suara gaduh bandara.
“apa kau bisa mengulanginya?”
Wanita itu menggeleng. Pria tersebut mengecupnya seketika saat ia
akan masuk ke dalam mobil. Wanita tersebut tak menolak, ia meresapi kecupan pria
tersebut.
“apakah kau bahagia? Yoon
Soo Jin-ssi”
“ne, Park Cheon So-ssi”
Cinta itu sudah menggantinya di hati wanita tersebut. Entah kapan
cinta itu datang pada mereka berdua. Soo Jin yang saat itu bimbang dengan
perasaannya sendiri, akhirnya mengurungkan niatnya untuk kembali ke Jepang. Dan
seiring waktu, Cheon So yang profesinya tak lain adalah sekretaris ayah Soo
Jin, sementara mengelola perusahaan milik ayah Soo Jin hingga Soo Jin siap
untuk menggantikan posisi ayahnya di kantor.
“apakah kita akan
mengumumkannya?”
“ani”
“waeyo?!”
“aku hanya ingin appa yang
mengetahui”
“hya! Yoon Soo Jin. Semua
orang di kantor mengetahuinya”
“lalu mengapa kau ingin
mengumumkan? Apa yang di umumkan?”
“hya! Park Cheon So!
beginikah sikapmu setelah kau kembali ke Korea”
“ahh! Wanita ini sungguh
galak.”
“geurae! Wae?!”
Tak menjawab. Cheon So hanya membri senyuman hangat pada Soo Jin.
“ahh! Musim dingin tahun ini
sangatlah indah” cletuk Cheon So.
Rumah tersebut menjadi tujuan akhirnya. Rumah di kawasan Ilsan,
Incheon tersebut terlalu nyata untuk disinggahi dan dimasuki. Hanya terdiri di
dua lantai. Namun, pepohohan yang menjulang tinggi membuat rumah tersebut tak
pantas di sebut dengan rumah biasa. Rumah yang berwarna putih tersebut. Rumah
yang halamannya tak kalah luas dengan lapangan sepak bola. Rumah yang kini
tengah ia injaki.
Di sela langkahnya, ia berhenti di tengah halaman yang kini telah
berkonsep berundak ala rumah-rumah di Amerika. Terdapat sebuah tangga kecil
yang menghubungkan dengan pintu utama rumah tersebut. Dari luar, terdengar
hiruk pikuk betapa ramainya di dalam. Ia tersenyum. Ia melanjutkan langkahnya
menghampiri pintu tersebut. Hingga akhirnya, tangannya menyentuh gagang pintu.
Pintu itu tak mengeluarkan suara apapun.
“annyeonghaseyo yeoreobun...
Oraenmanieyo?” ucapnya dengan senyuman dan air mata yang tak tertahan ingin
keluar.
Mendengar suara salam, orang yang berada di dalam ruang tamu rumah itu pun sejenak menoleh ke arah
tempatnya berdiri. Seakan tak bisa berpaling dari tubuh yang tinggi dan gagah
itu. Mereka tersenyum. Langkahnya di percepat meraih tubuh pria paruh baya yang
masih berdiri di ujung ruang tamu. Merengkuhnya.
“bogoshipeoyo” cletuknya
dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.
“bogoshipeoyo”
lanjutnya.
“uljima” balas Mina
mengusap air mata tersebut.
“kau telah dewasa” sahut
ayahnya.
Seisi rumah tersebut sangat bahagia menyambutnya, Jung Woo.
Kedainya di Yokohama ia alihkan kepada Takeuchi yang kini tengah berbahagia
dengan pelayan yang ia taksir. Telefon 6 bulan lalu itu membuatnya berfikir
hingga akhirnya ia memutuskan untuk singgah ke Korea. Entah akan menetap atau
tidak, Jung Woo belum memutuskan sejauh itu.
“kakimu, waeyo?” tanya
Jung Woo seketika.
“apakah kau bahagia dengan
profesimu?” balas ayahnya mencegah Mina menjawab.
Beberapa bulan yang lalu, setelah ayahnya bisa berjalan kembali.
Kenyataan yang mengejutkan bagi ayah Jung Woo saat pulang ke rumah dan melihat
Mina dengan keadaan yang seperti sekarang. Sejenak Jung Woo teringat akan
berita kecelakaan saat itu. Namun, tepukan tangan ayahnya menyadarkan Jung Woo.
Senyumannya menghangatkan tubuh Jung Woo. Suasana yang mungkin sudah lama tak
Jung Woo lihat. Seakaan tak percaya. Jung Woo benar-benar kembali ke rumah ini.
“annyeonghaseyo...”
suara salam beberapa menit setelah Jung Woo datang.
“Yoon Soo Jin?” ucap
Jung Woo.
Semuanya menyilahkan Soo Jin masuk. Makan malam bersama di rumah
itu tak bisa Soo Jin hindari. Keakraban yang terjadi diantara Soo Jin dan
keluarga Jung Woo sangat terasa meskipun Soo Jin baru saja melihat ayah Jung
Woo dan kakaknya. Juga setelah Soo Jin mengenalkan Cheon So yang datang
bersamanya. Segala pengakuan juga keluar dari mulut Soo Jin. Namun bukannya
terkejut, Jung Woo tersenyum. Jung Woo sudah mengetahuinya dari Hye Young.
Seakan waktu cepat berlalu dengan begitu saja. Keesok harinya,
hingga sore menjelang Jung Woo yang diam-diam menunggu kedatangan Hye Young,
wanita itu tak kunjung datang. Wanita yang mengirimkan banyak E-mail dalam satu
hari satu tahun yang lalu. Wanita yang ternyata baru disadari Jung Woo mampu membuatnya
beralih ingin menjadi seorang barista. Dan wanita yang membuat Jung Woo sangat
terosebsi dengan biji kopi karena kesukaannya terhadap Cappucino.
Hingga beberapa hari kemudian, saat ayah Jung Woo sedang menyiram
tanaman di halaman rumahnya, terdengar suara salam seorang wanita.
“ahjussi! Oraeumanieyo”
teriak Hye Young saat mendengar suara ayah Jung Woo menjawab salamnya.
“Hye Young-aa, apakah pek-”
ucapan ayah Jung Woo terhenti saat melihat di belakang Hye Young berdiri di
belakang Hye Young.
“nuguya?” tanya ayah
Jung Woo.
Hye Young tersenyum licik.
“ohh... kau benar-benar
melakukannya?”
“hya! Ahjussi! Bukankah aku
hebat?”
Ayah Jung Woo mengangguk.
Tak lama, tangan itu menjabat tangan ayah Jung Woo. Jo Myeong Jin.
Sebuah nama yang keluar saat tangan itu saling menjabat.
“annyeong” cletuk Jung
Woo yang baru saja datang.
“Hye Young-aa?” lanjut
Jung Woo.
“bukankah Hye Young hebat,
dia benar-benar membawa pacarnya setelah dari New York” dalih ayah Jung
Woo.
“ne...” jawab Jung Woo
yang masih terkejut.
Hye Young tak berkomentar apa pun saat Jung Woo datang. Hanya
senyuman yang berada di raut wajah Hye Young. Hye Young tak menyangka bahwa
Jung Woo benar-benar kembali ke Korea.
“apakah kau membawa
cappucino? Apakah kau tahu aku akan datang?” cletuk Hye Young menjemput
kegugupan dalam dirinya. Ternyata, perasaan aneh yang ia rasakan saat ia masih
SMA itu adalah cinta. Dan Hye Young menyadari setelah dirinya kenal dengan designer
handal, Jo Myeong Jin.
Serasa dalam rumah tersebut hanya ada Hye Young dan dirinya saja.
Jung Woo mencoba masuk menerobos mata Hye Young yang sedang asyik masak dibantu
dengan Mina. Dengan sesekali ia memandang minuman yang ia belinya tadi. Mencoba
membandingkan. Kepulan asap masakan dan kepulan asap kopi cappucino. Berbeda.
Ia menggelengkan kepalanya menghilangkan khayalannya yang aneh.
Cappucino. Ya, cappucino, sebuah minuman yang lebih enak dinikmati
selagi hangat. Minuman yang menjadi saksi saat Jung Woo mengecup bibir Hye
Young. Minuman yang menjadi saksi saat Jung Woo pergi meninggalkan Incheon.
Minuman yang kini mempertemukannya kembali dengan Hye Young di Korea. Minuman
yang menjadi saksi bahwa Hye Young sudah dimiliki orang lain. Minuman yang juga
menjadi saksi segala perilakunya dengan Hye Young.
“siapa wanita yang mampu
membuatmu menjadi seorang barista? Nugu?” sebuah ingatan menghampiri
pikiran Jung Woo saat menyaksikan Hye Young dan pria sebayanya berpamitan
pergi.
“neorang” bisik Jung Woo
setelah mendapati bayangan Hye Young telah menghilang.
END.
END.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar