Kamis, 31 Juli 2014

Touch a Cup of Cappucino




bukankah kau ku suruh datang setelah kelas malam selesai?
ne, mianhae membuatmu menunggu
Keakraban yang masih melekat di antara mereka. Saat laki-laki menjadi seorang pria dan seorang perempuan menjadi seorang wanita. Mereka di besarkan dilingkungan yang sama. Namun, ada sesuatu yang masih membedakan mereka. Keluarga.
dimana wanita itu?
waeyo? Apakah kau cemburu?
Wanita tersebut menggeleng.
apakah kau benar-benar akan melakukannya?
ne
Wanita itu menghela nafas. Secangkir cappucino yang sedari tadi dipandangnya ia teguk dengan sangat menikmati rasa cappucino yang masih tetap sama.

Malam setelah upacara kelulusan pria itu mendatangi rumah wanita tersebut. Seakan wanita itu di culik oleh segerombol penjahat di depan orang tuanya secara tiba-tiba. Remasan tangan pria tersebut tak bisa ia lepaskan. Sangat kencang. Di sebuah meja, dengan dua cangkir cappucino, keputusan tersebut ia buat. Wanita yang mendengarnya pun terkejut. Remasan jari-jari tangan pria tersebut tak membuat wanita itu menghentikan keinginan pria itu.
pergilah, jika itu terbaik untukmu
Dengan kecupan di sebuah kedai kopi, pria itu meninggalkan wanita tersebut. Dua cangkir cappucino yang mereka pesan tadi masih utuh. Hingga rasa hangat minuman tersebut berubah menjadi dingin. Wanita tersebut masih duduk di tempatnya. Kecupan itu masih terasa.
itu ciuman selamat tinggal” sebuah pesan yang masuk di ponselnya.
kau tidak sopan! Mencium teman sendiri” setelah membaca balasan pesan tersebut, pria itu melangkahkan kakinya pergi.


Angin pagi kota Yokohama yang menyelinap masuk mengangkatnya bangun dari tidur. Terpaan sinar matahari masuk melalui tirai jendela kamar membuat pria 26 tahun itu beranjak dari tempat tidurnya, menanggalkan selimut yang menutupi tubuhnya semalam. Masalah semalam masih berbekas di wajah tersebut. Pagi yang indah selalu menyambutnya bersama poster poster abstrak yang menempel di dinding kamar yang luasnya tak melebihi lapangan baseball.
Namun, setidaknya pria tersebut kini sudah sukses merintis kariernya sebagai seorang barista. Anak dari mantan atlet baseball itu sering mendapat pertentangan dari ayahnya yang selalu menginginkan dirinya menjadi seperti ayahnya yang kini sudah menjadi pelatih baseball. Kalau pun tak menjadi seperti ayahnya, mungkin bisa menjadi seperti noonanya yang kini lagi di atas reputasinya sebagai artis dan model.
Barista. Sebuah profesi yang sangat tak disukai oleh ayahnya. Pertentangan itu selalu menghiasi suasana rumah yang hanya di huni oleh 3 orang tersebut saat pria itu meminta bahwa dirinya akan mendirikan sebuah kedai kopi. Pria yang kelahiran Incheon, Korea Selatan itu sudah sejak 7 tahun yang lalu melangkahkan kakinya hengkang dari bumi Korea Selatan. Lee Jung Woo. Pria yang sangat teropsesi dengan biji kopi.
hey! Tuan barista” panggil seseorang saat dirinya baru saja selesai mandi.
hmm
Selama 7 tahun, semenjak kakinya menginjak tanah Jepang, Jung Woo tak pernah bertandang ke kota kelahirannya, Incheon. Ia selalu fokus dengan apa yang ia kerjakan di Yokohama. Dengan bubuk kopi yang selalu menemaninya tanpa batas. Ia terus bergelut didalamnya dan selalu membuat menu-menu baru. Kedai kopi itu berada di pusat kota Yokohama. Tak ada yang tidak kenal dengan kedai kopi tersebut. Teman yang ditemuinya 7 tahun lalu pun selalu mengingatkannya agar ia pulang ke Korea, meskipun hanya menjenguk.
mengapa kau membawa itu lagi?” tanya Jung Woo seraya memainkan ponsel yang tak ada apa-apanya.
bukan apa-apa, hanya saja mungkin kau berubah fikiran akan menjenguk keluargamu
Tak ucapan yang membalas perkataan tersebut. Ia terus memainkan ponsel yang ia taruh di atas meja. Setelah lama diam, seorang pegawai memanggil Jung Woo. Ia pun mengangkat badannya berdiri.
ahh, Takeuchi-kun, jika kau ingin berlibur kesana, berangkat saja sendiri. Untukmu ku beri cuti sebanyak-banyaknya” dalih Jung Woo.
Meskipun ia tak pernah mau jika di suruh menjenguk keluarganya di Incheon. Meskipun ia selalu menaruh kebencian terhadap ayah juga noonanya, namun setiap seminggu sekali ada seorang wanita yang memberinya kabar tentang keadaan keluarganya di Incheon. Teman masa kecilnya yang kini juga sukses dengan kariernya di bidang designer. Meskipun jarak rumahnya dengan jarak rumah Jung Woo terbilang lumayan jauh, tapi ia menyempatkan diri untuk menengok ke rumah Jung Woo.
ahh, Min Hye Young?” ucap Takeuchi saat mendapati Jung Woo kembali duduk.
hmm
apakah kalian berdua ada hubungan?
ne
lalu bagaimana dengan Asami-san?
Jung Woo tersenyum.
mungkinkah wanita itu menyukaimu?
Jung Woo tegelitik mendengar kata-kata Takeuchi. Hye Young hanyalah sebatas teman. Setelah malam kelulusan saat itu, pesan yang masuk di ponselnya hanya kabar tentang ayah dan kakaknya saja. Sekarang pun Jung Woo tidak mengetahui keberadaan Hye Young. Mungkin Hye Young masih di Incheon atau sudah pindah ke Seoul, Jung Woo tidak pernah mengetahui. Hanya mendapat kabar tentang keadaan keluarganya pun sudah cukup. Namun, hubungannya dengan Asami, wanita yang ditemuinya 6 tahun lalu kini sedang tidak baik.
Seminggu yang lalu, Jung Woo bertandang sebentar ke rumah keluarga Asami. Ketika ia akan mengucapkan salam, ia mendengar bahwa ternyata tanpa sepengetahuan Jung Woo, orang tua Asami tak menyetujui hubungannya dengan Asami. Telinga yang terus mendengar dari balik pintu rumah Asami. Enggan untuk berpaling meninggalkan percakapan tersebut. Namun, tak lama sesuatu membuatnya pergi meninggalkan rumah Asami.
Dan hari ini, di sudut ruang kerjanya, Jung Woo mencoba menghubungi Asami. Namun, wanita yang bernama lengkap Komiyama Asami itu pun tak kunjung menjawab telefon Jung Woo. Juga wanita yang kini sebenarnya tengah bertunangan dengan pria lain sangat dikhawatirkan oleh Jung Woo.

Reuni SMA. Malam ini udara dingin kota Seoul menyentuh tubuh itu. Senyuman yang selalu hadir tak membuat teman SMAnya pangling. Min Hye Young. Tak ada yang tak mengenal wanita tersebut. Wanita yang dikagumi oleh banyak pria di SMA saat itu hari ini tampil dengan busana yang apik. Make up alami tak pernah lepas dari wajahnya yang manis.
apakah Jung Woo bersamamu?” sebuah pertanyaan yang menghampiri Hye Young sesaat setelah ia meneguk secangkir bir.
mengapa kalian tanyakan itu padaku?
wae? Apakah kalian sudah putus?
Hye Young tertawa. Tak menjawab pertanyaan teman-temannya yang semakin konyol. Ia langsung mengalihkan pembicaraan. Hal seperi itu terlalu membosankan jika dijadikan topik pembicaraan. Di pesta reuni tersebut tak sedikit yang masih fokus dengan pekerjaan, namun tak sedikit pula yang fokus dengan kehidupan cinta mereka.
Pesta reuni itu berakhir saat jam dua belas malam. Di dalam mobil yang belum berjalan, Hye Young teringat akan kata-kata yang ucapkan temannya tadi. Putus. Dirinya dan Jung Woo hanya teman. Meskipun kadang ada perasaan aneh saat Jung Woo menjabat kedua tangan yang sedang memegang setir mobil tersebut.
apakah kau cemburu karena aku berpacaran dengannya?” sebuah pertanyaan yang mendadak mengahampiri pikiran Hye Young.
Foto itu masih berada di kotak cermin mobil. Foto saat Hye Young pertama kali merasakan perasaan aneh pada dirinya terhadap Jung Woo. Senyuman itu polos.
geurae, joahae. Tapi, bukankah kita berteman dari lahir?” sebuah tulisan yang berada di balik foto kecil tersebut.

Puluhan wanita yang berjalan kesana kemari sama sekali tak menarik perhatian pria yang kini sedang duduk mengamati tingkah laku wanita yang juga seorang pegawai baru yang bekerja sebulan yang lalu. Dengan senyumannya Takeuchi tak pernah absen menyapa wanita tersebut, namun hanya ojigi yang selalu ia terima. Dibelakangnya datang Jung Woo yang menertawai Takeuchi saat dirinya menyapa wanita tersebut.
Nana-san?  Yamamoto Nana. Aku pergi dulu” pamit Jung Woo kemudian.
Dengan wajah kesal, Takeuchi menyilahkan.
Yamamoto  nana?” bisik Takeuchi.
Di sela langkahnya, bagai mobil yang di rem secara mendadak. Jung Woo tiba-tiba berhenti. Matanya memandang dari ujung kaki hingga ujung rambut. Saat wajah itu terlihat hatinya berbisik. Siapa pria yang bersama wanita pujaannya kini? Siapa pria yang menggandeng tangan wanita yang selalu ia khawatirkan? Siapa?
Takeuchi yang tadi sedang sibuk dengan komputer dan pegawai baru pun tak sengaja memandang hal tersebut. Terkejut. Di ujung pintu masuk, Jung Woo dan Asami serta seorang pria asing saling berpandangan. Bukankah itu Komiyama Asami? Dengan siapa dirinya sekarang? Namun pertanyaan itu tak ada yang menjawab. Dengan langkahnya yang berat, ia melihat Jung Woo berjalan mengikuti kemana dua manusia itu pergi.
Kenyataan yang sangat pahit kembali ia alami. Dengan berulang-ulang minta maaf Jung Woo tak menjawab ucapan Asami. Ia tak percaya ini akan terjadi. Kejadian itu seminggu yang lalu. Telepon yang tak terangkat itu, dua hari lalu. Jung Woo serasa ingin menjatuhkan badannya ke lantai bumi. Wanita yang selalu menyemangati Jung Woo dengan karir baristanya kini telah hilang.
Dan tak lama, wanita yang umurnya hanya terpaut satu tahun lebih muda dari Jung Woo itu pun melangkah pergi meninggalkan Jung Woo. Pria yang menemani Asami pun hanya tersenyum licik memandang Jung Woo. Sampai suatu malam, ia kembali ke kedai kopinya, dengan bayangan bagaimana wanita Jepang yang selalu menjadi penyemangatnya itu berpamitan pergi. Takeuchi yang sedari tadi sengaja membiarkan Jung Woo dengan malam yang akan menjemput raganya, dengan polos tiba-tiba ia menyambar dengan ucapan-ucapan yang aneh.
Jung Woo menghela nafas pendek. Kedatangan Takeuchi dengan ucapan anehnya, tak ia gubris. Bahkah ponsel yang dari tadi berdering pun tak ia pedulikan.
Hye Young?” cletuk Takeuchi.
Jung Woo diam di tempat.
apakah perlu aku angkat?
Jung Woo tetap diam.
Dan di lain tempat, Hye Young yang sangat khawatir. Mencoba menghubungi Jung Woo terus menerus meskipun Jung Woo tak mengangkatnya. Dan Jung Woo yang sangat terganggu dengan suara ponsel itu pun langsung mematikan ponsel tersebut. Di balik telepon, Hye Young terkejut. Ini bukan sekedar kabar, ayah Jung Woo sedang kritis di rumah sakit. Kakaknya yang ternyata diam-diam menginginkan kehadiran Jung Woo, mencoba menghubungi Jung Woo melalui akun SNSnya, namun akun SNS tersebut sedang tidak aktif.
bukankah itu Hye Young?” ucap Takeuchi.
bisa kau tinggalkan aku sendiri?” balas Jung Woo.
Takeuchi hanya mengangkat bahunya dan meninggalkan ruangan yang penuh dengan bubuk kopi.

Setelah beberapa hari ia terdiam dengan keadaan yang ia alami, hari ini Jung Woo berangkat ke suatu kota yang tempatnya tak jauh dari Yokohama. Di bandara Incheon, dengan meninggalkan segala pekerjaan di Korea, Hye Young melebarkan sayapnya terbang ke Yokohama. Mencoba menghubungi Jung Woo yang tak kunjung ada jawaban. Ia tak peduli meskipun Mina menyayangkan Hye Young harus meninggalkan pekerjaannya demi menjemput  Jung Woo. Entah apa yang fikiran Hye Young saat memutuskan untuk berangkat ke Yokohama. Dan saat sampai di bandara Narita, setelah sekitar setengah jam ia menaiki kereta, akhirnya ia sampai di Yokohama. Ia mencoba mendatangi setiap kedai kopi yang ia temui. Di pertengahan langkahnya, Hye Young berhenti.
apakah kau cemburu karena aku berpacaran dengannya?” pertanyaan yang kembali singgah di pikirannya.
inilah yang dilakukan seorang teman” gumam Hye Young.

apakah kau masih menginginkannya?
anieyo, hanya saja aku ingin dia kembali
bukankah sudah dua tahun?
arasseo
Terdengar percakapan di ujung kanan sebuah restoran. Wanita yang dari pertama sampai di Jepang itu tak pernah merubah tujuan dirinya mengapa ia di Jepang dan untuk apa ia jauh-jauh ke Yokohama. Ya, sekalipun dirinya harus menghitung matahari pun ia tak akan merubuah tujuannya. Meskipun dua tahun ini dirinya belum menemukan titik terang untuk tujuan tersebut.
Pria yang di depannya pun ingin wanita itu kembali ke Seoul. Bukankah pria yang ia cari tak pernah memandangnya? Bukankah pria yang selama ini ia inginkan tak menginginkannya kembali? Bukankah keadaan sekarang sudah berubah?. Mencegah. Pria tersebut tak sanggup mencegah kemauan wanita yang kini sedang menikmati secangkir cappucino. Wanita itu terlalu indah baginya jika ia meninggalkannya sendiri di Yokohama jika ia mencegah segala yang wanita itu inginkan.

Sore ini, genap sudah tiga hari ia di Yokohama, ia tak menemui kedai kopi dengan pemilik bernama Lee Jung Woo.
mungkinkah namanya berubah?” gumamnya sambil berjalan.
Hingga pada suatu waktu, seseorang menghampirinya yang sedang duduk di sebuah warung kaki lima.
apakah kau orang korea?
Hye Young mengangguk pasti.
di ujung sana ada kedai kopi, racikannya sangat pas, pemiliknya juga orang korea” dalih pria paruh baya.
Hye Young lantas berdiri. Ia langsung mendatangi kedai kopi yang ditunjukkan oleh pria tersebut. Namun, pemilik itu bukan orang yang ia cari. Pemilik kedai kopi itu wanita, bukan pria. Sesaat setelah Hye Young akan meninggalkan tempat tersebut, ia melihat ada dua kedai kopi. Hye Young mencoba berjalan ke kedai kopi yang jaraknya hanya beberapa langkah dari kedai sebelumnya.

Sudah tiga hari pula Jung Woo tak kembali ke Yokohama. Di ruangan yang gelap, ia menyalakan ponselnya yang lama ia matikan. Dalam sekejap, beribu-ribu pesan masuk. Baik di nomornya maupun di jejaring sosial. Isinya sama “pulanglah ke korea”. Jung Woo yang tak peduli dengan pesan itu pun hendak mematikan ponselnya kembali. Namun, tiba-tiba sebuah nomor telepon baru dengan kode Korea masuk di ponselnya. Setelah mengerutkan dahi, ia menekan tombol warna hijau di ponsel.
Jung Woo-aa! Appa! Appa! Appa masuk rumah sakit
Tanpa menjawab. Jung Woo kemudian langsung mematikan telfonnya.
Telepon seperti itu sudah pernah ia terima, tapi dalam kenyataannya ayahnya sehat dan baik-baik saja di Korea.

Disusul Hye Young yang kini telah menemukan kedai kopi Jung Woo. Hye Young akhirnya bertemu dengan tujuannya tiga hari terakhir. Nama kedai itu sedikit ada keanehan. “oda” yang dalam bahasa korea artinya “datang”. Nama apa yang Jung Woo pakai untuk kedai kopi ini. Ia sedikit tersenyum licik saat memasuki kedai tersebut. Dan kini ia sedang berbincang-bincang dengan Takeuchi sambil menunggu kedatangan Jung Woo.
Min Hye Young?” sapa seseorang. Wajahnya sedikit asing. Penampilannya lumayan nyentrik ditambah dengan make up alami yang turut menghiasi wajahnya.
apa kau tak mengenaliku?” lanjutnya.
Hye Young menggeleng ringan.
aigoo..
ohh, miwako-san, kau sudah datang” sambar Takeuchi sambil membawakan minuman untuk Hye Young.
nuguseyo?” tanya Hye Young.
Tak menyawab pertanyaan Takeuchi, ia mengatakan namanya. Yoon Soo Jin. Sebuah nama yang di dengar Hye Young saat ia sedang meneguk minumannya. Ia pun terkejut dan meneguk minuman tersebut dengan paksa.

Setelah menutu telfon tersebut, Jung Woo kemudian berjalan menghampiri mobilnya yang terpakir begitu saja. Ia berhenti ketika akan membuka pintu mobil. Langit yang bersih tanpa awan sore itu membuat Jung Woo menghela nafas. Sejenak ada sesuatu yang lewat di langit. Ia tersenyum. Waktu berlalu. Ia mencoba meninggalkan tempat itu, namun sesuatu seakan menahannya. Ia memandang ponselnya lama. Apakah benar ayahnya kini memang di rumah sakit? Benarkah? Apakah ayahnya menginginkannya karena kini ia berada di rumah sakit? Bahkan saat kepergiannya pun ayahnya tak mencegah sedikitpun. Benarkah sekarang dia menginginkannya hadir disana? Sejenak ia menghela nafasnya lagi dan kemudian meninggalkan tempat itu dengan laju mobilnya yang sangat kencang.

Senyuman itu terbentuk saat ia mendengar kabar tersebut. Tuan Lee sudah siuman, kabar tersebut juga sampi telinga Hye Young yang kini sedang mendengarkan cerita Soo Jin. Wanita yang dulu pernah dekat dengan Jung Woo. Wanita yang sempat menentang bahwa Jung Woo akan berangkat ke Jepang 7 tahun yang lalu. Kenapa ia berada di disini? Sebuah pertanyaan yang terlontar ketika Soo Jin memulai pembicaraan dengan Hye Young. Jung Woo tak mengetahui bahwa wanita tersebut sejak dua tahun yang lalu sudah berada di Yokohama. Apakah Jung Woo mengenalmu? Pertanyaan yang kemudian keluar dari mulut Hye Young. Soo Jin menggeleng ringan dan tersenyum.
kenapa kau menggeleng? Bukankah kalian saling kenal?” sambar Takeuchi.
Soo Jin tersenyum. Jung Woo mengenalnya bukan sebagai Yoon Soo Jin, melainkan Miwako Sakurada. Hye Young terkejut seketika. Soo Jin menyembunyikan identitas aslinya? Bagaimana bisa? Fikir Hye Young begitu saja. Soo Jin kembali tersenyum dan meneguk segelas moccacino.
Ia ingin Jung Woo kembali seperti yang dulu. Dimana dia tetap bisa membuat ayahnya tersenyum meskipun senyuman ayahnya itu palsu. Entah apa alasannya, Hye Young tidak tahu. Saat ia mendengar bahwa Jung Woo belum kembali ke Korea membuatnya ingin menyusul Jung Woo ke Jepang.
apakah kau masih mencintainya?” pertanyaan yang mengejutkan bagi Soo Jin.
Sejenak Soo Jin terdiam. Setelah itu ia tersenyum. Tapi Soo Jin mengerti bahwa itu tak bisa lagi sekarang. Mendengar ucapan Soo Jin, Hye Young memasang raut wajah penasaran. Soo Jin mengerti bahwa Jung Woo sudah memiliki wanita lain disini. Karena wanita itu pula Jung Woo kini entah berada dimana.
tapi wanita itu kini sudah bertunangan dengan orang lain” sambar Takeuchi yang tengah meneguk secangkir kopi yang sedari tadi masih mengepulkan asap. Pernyataan tersebut membuat Soo Jin terkejut. Begitu juga Hye Young.
entah apa yang menghampirinya. Jung Woo pergi beberapa hari setelah kedatangan wanita tersebut” lanjut Takeuchi.
Terdengar suara pintu terbuka. Pertanyaan Hye Young belum sempat terjawab. Jung Woo kembali.
apakah Asami benar-benar-” ucapan Jung Woo terhenti seketika saat ia melihat wanita yang berdiri di samping kanan Miwako. Kenapa bisa Hye Young sampai ada disini? Bukankah di Korea pekerjaannya tak pernah habis? Bagaimana bisa? Apakah benar-benar ayahnya dalam keadaan kritis?. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya. Suasana ruangan itu pun mendadak hening. Hingga sebuah bunyi ponsel yang memecah keheningan tersebut.
Hye Young mengangkat telefon tersebut. Di samping kabar lega bahwa Tuan Lee sadar, sebuah kabar mengejutkan dari keluarganya sendiri, orang tua Hye Young yang kecelakaan beberapa hari sebelum ia berangkat ke Yokohama, ibunya yang meninggal pagi tadi, malam ini disusul ayahnya yang mendadak terkena serangan jantung sesaat setelah ia sadar. Ia menutup telefon tersebut dengan tangan yang bergetar hebat.
Sejenak ia teringat, beberapa menit yang lalu, ia mendapat pesan yang mengabarkan bahwa Tuan Lee telah siuman. Membacanya Hye Young menghela nafas lega, namun sesaat sesuatu juga membuatnya terkejut. Terserah akan membawa Jung Woo kembali ke Korea atau tidak, terserah Hye Young, ucapan terakhir dalam pesan tersebut.
wae?!” bisik Hye Young keras saat melihat kedatangan Jung Woo di ruangan tersebut. Dimatanya, kakak Jung Woo adalah wanita yang baik. Wanita yang sehari-harinya selalu berada di depan kamera itu membuat Hye Young terkejut. Tidak mungkin ia berbuat seperti ini. Sesaat setelah Hye Young berangkat ke Yokohama, Mina meminta nomor telefon Jung Woo. Mengapa ia menghubungi Jung Woo hanya saat ayahnya dalam kedaan kritis? Mengapa dirinya yang harus mendengar kabar tersebut. Dengan langkah sigap Jung Woo menghampiri Hye Young. Meremas pundak Hye Young. Raut wajah Hye Young yang bertanya-bertanya membuat Jung Woo bertanya hingga bersungut-sungut. Jung Woo tak menginginkan kabar tak mengenakkan tentang ayahnya. Ruangan yang tadinya hening kini berubah menjadi lautan amarah Jung Woo. Miwako/Soo Jin dan takeuchi yang tak mengerti pun hanya melihatnya dengan polos.
wae?!” teriak Jung Woo keras.
Hye Young tetap saja diam.
mengapa kau tak menjawab?!” lanjut Jung Woo.
orang tuaku meninggal dunia” jawab Hye Young lemas. Tangan yang meremas pundaknya pun turun dengan perasaan terkejut pula. Hye Young memandang Jung Woo. Mengapa kabar yang seperti ini harus ia terima? Sebuah pertanyaan yang hadir dalam raut wajah Hye Young. Jung Woo memeluk tubuh Hye Young yang terlihat lemas.
apakah appa benar-benar masuk rumah sakit?” tanya Jung Woo.
Hye Young menggeleng. Ia ke Yokohama hanya kunjungan ke suatu tempat saja, sebuah alasan yang keluar dari mulut Hye Young dalam pelukan Jung Woo dan membuat Jung Woo tersenyum licik.
apakah kau akan pulang hari ini juga?” tanya Jung Woo setelah melepaskan pelukannya.
anieyo, aku masih harus menyelesaikan kunjunganku, gada” pamit Hye Young yang sudah tak kuat menahan air mata yang memaksa keluar.
Miwako-san, hajimemashita” lanjutnya dan pergi melangkah meninggalkan ruangan tersebut.
Hye Young-aa” panggil Jung Woo menghentikan langkah Hye Young.
appa, noona bogoshipeoyo” ucapan yang keluar dari mulut Jung Woo saat Hye Young akan membalikkan badan.
akan ku sampaikan saat aku sampai di Korea nanti,
arasseo


Pukul sebelas pagi. Dua hari setelah kabar tersebut menyerbu dirinya, Hye Young hari ini siap meninggalkan kota Yokohama. Kabar itu tak tersampaikan, kabar mengenai ayah Jung Woo benar-benar masuk rumah sakit. Kabar yang dibawanya dari Korea tak menghampiri telinga Jung Woo. Tapi, pesan malam itu. Apakah ia harus menyampaikannya pada kakak dan ayah Jung Woo? Jika ia menyampaikannya, reaksi apa yang akan ia terima? Hye Young bertanya-tanya sendiri sambil menunggu pesawat yang akan membawanya ke Korea datang.
Apakah Jung Woo benar-benar sudah tak diinginkan lagi? Mengapa hanya kabar buruk yang harus ia terima? Dimana Lee ahjussi dan Mina eonni? Mengapa mereka harus seperti ini?.
waeyo?” cletuk seseorang yang menghampiri Hye Young.
Yoon Soo Jin. Wanita itu. Ia duduk tepat disamping Hye Young.
aku akan membawanya kembali ke korea, apakah aku bisa menggantikanmu menjadi surat kabar untuknya?” tanya Soo Jin langsung sambil menyodorkan sebuah kertas dengan tulisan alamat E-Mail.
Hye Young tersenyum. Ia menghela nafas. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Hye Young hingga pesawat yang akan ia tumpangi datang. Hye Young berdiri tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Suara itu menghentikan langkah Hye Young.
ku harap kau bisa menjaganya. Kabarkan padaku jika dia sedang dalam bahaya” ucap Hye Young sambil menunjukkan kertas yang ia pegang.
Soo Jin mengangguk pasti. Setidaknya hal tersebut melegakan bagi Hye Young dan Soo Jin yang akrab disapa Miwako. Hye Young bisa mengabarkan sesuatu yang baik saja tanpa kabar yang buruk, setelah ini tak akan ada lagi suaranya yang terbata-bata yang akan didengar oleh Jung Woo. Tak akan ada lagi suara Jung Woo yang akan menghampiri telinganya.
akankah kau menepati janjimu? Yoon Soo Jin.” bisik Hye Young saat melangkahkah kakinya masuk ke dalam pesawat.

Di bagian dunia lainnya, Tuan Lee yang ternyata masih terbaring tak berdaya di rumah sakit, berharap ada Jung Woo yang menghampirinya malam ini. Pria paruh baya yang 5 tahun lalu sempat mencari anak prianya di Jepang, dan tidak ada hasil hingga membuatnya kembali ke Korea dengan tangan kosong pun kini terserang struk. Entah dari mana asal penyakit tersebut. Sudah dua hari pasca kesadarannya ia tak melihat Jung Min yang biasa disapa Mina menghampirinya di rumah sakit. Kemana Mina yang selalu disampingnya? Kemana Mina yang selalu menghiburnya saat ia rindu terhadap Jung Woo?.
eoddiseo?” bisiknya dalam hati.
apakah ayah sudah bisa berjalan?” sebuah kata terdengar di telinganya.
Mina-aa” ucapnya seketika.
Senyuman itu menghiasi raut wajah wanita yang baru saja berulang tahun ke 28 tahun tersebut. Begitu juga ayahnya membalas senyuman Mina.

Lima hari kemudian, hari ini genap 8 tahun sudah ia meninggalkan Korea. Jung Woo pernah bercita-cita menjadi pemain baseball, namun seiring umurnya bertambah, entah angin apa yang membuatnya beralih mengambil profesi sebagai barista. Di ujung ruangannya, ia sedang memainkan bubuk kopi. Beberapa menit kemudian ia berhenti, Takeuchi yang selalu mengamati kegiatan itu pun kini entah sedang berada dimana. Apakah karena bubuk ini kau tak menyukaiku? Apakah jika aku memegang bersama pemukulnya kau akan menyayangku dan memelukku? Fikir Jung Woo yang tanpa sadar meneteskan air mata.

Hye Young melihat Mina di bandara tersebut. Sesaat ia mengantarkan sepupunya yang akan pergi ke pulau Jaeju. Hye Young hanya mengamatinya. Menunggu hingga fans-fans itu bubar mengerubungi Mina.
artis Mina akan pergi kemana?” tanya Hye Young saat seorang fans melaluinya.
apakah kau tidak melihat berita? Di semua channel tv ditayangkan
anieyo

konbanwa tuan barista” sapa Miwako yang menyerobot masuk di ruangan tersebut.
ada apa?” balas Jung Woo.
Ia menaruh sebuah makanan di atas meja jauh di tengah-tengah ruangan tersebut. Tanpa dipersilahkan, Miwako duduk seenaknya. Jung Woo menghampirinya, senyuman itu hadir saat ia melihat makanan tersebut.
kemana Takeuchi?” tanya Jung Woo yang baru menyadari bahwa Takeuchi tak ada di ruangan tersebut.
mollayo” jawab Miwako.
Dalam sekejap ketika Jung Woo mendengar ucapan Miwako pun terkejut. Dimatanya, Miwako adalah orang asli Yokohama yang selalu enggan belajar bahasa asing selain bahasa inggris. Bahkan aksen bicara bahasa koreanya pun sangat kental. Seperti orang yang sudah lama hidup korea.
aku diajari Hye Young-san” ucap Miwako.
Jung Woo mengangguk. Duduk menikmati makanan yang dibawa Miwako. Miwako tersenyum hangat.
Hye Young-san, apakah dia temanmu di korea?
Jung Woo mengangguk.
dia teman yang separuh hidupnya bersamaku. Sebegitu dekatkah kau dengannya?
Miwako mengangguk pasti.
Hye Young yang ku kenal bukanlah wanita yang seperti itu
maksudmu?
dia bukanlah wanita yang suka menggurui orang. Benarkah kau diajari olehnya?
Pertanyaan Jung Woo seakan mencekik lehernya begitu saja. Apakah Jung Woo mengetahui dirinya yang sebenarnya. Miwako tersenyum polos. Takut, perasaan yang ada di balik senyuman Miwako.
kau tahu, sejak pertama melihatmu, wajahmu mirip Yoon Soo Jin, teman dekatku waktu dulu” cletuk Jung Woo lalu meninggalkan Miwako sendirian di ruang tersebut.

New York? Syutting layar lebar? Bukankah tuan Lee baru saja sadar. Beberapa pertanyaan hadir dalam benak Hye Young. Ia masih tak percaya akan pernyataan fans tersebut. Dengan cepat ia bertanya kembali. Jawaban yang ia dapat sama saja. Dengan cepat ia mendatangi rumah tuan Lee.
mwo?!” teriaknya saat sampai di rumah ayah Jung Woo.

Suara radio itu menemani Jung Woo yang sedang asyik berbincang-bincang dengan Miwako dan Takeuchi yang baru datang beberapa menit lalu. Tiga anak manusia itu semakin gila membicarakan sesuatu yang berada di luar akal mereka. Menerka-nerka kejadian di hari masa depan tentang mereka bertiga. Miwako yang masih dengan perasaan takutnya, ia mencoba mengikuti apa yang sedang Jung Woo dan Takeuchi lakukan. Namun, perbincangan itu berhenti ketika radio itu memberitakan tentang sebuah kecelakaan. “telah terjadi kecelakaan, pesawat Korea tipe X dengan tujuan New York. 12 luka ringan dan 10 luka berat, sisanya meninggal dunia di tempat. Belum dipastikan apa yang menyebabkan kecelakaan tersebut” berita yang keluar dari sound radionya. Jung Woo mengabaikan. Jung Woo yang sangat benci dengan berita kecelakaan pun meninggalkan ruangan tersebut. Karena dua temannya tak ingin saluran berita itu dialihkan.

Hye Young langsung menghentikan langkahnya saat sampai di Front Office rumah sakit dimana tempat ayah Jung Woo dirawat. “telah terjadi kecelakaan, pesawat Korea tipe X dengan tujuan New York. 12 luka ringan dan 10 luka berat, sisanya meninggal dunia di tempat. Belum dipastikan apa yang menyebabkan kecelakaan tersebut” berita di TV yang muncul begitu saja.
New York?” bisiknya.
apakah itu pesawat yang di tumpangi oleh Mina eonni?” lanjutnya.
Ia semakin serius mendengarkan berita tersebut bersama pengunjung dan para suster rumah sakit tersebut. Mata itu membelalak seolah akan keluar saat melihat korban kecelakaan. Namun, ia sedikit lega karena disana tak terlihat Mina. Hye Young melanjutkan langkahnya menuju kamar rawat ayah Jung Woo.

Miwako seperti orang buronan, mendegar berita tersebut ia langsung meninggalkan ruangan tersebut. Jung Woo dan Takeuchi tak mengerti mengapa wanita tersebut seperti itu.
ayah, ayah tak boleh meninggalkanku” bisiknya dalam langkahnya yang cepat. “termasuk presdir Yoon yang juga akan ada  perjalanan ke New York” kata dalam berita yang masih singgah di benak Miwako.

selain presdir Yoon, ada juga artis Lee Jung Min atau Mina yang kini sedang dalam keadaan kritis” berita itu menyambar telinganya dengan cepat saat langkahnya akan meninggalkan kerumunan tersebut. Ia membalikkan badannya melihat ke layar TV. Mina, itu benar-benar Mina. Nafas Hye Young seakan-akan berhenti saat itu juga.

Lee Jung Min? Seperti pernah mendengar nama tersebut” bisik Takeuchi yang masih mendengarkan berita tersebut tanpa Jung Woo. Suara merdu dalam lagu di kedainya membuatnya duduk santai di atas meja pengunjung. Dengan mata tertutup Jung Woo tersenyum.
bukankah itu kakak Jung Woo?” tebak Takeuchi saat mengingat cerita yang keluar dari mulut Hye Young beberapa hari lalu. Dengan cepat ia memberitahu pada Jung Woo yang sedang asyik menikmati lagu kesukaan ayahnya di pojok kiri kedai. Masa lalu yang mengajaknya berpariwisata itu pun membuatnya mengabaikan panggilan Takeuchi.
kakakmu termasuk dalam korban pesawat itu” ujar Takeuchi begitu saja.
Hye Young tak mengabarkan bahwa wanita itu pergi ke New York, mungkin kau salah dengar” balas Takeuchi.
aku mendengarnya
terserah kau mau bicara apa
Lee Jung Min, itu nama lengkap kakakmu kan?!” bentak Takeuchi ketika Jung Woo akan meninggalkannya.
Langkahnya terhenti dalam sekejap. “Lee Jung Min” nama itu masuk ke sendi-sendi tubuhnya melewati telinga. Mendorongnya mengangkat kerah baju Takeuchi. Dengan emosi yang bersungut-sungut ia marah dengan sepenuh tenaga dalam tubuhnya.
Hye Young tak mengabarkan padaku” bisiknya dalam hati sambil menatap Takeuchi yang tak melawannya sama sekali.
Jung Woo tak menerima kabar tersebut, namun ada Miwako yang menerima kabar tersebut. Sore tadi, E-Mail tersebut masuk. Saat ponselnya berbunyi, Miwako yang masih terkejut dengan ucapan Jung Woo kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas dan meninggalkan ruang tersebut dan kembali lagi saat ia bertemu dengan Takeuchi hingga malam saat kecelakaan terjadi.

Senyuman itu singgah di wajah ayah Jung Woo. Hye Young yang masih terkejut mencoba tersenyum sealami mungkin di depan ayah Jung Woo. Pria itu masih terbaring disana, tak beranjak sama sekali. Mengapa Mina eonni mengatakan yang lain? Bisiknya seraya menutup pintu.
ahjussi
lama tak melihatmu
banyak yang harus aku kerjakan
arasseo
Satu menit ayah Jung Woo membiarkan Hye Young menyiapkan buah untuknya hingga ayah Jung Woo menyambar telinganya dengan kabar yang kembali mengejutkan Hye Young.
benarkah Jung Woo enggan mengunjungiku?
Hye Young menanggapinya dengan senyuman seraya menyuguhkan buah yang telah ia kupas.
bukannya Jung Woo tak ingin mengunjungimu, dia disana sedang sibuk, mungkin bulan depan baru bisa
arasseo” balas ayah Jung Woo.


Kalimatnya terpotong saat ayahnya bertanya hal yang diluar akalnya. Soo Jin baru saja tiba di Korea sore ini dan langsung menuju ke rumah sakit dimana ayahnya dirawat. Pertanyaan itu sangatlah tidak mungkin jika ia lakukan. Setelah pertanyaan tersebut muncul, ruangan itu tak ada yang bersuara. Soo Jin tetap diam setelah ayahnya melontar pertanyaan “apakah ia kembali ke Korea karena akan menggantikannya?”. Ia berdiri meninggalkan tempat duduknya. Langit Korea yang menipu. Keruh namun tak mendung itu pun menjadi pelabuhan matanya setelah melihat hiruk pikuk kendaraan di luar.
apakah hanya itu yang ingin ayah katakan saat aku kembali?” tanya Soo Jin.
Tak ada suara lagi. Ayahnya terdiam.
besok aku akan kembali ke Jepang, jadi ayah jangan berfikir yang aneh-aneh” lanjut Soo Jin yang kemudian meninggalkan ruangan tersebut.
Ayahnya memandang lemas punggung anaknya yang terpaksa dimakan oleh pintu. Di balik pintu itu pun Soo Jin melepaskan pegangan pintu itu dengan lemas pula. Sudah 2 tahun lamanya ia di Jepang. Mengapa saat ia kembali ke Korea ia harus menerima pertanyaan yang serupa? Pertanyaan yang membuatnya pergi menyusul Jung Woo ke Jepang. Perlahan-lahan ia melangkahkan kaki keluar dari rumah sakit.

Setelah lama ia duduk di kursi bandara, ia pun melangkahkan kaki keluar dari bandara. Jung Woo mengurungkan niatnya yang akan kembali ke Korea. Saat ia akan menghampiri mobilnya, seseorang berdiri di depannya dan menghalangi jalan.
Asami?” bisiknya dalam hati saat melihat wajah orang tersebut.
apakah kita bisa meninggalkan tempat ini?
aku tidak bisa, pulanglah” balas Jung Woo seraya meninggalkan Asami yang sedari tadi menunggunya keluar dari bandara. Suara teriakan kembali menghentikan langkah Jung Woo. Jung Woo tak membalikkan badannya, ia kembali berjalan menuju mobilnya dan melaju kencang ke suatu tempat.

Ia menuju sebuah rumah yang tak ada penghuninya setelah dirinya mengunjungi sebuah pemakaman. Ia melihat seluruh ruangan rumah tersebut. Membayangkan hiruk pikuk di rumah tersebut. Bagaimana ramainya saat itu, betapa sepinya jika salah satu tak ada. Namun, sedalam apapun ia membayangkannya, semua itu hanya sekedar masa lalu. Tidak ada lagi orang yang selalu menyiram tanaman dengan suara nyanyiannya yang aneh di padu dengan gemercik air yang keluar dari slang. Tidak ada lagi orang yang selalu membangunkannya dengan kepulan masakan yang ia bawa. Sejenak ia tersenyum dan air matanya membasahi pipi. Ia mengusapnya dan kembali tersenyum. Melangkah ke sebuah ruangan.
Hye Young-aa, hari ini eomma dan appa mengunjungi pemakaman teman ayahmu. Kalau kau sudah di rumah, makanan sudah tersedia di dalam kulkas” secarik kertas yang menempel di pintu sebuah lemari es. Kertas itu masih menempel disana. Kertas yang tertulis saat dirinya menjalani tes masuk sebuah Universitas.
mengapa kau senang sekali berdiri di depan lemari es?” tak ada yang akan bertanya seperti itu lagi. Ia memegang pintu lemari es tersebut. Ia mendadak terisak. Tangisan yang keluar seakan menahan nafas Hye Young. Air mata itu tak henti-hentinya membasahi pipi halus Hye Young.
Wanita yang pernah memiliki janji pada ayahnya bahwa ia akan menikah sebelum ayahnya meninggal itu pun sekarang jatuh terduduk di depan lemari es kesayangan ibunya. Memandang ke arah kursi yang tak pernah absen diduduki oleh ayahnya, memandang dapur yang selalu ramai dengan omelan peralatannya karena ulah tangan ibunya yang selalu ia pegang saat sakit, yang selalu ia pegang saat kelelahan, yang selalu ia pegang saat menangis. Semakin ia teringat semua itu, air mata tersebut semakin deras membasahi pipinya. Tidak ada.
eobseoyo” bisik Hye Young di tengah tangisannya yang semakin menjadi-jadi.

Jung Woo masih berdiri di pesisir pantai tersebut. Angin yang mengibaskan bajunya ke kanan kiri tak membuatnya beranjak dari tempat itu. Desiran ombak yang kencang mengayunkan rambutnya yang sedikit coklat. Ia melepaskan pandangannya jauh ke ujung lautan. Sejenak ia memandang ke arah kanan tempat ia berdiri. Melihat sebuah keluarga yang sedang asyik menikmati suasana pantai tersebut. Seakan ia pulang ke Korea hari ini juga, kenangan masa kecil menghampiri Jung Woo. Namun, ia membuangnya dan beranjak dari tempatnya berdiri 30 menit yang lalu.

Ramainya pelanggan hari ini membuat Takeuchi tak bisa menghubungi Jung Woo yang sekarang ia tak mengerti dimana Jung Woo berada. Pegawai di kedainya kewalahan karena hari ini pengunjung kedai lebih ramai dari biasanya. Hari ini, untuk yang pertama kalinya ia melihat ledakan pengunjung di kedai tersebut. Dan tanpa ia sadari, datang seseorang memesan sebuah kopi yang harus di racik oleh pemilik kedai tersebut. Di kedai tersebut tidak ada atasan yang lain selain Takeuchi, permintaan tersebut membuat nyawanya seakan meninggalkan raganya seketika. Takeuchi bukanlah orang yang handal dalam hal meracik kopi. Ia di kedai ini hanya memegang keuangannya saja. Beberapa menit kemudian, suara Jung Woo melegakan bagi Takeuchi.
ada yang memesan kopi dengan racikan tanganmu” bisik Takeuchi seketika.
Jung Woo melangkah pasti menghampiri orang tersebut. Pria seumuran ayahnya sedang membelakangi Jung Woo. Ia pun terkejut saat yang meminta itu adalah tidak lain teman lama ayahnya yang dulu pernah akan membawanya berlatih baseball di luar negeri.
oreumaniya?” ucapnya seketika.
suaramu tak asing sedikitpun” lanjutnya.
Jung Woo duduk tepat di depan pria tersebut. Tanpa menghiraukan pertanyaan orang tersebut, Jung Woo langsung menyodorkan sebuah buku menu. Tak lupa dengan senyumannya.
apa yang bapak pesan? Disini ada menu baru
sebenarnya aku disini tidak ingin memesan kopi, aku ingin bertemu denganmu
Tanpa banyak basa basi, Jung Woo langsung menyilahkannya masuk ke kantor. Pria tersebut pun menolak, ia mengajak Jung Woo ke salah satu warung kaki lima. Jung Woo pun mengikuti pria paruh baya tersebut.

Ada suatu kabar yang membuatnya tergopoh-gopoh memutar mobilnya kembali menuju rumah sakit tempat ayahnya di rawat dengan kecepatan yang sangat tinggi. Di sisi jalan lain terdapat mobil Hye Young yang juga melaju tak kalah kencang.
ayahmu... dia...” ucap dokter dengan gagap.
waeyo?” tanya Soo Jin takut.
kita tidak mengetahui apa sebabnya, tiba-tiba saja penyakitnya kambuh, sekarang dia berada di ruang ICU
Ucapan dokter tersebut bagai belati yang menyambarnya seketika. Ayahnya tak pernah memiliki penyakit apapun. Namun, mengapa ada penyakit yang kambuh? Fikirnya. Setelah berbincang-bincang dengan dokter, kenyataan yang tak diketahui Soo Jin membuatnya terkejut. Setelah perbincangan tersebut, tak lama Soo Jin pun keluar dari ruangan dokter. Air matanya keluar. Dengan segera ia mengusapnya.
appa, wae?!

wae nan?” bisiknya saat memasuki rumah sakit tersebut.
dia ingin bertemu denganmu, sekarang” ucap manajer Mina yang melihat kedatangan Hye Young. Matanya memancarkan pertanyaan. Saat ia masuk ke ruangan dimana Mina di rawat, untuk yang kesekian kalinya ia terkejut. Kaki wanita yang selalu tampil menghiasi TV kini telah di amputasi, entah apa sebab semua itu, Hye Young enggan menanyakan hal tersebut.
anja” ucap Mina.
Hye Young hanya menghampiri jendela yang sedari tadi siap menyambut kedatangan Hye Young.
waeyo?” tanya Mina.
wae mwo? Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Hye Young kembali sambil menahan air matanya.
apakah kau bertemu dengan Jung Woo saat itu?
Hye Young mengangguk.
apakah kabarnya baik-baik saja?
Hye Young kembali mengangguk.
apakah dia mengetahui bahwa aku-
ayahmu tidak mengetahui ini, kau bisa lebih tenang. Aku mengatakan padanya kau akan pergi ke New York. Aku tidak bisa lama-lama, gada. Annyeong.” pamit Hye Young semaunya.
Hye Young-aa” panggilan Mina menghentikan langkah cepat Hye Young.
jamsseuda” ucap Mina singkat.
Tanpa merespon apapun Hye Young langsung meninggalkan kamar Mina. Kabar tentang Mina tidak ia dengar sama sekali. Hye Young menahan nafas. Beberapa jeda waktu kemudian, ia memasuki mobilnya. “Kenapa harus dirinya yang menerima ini semua? Mengapa seakan-akan semua ini dilimpahkan di pundaknya begitu saja? Mengapa ia harus ikut dalam dunia yang seperti ini?” gerutu berbagai pertanyaan di fikirannya saat dalam perjalanan. Sesaat dia langsung membanting setir menepikan mobilnya ke tepi jalan.
WAE?!” teriak Hye Young seketika.

Matanya membuka malam, ia masih duduk di atas kursi warung kaki lima. Berjam-jam ia duduk disana. Ia tak peduli dengan panggilan pemilik warung. Pemilik warung mengerti bahwa orang yang sekarang masih duduk di warungnya adalah pemilik kedai kopi “oda” di sebrang.
apakah kau mau segelas minuman lagi?” tanya si pemilik warung.
Jung Woo menggeleng.
jamsseuda” ucap Jung Woo saat pemilik warung akan pergi meninggalkannya.
apakah kau seperti ini karena pria yang minum bersamamu tadi?” tanya pemilik warung menghiraukan kata-kata Jung Woo yang tak ia mengerti.
tidak, aku pergi dulu, konbanwa” pamit Jung Woo.
Jung Woo kembali. Di tengah pintu masuk, ia memandang sekerumunan pengunjung. Dan sekerumunan orang tersebut tiba-tiba hilang. Kedai kopi tersebut mendadak menjadi rumah yang ia tinggalkan 8 tahun lalu. Takeuchi yang menghampirinya, tiba-tiba menjadi ayahnya yang selalu menyambut kedatangannya saat ia pulang sekolah. Wanita di ujung yang sedang membersihkan meja, tiba-tiba menjadi ibunya yang setiap ia pulang sekolah selalu membersihkan meja makan. Adapun wanita lain yang sedang memainkan ponsel, tiba-tiba menjadi kakaknya yang selalu sibuk dengan dirinya sendiri.
Selangkah ia beranjak dari tempatnya berdiri. Seluruh pengunjung yang sedang memesan kopi kesukaannya, yang sedang menunggu di hampiri pelayan kedai tersebut, maupun yang sedang menikmati kopi hangat mereka memandang Jung Woo yang sejak 10 menit lalu berdiri disana. Seakan masa lalu yang ia lupakan menghampiri dirinya begitu saja. Tetesan air mata membuat Takeuchi terkejut. Dengan paksa Takeuchi menutup kedainya tanpa persetujuan Jung Woo. Semua pengunjung bertanya-tanya. Entah apa yang kini sedang di fikiran Jung Woo, Takeuchi tidak tahu, ia membiarkan Jung Woo disana sendirian. Saat pengunjung sepi pun Jung Woo masih berada di tempatnya berdiri.
maldo andwe” ucapnya.
ayahmu sekarang terkena struk, kakakmu salah satu korban kecelakaan pesawat” kata-kata itu masih melekat dalam otak Jung Woo. Ia tak tahu harus melakukan apa.
apakah dunia ini akan meninggalkanku?” cletuknya.


Di sabtu yang cerah, dengan pakaiannya yang elegan, ia menyambut hari ini dengan sebongkah fikiran yang kosong. Tanpa masalah apapun. Ratusan orang yang berlalu lalang di dekatnya membuat ia mengurungkan niatnya untuk mengendarai mobil.
kau sudah baikan, kapan kau dapat izin pulang?” tanya Hye Young saat sampai di kamar rawat inap Mina.
besok. Aku akan pulang ke apartemenku
waeyo?
appa...
dia sudah lebih baik, dia di rumahku
kau membawanya?
Hye Young tersenyum. “seminggu yang lalu dokter mengecek kesehatannya membaik, jadi dia boleh pulang. Dia sudah terlalu lama jika harus di rumah sakit” dalih Hye Young panjang lebar tanpa diminta Mina.
kau akan menjaganya?
dia sudah seperti ayahku sendiri, kalau kau pulang ke rumah, mungkin lebih baik. Gada. Annyeong.” pamit Hye Young dengan senyum sumringah yang menghiasi wajahnya.
ahh! Sebelum aku mengembalikannya padamu, aku akan merawatnya hingga lepas dari kursi roda.” lanjut Hye Young.
arasseo” balas Mina.

Miwako. Sudah tiga bulan ia tak mendatangi kedai kopi Jung Woo. Takeuchi penasaran. Tiga bulan juga kedai ini tutup. Sangat lama. Alasan penutupannya pun Jung Woo tak mengatakannya pada Takeuchi. Jung Woo tiga bulan terakhir ini selalu pergi ke club malam. Tak ada kabar yang ia terima dari Hye Young lagi. Ruangan itu hanya terdengar suara robekan kertas sedari tadi. Hingga tempat sampah pun tak bisa menampung lagi. Takeuchi yang sedang mengamatinya pun enggan meninggalkan.
apakah aku berbeda?” suara Jung Woo membuat Takeuchi mengedipkan matanya.
ne.” jawab Takeuchi seketika.
Matanya memaksa menerobos keluar cendela di ujung ruangan. Mencoba menembus ruang waktu. Entah apa yang membuatnya selalu membayangkan masa kecilnya selama tiga bulan terakhir. Setelah ia bertemu dengan teman ayahnya di warung kaki lima. Setelah ia tak pernah mendapat kabar dari Hye Young lagi. Setelah ia mulai menutup kedai kopinya untuk sementara. “Jung Woo-aa, bawa bolanya kesini. Jung Woo-aa, kaja! Sudah waktunya kau makan. Jung Woo-aa, saranghae” suara itu sangat jelas dan semakin jelas setiap hari.
Jung Woo beranjak dari tempat duduknya. Menakar gula, menakar kopi. Dibawanya ke jendela. Angin seakan sangat bahagia saat ia membuka jendela tersebut.
jika kopi tanpa gula, apa jadinya?
dia akan pahit
jika gula tanpa kopi, apa jadinya?
dia akan tetap manis
Jung Woo tersenyum ringan. Ia menghela nafasnya panjang berkali-kali. Disusul matanya yang ia pejamkan. Badan yang sedang tersandar di ujung jendela itu pun seakan tertopang oleh banyak kayu hingga dirinya mampu tersenyum sebegitu ringan.
besok, kita buka kembali kedai kopi kita” ucapnya seraya ia pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Takeuchi pun merespon bahagia.
namun, apakah kau akan kembali ke Incheon?” pertanyaan yang tak sengaja hadir di fikiran Jung Woo saat akan meninggalkan jendela tersebut. Pertanyaan yang ia terima dari Hye Young 8 tahun lalu itu belum terjawab.
ahh iya, apakah Miwako menghubungimu?” tanya Takeuchi.
bukankah kau tahu, ponsel itu kumatikan, kenapa?
hanya saja, setelah berita kecelakaan itu aku tak mendengar kabarnya
bukankah di kecelakaan itu juga ada presdir Yoon? Bukankah dia ayah Soo Jin? Mungkinkah Miwako memang Soo Jin?” bisik Jung Woo dalam hati.
apakah kau melamun lagi?
tidak, aku pergi dulu.
Seperti ada sesuatu yang tidak ia ketahui. Jung Woo menyetir mobilnya dengan kebiasaan menggosok-gosokkan jarinya di hidung. Memikirkan hal-hal aneh.

Rasanya mulut jadi jantung. Jantung jadi mulut. Kata-kata berjalan ke belakang kepala, terpompa masuk ke darah, dan ia bisa merasakan alirannya. Kata-kata itu lantas mendaging dan mendarah. Membadan. Sel-sel baru. Dan ia kini sedang jatuh terduduk dengan nyawanya yang seakan-akan di cabut hari ini juga. Akan tetapi, seseorang menepiskan rangkulan di tubuhnya. Dan sebelum Soo Jin bisa berkata-kata, dia mencerocos panjang lebar tanpa disuruh Soo Jin. Pertama dalam 6 tahun sejak ia mengenal Soo Jin, ia berani merangkul Soo Jin seperti ini. Tubuhnya yang sebenarnya bergetar pun tak membuat Soo Jin hengkang dari rangkulan pria tersebut. Ia memberanikan diri menyentuh tubuh Soo Jin, manusia yang selalu ingin memayungi Soo Jin. Di pegangnya tangan yang merangkul tubuhnya, Soo Jin memandang wajah manusia tersebut. Park Cheon So.
apakah ayah benar-benar meninggalkanku?” tanya Soo Jin yang tak kuat menahan air matanya.
Dengan kulitnya yang halus nan sejuk pun Cheon So mengusap air mata tersebut. Hampir satu menit jari itu tak meninggalkan pipi Soo Jin.
meskipun ia pergi dengan pesawat VIP, dia tak akan meninggalkanmu” cletuk Cheon So.
hajiman...
apakah setelah pemakaman kita harus ke pantai?” tanya Cheon So menenangkan Soo Jin.
terlalu mempesona jika aku harus kesana
geurigo, haruskah kita ke pusat nelayan? Atau menggantikan pegawai ayahmu?
Seketika Soo Jin membumbui wajahnya dengan senyuman. Begitu pula Cheon So yang sedari tadi menunggu momen tersebut.

bukankah pagi ini sangat cerah? Mengapa kau memandang kaca itu dengan serius?” tanya Hye Young saat mendapati ayah Jung Woo berada di dekat jendela.
anieyo, hanya saja disana ada Jung Woo kecilku” balas ayah Jung Woo yang membuat Hye Young kembali merasakan apa yang sering ia rasakan tiga bulan lalu.
ahh, geurae. Disana ada Jung Woo kecil. Apakah kau ingin berbicara dengannya?” tanya Hye Young seraya menyuguhkan segelas air putih.
Ayah Jung Woo tersenyum seraya menggeleng.
wae? Apa karena dia sedang asyik bermain
ne, dia sedang asyik dengan biji-biji kopi
Hye Young tersenyum. Lama, Hye Young dan ayah Jung Woo menikmati khayalan tersebut. Ayah Jung Woo sudah benar-benar menerima profesi Jung Woo.
bagaimana kalau malam ini kita berdua karaoke?” sebuah pertanyaan yang mengejutkan ayah Jung Woo.
aigoo, jangan bilang seorang pelatih baseball tak pernah pergi ke karaoke” lanjut Hye Young meninggalkan ayah Jung Woo yang masih berada di dekat jendela di atas kursi roda.
benarkah itu?” lanjut Hye Young dengan suaranya seakan-akan tak percaya hingga membuat ayah Jung Woo tertawa tergelitik.
15 menit Hye Young membiarkan ayah Jung Woo tertawa seperti itu. Sudah lama gelak tawa dari wajah tuanya tak terlihat. Hye Young tersenyum bahagia, meskipun di benaknya kini muncul “mengapa Soo Jin tak pernah membalas E-Mail yang ia kirim kepadanya?”.
pergi jam berapa? Apakah aku harus tampil gagah?
mwo... gagah?
Bermenit-menit Hye Young memandang tubuh dan wajah ayah Jung Woo, sambil mengerutkan dahinya, dengan jari yang di gosok-gosokkan di dagu.
ahh! Kau hanya harus tampil bahwa kau sekarang sedang ingin masuk ke ruang karaoke, itu saja
mworago?
Hye Young tertawa hingga membuatnya mengeluarkan air mata.

ayahmu hari ini akan pergi ke karaoke” pesan yang baru masuk saat ia akan memulai hari baru. Kedai kopinya hari ini buka kembali. Pengunjung sepertinya sudah sangat rindu. Seakan mereka tak pernah minum kopi selama kedai kopi “oda” milik Jung Woo tutup.
hari ini aku yang akan meracik kopinya” cletuk Jung Woo saat selesai membaca pesan dari Hye Young. Ia kantongi ponsel tersebut. Dengan senyuman ia keluar dari ruangannya. Pengunjung yang sedang melihat Jung Woo di tengah-tengah kedai pun tersenyum.
tuan! Apakah aku bisa pesan padamu langsung tanpa melalui pelayanmu?” seorang pengunjung bertanya pada Jung Woo yang baru saja memegang sendok kopi.
Jung Woo mengangguk. Dan anggukan itu pun membuat buku menu dan pelayan terbuang begitu saja. Entah apa yang membuatnya hari ini kembali dengan meja tersebut. Seakan Jung Woo mampu membuat register perilaku yang ia susun dalam hidupnya pagi ini. Makin panjang dan makin mempesona. Ia semakin bergairah kala gelas kopi masuk dalam genggamannya. Senyuman pengunjung seakan mengembalikan nyawanya satu persatu.

Pohon-pohon ini menjulang tinggi melebihi tiang listrik, batang kokohnya sebesar pelukan lengan orang dewasa, dan apabila berdiri di bawah lalu melihat ke atas, niscaya pucuk tertingginya tak terlihat. Pepohonan itu sangatlah rimbun. Menyejukkan. Melindunginya dari pancaran sinar matahari. Di atas kursi rodanya, Mina tersenyum ringan.
hari ini kau ada wawancara
kenapa kau menerimanya?
aku sudah bingung harus menjawab apa, banyak yang ingin melihatmu pasca keluar dari rumah sakit
Mina menghela nafas. Menerima permintaan manajernya. Ponsel yang berada di pangkuannya pun ia raih. Menekan tombol panggil pada sebuah nama. Min Hye Young.
ne, yeobeosseo
apakah kau bisa ke rumahku sekarang?
ne” jawab Hye Young singkat.
Tak lama Hye Young sampai di rumah Mina. Terlihat banyak wartawan yang sedang duduk di depan rumah Mina.
di luar, mengapa banyak wartawan?
mereka akan mengunjungiku
karena itu kau memanggilku?
Mina tersenyum. “ini akan tayang di seluruh chanel tv
kau jumpa-
jangan bilang kau mau mengatakan jumpa pers. Apa otakmu tak berjalan? Mana ada jumpa pers seperti ini ha?!
Hye Young tergelitik. Kata-kata kasar ala Mina sudah kembali. Dan di tempat tersebut, Hye Young menyaksikan apa yang sedang terjadi pada Mina. Setelah wartawan itu pergi pun Mina meneteskan air mata. Hye Young membiarkan hal itu menghampiri Mina, ia tak mencegahnya sama sekali.

Di rumah Hye Young, ayah Jung Woo menunggu Hye Young yang tak kunjung kembali.
dia pandai dalam memainkan perasaan orang tua” bisiknya.
ani, aku datang! kaja” sambar Hye Young yang datang secara tiba-tiba. Hubungan Hye Young dan ayah Jung Woo kini sangat akrab. Bahkan Hye Young selalu merasakan keakraban tersebut.
bisa putar lagu-lagu lama?” tanya ayah Jung Woo saat memasuki ruang karaoke.
hya, ahjussi
hya, agashi
Hye Young menuruti permintaan ayah Jung Woo. Hye Young tak ikut menyanyi, hanya menikmatinya hingga selesai. Dengan sesekali menyilangkan tangannya lama kelamaan akhirnya Hye Young menikmati lagu yang sedang di putar. Ia mengamati bagamaina ayah Jung Woo menyanyikan lagu tersebut. Seolah tersimpan kenangan di dalamnya. Sangat manis jika di buang begitu saja. Tergambar jelas jika melihat ekpresi wajah ayah Jung Woo.

Lalu lalang mobil membuatnya terdiam di sebuah restoran. Soo Jin memandang keluar kaca. Senyum itu datang. Menyisihkan awan hari ini. Di depannya duduk seorang pria yang memakai kemeja biru. Sudah lama ia di Korea. Sudah lama juga Soo Jin menunda perjalanannya kembali ke Jepang.
kau tahu Cheon So” ucapnya di tengah senyumannya.
mwoya?
gidareoyo
mwoya?
Seakan Soo Jin sedang dirasuki roh. Membicarakan sesuatu yang tak dimengerti Cheon So. Namun, pria yang masih dilanda rasa tidak mengerti dengan kata-kata Soo Jin, terus memandang wajah yang memandang jauh keluar.


Langit Yokohama malam ini di hiasi dengan hujan. Kedainya kini hanya buka setengah hari. Di depan pintu kedainya yang masih membuka sedikit, ia membayangkan hubungan ghaib antara air hujan dan tanah. Ia menarik nafas panjang. Kini ia sedang menikmati aroma tanah yang basah karena air hujan. Puluhan orang perempuan dan pria berlalu lalang di depannya dengan benda yang melindunginya dari air hujan. Suara gelak tawa menggelitik telinganya hingga ia pun melebarkan senyumnya.
Jung Woo-aa, mwohaneungeoya?” ingatan itu kembali. Saat ia tengah menengadah di bawah derasnya hujan. Seakan ia melihat Mina berlari menghampirinya yang sedang berdiri sendirian. Seakan Mina akan memayunginya di tengah derasnya hujan. Ia melangkahkan kakinya keluar dari tempat persembunyiannya hingga air hujan kini benar-benar membasahi badan yang lelah.
oraeumanieyo?” ayahnya seakan muncul dari belakang Mina. Dengan ibunya yang mendorong kursi roda ayahnya, Soo Jin di sampingnya tersenyum.
presdir, apakah kau akan tidur disini?” tanya seorang pegawai.
mwoya!
tidurmu nyenyak sekali” sambar Takeuchi.
Jung Woo menegakkan badannya. Berlari keluar dari kedai.
bukankah tadi hujan?
bicara apa kau, langit malam ini sungguh indah dengan bintang-bintang kau bilang sedang hujan?!” balas Takeuchi searaya menggeleng heran.
Ia tengok langit yang memang benar-benar tak ada tanda-tanda hujan. Jung Woo merasa aneh. Jelas-jelas mereka ada di depan kedainya.
apakah kau sedang bermimpi bertemu seorang putri?
Jung Woo mengerutkan dahi.
mwohaneungeoya? Apakah kedai ini sudah tutup?
Jung Woo sesekali memejamkan matanya.
mwoya! Hya! Jung Woo-aa!
Hye... Hye... Hye Young-aa?
wae? Kenapa suaramu seperti itu? Bukankah sekarang masih sore?
Sekejap pandangan Jung Woo menghampa. Perlahan, ia menarik lengan tangan Hye Young hingga membuat Hye Young kesal.
apakah otakmu tertinggal di dalam gelas kopi?!
hya!
igo” Hye Young mengeluarkan sesuatu dari dalam tas.
mwoya?!
hahh! Hidup ini membosankan, Jung Min, ahh Mina eonni, menyuruhku memberikan ini, bulan depan kau harus ke Incheon, ha?! Arasseo?!
Dengan pelan dan sabar, Takeuchi mencoba membangunkan Jung Woo yang kembali tertidur. Sampai akhirnya, Jung Woo membuka mata dengan disaksikan beberapa pegawainya. Ia terkejut.
bisakah kau tidur di ruanganmu?!” bentak Takeuchi seketika.

aigoo, jadi semalam kau tak pulang? Apakah semalam kau menginap di hotel?
Hye Young menggeleng ringan.
semalam aku tertidur di studio, apakah kau sudah sarapan?
Ayah Jung Woo mengumpat.
hya! Ahjussi!
Menghela nafas. Hanya menghela nafas. Hye Young langsung bergelut dengan peralatan dapurnya. Bernyanyi sesuka hati.
apakah kau sedang jatuh cinta?” tanya ayah Jung Woo yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku Hye Young.
apakah bernyanyi pertanda orang jatuh cinta?
Ayah Jung Woo tersenyum.
ohh sesange! Senyummu! Senyummu masih menawan! Aigoo..
aigoo..
apakah kau ingin bercerita? Aku akan mendengarnya sambil memasak
Lama. Ruang tersebut mendadak hening. Hanya terdengar suara masakan yang terpanggang di atas kompor. Sejenak suara melepas keheningan. Ayah Jung Woo bercerita. Dengan saksama telinga Hye Young mendengarkan. Jaraknya tak jauh dengan mulut ayah Jung Woo. Mulutnya terus bercerita, namun pandangannya tergiring keluar jendela. Seolah sedang membayangkan sesuatu. Tubuhnya yang gagah dan tinggi besar pupus di kursi roda. Cerita yang mampir di telinganya semakin lama semakin terkesan ragu-ragu. Ia seakan takut tak akan bertemu dengan anak laki-lakinya lagi. Dengan cepat Hye Young meraih pundak ayah Jung Woo. Hye Young mencoba membuat semua itu menjadi pasti. Asap masakan yang mengepul hangat di hidung tak membuatnya berhenti bercerita. Hye Young masih dengan raihan tangan di pundaknya, ia menyambar cerita. Dan mata tua itu pun berhenti menerawang, mencoba menemukan mata wanita disebelahnya. Mereka berdua tersenyum.
kaja!” ucap Hye Young.

Cheon So masih lelap dengan wajah yang kusut di atas bantal. Soo Jin membiarkan. Memandang wajah tersebut dengan tamat. Polos. Kaca mata yang biasa berada di sela-sela wajahnya kini sedang bernaung di meja. Menyaksikan rambut coklat tua yang bertumpukan halus. Seakan sedang diabadikan di dalam lukisan. Soo Jin tersenyum kecil.
Tak lama, mata itu merem melek. Beberapa menit hingga Soo Jin sadar ternyata Cheon So tengah menjemput pandangannya. Seperti sudah puas memandang wajah tersebut, Soo Jin berdiri.
palli! Kau harus mengantarku ke bandara!” cletuk Soo Jin.
jam berapa sekarang?
bukankah di depanmu itu jam dinding?!
Wanita yang selama ia tidur memandangi wajahnya kini berubah sikap dengan garang bak gangster. Cheon So tersenyum. Memaksa badannya pergi ke kamar mandi.
Soo Jin duduk sendiri di kamar. Mencoba kembali membayangkan wajah Cheon So. Pria yang kala di SMP sangat terkenal dengan permainan catur yang dimainkan. Dengan selera peminum kopi yang tinggi. Dengan kaca mata yang selalu menghiasi wajahnya yang bulat. Sekejap Soo Jin terkejut mendengar suara Cheon So yang datang memasuki sendi-sendi tulang melalui kedua telinganya.
wae!
wae mwo?!
arasseo
Wajah itu memandangnya garang. Pandangan yang tajam. Langkah itu mencoba mendekati Soo Jin.
arata! Hya! Park Cheon So!
Kakinya seakan menginjak paku. Cheon So tersentak. Suara wanita itu semakin membuatnya mendekati wanita tersebut. Ia pandang wanita yang kini masih terduduk di atas tempat tidurnya. Dengan wajah takut, Soo Jin mengumpat tak karuan. Cheon So hanya tersenyum. Menepi di dekat jendela. Ia buka kaca tersebut. Udara segar menyambut Cheon So.
kenapa kau seperti itu?!
disini sangat indah pemandangannya, mengapa pikiranmu sangat kotor?
Wajahnya berubah terkejut saat mendapati Soo Jin tengah mengambil start. Entah apa yang akan Soo Jin lakukan. Dengan lengannya yang panjang, ia mencoba meraih tangan Soo Jin yang sedari tadi berayun-ayun.
mwoya?!” teriak Soo Jin saat tubuhnya jatuh di pelukan Cheon So.
Cheon So tersenyum licik.
selama aku tidur, apa yang kau lakukan dengan wajahku?
a-a-ani. Anieyo! Aku tak melakukan apapun!” protes Soo Jin yang memaksa Cheon So untuk melepaskan Soo Jin.
kaja! Kita harus segera ke bandara” ucap Cheon So ringan dan melepaskan Soo Jin begitu saja.

Ia masih mencoba mereka-reka kejadian semalam. Semalam menurutnya bukanlah mimpi. Ayah, kakak, Soo Jin, Hye Young berada di depan kedainya. Jung Woo masih dalam keadaan tubuh yang terbaring di sofa kantor. Dalam fikirannya, bagaimana bisa mimpi bisa sebegitu nyata. Bahkan, ibunya yang sudah meninggalkannya disana pula.
bulan depan” cletuknya.
ada apa?” tanya Takeuchi yang tengah sibuk dengan laptop di depannya.
Jung Woo hanya menggeleng. Ia lari ke depan kedai. Memandang ke langit yang berwarna biru cerah. Baginya, jika semalam hujan, langit pagi ini tak mungkin secerah ini. Dapat dibayangkan. Mereka semalam benar-benar di tempatnya berdiri. Jung Woo masih tak percaya, mungkinkah semalam itu benar-benar hanya mimpi semata. Dengan pelan ia membalikkan badan.
apakah kau akan pulang ke korea?” suara tersebut membuat Jung Woo kembali membalikkan badannya memandangi jalanan. Tak ada apa-apa. Hanya lalu lalang para masyarakat. Nafasnya menjadi naik turun. Berat sekali.

Foto anak kecil tersebut membuatnya menyeringai. Dengan daun-daun bougenvil yang basah dibelakangnya. Menandakan hujan turun membasai tempat tersebut sebelum foto itu di ambil. Seorang anak pria kecil dengan wajah polos sambil membawa sekotak sushi dan sepotong sushi di mulut membuatnya tersenyum.
bukankah dia tampan?” ucap Hye Young menyambar.
Belum sempat pertanyaan tersebut terjawab. Suara bunyi ponsel mengacaukan semuanya. Ia hampiri ponsel tersebut. Senyumnya lebar. Selebar dimungkinkan mulut.
waeyo?
neol, appa, noona, gwenchanayo?
dia baik-baik saja, wae? Apakah kau ingin bicara dengannya?
Hye Young-aa, apakah kau sibuk?
Percakapan dalam ponsel tersebut sangat panjang. Jung Woo menceritakan semua hal yang ia alami semalam. Ekspresi wajah Hye Young berubah-ubah, membuat ayah Jung Woo yang menyaksikannya kebingungan sendiri dengan ekspresi wajah Hye Young.
Karena nafas Jung Woo yang naik turun, Hye Young tak sedikit kebingungan mendengarkan apa yang dibicaran Jung Woo. Hye Young yang semakin bingung dengan apa yang dibicarakan Jung Woo menyuruh Jung Woo mengulangi apa yang ia bicarakan.
Beberapa menit kemudian percakapan dalam telepon tersebut berakhir. Ayah Jung Woo menanyakan apa yang sedang terjadi. Mengapa Hye Young mengekpresikan dengan wajah yang berubah-ubah. Dengan alasan Jung Woo kecapekan Hye Young menjelaskan apa yang ia bicarakan dengan Jung Woo di telefon.
pasti pelanggannya sangat banyak
geurae! Pelangannya sangat-sangat banyak, hingga warung kaki lima yang jaraknya sangat jauh saja kenal dengan kedai kopi milik Jung Woo
apakah dia sudah memiliki kekasih?
Pertanyaan yang tiba-tiba saja muncul tanpa Hye Young duga. Pertanyaan yang sangat enggan Hye Young jawab dan ia bahas. Entah karena apa. Hanya senyuman yang tergambar di wajah tersebut. Ya, dia sudah punya. Begitulah ayah Jung Woo mengartikan senyuman Hye Young.
apakah mereka sudah lama menjalin hubungan tersebut
Hye Young kembali tersenyum. Disusul dengan senyuman hangat ayah Jung Woo menjemput langit sore Korea Selatan.

bukankah kau akan kembali ke Jepang?! Mengapa masih disini?
Mulut tersebut mengeluarkan suara seenaknya. Soo Jin tak menjawab. Pertanyaan yang keluar untuk kesekian kalinya.
apakah aku bisa membawanya?
nugu?
geu namja
apakah kau masih mencintainya?
Soo Jin mengangguk. Ia terkejut. Senyumnya seakan tak mengikhlaskan wanita yang sedang berada di depannya di ambil orang lain.
hajiman..
Kata yang membuat telinga Cheon So sedikit merasa lega.
apakah ruang untukku masih tersedia disana?
Cheon So hanya tersenyum. Menyodorkan ice cream yang masih utuh. Memegang tangan Soo Jin yang menghampa di atas meja. Soo Jin memandang Cheon So. Ia mengajak Soo Jin menembus langit yang tengah dihiasi dengan awan. Senyuman tersebut akhirnya mendarat di wajah Soo Jin.
wae?
ahh! Hya! Park Cheon So! kenapa kau memegang tanganku?! Lancang sekali” cletuk Soo Jin yang tiba-tiba saja gugup dengan keadaan yang ia alami.
aigoo! Sebaiknya kau cepat pergi ke Jepang. Aku sudah bosan dengan wajahmu
apa maksudmu dengan bosan dengan wajahku?!
sebaiknya kau ku tunggu di mobil, aku sudah kenyang, galke
hya! Park Cheon So! pria kurang ajar!” teriak Soo Jin sekeras-kerasnya hingga membuat seisi restoran memandangnya.
Saat suaranya memanggil Cheon So yang keluar meninggalkannya di restoran, Soo Jin menyadari sesuatu. Di dalam mobil, matanya tak berpaling dari wajah Cheon So. hingga Cheon So yang berkali-kali bertanya pun tak Soo Jin jawab.
apakah wajahku mempesona?” tanya Cheon So hingga membuat Soo Jin mengalihkan pandangannya ke arah jalan di depan.
hari ini kau harus pulang ke rumahmu!” cletuk Soo Jin.
Cheon So kembali tersenyum licik.

1 tahun kemudian
Musim dingin pada awal tahun selalu memberikan kesan berbeda pada setiap orang. Titik salju yang menghujani bumi semakin deras tercurah dari langit. Wanita muda itu sedang asyik menikmati salju yang jatuh di pangkuannya. Dengan rambut yang terurai, mengapung sebuah ingatan. Semilir angin musim semi membuat wanita tersebut menggosok telapak tangannya yang halus.
alangkah indahnya musim dingin kali ini” ucapnya.
Wanita yang menemaninya pun tersenyum. Ia melirik sebuah kaki yang berjalan ke arah mereka. Senyuman tersebut tak absen.
appa,
Mina-aa,
Terdengar dua suara tersebut bersahutan. Terasa kebahagiaan di antara mereka.
apakah kau bersama Hye Young?
Ayahnya menggeleng. Musim dingin kali ini hal yang paling di nanti oleh Hye Young. Namun, Hye Young sekarang sedang tak berada di Korea. Sayapnya yang sudah lama sembunyi di balik punggungnya sebulan lalu kembali terbang dengan asyik. Karyanya di pesan seorang yang sangat terkenal di New York. Itu sebuah penghormatan bagi Hye Young.

Kaki tersebut hari ini kembali menginjak bandara Incheon. Senyumannya melebar. Pria yang berkaos biru dengan jaket biru gelap itu berjalan keluar dari bandara Incheon.
selamat datang kembali di korea
Pria tersebut mengangkat bibirnya. Wanita yang menyambutnya tersenyum. Perjalanan hidup yang tak pernah mereka sangka. Wanita itu sedang menggandeng tangannya. Sebuah kata berdengung di tengah telinganya yang sedang sibuk dengan suara gaduh bandara.
apa kau bisa mengulanginya?
Wanita itu menggeleng. Pria tersebut mengecupnya seketika saat ia akan masuk ke dalam mobil. Wanita tersebut tak menolak, ia meresapi kecupan pria tersebut.
apakah kau bahagia? Yoon Soo Jin-ssi
ne, Park Cheon So-ssi
Cinta itu sudah menggantinya di hati wanita tersebut. Entah kapan cinta itu datang pada mereka berdua. Soo Jin yang saat itu bimbang dengan perasaannya sendiri, akhirnya mengurungkan niatnya untuk kembali ke Jepang. Dan seiring waktu, Cheon So yang profesinya tak lain adalah sekretaris ayah Soo Jin, sementara mengelola perusahaan milik ayah Soo Jin hingga Soo Jin siap untuk menggantikan posisi ayahnya di kantor.
apakah kita akan mengumumkannya?
ani
waeyo?!
aku hanya ingin appa yang mengetahui
hya! Yoon Soo Jin. Semua orang di kantor mengetahuinya
lalu mengapa kau ingin mengumumkan? Apa yang di umumkan?
hya! Park Cheon So! beginikah sikapmu setelah kau kembali ke Korea
ahh! Wanita ini sungguh galak.
geurae! Wae?!
Tak menjawab. Cheon So hanya membri senyuman hangat pada Soo Jin.
ahh! Musim dingin tahun ini sangatlah indah” cletuk Cheon So.

Rumah tersebut menjadi tujuan akhirnya. Rumah di kawasan Ilsan, Incheon tersebut terlalu nyata untuk disinggahi dan dimasuki. Hanya terdiri di dua lantai. Namun, pepohohan yang menjulang tinggi membuat rumah tersebut tak pantas di sebut dengan rumah biasa. Rumah yang berwarna putih tersebut. Rumah yang halamannya tak kalah luas dengan lapangan sepak bola. Rumah yang kini tengah ia injaki.
Di sela langkahnya, ia berhenti di tengah halaman yang kini telah berkonsep berundak ala rumah-rumah di Amerika. Terdapat sebuah tangga kecil yang menghubungkan dengan pintu utama rumah tersebut. Dari luar, terdengar hiruk pikuk betapa ramainya di dalam. Ia tersenyum. Ia melanjutkan langkahnya menghampiri pintu tersebut. Hingga akhirnya, tangannya menyentuh gagang pintu. Pintu itu tak mengeluarkan suara apapun.
annyeonghaseyo yeoreobun... Oraenmanieyo?” ucapnya dengan senyuman dan air mata yang tak tertahan ingin keluar.
Mendengar suara salam, orang yang berada di dalam ruang  tamu rumah itu pun sejenak menoleh ke arah tempatnya berdiri. Seakan tak bisa berpaling dari tubuh yang tinggi dan gagah itu. Mereka tersenyum. Langkahnya di percepat meraih tubuh pria paruh baya yang masih berdiri di ujung ruang tamu. Merengkuhnya.
bogoshipeoyo” cletuknya dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.
bogoshipeoyo” lanjutnya.
uljima” balas Mina mengusap air mata tersebut.
kau telah dewasa” sahut ayahnya.
Seisi rumah tersebut sangat bahagia menyambutnya, Jung Woo. Kedainya di Yokohama ia alihkan kepada Takeuchi yang kini tengah berbahagia dengan pelayan yang ia taksir. Telefon 6 bulan lalu itu membuatnya berfikir hingga akhirnya ia memutuskan untuk singgah ke Korea. Entah akan menetap atau tidak, Jung Woo belum memutuskan sejauh itu.
kakimu, waeyo?” tanya Jung Woo seketika.
apakah kau bahagia dengan profesimu?” balas ayahnya mencegah Mina menjawab.
Beberapa bulan yang lalu, setelah ayahnya bisa berjalan kembali. Kenyataan yang mengejutkan bagi ayah Jung Woo saat pulang ke rumah dan melihat Mina dengan keadaan yang seperti sekarang. Sejenak Jung Woo teringat akan berita kecelakaan saat itu. Namun, tepukan tangan ayahnya menyadarkan Jung Woo. Senyumannya menghangatkan tubuh Jung Woo. Suasana yang mungkin sudah lama tak Jung Woo lihat. Seakaan tak percaya. Jung Woo benar-benar kembali ke rumah ini.
annyeonghaseyo...” suara salam beberapa menit setelah Jung Woo datang.
Yoon Soo Jin?” ucap Jung Woo.
Semuanya menyilahkan Soo Jin masuk. Makan malam bersama di rumah itu tak bisa Soo Jin hindari. Keakraban yang terjadi diantara Soo Jin dan keluarga Jung Woo sangat terasa meskipun Soo Jin baru saja melihat ayah Jung Woo dan kakaknya. Juga setelah Soo Jin mengenalkan Cheon So yang datang bersamanya. Segala pengakuan juga keluar dari mulut Soo Jin. Namun bukannya terkejut, Jung Woo tersenyum. Jung Woo sudah mengetahuinya dari Hye Young.
Seakan waktu cepat berlalu dengan begitu saja. Keesok harinya, hingga sore menjelang Jung Woo yang diam-diam menunggu kedatangan Hye Young, wanita itu tak kunjung datang. Wanita yang mengirimkan banyak E-mail dalam satu hari satu tahun yang lalu. Wanita yang ternyata baru disadari Jung Woo mampu membuatnya beralih ingin menjadi seorang barista. Dan wanita yang membuat Jung Woo sangat terosebsi dengan biji kopi karena kesukaannya terhadap Cappucino.
Hingga beberapa hari kemudian, saat ayah Jung Woo sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya, terdengar suara salam seorang wanita.
ahjussi! Oraeumanieyo” teriak Hye Young saat mendengar suara ayah Jung Woo menjawab salamnya.
Hye Young-aa, apakah pek-” ucapan ayah Jung Woo terhenti saat melihat di belakang Hye Young berdiri di belakang Hye Young.
nuguya?” tanya ayah Jung Woo.
Hye Young tersenyum licik.
ohh... kau benar-benar melakukannya?
hya! Ahjussi! Bukankah aku hebat?
Ayah Jung Woo mengangguk.
Tak lama, tangan itu menjabat tangan ayah Jung Woo. Jo Myeong Jin. Sebuah nama yang keluar saat tangan itu saling menjabat.
annyeong” cletuk Jung Woo yang baru saja datang.
Hye Young-aa?” lanjut Jung Woo.
bukankah Hye Young hebat, dia benar-benar membawa pacarnya setelah dari New York” dalih ayah Jung Woo.
ne...” jawab Jung Woo yang masih terkejut.
Hye Young tak berkomentar apa pun saat Jung Woo datang. Hanya senyuman yang berada di raut wajah Hye Young. Hye Young tak menyangka bahwa Jung Woo benar-benar kembali ke Korea.
apakah kau membawa cappucino? Apakah kau tahu aku akan datang?” cletuk Hye Young menjemput kegugupan dalam dirinya. Ternyata, perasaan aneh yang ia rasakan saat ia masih SMA itu adalah cinta. Dan Hye Young menyadari setelah dirinya kenal dengan designer handal, Jo Myeong Jin.
Serasa dalam rumah tersebut hanya ada Hye Young dan dirinya saja. Jung Woo mencoba masuk menerobos mata Hye Young yang sedang asyik masak dibantu dengan Mina. Dengan sesekali ia memandang minuman yang ia belinya tadi. Mencoba membandingkan. Kepulan asap masakan dan kepulan asap kopi cappucino. Berbeda. Ia menggelengkan kepalanya menghilangkan khayalannya yang aneh.
Cappucino. Ya, cappucino, sebuah minuman yang lebih enak dinikmati selagi hangat. Minuman yang menjadi saksi saat Jung Woo mengecup bibir Hye Young. Minuman yang menjadi saksi saat Jung Woo pergi meninggalkan Incheon. Minuman yang kini mempertemukannya kembali dengan Hye Young di Korea. Minuman yang menjadi saksi bahwa Hye Young sudah dimiliki orang lain. Minuman yang juga menjadi saksi segala perilakunya dengan Hye Young.
siapa wanita yang mampu membuatmu menjadi seorang barista? Nugu?” sebuah ingatan menghampiri pikiran Jung Woo saat menyaksikan Hye Young dan pria sebayanya berpamitan pergi.
neorang” bisik Jung Woo setelah mendapati bayangan Hye Young telah menghilang.

END.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar