Kamis, 31 Juli 2014

Something is Missing in the City Center



Satu tahun lalu Gae Yeon resmi lulus dari Universitasnya dan resmi menjadi karyawan sebuah stasiun radio di Seoul. Dengan memegang sebuah cangkir kopi hangat yang selalu menemani pagi, ia membuka tirai jendela kamarnya.
pagi ini cerah sekali” ucapnya lirih yang kemudian meneguk kopi yang ada ditangannya. Memandang ke arah jalan yang ada di depan rumah. Memandang angin yang menghembuskan pepohonan yang tinggi, ia tersenyum ringan.
yeobosseo-yeobosseo-yeobosseo” terdengar bunyi ponsel Gae Yeon. Semakin terdengar suara itu, Gae Yeon semakin melepaskan pendengarannya akan suara tersebut. Ia semakin menggenggam erat cangkir tersebut, dengan kepulan asap dari kopinya, ia bergumam sendirian dengan memejamkan mata.

Di sudut kota Seoul, ada seorang wanita yang memiliki julukan ratu laundry, entah dari mana dan siapa yang memberikan julukan tersebut. Barangkali kecintaannya terhadap kain-kain kotor yang disulapnya menjadi wangilah yang membuat julukan itu ada.
cepat kau kirim, So Eun-aa, palli palli.” teriak seorang wanita paruh baya.
ne eomma, lagi pula masih pagi.
palli palli palli!.
ne ne ne!” So Eun langsung mengangkat baju-baju yang sudah di kemas rapi oleh ibunya. Ia menggayuh sepedanya dengan kencang. “hah! Kenapa hidup ini terlalu membosankan! Banyak sudah lowongan ku masuki, tapi kenapa diri ini selalu merugi?!” dalihnya selama di perjalanan.

Di ujung jalan pertigaan yang tak jauh dari rumah Gae Yeon, ada sebuah rumah yang dulunya dihuni oleh keluarga yang bahagia – bukan bahagia – tapi sangat bahagia dengan seorang anak wanita. Namun, itu 7 tahun yang lalu. Ditambah lagi ketika ia duduk di kelas dua SMA ayahnya yang masih satu rumah dengannya memutuskan untuk pergi dari rumah tersebut. California, USA. Hari itu ia menangis tersedu-sedu. Melihat ayahnya berangkat menolak keinginannya untuk ikut, ia berdiri berjam-jam di lantai bandara. Seakan ia mampu melupakan itu semua, ia hidup dari bekerja di sebuah kedai kopi yang kini menjadi langganannya setelah beralih profesi menjadi staff di sebuah stasiun radio. Juga langganan sahabatnya dan seorang pria yang mengisi hatinya, Park Seo Jung, sungguh indah nama wanita itu.

Pagi-pagi terdengar bunyi bel di apartemen seorang produser. Pria yang dulu pernah memiliki pengalaman bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran itu kini tengah berbahagia. Hanya karena makan malam yang ia jalani semalam, bahagianya terletak pada seorang wanita yang meng-iyakan permintaannya tersebut.
Dan di tempat yang berbeda, bel rumah Gae Yeon juga berbunyi. Tak lama mereka membukakan pintu masing-masing.
dengan tuan Kim Kwang Soo?
ne
ada kiriman untuk anda
ohh, kamsahamnida”.
Dengan mata yang keheranan, dalam benaknya muncul “kiriman ini lagi?”. Meskipun kiriman itu kadang mengusik pikirannya, entah alasan apa ia tak merasa terganggu. Selagi kiriman itu datang, selalu ada sebuah surat yang terselip di sela-sela makanan yang tertata rapi, pria yang tinggi semampai bak model itu pun selalu membaca surat tersebut. Tak pernah ia tanggalkan tanpa membaca. “semoga cuaca hari ini biru, tidak kelabu” coretan bolpoin tanpa nama itu kembali muncul. “nuguseyo?” pentanyaan yang sama ketika ia membaca surat dalam kesunyian apartemen yang berada di selatan kota Seoul.

Dengan senyuman yang hangat, Gae Yeon membuka pintu rumahnya.
kamsahamnida, seharusnya eonni tidak perlu mengantarkannya sepagi ini,” ucap Gae Yeon.
aku juga mengerti,” balas So Eun sedikit kesal.
kulihat hari ini banyak yang kau kirim, mengapa tidak mencari tambahan pegawai saja?
ani
apakah kau tidak ingin mampir sebentar?
ani, aku terburu-buru, lain kali saja
arasseo. Hati-hati
Gae Yeon yang selalu berandai-andai akan serumah dengan So Eun, semakin melihat kebahagian So Eun dengan keluarga yang membesarkannya, keinginan itu semakin lama semakin memudar.

aigoo Gae Yeon-aa, apa kau tidak bisa mengangkat telfonku?!” teriak seorang pria berusia 27 tahun.
hya! Kang Dong Hyuk-ssi, kusarankan lebih baik kau datangi dia, minta maaflah kepadanya, itu kan kesalahanmu, jangan telfon lalu mengirimnya boneka sebesar dirinya lagi” sambar seorang anak laki-laki, usianya sekitar 17 tahunan.
ada apa dengan yeoja ini? Kenapa sikapnya selalu berubah-ubah” keluh Dong Hyuk tanpa menghiraukan perkataan laki-laki tersebut.
bukan dia yang berubah, tapi kau. Hubunganmu dengan Gae Yeon noona seperti-
kau mau bilang seperti apa lagi?
ahh matta! Hubungan kalian kalau lagi seperti ini bagaikan sepasang sepatu usang kemudian dibasuh lagi ketika membaik dan kembali mengotorinya dan begitu seterusnya.” Laki-laki itu adalah adik Dong Hyuk, setiap kakaknya bertengkar dengan tunangannya, ia selalu berdalih panjang lebar, namun Dong Hyuk tetap menatap layar ponselnya di sudut kamarnya dengan wajah berharap Gae Yeon akan menefonnya kembali.

Ketika Gae Yeon kembali masuk ke dalam rumahnya, ponsel Gae Yeon kembali berdering. Kali ini ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja ruang tamu. Terlihat di layar ponselnya muncul sebuah nama, Park Seo Jung.
ne, yeobosseo
sebelum ke kantor, nanti kau mampir ke rumahku sebentar, bantu aku membawa barang-barang yang dipesan produser
ne” jawab Gae Yeon singkat dan langsung menutup teleponnya dan segera berganti baju.
Dibalik telepon, Seo Jung yang melihat Gae Yeon mematikan telefonnya begitu saja, membuat Seo Jung mengumpat.

hyeong, apakah kau benar-benar serius dengan Gae Yeon noona?
hmm
geurigo wae?!”.
wae mwo?
lalu mengapa kau selalu membuatnya marah, bahkan kau yang salah, dia yang datang kesini. Pria macam apa kau!
Min Hyuk! Neo!
Dong Hyuk yang semakin kesal dengan tingkah laku adiknya hampir saja melempar ponselnya, namun tiba-tiba ada telepon masuk, ia yang mengira telefon tersebut dari Gae Yeon, sesegera ia mengangkatnya. Dan ternyata nama yang muncul bukanlah nama Gae Yeon, melainkan nama sekretarisnya di kantor.

Tanpa banyak basa basi selesai mengambil barang-barang di rumah Seo Jung, Gae Yeon dan Seo Jung berangkat ke kantor. Pagi itu jalanan dekat halte sangat ramai, banyak orang yang berkerumun. Gae Yeon tersentak untuk melihat kerumunan tersebut. Ditambah lagi sebuah sepeda tua mirip sepeda ratu laundry.
 galke,” ucap Gae Yeon dengan sebuah kelegaan.
igo mwoya? Kalau kau ke rumahku hanya untuk membawa barang itu saja aku juga bisa” keluh Seo Jung.
ahh, arasseo” balas Gae Yeon seraya mengambil beberapa barang dari genggaman Seo Jung.
kaja!” lanjut Gae Yeon sedikit kesal.
Seo Jung menyeringai licik dengan wajah innocent. Gae Yeon hanya memasang muka datar. Saat ketika Gae Yeon dan Seo Jung akan memasuki bus yang akan membawanya ke kantor, terdengar teriakan dari sebuah mobil yang memanggil nama Gae Yeon hingga membuatnya mengurungkan langkahnya untuk menaiki bus tersebut. Min Hyuk.
noona! Gae Yeon noona.
Sejenak, Gae Yeon menoleh dan kemudian menoleh lagi. Ia tersenyum hangat pada Min Hyuk.
bisa kita berbicara sebentar?” pinta Min Hyuk.
Gae Yeon hanya tersenyum ringan dan menggeleng. Segera Gae Yeon menaiki bus tersebut. Tersirat wajah kecewa pada Min Hyuk.
apakah aku harus membantunya lagi? ani ani” bisik Min Hyuk.

Dengan beberapa barang bawaan, Gae Yeon dan Seo Jung sama-sama memasuki kantor. Ia taruh di pojok ruangan dan memulai seperti biasa. Dengan teliti ia terus memainkan jari-jarinya di atas kertas putih dan bolpin kesayangan. Beberapa jam telah berlalu, berbagai dokumen yang bertumpuk tadi pagi kini hampir selesai. Perut yang berbunyi menghentikan Gae Yeon. Sebelum berangkat makan, ia dan Seo Jung berangkat ke sebuah ruangan untuk menempatkan barang-barang yang tadi pagi mereka bawa. Sesaat ketika masuk ke dalam ruangan tersebut, dua wanita yang sudah sejak lama bersahabat itu pun dikejutkan oleh sesosok pria.
produser Kim.” Ucap Seo Jung.
kkamjjagiya!
mwohaneungeoya?” tanya Seo Jung.
apakah produser mencari sesuatu?” sambar Gae Yeon.
ani, kalau sudah selesai, kalian bisa pergi, gomawo. Ohh, Gae Yeon-ssi” produser Kim membalikkan badannya.
ne?” jawab Gae Yeon.
sudah kau buat poster lowongannya?
ne, produser
gomawo
Gae Yeon mengangguk. Dengan perasaan keheranan, Gae Yeon dan Seo Jung meninggalkan produser Kim bersama barang-barang yang mungkin bisa merasakan apa yang sedang ia rasakan.

Ahn Hyun Joon Oppa!” teriak seorang wanita remaja yang kemudian melebarkan senyumannya.
Ahn Hyun Joon pun mengangkat bibirnya sehingga membentuk sebuah senyuman dan menghampiri dimana wanita tersebut berdiri. Keduanya tersenyum dan saling memeluk. Dua menit berlalu, pelukan itu masih berlangsung di atas lantai bandara Incheon.
apakah kita akan terus berdiri disini? Tidak pulang?” cletuk Hyun Joon melepaskan pelukan wanita itu.
ahh, ne..” balas wanita yang tengah berdiri di depannya selaku adik tiri dari Ahn Hyun Joon.
neo, neomu yeppoda. Neo ireumi... Neomu kyeopta
mwoya! Nan.. yeoja! Yeoja! Araji!
Hyun Joon hanya tertawa kecil, melihat tingkah laku adik tirinya, Ahn Ji Kyeong. Setelah 12 tahun waktu yang ia habiskan di negeri paman sam untuk belajar, laki-laki yang kini telah berusia 27 tahun tersebut kini telah menjelma sebagai seorang jaksa. Dalam perjalanan pulang, selama di dalam taxi Ahn Hyun Joon memandang ke arah adik tirinya tersebut. Sangat tajam pandangan mata itu menatap lamat-lamat wanita di sampingnya yang sedang bermainan ponsel.
Teringat ketika ayah kandungnya yang meninggalkannya ketika ia masih duduk di bangku kelas 5 SD. Juga teringat bagaimana Ahn Hyun Joon menolak ibunya menikah lagi dengan ayah dari Yan Ji Kyeong yang kini telah berubah menjadi Ahn Ji Kyeong. Karena keputusan yang dibuat ibunya, Hyun Joon memutuskan untuk melanjutkan sekolah SMA dan kuliah di Luar Negeri.
Tak ada yang bisa merubahnya, meskipun Hyun Joon mampu bersikap lebih baik kepada adik tirinya di banding 12 tahun lalu, bagi Hyun Joon, Ji Kyeong adalah wanita remaja yang menginap, lebih tepatnya tinggal tetap di rumahnya kini.
waeyo oppa?” tanya Ji Kyeong ketika menyadari kakaknya memandangnya serius.
ani. Oh ya, bagaimana dengan sekolahmu, tahun ini bukankah kau akan persiapan memasuki universitas
ne, segala persiapan sudah aku lakukan.
arasseo, kau memang wanita yang penuh dengan persiapan.
mwoya?!
apakah aku perlu mentraktirmu makan?
ohh. Neomu baegopeun!
Hyun Joon hanya tersenyum kecil, begitu pula Ji Kyeong. Meihat senyuman kecil itu, ia teringat akan seseorang yang ia tinggalkan 12 tahun lalu.
eoddisseo? Eraenmanieyo?” bisiknya dalam hati.

kenapa kau baru kembali jam segini! Masih banyak yang harus kau antar!” bentak ibunya ketika So Eun baru memarkinkan sepeda di depan rumahnya.
eoddiga? Apa kau bermain dulu?” lanjut ibu So Eun.
hya! Eomma! Kalau eomma selalu marah, antar saja sendiri! Lagi pula tadi aku melihat tabrakan dengan mata kepalaku, aku hampir saja pingsan melihat darah yang tiba-tiba keluar dari telinga korban. Teukteukideun. Neom-.
itu tidak bisa dijadikan alasan” seraya ibunya memukul kepala So Eun.
hya! Eomma! Kenapa kau selalu memukul kepala ini? apayo” keluh So Eun sambil mengelus kepalanya yang sakit.
hya So Eun-aa” mendadak nada tinggi ibunya merendah.
wae?” balas So Eun kesal.
kau mau tidak bertemu dengan seorang pria? Dia tampan, dan tinggi. Seperti artis – ahh matta! Rain, rain!
maksud eomma kencan buta? Ani ani, aku belum terpikirkan untuk menikah, arasseo! Aku masih berusia 27 tahun, masih banyak yang aku kerjakan. Meskipun dia setampan Rain juga aku tidak tertarik.
selain mengantar baju dan menyetrika, apa yang kau lakukan ha?
eomma, lagi pula suami impianku itu bukan yang seperti itu
kenapa kau sangat pilih-pilih? Masih beruntung dia mau berkencan denganmu!
apa maksudnya dengan kata-kata masih beruntung? Aigoo, micheonabwa. Galke..
So Eun dengan ringannya melangkahkan kakinya keluar rumah. Meninggalkan omelan ibunya yang menginginkan dirinya segera menikah. Ia berjalan hingga ujung jalanan kota Seoul. Dari jauh ia melihat sebuah poster yang tertempel di kaca sebuah toko.
bukankah ini kedai kopi?” tanyanya heran.
Lama So Eun membaca poster tersebut. Hingga salah seorang pegawai kedai kopi itu pun menghampiri So Eun.
annyeong haseyo.. ada yang bisa saya bantu?
ne, mengapa ini tertulis disini? Bukankah ini kedai kopi?
ne, salah satu karyawan mereka menaruhnya disini, kalau kau mau kau bisa mengambilnya
So Eun mengangguk mengerti.
apa kau tidak mau mampir ke kedai kami?
lain kali saja, aku masih ada urusan, annyeong... kamsahamnida
Pegawai itu pun melepas So Eun dengan senyuman hangat. So Eun mulai terbayang jika dia bekerja di kantor radio tersebut, meskipun itu hanya sebagai penyiar, setidaknya dia bisa lulus dari omelan sang ibu.

Waktu menunjukkan pukul 23.30 kst. Gae Yeon tak menyadari itu, bahkan pantatnya pun masih menempel di kursi kerjanya dari tadi sore. Sejenak ia pun menengok ke arah jam yang berada sebelah komputernya, sangat malam. Dengan singkatnya Gae Yeon langsung menyambar tas, ponsel, serta beberapa kertas kosong. Ia berjalan cepat keluar kantor. Saat sampai di luar kantor, Gae Yeon di kejutkan dengan panggilan suara produser.
eomona! Produser Kim!” cletuk Gae Yeon seraya menelan ludahnya karena terkejut.
bukankah kau sudah pulang dari tadi?” tanya produser Kim.
anieyo,” balas Gae Yeon menggeleng.
Sejanak produser Kim terdiam, mengolah beberapa kata dalam pikirannya untuk mengajak Gae Yeon pulang bersama.
ohh, apakah kau akan naik bus sendirian? Bukankah kau biasanya bersama presdir Kang?
Gae Yeon hanya tersenyum sambil kembali menggeleng dan tanpa basi basi ia pamit pergi terlebih dahulu. Sebenarnya produser Kim sedikit canggung mengucapkan nama tunangan dari wanita yang sudah lama ia kagumi. Namun, ada sebuah hal yang selalu ia pikirkan setiap ia mengucapkan nama tunangan Gae Yeon. Kang Dong Hyuk, selain tunangan dari Gae Yeon, ia juga seorang presdir muda yang berkantor di tempat yang sama dengan produser Kim, hanya saja jabatan yang membedakan mereka berdua.
Tak jauh dari kantornya, ponsel Gae Yeon pun berdering tanda ada pesan masuk. “Kang Dong Hyuk – Gae Yeon-aa, maaf atas sikapku kemarin, aku sadar...”. Gae Yeon hanya tersenyum membaca isi pesan tersebut. Hubungan yang ia jalani bersama Kang Dong Hyuk selama 5 tahun tersebut ia sempat ingin mangakhirinya 6 bulan setelah mereka bertunangan.

Sesaat setelah So Eun datang, ibunya kembali menyodorkan pertanyaan yang ia lontarkan siang tadi. Dengan menutup kedua telinganya So Eun tak mendegarkan kata-kata ibunya dan langsung masuk ke kamar mandi.
dasar yeoja aneh! Apa kau tidak mau menikah ha?!” teriak ibu So Eun.
eomma, apa kau tau?” tanya So Eun ketika ia keluar dari kamar mandi.
mwo? Apakah kau mau,” wajah ibunya berseri.
kenapa yang ada di otak itu kencan, kencan, kencan? Aigoo!
lalu apa? Apakah kau akan menua dengan kain-kain kotor disini?!” wajah ibunya pun berubah garang.
So Eun duduk dengan kaki yang ia silangkan. Ia mencoba duduk serelaks mungkin. Ibunya yang tak sabar ingin mendengar kata-kata So Eun, hampir saja mendaratkan sendok makan di kepala So Eun.
aigoo! Eomma, aku tadi menemukan sebuah lowongan pekerjaan, igo” seraya So Eun menunjukkan sebuah poster lowongan pekerjaan.
penyiar radio? Memang ada yang mendengarkan suaramu?
kau melakukannya lagi. Arasseo, awas saja nanti kalau aku memutuskan untuk meninggalkanmu” balas So Eun sambil tersenyum licik dan meninggalkan ibunya.
Mendengar kata meninggalkan, dengan sendok yang masih berada dalam genggaman tangannya serta semangkuk sub lobak, ibu So Eun kembali teringat sebuah tragedi akan 25 tahun yang lalu.
aigoo..” keluh ibu So Eun lirih seraya menghabiskan sub lobak tersebut.

Selesai membereskan barang-barangnya, Hyun Joon berdiri bersandar pada jendela kamarnya yang ukurannya hanya mencapai 1 x 3 meter saja. Melukiskan wajah seorang anak kecil yang ia tinggalkan 12 tahun lalu bersama hembusan angin malam kota Seoul. Saat itu, ia masih berada di Busan, anak kecil yang dulu ia tinggalkan, ia ingin memeluknya sama seperti dulu. Tersenyum bersamanya juga hal yang ia rindukan.
apakah kau sekarang masih di Busan?” tanyanya sendiri.

Sesampainya di rumah, Gae Yeon langsung membanting badannya ke kursi di ruang tamunya. Lelah, hal yang selalu ia ucapkan ketika badan yang memiliki berat tak lebih dari 50kg tersebut jatuh di kursi ruang tamunya yang panjang. Ia memejamkan matanya sekejap dan kembali bangun meraih sebuah foto yang berbingkai.
eomma, aku merindukanmu” bisik Gae Yeon.
hajiman eomma, aku ingin memeluknya. Apakah ini sebuah takdir, dia juga bahagia dengan keluarga barunya. Hanya senyuman hangat yang aku terima darinya selain baju-bajuku kala aku tak mengajaknya berbicara” lanjut Gae Yeon sambil mengingat kembali cerita kecelakaan yang keluarganya alami.
25  tahun silam, sebuah kecelakaan tunggal memisahkan Gae Yeon dengan kedua orang tuanya dan kakaknya Jung Ah yang kini berganti nama menjadi So Eun. Saat mengetahui So Eun adalah kakaknya 2 tahun lalu, yang sehari-harinya mengantarkan baju kesana-kemari, tak membuatnya menyesali bahwa kakaknya hidup lebih kurang dari dirinya. Setidaknya ada orang tua yang selalu berada disamping So Eun.
yeobosseo-yeobosseo-yeobosseo” suara ponsel menyadarkan Gae yeon dari lamunan.
Sebelum mengangkatnya, ia memandang ke arah jam dinding yang terpasang tepat di sebelah foto keluarga. 00.17 kst.
dasar, ini sud-” ucapan Gae Yeon terhenti ketika melihat nama yang muncul di layar ponselnya, dalam pikirannya adalah nama Dong Hyuk, namun yang muncul adalah nama produser Kim. Tak lama ia mengangkat telepon tersebut. Namun, ketika telepon itu terangkat, hanya suara bising yang didengar Gae Yeon. Ia pun mengerutkan dahi. Dan saat Gae Yeon akan menekan tombol merah di ponselnya, suara produser Kim pun muncul.

֍

eomma, doakan anakmu ini, hilangkan pikiran kencan buta itu, arasseo!” ucap So Eun.
ne..
Melihat So Eun berangkat dengan langkah yang penuh keyakinan untuk melamar pekerjaan, ibu So Eun memandang punggung anaknya yang semakin lama semakin dimakan jalan. Dengan air mata yang menetes dari pelupuk matanya, ia teringat bagaimana dia bisa mempunyai anak So Eun, seorang anak kecil yang ia temukan ketika berada di sungai sebuah desa yang berada di Busan bersama suaminya 25 tahun silam, dengan sebuah luka lebam di tubuh So Eun. Sepasang suami istri itu menolongnya. Dan karena dokter sudah memvonis mereka tidak akan memiliki anak, ia dan suaminya memutuskan untuk mengasuh So Eun yang kemudian membawanya ke Seoul. Hingga ketika So Eun genap berusia 25 tahun, keluarga So Eun berubah drastis. Ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan dan banyak hutang yang ia tinggalkan, seluruh harta keluarga So Eun habis untuk membayar hutang-hutang tersebut. Setelah beberapa bulan, ibunya mulai merintis usaha laundry yang bertahan hingga So Eun kini telah berusia 27 tahun. Dan setelah So Eun lulus dari universitasnya 5 tahun lalu serta setelah keluar dari pekerjaannya 2 tahun lalu, ibunya menginginkan anaknya nanti bisa menikah dengan seorang laki-laki yang bisa membahagiakanya dengan hidup yang lebih baik.

Dengan sangat terkejut, Gae Yeon hampir terkena serangan jantung karena ada sebuah kiriman besar sebesar dirinya berada di depan pintu rumah. Ia tersenyum-senyum sendiri membaca surat yang tertulis di kiriman tersebut. “Gae Yeon, aku mohon maafkan aku..
hya! Oppa! Mengapa tiap kau minta maaf kau hanya mengirimkan kiriman seperti ini? Memang aku anak kecil” keluh Gae Yeon seraya memasukkan kiriman tersebut kedalam rumahnya dan segera berangkat bekerja. Langkahnya sangat ringan. Hingga sampai di halte seorang pria menyapa Ga Yeon. Gae Yeon hanya tersenyum kecil. Ia tak mengenal pria itu.
ahh mungkin kau sudah lupa akan aku, Ahn Hyun Joon, kau benar Choi Gae Yeon kan?
eomona! Hyun Joon oppa? Ahn Hyun Joon oppa? Jeongmal?”
Hyun Joon menggangguk.
“Jinjjayo? Ahh, bogoshippeo! Apakah kau tinggal di dekat sini juga?
ne, kenapa kau masih sama seperti yang dulu?
kenapa juga wajah oppa berubah?
mwoya! Kau ditanya mengapa kembali bertanya? Ternyata sikapmu juga masih sama,
Jam setengah sembilan pagi. Pria itu menemukan anak kecil yang sudah lama ia rindukan. Choi Gae Yeon. Pengakuan bahwa Gae Yeon sudah bertunangan dengan seseorang, sejenak membuat Hyun Joon tersentak.  Namun, setengah dari dirinya menginginkan Gae Yeon hadir kembali dalam hidupnya. Senyuman itu juga masih sama. Bahkan lebih indah dari yang dulu.
ohh, oppa busku sudah datang, galke” ucap Gae Yeon.
jamkkaman! Bisa aku catat nomor teleponmu yang sekarang?
Gae Yeon mengangguk.
kau masih sama, masih tetap cantik dengan lesung pipit itu” bisik Hyun Joon lirih.

kenapa laki-laki itu berangkat lebih dulu? Mengapa tidak menungguku dulu? Apakah dengan wanita dia selalu seperti itu?” keluh Ji Kyeong sendirian.

Sambil menunggu makan malamnya diantar, Gae Yeon tersenyum-senyum sendiri seraya memandang ponsel yang menampilkan gambar seekor pinguin. Seo Jung yang berada di depan Gae Yeon pun heran mengapa Gae Yeon bersikap tidak jelas seperti itu.
apakah kau masih waras Choi Gae Yeon?” cletuk Seo Jung tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan Seo Jung, Gae Yeon menciutkan senyumannya dan melirik Seo Jung.
mwo mwo mwo? Kenapa kau melirikku seperti itu? Aigoo.
ani, makanan kita sudah datang.. wahh mashitta
Raut wajah So Eun yang heran dengan sikap Gae Yeon, terus memandang Gae Yeon sambil makan. Gae Yeon yang semakin lahap makan, semakin membuat Seo Jung heran.
apakah nafsu makannya bertambah?” bisik Seo Jung dalam hati.
Gae Yeon bersikap seperti ini bukan karena kiriman boneka besar yang dikirim Dong Hyuk pagi tadi, melainkan bertemunya kembali Gae Yeon dengan Hyun Joon, sesosok pria yang selalu menjaganya. Gae Yeon merasa dunia ini mulai indah tanpa surga.

eomma!!!” teriak So Eun hingga mengagetkan ibunya.
eomeona! Suaramu! Wae?
aku diterima aku diterima aku diterima aku lolos aku lolos aku lolos....” jawab So Eun sambil memeluk ibunya erat.
hya! So Eun-aa lepaskan pelukanmu, aku tidak bisa bernapas!
sebaiknya eomma harus mencari pegawai baru, aku tidak bisa membantumu lagi, ahh rasanya seperti bulan kini di pangkuanku,
Ibunya melirik licik.
arasseo! eomma, saranghaeyo.. neomu neomu saranghae
Ibunya hanya tersenyum melihat tingkah laku anak So Eun. Ia menanggalkan tasnya dan mengerjakan pekerjaan laundrynya dengan menyanyikan lagu favorit ibunya. Sesaat melihat So Eun sangat riang, ibunya hampir saja meneteskan air mata.

Tiga bulan kemudian
aku  produser sebuah radio, kau juga menganggapku seperti itu kan?” bisik Produser Kim dalam apartemennya dengan memandang foto Gae Yeon yang diam-diam menyelinap di balik foto adiknya yang sudah lama meninggal karena penyakit kanker otak.
Banyak hal yang ia dapat ketika mengenal Gae Yeon. Tak sedikit pula rasa yang selama 1 tahun ia simpan. Ketika ia mengenal wanita baru, ia selalu menyisihkan satu ruang kosong di hatinya kala mungkin ada badai yang memisahkan antara Gae Yeon dan Dong Hyuk.
Sesaat produser Kim pun membuka sebuah laci kecil. Disana banyak surat yang tersimpan. Ia mengambil surat yang datang hari ini.
cuacaku hari ini biru, tapi biru gelap” ucap produser Kim.
Semakin lama ia semakin nyaman dengan kedatangan surat itu meskipun kini kadang datang tanpa kiriman makanan lagi. Kadang produser Kim berharap bisa melihat pengirim tersebut sehingga ia bisa berbincang-bincang dengan si pengirim yang kini ia juluki dengan julukan Mrs. Cuaca. Mengetahui pengirim wanita tak cukup untuk produser Kim tanpa melihat wanita tersebut.

Tiga bulan sudah Hyun Joon kembali berjalan bersama, makan malam bersama dengan Gae Yeon. Sampai-sampai Gae Yeon mampu melupakan masalahnya dengan Dong Hyuk. Tiga bulan ini juga Gae Yeon tak menghubungi Dong Hyuk sama sekali. Bukan karena ia sudah berpaling dari Dong Hyuk, melainkan ia ingin meihat Dong Hyuk datang ke rumahnya dan meminta maaf seperti yang ia inginkan dari dulu ketika Dong Hyuk membuat salah. Namun selama itu Dong Hyuk tak kunjung datang.
Dan malam itu, genap dua tahun ia bertunangan dengan Dong Hyuk. Karena Gae Yeon juga bisa pulang lebih awal, ia pun mampir ke rumah Dong Hyuk. Dalam perjalanan kesana, ia melamunkan bagaiamana bisa Dong Hyuk tak datang ke rumahnya, hanya telefon dan kiriman yang datang. Bahkan lewat pun tidak. Satu kantor dengan Gae Yeon pun tak membuat Dong Hyuk menghampiri Gae Yeon. Bagaimana bisa ia jatuh cinta kepada laki-laki seperti Dong Hyuk. Sejak Gae Yeon menginginkan ia berpisah dari Dong Hyuk sembilan bulan lalu, sejak Dong Hyuk menolak, sikapnya pun berubah. Kadang Gae Yeon lelah menghadapi Dong Hyuk. Namun Gae Yeon mencoba memahami Dong Hyuk terus menerus. Ia menginginkan hubungannya dengan Dong Hyuk benar-benar berakhir dalam sebuah pemakaman.  Dan lamunan itu akhirnya menepi ketika Gae Yeon sampai di halte pemberhentian di dekat rumah Dong Hyuk. Berjarak sekitar 18 meter Gae Yeon pun sampai.
bibi, Dong Hyuk oppa sudah pulang?” ucap Gae Yeon yang mengagetkan ibu Dong Hyuk.
Gae Yeon-aa!” teriak ibu Dong Hyuk ketika melihat Gae Yeon.
Min Hyuk yang juga rindu akan kedatangan Gae Yeon, saat mendengar ibunya teriak nama Gae Yeon ia pun langsung keluar dari kamarnya menanggalkan buku-bukunya.
noona!” ucap Min Hyuk.
Gae Yeon tersenyum hangat kepada ibu dan adik Dong Hyuk kemudian memeluk mereka berdua.
“bogoshippeo” ucap ibu Dong Hyuk.
nado..” balas Gae Yeon.
ada apa dengan kalian?
seperti biasa
seperti biasa? Sampai tiga bulan?
aku menanti oppa datang ke rumah, tapi penantian itu sia-sia
hya! Noona, apa kau tidak rindu pada hyeongi?” tanya Min Hyuk.
Gae Yeon menggeleng ringan dan tersenyum.
mwoya! Ekspresi apa itu? Kau benar-benar tidak merindukannya
bukankah kau persiapan untuk ke universitas? Mengapa kau tidak belajar
Min Hyuk membual. Ibunya pun melirik Min Hyuk licik.
bibi, aku tadi membeli beberapa sayuran untuk Dong Hyuk oppa, bisa bibi bantu memasakkan untuknya?” tanya Gae Yeon.
Ibu Dong Hyuk pun mengangguk.
Beberapa jam berlalu, masakan yang dimasak Gae Yeon dan ibu Dong Hyuk telah selesai, namun Dong Hyuk tak kunjung datang, yang seharusnya datang pukul 21.00 kst, hingga pukul 23.00 kst Dong Hyuk tak kunjung datang. Ruangan yang tadinya ramai karena kedatangan Gae Yeon, kini sunyi. Berjam-jam Gae Yeon menunggu. Dengan kepulan asap dari masakannya Gae Yeon beralih ke tempat duduk yang berada di ruang tamu. Sangat lama. Dan karena Gae Yeon sudah tidak tahan menunggu Dong Hyuk, ia berniat hendak berpamitan kepada ibu Dong Hyuk. Namun, sebuah ucapan salam terdengar. Dong Hyuk datang. Gae Yeon berdiri tepat di sudut ruang tamu dengan senyumannya yang khas dibarengi dengan lesung pipi yang selalu terpasang indah di wajah Gae Yeon.
Sepasang mata Dong Hyuk tak sedetik pun terlepas dari wanita yang selalu menemaninya selama 6 tahun terakhir. Dong Hyuk tertegun memandang wajah Gae Yeon. Wajah yang tadinya terlihat kecapekan, kini berubah, Dong Hyuk mendekat memeluk Gae Yeon.
kiriman itu membuat jantungku hampir copot, mengapa selalu mengirim itu? Memang aku anak kecil?” tanya Gae Yeon dalam pelukan Dong Hyuk.
melihatmu berdiri disini seperti mendapat hadiah dari seorang petinggi negara.” dalih Dong Hyuk.
geuraesseo? Lalu mengapa kau tak datang ke rumahku?
Dong Hyuk terdiam. Dan entah mengapa ketika ia akan mendatangi Gae Yeon, sesuatu telah mencegahnya. Hari ini, Gae Yeon belum menerima alasan dari Dong Hyuk mengapa dia selalu mengirim kiriman ke rumahnya.
ahh, arasseo! aku tadi memasakkan makanan kesukaanmu, tapi dengan bantuan bibi  juga. ucap Gae Yeon.
apa kau memaafkanku?” tanya Dong Hyuk.
ani, kalau kau ku maafkan, jelas kau berulah lagi.” jawab Gae Yeon.
AKU. KANG DONG HYUK. BERJANJI TIDAK AKAN MEMBUAT CHOI GAE YEON KECEWA LAGI.” dalih Dong Hyuk.
Gae Yeon hanya tertawa. Ia pun menyuruh Dong Hyuk segera memakan makanannya. Ketika itu juga, sebuah telepon masuk di ponsel Gae Yeon.
nuguseyo?” tanya Dong Hyuk yang sebenarnya sedikit mengetahui nama yang muncul di ponsel Gae Yeon.
Seo Jung
ohh”.
Dong Hyuk menjawab singkat dan kembali melanjutkan makan. Telepon yang sebenarnya dari Hyun Joon, entah mengapa Gae Yeon berkata telepon itu dari Seo Jung. Dong Hyuk pun merasa ada yang berbeda dengan senyum Gae Yeon malam ini. Seolah Gae Yeon telah menemukan beberapa pasang puzzle yang dulunya hilang.

Di halte dekat rumahnya, Hyun Joon yang menelfon Gae Yeon pun terkejut saat ia melihat telefonnya tak diangkat. Sejenak ia tersenyum. Ia baru sadar dari khayalan. Gae Yeon kini bukanlah anak kecil yang bisa bersamanya setiap waktu. Berpisah ketika sekolah dan tidur saja. Gae Yeon kini sudah ada yang mengikat. Kang Dong Hyuk, pria itu. Pria yang Hyun Joon tidak tahu bagaimana wajahnya tapi sedikitnya ia mengetahui sikap Dong Hyuk dari cerita-cerita yang keluar dari mulut Gae Yeon.

Makanan yang ada di piring Dong Hyuk telah habis, ia pun memandang wajah Gae Yeon.
apa ada yang salah denganku?” tanya Gae Yeon.
ani, hajiman..” ucapan Dong Hyuk terputus.
Seperti ada sebuah barang yang menyangkut dalam tenggorokan Dong Hyuk, mendadak suaranya terhenti. Gae Yeon hanya menanggapinya dengan tatapan mata kecil yang menurut Dong Hyuk ada sesuatu dibaliknya, namun Dong Hyuk tidak mengetahui itu apa.
aku cantik.” cletuk Gae Yeon yang kemudian tertawa.
mwoya!” ucap Dong Hyuk.
wae?” balas Gae Yeon.
Gurauan itu berlanjut hingga malam. Entah apakah ada sesuatu yang mengusiknya, Gae Yeon sedikit mengangkat tangannya, melihat jam yang terpasang di pergelangan tangan. Dengan senyuman hangat, ia mengakhiri candaan tersebut. Segera ia berpamitan pulang pada keluarga Dong Hyuk. Dengan suaranya yang halus, Gae Yeon menolak tawaran Dong Hyuk yang akan mengantarnya pulang.
aku pulang dulu, istirahatlah, nanti ku telepon sesampainya aku di rumah.” ucap Gae Yeon.
hati-hati,” balas Dong Hyuk.
jamkkaman” lanjut Dong Hyuk menghentikan langkah Gae Yeon.
wae?
tidak ada yang kau sembunyikan kan?
ada apa dengan pertanyaanmu itu?
telepon tadi, benarkah dari Seo Jung?
kau terlalu capek, sudahlah, cepat beristirahat, biar pikiranmu kembali jernih, aku pulang dulu..
deo josimhae
Gae Yeon mengangguk dan tersenyum. Di tengah perjalanan, Gae Yeon teringat dengan pertanyaan yang di lontarkan Dong Hyuk tentang telepon tadi. Ia sendiri pun heran mengapa ia bisa berkata telepon itu dari Seo Jung, jelas-jelas itu adalah Hyun Joon.

Jam dua belas malam. Hyun Joon mendapati bahwa dirinya masih duduk di kursi halte. Dengan tangan yang masih menggenggam ponsel. Dengan pikiran yang masih terbayangkan Gae Yeon. Ia berharap ada seseorang yang mampu menyadarkannya dari lamunan malam ini. Ia pun tak mengerti mengapa ia mampu mencintai wanita yang jelas-jelas kini sudah ada yang mungkin cinta lebih besar darinya. Dua puluh menit kemudian, ia pun beranjak dari tempat duduk itu.

Hingga sampai ia turun di halte dekat rumahnya, Gae Yeon masih terpikirkan akan hal tersebut. Selagi berfikir, Gae Yeon pun dikejutkan oleh Hyun Joon yang tiba-tiba muncul dari belakang.
wae?
oppa, anieyo, hanya ada sedikit hal yang mengusik pikiranku
Hyun Joon tersenyum. Begitu pula Gae Yeon membalas senyuman Hyun Joon. Pertemuan kembali keduanya tiga bulan lalu sangat sederhana, sesederhana pagi tadi. Sesederhana nasi putih yang disajikan bersama sup lobak.
bisa kita mampir ke warung kaki lima sebrang?” pinta Gae Yeon.
ne
Dengan sebuah cerita, Gae Yeon dan Hyun Joon jalan beriringan yang juga dari jauh ada Dong Hyuk yang tak disangka-sangka mengikuti Gae Yeon. Namun bukan Hyun Joon masalahnya, masalahnya kini Gae Yeon, mengapa dia menyembunyikannya dari Dong Hyuk.
Cerita itu keluar dari mulut Gae Yeon. Hyun Joon menyambar. Ia mengingatkan tentang dua ekor burung yang Gae Yeon lihat di lapangan sekolahnya jauh sebelum Hyun Joon memutuskan untuk ke Amerika. Pikiran dua orang yang kini sedang memegang gelas soju itu pun berjalan ke masa 14 tahun lalu.
Awalnya hanya ada seekor burung yang hinggap disana. Mengapa? Mungkinkah dia menunggu pasangannya? Sangat lama. Hingga seekor burung lainnya datang dan menghampirinya. Apakah dua burung itu berbincang? Entahlah. Yang dilihat Gae Yeon dan Hyun Joon kala itu hanya keramahan di antara keduanya. Namun, setelah berlama-lama salah satu burung itu pergi. Tinggallah burung yang sendirian lagi.
Cerita itu berhenti ketika mereka mengetahui bahwa sojunya habis. Mereka berdua tertawa.
Di mobilnya, Dong Hyuk yang melihat hal itu pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Siapa sebenarnya pria yang kini tengah tertawa bersama Gae Yeon. Mengapa Gae Yeon terasa sangat berbahagia bersama pria tersebut. Mengapa sekarang rasanya sulit untuk mendapatkan gelak tawa yang serupa?
Tak lama setelah soju dalam botol itu habis, Hyun Joon dan Gae Yeon pun berdiri. Berjalan pulang dan kembali bercerita.
Berhari-hari Gae Yeon dan Hyun Joon memantau burung yang diam dalam kesendiriannya. Hingga akhirnya burung yang sendirian itu dihampiri lagi dengan burung yang pergi beberapa hari lalu dan terbang bersama. Mengapa? Kita tidak tahu apa yang terjadi diantar keduanya, kita hanya penonton, tapi apakah kau tau Gae Yeon? Burung yang menunggu itu seperti yang kau lakukan sekarang.
Sejenak Gae Yeon tersenyum. Setidaknya burung itu masih beruntung di hampiri lagi dan mereka bisa terbang bersama. Tidak Gae Yeon, ia lain hal. Lain cerita pula.
ohh oppa. Yogi. Ini rumahku, rumah oppa disebelah mana?
Hyun Joon menunjuk rumah yang jaraknya hanya 2 rumah dari rumah Gae Yeon. Gae Yeon pun tertawa kecil.
wae?
ani, annyeong...” ucapan terakhir Gae Yeon pada Hyun Joon untuk mengakhiri hari ini.
Begitu pula Dong Hyuk yang sudah meninggalkan Hyun Joon dan Gae Yeon sedari tadi. Ia terdiam dalam sebuah ruangan. Ia terus menghela nafas. Mengapa Gae Yeon menyembunyikan ini? Dong Hyuk serasa itu bukanlah pribadi Gae Yeon. Apakah dirinya kurang mengenal Gae Yeon? Tentu Dong Hyuk merasa aneh. Bahkan dia juga berfikir, apakah ini salahnya hingga Gae Yeon menyembunyikan itu.
bukankah kau yang selalu kita harus saling percaya?” bisiknya
Keesokan harinya, dengan wajah kecutnya ia berangkat ke kantor.
sepagi ini? Apakah kau akan menjemput Gae Yeon?” tanya ibunya yang sedang sibuk menyiapkan sarapan. Tak ada jawaban sepatah kata pun yang keluar dari mulut Dong Hyuk untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pertanyaan itu seperti pentanyaan yang tak perlu untuk di jawab. Setelah meneguk segelas air puti di meja makan, ia hanya mengucapkan salam lalu pergi.

ayo bangun-ayo bangun-ayo bangun” sebuah alarm yang terpasang di kamar So Eun. Tidak kesiangan.
hya! So Eun-aa apa kau tak mau bangun?” teriak ibu So Eun dari balik pintu kamar So Eun.
eomma, aku masih ngantuk.” jawab So Eun yang semakin menarik selimutnya.
ini sudah siang! Apa kau mau di pecat dari pekerjaanmu?” balas ibu So Eun membohongi anaknya.
Mendengar itu, lantas So Eun pun terkejut. Tanpa melihat jam yang terpasang di kamar, dengan cepat ia menyambar handuk yang tergantung di pintu kamar.
Sebuah senyuman lebar keluar dari wajah ibunya saat So Eun keluar dari kamar. Wanita paruh baya itu menyanyikan lagu selamat ulang tahun pada anak So Eun. Berbagai perasaan bahagia menghampiri So Eun, dengan cepat ia meraih tubuh tua itu. Memeluknya.
genap 26 tahun aku mengasuhmu” sebuah pernyataan dari ibunya yang mengejutkan So Eun.
So Eun tersenyum. Tak mempedulikan ucapan tersebut. Mungkin ada sesuatu yang ibunya sembunyikan, namun So Eun tak ingin mengetahuinya hari ini. Dimakannya kue kecil ala ibunya setelah So Eun meniup lilin.
bagaimana kalau ibu membuka toko kue saja
Ibunya terkejut dengan pernyataan So Eun. Usaha laundry ini sudah lama, bahkan mereka sudah memiliki pelanggan tetap.
hya! Bagaimana bisa kau mengatakan itu?!” bentak ibu So Eun.
Dengan rayuan-rayuan anehnya, So Eun membujuk ibunya agar mau untuk berganti profesi. Hingga So Eun selesai mandi pun ibunya tetap menolak.
ahh, aku berangkat dulu” pamit So Eun begitu saja.
hya! Apa kau tidak sarapan?
rasanya aku sudah kenyang karena penolakanmu. Bahkan untuk seminggu ini masih kenyang. Galke.
hati-hati” ibunya melepas So Eun pergi. Sambil menyetrika baju, sesekali ibu So Eun berfikir. Perlukah ia mengikuti ide konyol So Eun?
Ditengah perjalananannya ke halte, So Eun yang terpikirkan akan ucapan ibunya tadi pagi, hampir saja membuatnya tertabrak mobil.
apa kau mau mati!” teriak seorang ahjussi. Dengan cepat So Eun meminta maaf dan meninggalkannya begitu saja meskipun ahjussi itu bercelomet bak burung belum di beri makan.

oppa! Gidareyo!” teriak Ji Kyeong ketika melihat Hyun Joon berangkat.
kau kan bisa di antar sama supir,
mengapa kau naik bus, kan bisa berangkat denganku
kau jangan seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan permen, aku berangkat!
jjih! Kau selalu berangkat dengan yeoja itu. Arasseo!” bisik Ji Kyeong marah.
Gae Yeon yang baru saja keluar dari rumahnya, melihat Hyun Joon yang tengah berjalan menuju halte bus.
oppa!” panggil Gae Yeon keras.
Hyun Joon menoleh dan tersenyum.
jaksa Ahn, apa cuacamu pagi ini?
na?
Gae Yeon menggangguk. Hyun Joon tertawa. Mengapa Gae Yeon menjadi orang yang suka membahas cuaca akhir-akhir ini?
aku menirunya dari seseorang. Dan sepertinya itu lebih baik” jelas Gae Yeon.
geuraesseo” balas Hyun Joon yang kemudian menggenggam tangan Gae Yeon. Dan selama perjalanan menuju halte, Gae Yeon dan Hyun Joon mengobrol tentang cerita-cerita masa kecil mereka berdua. Tak disangka pula, di tengah perjalanan sesaat Seo Jung yang juga kebetulan berangkat kerja, ia pun mengurungkan niatnya untuk memanggil Gae Yeon.
nuguseyo?” tanya Seo Jung sendirian.
Melihat pria yang berjalan bersama Gae Yeon tak menaiki bus yang sama, Seo Jung semakin bertanya-tanya, ini sudah yang ke sekian kalinya ia melihat Gae Yeon berangkat dengan pria tersebut. Segala hal masuk dalam pikiran Seo Jung. Gae Yeon pun tak pernah bercerita tentang pria lain selain Dong Hyuk. Seo Jung mencoba mengembalikan pikirannya ke beberapa tahun lalu, mungkin Gae Yeon bercerita namun ia lupa. Hingga bus hampir sampai di halte dekat kantornya, ia tak menemukan kenangan Gae Yeon bercerita tentang pria lain. Hanya Dong Hyuk. Kang Dong Hyuk. Jikalau ada, itu pria yang tak penting untuk ditanggapi. Dong Hyuk, pria yang bertunangan dengan Gae Yeon 2 tahun lalu tepat setelah Gae Yeon lulus dari universitas juga pria yang disukai Seo Jung sejak 8 tahun lalu.
Gae Yeon-aa
ohh! Seo Jung-aa! Kenapa aku baru melihatmu di bus?
gwenchana, ahh! Gae Yeon-aa
wae?
bukankah kemarin ulang tahun usia tunanganmu dengan Dong Hyuk?
Gae Yeon mengangguk.
apakah ada pesta?
Gae Yeon tersenyum sumringah. Seo Jung pun ikut tersenyum. Dan saat dua wanita itu masuk ke kantornya, ada Dong Hyuk yang baru saja datang. Gae Yeon menyapanya lirih. Senyuman Dong Hyuk melebar dan Gae Yeon pun menghampiri Dong Hyuk. Lama Dong Hyuk memandang Gae Yeon.
wae?” ucapan yang keluar dari bibir manis Gae Yeon. Dong Hyuk mengecup kening Gae Yeon. Seo Jung yang berada tak jauh dari tempat Gae Yeon dan Dong Hyuk berdiri pun tersentak. Melihat pria yang ia cinta mengecup kening wanita lain. Namun, itu wajar, wanita itu tunangannya. Namun ada yang tak wajar bagi Seo Jung. Entah apa itu.
jika hari itu kau tidak bertemu dengan wanita itu, apakah cinta itu untukku?” bisik Seo Jung yang sesekali menghela nafas.
Seo Jung yang masih berdiri di tempatnya dikejutkan dengan kedatangan So Eun. Seo Jung memeluk So Eun. Namun So Eun cepat-cepat melepaskan pelukan itu. Seo Jung protes keras. Sejauh mana pun ia memandang Dong Hyuk, sedalam apa perasannya dengan Dong Hyuk, semua orang tidak mengetahui tentang hal itu. Yang orang lain tahu hanyalah Dong Hyuk adalah tunangan Gae Yeon.
kau sudah datang, ini tema hari ini” ucap Gae Yeon seraya menyodorkan kertas yang berlembar-lembar.
apakah kau sedang bahagia, Gae Yeon-ssi?” sambar Produser Kim yang juga baru datang.
ne, dia kemarin selesai pesta makan malam dengan Dong Hyuk,” timpal Seo Jung.
Timpalan Seo Jung mematahkan sebagian jiwa produser Kim. Namun, pada saat tertentu yang tak pernah ia ramalkan, ada kalanya hatinya sakit karena cintanya yang hanya sebelah tangan. Tanpa alasan yang masuk akal kadang produser Kim membayangkan dirinya suatu saat nanti bisa menikah dengan Gae Yeon.
ohh ya, So Eun-ssi” panggil produser Kim sesaat ketika So Eun akan masuk ke ruangan on air.
ne?
ternyata rumahmu satu arah denganku
So Eun hanya tersenyum seakan sudah mengetahui hal tersebut. Tak lama, setelah on air di mulai, tiba-tiba di depan komputer produser Kim tersentak, hingga membuat Gae Yeon dan Seo Jung serta dua orang lainnya terkejut.
siapa yang membuat tema ini?” tanya produser Kim. Gae Yeon melirik licik. Lirikan itu bak pisau belati. Produser Kim menghela nafas.
Apakah pengirim surat itu Gae Yeon? Mengapa dia mengirimya? Alasannya apa?” tanya produser Kim dalam hati.
aku terinspirasi dari koran, wae?” ujar Gae Yeon.
Aneh. Sebuah kata yang keluar dari mulut produser Kim. Gae Yeon mulai mengumpat.
hya! Gae Yeon-ssi, kenapa kau suka sekali mengumpat?!
ani,” balas Gae Yeon seraya mengibaskan rambutnya.

Setidaknya kasus yang ia tangani hari ini tak menghabiskan tenaganya untuk berdebat. Pukul setengah enam, matahari yang sejak tadi sudah mulai tampak menghilangkan dirinya, membuat langit kini tengah mengibarkan warna jingga. Dengan langkahnya ia tersenyum bergegas kembali ke kantor. Ditemani segelas kopi hangat di genggamannya, angin berhembus mulai mendingin. Tak terasa musim semi akan segera hadir, Hyun Joon yang sedang menantikan musim itu pun semakin semangat saja untuk menyambutnya. Sudah berapa lama ia tak menghabiskan musim kesukaannya itu di Korea.
saranghae” gumamnya. Entah untuk siapa.

Di sebuah kedai kopi, Gae Yeon juga sedang bersama Dong Hyuk menikmati sepotong kue coklat dengan kopi yang dipadu dengan tampilannya yang amat sangat indah. Cappucino. Di sela ia menikmati kuenya, Gae Yeon meraih jemari Dong Hyuk. Pria yang sedari tadi diam dengan garpu kue yang terus ia putar-putarkan. Saat ia mengangkat wajahnya, Gae Yeon melempar senyuman pada Dong Hyuk, namun pria yang pikirannya masih dengan banyak pertanyaan itu pun kembali menundukkan kepala.
wae?” tanya Gae Yeon.
Dong Hyuk tetap diam. Semenit kemudian Gae Yeon melepaskan tangannya yang memegang jari Dong Hyuk. Dong Hyuk meraihnya kembali.
saranghae” ucap Dong Hyuk.
Gae Yeon tertawa kecil.
wae? Bukankah semalam dua tahun tunangan kita? Apa aku salah mengucapkan itu?” tanya Dong Hyuk protes.
tch! Aku tertawa bukan karena salah, tapi sikapmu, seperti baru mengucapkan kata itu padaku” jawab Gae Yeon kemudian tertawa lagi.
anieyo, hanya saja..
wae?
ani,
wae?” tanya Gae Yeon penasaran.
Dong Hyuk kembali menggeleng. Gae Yeon hanya mengangkat alisnya dan melanjutkan menikmati kue coklatnya. Secepat kilat Dong Hyuk kembali mengecup kening Gae Yeon. Gae Yeon hanya mengamati tingkah laku sosok pria yang kini tengah duduk di depannya menemani menyantap makan malam.
sikapmu mengkhawatirkanku” cletuk Gae Yeon seraya meraih ponselnya yang tengah berbunyi.
produser bilang aku harus segera kembali ke kantor.” Lanjutnya setelah membaca pesan produser Kim.
katakan kau bersamaku
hya oppa!
biar Seo Jung saja yang membantu,
oppa, produser Kim sedang membutuhkanku,
nado. Setidaknya kau memilih satu yang lebih penting di hidupmu
oppa, jebal. Kau jangan seperti ini,
Dong Hyuk melepaskan genggaman tangannya. “pergilah” ucapnya seketika.
mianhae” balas Gae Yeon seraya meninggalkan Dong Hyuk.
mianata?” gumam Dong Hyuk yang kemudian disusul dengan senyuman pahitnya. Dengan rasio dan akalnya, Dong Hyuk tak mampu mengatakan apa yang sedang ia pikirkan. Ia pun bingung haruskah itu ditanyakan. Sesosok wanita yang ia temui 6 tahun lalu dan wanita yang sudah bertunangan dengannya 2 tahun lalu itu, mungkinkah menempatkan pria lain di hatinya? Dong Hyuk menghela nafas panjang.

Malam ini mendadak hujan turun dengan amat sangat lebat. Pandangan Hyun Joon kosong namun tajam bagaikan samurai yang siap ditusukkan kepada seseorang. Dengan sesekali ia tersenyum dalam kekosongan pikirannya.
Waktunya pulang. Wanita itu menghentikan langkahnya ketika mendapati suasana di luar hujan. Ia mengoceh tiada batas.
wae?” cletuk produser Kim tiba-tiba.
mengapa hujan? Menyebalkan.” Jawab So Eun.
hya, So Eun-ssi, bukankah rumah kita satu arah?
So Eun menelan ludahnya sendiri dan refleks kakinya melangkah ke belakang. Dengan sedikit gagap So Eun menjawab pertanyaan produser Kim.
geurae, pulang bersamaku saja..
So Eun yang terkejut pun hampir saja mengeluarkan bola matanya.
produser, bolehkah aku juga ikut? Aku lupa membawa payung, hanya sampai halte saja” rengek Seo Jung tiba-tiba dari belakang.
Produser Kim pun meng-iyakan permintaan Seo Jung. Sejenak ada mobil Dong Hyuk yang menghampiri tiga orang yang sedang berkumpul. Ia tersenyum pada seorang wanita yang masih berjalan di belakang mereka bertiga.
eonni, di luar hujan, apakah kau membawa payung?” tanya Gae Yeon khawatir.
kita akan satu kendaraan” sambar Seo Jung.
Dengan senyuman hangatnya Gae Yeon mengangguk ringan, dan segera memasuki mobil Dong Hyuk. Seketika itu produser Kim memandang kesal pada mobil yang membawa Gae Yeon pergi.
Dengan payungnya dan ditemani rintik hujan yang memebasahi sepatunya, Hyun Joon berjalan pulang. Didapatinya Gae Yeon sedang keluar dari mobil Dong Hyuk. Semenit kemudian disusul Dong Hyuk juga keluar dari mobilnya. Sebuah kecupan bibir mengagetkan Gae Yeon juga Hyun Joon yang melihatnya, serta Seo Jung yang berdiri tak jauh di belakang Hyun Joon. Hyun Joon yang terperanjak dari langkahnya pun menjatuhkan payung yang dipegangnya. Dengan helaan nafas panjang, ia kembali berjalan ketika mobil Dong Hyuk menghilang.
oppa!” tegur Gae Yeon saat melihat Hyun Joon.
Hyun Joon yang sengaja pura-pura tidak dengar pun dihentikan langkahnya dengan tepukan tangan Gae Yeon di bahunya.
ohh, kau basah?” cletuk Gae Yeon.
bukankah rumahmu tidak melewati jalan ini?
sepertinya kau lelah, semoga esok lebih baik.. annyeong jaksa Ahn..” Gae Yeon langsung meninggalkannya dengan seutas kertas yang Gae Yeon jejalkan ke genggaman Hyun Joon.

֍

Seminggu kemudian. Hyun Joon masih terbayang kejadian di malam yang penuh dengan rintikan hujan beserta seutas kerta yang bertuliskan “nan haengbokkae”. Hyun Joon mengerti betul maksud tulisan itu. Namun, dibanding Hyun Joon, mungkin Gae Yeon lebih mengerti.  Dan artinya berbeda, hanya saja Hyun Joon enggan untuk menanyakan itu. Karena setelah sampai di rumah, ia begitu saja menaruh kertas itu di atas rak buku. Sekarang pun ia tak tahu apakah kertas itu masih menyelinap jatuh ke buku-bukunya atau bahkan malah tersapu dan masuk ke tong sampah.
Gae Yeon yang setiap paginya menantikan Hyun Joon menanyakan apa maksud tulisan di kertas seminggu yang lalu pun tak kunjung mendapatkan pertanyaan tersebut. Hingga akhirnya Gae Yeon yang bertanya, meskipun ada rasa canggung yang menyerbu dirinya begitu saja. Pagi ini Gae Yeon diantar Hyun Joon ke kantor. Sampai di dekat kantornya, Hyun Joon mengeluarkan kata-kata yang tak disukai Gae Yeon dari dulu, “sayangnya aku tidak sedang ingin mengetahuinya”.

Kesempatan langka memang selalu berpihak padanya. Pagi ini So Eun kembali berangkat bersama produser Kim. Tidak ada Seo Jung yang mengganggu pandangannya memandang produser Kim pagi itu. Tajam memang, tapi mengandung artian indah.
ku harap cuacaku hari ini biru,” ucap produser Kim saat berjalan memasuki kantor.
So Eun sontak tersedak tanpa alasan yang jelas.
wae? Aku mengutipnya dari surat-surat di apartemenku, pengirimnya selalu menginginkan cuaca cerah di setiap hariku,
geurae” jawab So Eun yang masih tak percaya produser Kim mengutip kata-katanya.
aku rasa pengirim itu, aku sudah mengetahuinya
So Eun lantas menghentikan langkahnya yang berada tepat di tengah-tengah perjalanannya dan memandang produser Kim dengan mata yang membelalak hampir keluar. Produser Kim pun membalikkan punggung.
awas!” cletuk produser Kim menarik tangan So Eun dari tabrakan seseorang. Berbagai perasaan keluar, jantungnya yang sedari tadi berdetak lebih kencang dari biasanya, semakin kencang saja. Bahkan So Eun hampir saja mengeluarkan keringat dingin.
benarkah yang produser katakan tadi?
Produser Kim mengangguk. Disusul dengan So Eun juga keringat dingin itu semakin ingin keluar dari persembunyiannya. Ruangan lift yang sudah menantinya pun serasa tertawa melihatnya, So Eun pun tanpa alasan yang jelas enggan satu lift dengan produser Kim. Namun, Gae Yeon yang tiba-tiba datang menariknya masuk.
eonni, mengapa kau menyukai kata-kata yang berhubungan dengan cuaca?” tanya Gae Yeon.
bukankah itu kata-katamu?” sambar produser Kim.
So Eun dengan sendirinya merasa kedoknya akan ketahuan. Ia menelan ludah yang mungkin makhluk halus saja yang mendengar. “gluk gluk”.
aku dan So Eun eonni mengutipnya dari koran, tapi So Eun eonnilah yang sangat menyukainya” jelas Gae Yeon.
apa nama korannya? Terbitnya tanggal berapa?” tanya produser Kim penasaran.
hya! Produser Kim, kau kira aku mengingatnya! Jinjja!” keluh Gae Yeon meninggalkan produser Kim.
On air di mulai. Selama itu produser Kim yang awalnya mengira pengirim surat itu Gae Yeon, kini sedang mereka-reka apakah pengirimnya So Eun? Wanita yang menjadi rekan kerjanya beberapa bulan lalu. Meskipun itu benar, menurut produser Kim itu tak masuk akal. Amat sangat tak masuk akal. Bahkan surat itu datang sebelum dirinya mengenal So Eun. Dengan lamunannya yang aneh membuat orang di dalam ruangan itu kesal dengan sikap produser Kim. Hingga akhirnya Gae Yeon yang ternyata diam-diam memiliki julukan ratu mengumpat itu pun mengeluarkan jurusnya demi menghadapi produser Kim. Memandang Gae Yeon yang mengeluarkan umpatannya, pertanyaan baru muncul di pikiran produser Kim, rasanya jika Gae Yeon yang mengirimnya itu pun tidak mungkin. Tulisan tangannya pun menandakan dia wanita yang halus.
KIM KWANG SOO! Apakah telingamu masih berguna?!” cletuk Gae Yeon melanjutkan kata-katanya.
ohh sesange. Ne ne ne! Wae?!” bentak produser Kim.

Setiap tugasnya selesai, ia selalu membayangkan ia kembali ke kantornya bersama Gae Yeon. Namun, sore yang cerah telah menyergap perasaannya kala teringatkan oleh suatu malam. Pria itu menghentikan langkahnya. Badannya yang tegap dan tinggi itu pun serasa tak kuat untuk melanjutkan langkah tersebut. Tak sewajarnya ia menaruh hati pada wanita tersebut. Setidaknya ada pepatah bijak yang berkata “pilihlah satu. Meskipun ganjil kedengarannya tidak enak, genap juga kadang mematikan”.

Hingga pada suatu ketika produser Kim yang sedang makan malam bersama Gae Yeon dan bersama rekan satu profesinya, saat akan melontarkan pertanyaan pada Gae Yeon, mendadak diurungkan niatan tersebut. Suara yang hampir keluar itu pun kembali masuk dalam tenggorokannya ketika Dong Hyuk memanggil Gae Yeon dan mengajak Gae Yeon makan di luar. Karena Gae Yeon tak menjawab, Dong Hyuk yang mulai duduk dan menatap mata Gae Yeon. Hal tersebut telah menciptakan suasana hening. Dong Hyuk menatap mata Gae Yeon untuk menjemput kegugupan untuk bertanya. Wajar saja pikiran Dong Hyuk terusik, ia mencintai Gae Yeon meskipun terkadang ia tak bisa bersikap layaknya orang yang sudah saling mencinta bertahun-tahun. Namun, perlahan tatapan itu mengurai senyuman dan memecah keheningan. Gae Yeon memandang heran.
kalian makan apa?” tanya pria yang sehari-harinya di sapa dengan nama Presdir Kang tersebut.
Tawaan orang-orang yang mengerubungi meja itu pun lepas. Keheningan itu pecah. Selagi keheningan itu pecah, di sudut meja itu ada wanita yang bingung akan sikap pria yang sekaligus tunangannya tersebut. Hanya saja karena sopan santun ia ikut tertawa serasa tanpa beban. Juga dua manusia yang tertawa karena sopan santun, Kim Kwang Soo dan Park Seo Jung.

Mata itu memandang ke arah gambar anak kecil dalam sebuah ruang kecil dalam sebuah dompet. Digenggam oleh tangan yang sehari-harinya memegang dokumen bertumpuk-tumpuk beserta bolpoin sebagai kekasihnya. Terlihat bibirnya melebar, membentuk sebuah senyuman yang indah. Ia semakin tak peduli dengan malam menakutkan tersebut. Ia tersenyum dan melupakannya mentah-mentah. Sekitar satu menit kemudian ia kembali menutup dompet tersebut dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Entah apa yang terjadi. Malam ini Gae Yeon menanti Dong Hyuk. Hampir 2 jam ia berdiri di depan kantornya dengan ditemani semilir angin yang menghembuskan kain yang menempel di badannya dan rambut sebahu yang terurai.
apakah kau sudah lama menungguku?” cletuk Dong Hyuk memecah dinginnya malam.
Gae Yeon menggeleng dan tersenyum. Jari-jari kecilnya meraih lengan tangan yang ukurannya lebih besar dari lebar telapak tangannya.
apa kau takut?” tanya Gae Yeon.
Dong Hyuk tersenyum.
bukankah hubungan ini sudah terlalu tua untuk ditakutkan?
6 tahun bukanlah tua, ada yang bisa lebih dari itu
ne, arasseo
Dong Hyuk tersenyum hangat. Namun batinnya diam. Gae Yeon memeluknya hangat. Mencoba menenangkan Dong Hyuk. Dong Hyuk melepaskan napasnya pelan. Gae Yeon menepuk punggungnya seraya melepaskan pelukannya, namun Dong Hyuk kembali menarik Gae Yeon masuk dalam pelukan Dong Hyuk.
tetaplah diam seperti ini sebelum aku melepasmu” pinta Dong Hyuk.
Gae Yeon yang memahami Dong Hyuk, memilih diam dari pada menjawab. Keadaan yang tadinya masih terdengar suara dua pasang manusia itu pun kini kembali sunyi.

Di atas tempat tidurnya, produser Kim yang kini mulai berharap lagi ada tombol delete yang mampu mengubah segalanya. Ada tombol enter yang mampu memperbarui keadaan. Keadaan seperti ini bukan yang pertama baginya, beberapa hari lalu juga seperti ini, bulan lalu juga seperti ini, juga bulan-bulan sebelumnya.
nona cuaca, hari ini cuacaku kelabu lagi. Semoga cuacamu biru” bisik produser Kim setelah meraih secarik kertas kecil.

Ratu laundry yang kini menjelma menjadi seorang penyiar radio, malam ini menyanyi dari ujung kamarnya hingga kamar mandi bahkan ketika ia menyikat gigi. Ibunya yang berteriak karena suaranya pun tak ia pedulikan. Yang terbayang pada dirinya hanya sesosok produser yang hampir membuatnya pingsan hari ini.
hya! So Eun-aa, suaramu itu bisa merusak telinga orang lain!
eomma, apakah eomma pernah merasakan bagaimana mendapat hadiah dari Tuhan?
apa maksudmu
ahh, lupakan saja
memang kau mendapatkan apa? Menemukan cek $100jt?
So Eun mengangguk. Mata ibunya terperanjak seolah akan keluar. Mesin penyetrika baju ia tanggalkan.
tapi cek itu bukan dalam kertas, dalam sebuah batin yang mampu menyimpan segalanya
HYA! SO EUN-aa!” bentak ibunya yang langsung mengagetkan So Eun.
wae? Wae? Wae?!!!
mengapa kau mengatakan itu sebagai cek $ 100jt?!
aku tak mengatakannya, itu kan keluar dari mulut eomma! Annyeonghasimnika nyonya.
mwoya! Aish jinjja
So Eun hanya melangkah ringan masuk ke dalam kamarnya. Sejenak ia kembali keluar dan melihat ibunya yang kembali menyetrika baju. Melihat punggung yang sudah tua pun So Eun hanya menyeringai kecil dan kembali masuk ke dalam kamar.

Wanita yang selalu berada dalam keheningan setelah orang tuanya bercerai 10 tahun lalu, dan ditinggal ayahnya pergi ke California 7 tahun lalu itu berangan-angan Tuhan menjatuhkan sesuatu yang indah baginya yang mampu memecah udara dingin dalam hidupnya. Seo Jung mengusap foto pria yang mengisi hatinya sejak SMA dulu. Pria yang selalu dalam angannya juga sebagai presdir dan sebagai tunangan temannya, Gae Yeon. Keadaan beberapa tahun silam mengubah segalanya ketika Seo Jung mengenalkan Dong Hyuk pada Gae Yeon. Namun, hari ini Seo Jung juga merasa sesuatu yang hilang itu akankah kembali lagi?
mengapa surat itu masih diam tak bereaksi apa-apa?” tanyanya sendiri.

Sejak 30 menit yang lalu, ia berdiri di depan kaca ruang kerjanya, ia tak mempedulikan ponsel yang sesekali berdering. Menatap langit sore yang dipenuhi dengan awan. Sekejap pandangan Dong Hyuk menghampa dalam balik kaca tersebut. Ia mencoba menembus ruang waktu. Menuju hamparan laut yang indah ditemani beberapa batuan dan rumput yang indah. Di sela-sela rajutan molekul udara, 4 tahun silam, saat hubungannya dengan Gae Yeon masih sangat hangat bagaikan kopi yang baru saja diseduh. Dirinya seakan dibawa kembali didalam ingatan tersebut. Perlahan ia beranjak meninggalkan kaca itu, menghampiri ponsel yang sedari tadi dibiarkan berteman dengan buku-buku dokumen. Dong Hyuk meraihnya. Membaca pesan yang diterima dari Seo Jung.
holiday?” ucapnya sendirian.

So Eun tertawa lepas. Disusul Seo Jung dan salah satu rekannya yang sedang makan malam bersama, di sebuah warung kaki lima yang berada tak jauh dari kantornya, mereka bertiga saling bercerita tentang masa kecilmasing-masing. Candaan itu sangat ringan dan amat sangat membahagiakan. Seakan tidak ada beban yang menghampiri mereka. Dengan sendok yang sedang ia pegang, So Eun mempraktekkan bagaimana ibunya memukul kepalanya dengan sendok makan. Suara tertawa itu pun kembali muncul, dengan cita-cita masa kecilnya yang semakin memancing gelak tawa satu sama lain. Hingga gelak tawa itu akhirnya berhenti dalam hitungan detik ketika ponsel Seo Jung berbunyi.
Kang Dong Hyuk?” tanyanya dalam Hati.
angkat saja, bukankah kita juga akan kembali” sahut So Eun.
Seo Jung mengangguk dan pamit kembali ke kantor terlebih dulu.
waeyo?” ucap Seo Jung saat mengangkat telepon Dong Hyuk.
holiday?
ne, bersama Gae Yeon juga, produser Kim juga tak mau ketinggalan
nanti ku tunggu kau di kedai kopi langganan kita biasanya, pulang kerja,” dalih Dong Hyuk yang kemudian menutup telefonnya begitu saja.
ne,” jawab Seo Jung.

Adakalanya keheningan adalah hadiah ulang tahun yang terbaik. Bukankah mereka semua ingat dengan hari tersebut? Produser Kim ulang tahun hari ini. Ia terdiam di sebuah tempat yang tidak pernah ada teman kerjanya yang tahu. Keheningan itu mengapungkan pikirannya. Membayangkan Gae Yeon yang entah sekarang sedang bermesraan dengan Dong Hyuk atau sudah merapatkan wajahnya pada bantal kesayangan. Sebuah daun yang jatuh menyadarkannya dari khayalan. Mungkin cinta itu semakin besar, lebih besar dari hatinya. Namun, sebuah daun itu tak menyadarkan seutuh nyawanya, ia kembali terbayang ketika Gae Yeon sedang sibuk bekerja dan tiba-tiba mengangkat wajahnya dengan sorotan dua bola mata yang garang, produser Kim tertawa kecil.
kenapa produser tertawa sendiri?” cletuk seseorang tiba-tiba.
eomeona! So Eun-ssi, mwohaneungeoya?
anieyo, wae?
ani,
ohh, geurae, aku pulang dulu” pamit So Eun.
Produser Kim mengangguk. Bayangan wanita yang lama kelamaan ditelan dengan sunyinya malam itu pun menyita pandangan produser Kim. Membandingkannya dengan bayangkan tubuh Gae Yeon. Memang tak seindah Gae Yeon, namun bayangan itu melebarkan senyuman produser Kim dan membuatnya beranjak dari tempat duduk itu.

hari ini serasa dunia tak berputar pada porosnya” Gae Yeon bergeming sendirian.
Berdiri di atas lantai kayu, di dalam ruangan yang berdiameter 7 x 5 meter berlapis dinding berwarna putih keabu-abuan, ia terus memandang langit malam yang tak bertuan. Angin yang sengaja menerobos masuk melewati sela-sela jendela kamarnya yang tertutup, membuat Gae Yeon sesekali mengelus lengannya.
sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang sedang terjadi diantara kalian? Mengapa semuanya seperti ini?! Wae?!” emosi Gae Yeon memuncak tanpa sengaja dibarengi dengan tetesan air asin dari matanya.
3 jam yang lalu, setelah Dong Hyuk mengirimkan pesan menyuruh Gae Yeon pulang sendiri tanpa ditemani Dong Hyuk. Membuat Gae Yeon mengikuti Dong Hyuk yang membelokkan mobilnya di sebuah kedai kopi. Gae Yeon terkejut ketika ia melihat bahwa Dong Hyuk menghampiri meja yang salah satu kursinya telah diduduki oleh seorang wanita. Melihat wanita itu masih sama seperti yang lalu-lalu, hari ini Gae Yeon mengikuti Dong Hyuk karena penasaran ingin melihat wajah wanita tersebut. Dengan sebuah ekspresi mata yang terbelalak. Terkejut, tidak percaya, ia merasa itu mimpi. Gae Yeon yang tak bisa berkomentar karena serasa mulutnya telah terkunci dengan rasa terkejut yang amat sangat.
Seo Jung-aa?!” ucap Gae Yeon seakan tak percaya. Semakin tak percaya, hingga membuat Gae Yeon semakin penasaran dengan apa yang Dong Hyuk dan Seo Jung. Ia pun menenangkan diri dan mulai memesan segelas cappucino dengan sebuah waffle.
apakah kau sudah lama menungguku” tanya Dong Hyuk melihat Seo Jung yang sedang menikmati secangkir kopi yang masih mengepulkan asap hangat.
Seo Jung tersenyum. “ani, mana Gae Yeon?” tanya Seo Jung.
Dong Hyuk hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Seo Jung. Sedikit perasaan tak enak menghampirinya, namun Seo Jung seakan itu hanya urusan biasa.
apakah kau sudah mengajak Gae Yeon dan produser Kim tentang liburan tersebut?
Seo Jung menggeleng ringan. “tadinya aku mau bicara dengan mereka, tapi ak
cukup kau dan aku saja” sambar Dong Hyuk memotong kata-kata Seo Jung.
Seo Jung bingung.
waeyo?
ini sudah jarang kita lakukan. Baiklah, mungkin kau tidak enak dengan Gae Yeon, tapi” ucapan Dong Hyuk terhenti.
tapi ini sudah menjadi rutinitas kau dan aku? Itu maksudmu?
Dong Hyuk mengangguk. Seo Jung tertawa. Disusul Dong Hyuk yang ikut tertawa. Bersama tenggorokan mereka yang meneguk secangkir kopi masing-masing.
Telinga yang berada tak jauh dengan meja Dong Hyuk dan Seo Jung pun mendengar. Suara musik di dalam kedai itu pun serasa tak lagi bersuara. “rutinitas” kata-kata itu bagai tombak yang menusuk telinganya. Dalam dua menit, Gae Yeon meninggalkan mejanya dan melangkah pulang.

Keesokan harinya, Gae Yeon yang tak menunjukkan tanda-tanda curiga, dengan raut wajah yang bahagia pun memanggil Seo Jung yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Gae Yeon-aa, wajahmu sangat sumringah. Waeyo?
neodo,
na?
Gae Yeon mengangguk. Semula Gae Yeon mengenal Seo Jung dengan reputasinya di SMA yang dibawanya hingga ke kampus sebagai pemain tennis yang handal dan tangguh dalam setiap pertandingan. Serta sebagai teman yang selalu dengan istilah-istilah aneh untuk menasehatinya tanpa ia mengerti maksud kata-kata tersebut. Namun, alasan itu melebur hanya dengan waktu semalam. Pagi ini di benaknya sudah tidak ada Seo Jung yang seperti dulu. Sekilas Gae Yeon berjalan dengan lamunan karena semalam.
apakah kau memikirkan sesuatu?” tanya Seo Jung seraya memasukkan ponselnya ke dalam tas.
ne,
mwo?” tanya Seo Jung sedikit was-was.
untuk pembukaan musim, tema apa yang dipakai?
hya! Bukankah kau selalu menemukan tema yang aneh tapi menggundang rating
Gae Yeon menggeleng. Dengan tatapan aneh, Gae Yeon melanjutkan langkahnya.

Dengan keberaniannya, angin pagi itu menuntun produser Kim menyatakan perasaannya pada Gae Yeon, namun pikiran Gae Yeon yang tak karuan membuat Gae Yeon tak menggubris produser Kim. Saat sampai di kantornya, ia langsung duduk dan memanggil So Eun. So Eun yang ternyata mendengar itu pun masih terdiam dalam perasaan terkejut. Dua kali Gae Yeon memanggil, So Eun tak mendengar. Produser Kim yang tak menyangka bahwa Gae Yeon bersikap seolah tak menganggapnya ada di ruangan itu pun membentak Gae Yeon. Dua orang yang baru saja datang juga dikejutkan dengan bentakan tersebut, termasuk Seo Jung yang menyusulnya dari belakang.
bukankah aku tadi berbicara denganmu!
produser Kim, jinjjayo? Mianhae, apakah kau sedang membutuhkan bantuanku?
lupakan saja” produser Kim meninggalkan ruangan tersebut.
Gae Yeon yang tak mengerti apa-apa, langsung menyodorkan pertanyaan pada So Eun.
So Eun menjawabnya hanya dengan satu anggukan kepala. Gae Yeon pun penasaran, hingga membuat produser Kim sangat marah.
dia berkata, dia menyukaimu, itu saja yang ku dengar.
Gae Yeon pun terkejut. Di samping kanannya, Seo Jung yang sedang menata mejanya pun ikut terkejut. Ruangan itu tiba-tiba saja hening. Gae Yeon yang masih terkejut dengan kejadian semalam, pagi ini ia kembali dikejutkan dengan pernyataan dari produser Kim. Gae Yeon yang tak percaya, kembali bertanya pada So Eun hingga membuat So Eun kesal. Di ruangan tersebut, Gae Yeon mengenal produser Kim. Juga karena ruangan tersebut Dong Hyuk memutuskan bertunangan dengannya 2 tahun lalu. Ruangan itu. Ruangan yang kini masih dengan keheningan. Gae Yeon jatuh terduduk. Ia menjatuhkan tangannya ke beberapa tumpukan kertas putih di atas meja.
akankah kita mulai tanpa produser?” cletuk Seo Jung.
Lama tak ada yang merespon ucapan Seo Jung.
Gae
ne, ini sudah telat 15 menit” balas Gae Yeon memotong Seo Jung.
Dalam mimpinya, ketika ia mengucapkan kata-kata tersebut, Gae Yeon mampu merespon dengan tingkah laku yang seakan tak percaya. Bukan malah seperti ini. Produser Kim diam di kantin kantor. Hingga sore hari produser Kim tak kunjung kembali. Saat istirahat tiba, So Eun dengan kecepatannya, ia langsung meninggalkan ruangan on air, mendapati produser Kim berada di kantin dengan sebuah kotak warna coklat pekat di tangannya. So Eun pun menghampiri produser Kim.
produser disini? Apakah pantatmu tak pegal duduk disana dari tadi pagi?” ucap So Eun menyodorkan sebotol minuman rasa jeruk.
gomawo. Bukankah kau tadi mendengarnya?
ne, waeyo?
apakah ada yang salah
ani, hanya saja waktunya kurang pas, sepertinya Gae Yeon juga sedang ada masalah
Produser Kim meneguk minumannya. So Eun tersenyum hangat.
waktunya memang kurang pas, kesalahannya juga mengapa aku juga turut mendengarnya?” bisik So Eun dalam hati.

Tak disengaja, Dong Hyuk yang sedang makan malam bersama adiknya, melihat Hyun Joon. Pria yang sempat ia lihat beberapa hari lalu. Pria yang menghabiskan malamnya minum soju bersama Gae Yeon. Pria yang selalu menemani Gae Yeon. Hyun Joon bersama dengan seorang wanita yang juga tak dikenalnya. Dengan mata yang menelisik memasuki ruang bicara di meja sudut restoran. Dalam pada itu, Dong Hyuk semakin penasaran dengan pria tersebut. Keakraban di antara Hyun Joon dan wanita itu pun tidak melebihi keakraban yang terjalin di antara Hyun Joon dengan Gae Yeon.
hyeong, kau melihat apa?” tanya adik Min Hyuk.
kalau kau buru-buru, kau bisa pulang dulu
geurae” jawab adiknya tanpa rasa ingin tahu sedikit pun.
Sesaat setelah adiknya pergi. Masih dengan mata yang menelisik entah apa yang dipikirkan, Dong Hyuk terus memperhatikan meja Hyun Joon. Sesaat ada wanita paruh baya datang. Didengarkan baik-baik pembicaraan mereka olehnya. Bibi? Pengadilan? 2 kata yang masih menghuni pikiran Dong Hyuk hingga ia kembali ke kantor.
pria itu akan menikah lagi?” pikirnya begitu saja. Bibir itu pun membentuk senyuman licik.

Masih bermeter-meter untuk sampai di rumah. Masih butuh waktu sekitar 1 jam lagi, di tambah waktu untuk berjalan. Pikiran itu menggantungkan beberapa pertanyaan yang tak mungkin ia tanyakan pada pria yang kini sedang menyetir di sampingnya. Entah apa yang membuatnya dekat dengan pria ini. Mungkin karena jalan rumah mereka berdua searah juga antara produser dan penyiar. Entahlah. Wanita itu masih tak mau melepaskan pandangannya dari pria di sampingnya.
mengapa kau memandangku seperti itu?
Pertanyaan yang tiba-tiba saja keluar dan mengagetkannya. Ia tersenyum.
wae?
ani, bisakah aku memandang yang tak bisa dipandang oleh orang lain?
sedari tadi kau memandangku hanya untuk bertanya itu?
kenapa produser sangat PD, aku tadi memandang keluar kaca
sepertinya pertanyaanmu mengandung arti. Apakah kau ada masalah?
Wanita itu menggeleng ringan. Pria itu pun tersenyum.
hati-hati” ucap wanita tersebut ketika dirinya menyadari sudah waktunya keluar dari mobil tersebut.
ahh, So Eun-ssi” panggil produser Kim.
ne
cuacamu apa?
kelabu” jawab So Eun singkat dan menyilahkan produsernya pulang.
oh ya, apakah kau bisa meromendasikan kapan waktu terbaik untukku mengatakan perasaanku pada Gae Yeon lagi?
kala hatinya sudah membaik” jawab So Eun singkat.
Produser Kim mengangguk ringan menerima jawaban So Eun. Mobil itu pun meninggalkan So Eun yang berdiri dengan perasaan yang ingin berteriak. Bayangan mobil masih membuatnya berdiri disana. Hingga bayangan itu menghilang ditelan dinginnya malam.
neol sarang” cletuknya seraya membalikkan punggungnya berjalan pulang. Rumah laundry yang kini telah disulap menjadi toko kue itu pun menjadi tujuannya setiap hari. Aroma kue yang masih tinggal itu pun melebarkan senyuman So Eun.

֍

Lima hari sudah Gae Yeon tak berkomunikasi dengan Dong Hyuk. Bukan Gae Yeon tak ingin menghubunginya, namun Dong Hyuk yang dengan tiba-tiba saja tak mengangkat telepon Gae Yeon. Pesan yang ia kirimkan ke Dong Hyuk pun tak kunjung ada balasan. Hingga akhirnya Dong Hyuk menghubunginya di malam yang bersih tanpa awan. Dong Hyuk meminta Gae Yeon agar tak mengganggunya untuk sementara waktu. Kenapa? Sebuah pertanyaan yang juga tak ada jawaban dari Dong Hyuk.
Seminggu kemudian, Seo Jung yang tak biasanya mengabil cuti selama satu minggu penuh dalam musim semi itu pun membuat Gae Yeon kembali teringat akan hal yang ia dengar di kedai kopi beberapa hari lalu. Dengan cepatnya Gae Yeon mencoba menghubungi Seo Jung. Hanya pesan yang ia terima. Seo Jung saat ini akan meluncur ke Gangwon. Entah itu benar atau tidak, yang jelas Gae Yeon ingin kesana pula. Mungkin Gae Yeon terlalu teropsesi dengan perasaannya yang cemas.
sepertinya, sejak saat itu dunia sudah tak berputar pada porosnya” pikirnya dengan memainkan bolpoin yang tengah ia genggam. Ponsel yang berdering sedari tadi tak ia pedulikan. Hingga produser Kim menepuk bahunya dengan suara halus yang mendarat di telinga Ga Yeon.
wae?!
rasanya telinga itu sudah saatnya di bawa ke THT, ponselmu berbunyi
ohh! Oppa!” cletuk Gae Yeon melihat yang telepon adalah Hyun Joon.
ne, yeobeosseo
apakah kau tidak ada acara malam ini?
wae?
aku ada tiket naik bianglala
Sontak Gae Yeon tertawa lepas. Di balik telepon Hyun Joon mengerutkan dahinya.
wae?
oppa bilang bianglala? Aigoo
bukankah kau belum pernah menaikinya hingga dewasa ini?
Perbincangan antara Gae Yeon dan Hyun Joon di dengarkan baik oleh produser Kim. Ia mengira Hyun Joon adalah Dong Hyuk. Dengan telinga yang masih campur aduk mencoba fokus pada dua-duanya, dan akhirnya ia lepaskan pendengaran itu kala Gae Yeon meng-iyakan permintaan si penelefon.

mengapa kau mengajakku kesini? Lagi pula mengapa mereka berdua tidak boleh?
apakah aku perlu mengatakanya padamu?
Seo Jung tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia. Sudah lama ia tak berlibur berdua bersama temannya ini. Angin malam di pesisir laut di pulau Jaeju itu pun menemani malam dua anak manusia itu. Dengan tubuh yang masing-masing dibaringkan ke atas pasir pinggir pantai, mereka memandang jauh ratusan meter. Saling membayangkan semaunya. Seakan mereka mampu menembus langit yang kini sedang bertabur bintang. Sejenak Seo Jung berteriak histeris. Tak ada yang bereaksi akan teriakan tersebut. Bahkan Dong Hyuk pun hanya memandangnya sekali saja. Tubuhnya dibangunkan dari pasir yang telah menjadi alas tidurnya beberapa menit lalu. Di tekukkan jari-jarinya seperti orang mau berdoa.
apa yang akan kau lakukan?” tanya Dong Hyuk penasaran.
apakah ada bintang jatuh?” lanjutnya.
Seo Jung tak mendengarkan Dong Hyuk.

Pemandangan indah itu memantulkan cahaya matanya. Senyuman itu pun tak kalah indahnya, di tambah dengan lesung pipi yang rasanya enggan ketinggalan ketika ia tersenyum. Pemandangannya memang indah, namun baginya tak seindah paras Gae Yeon. Mungkin, pemandangan itu kurang menarik simpati hatinya.
Gae Yeon yang sedang menikmati pemandangan dari atas pun dikejutkan dengan selembar jas yang mendarat di tubuhnya. Cuaca memang dingin. Dengan senyumannya Gae Yeon mencoba sementara melupakan masalah yang menghantui benaknya itu.
Hyun Joon yang berencana malam ini ia akan mengatakan perasaannya pada Gae Yeon, sesuatu telah menghentikannnya terlebih dahulu. Malam ini, di matanya, Gae Yeon sedang ada masalah, ia tak ingin menjadi beban yang berikutnya.
seindah pantulan cahaya malam ini, aku ingin tenggelam di dalamnya” ucap Gae Yeon.
wae? Apakah kau sedang ada masalah?
Gae Yeon menggeleng.
arasseo. kalau tidak mau bercerita tak apa
hya! Oppa!
Hyun Joon menatap Gae Yeon serius. Dengan pandangan yang menembus langit, tiba-tiba Gae Yeon bercerita tentang masalahnya dengan Dong Hyuk. Tanpa alasan yang tak diketahui Hyun Joon, pipi Gae Yeon kembali menjandi tempat air asin yang keluar dari matanya. Sesegera mungkin Hyun Joon merengkuh tubuh Gae Yeon.

Di ujung Korea Selatan kata-kata itu membangunkannya dari tidur.
bagaimana bisa?
memang salahku, hajiman
Kata-kata itu pun berhenti ketika Dong Hyuk merengkuh tubuh Seo Jung.
sudah berapa banyak pria yang menjadi pacarmu? Mengapa kau mencintaiku?
Cukup lama Seo Jung menata keberaniannya untuk mengatakan ini. Tatapannya kosong ke arah jauh di depannya, ditundukkanya kepala itu. Dong Hyuk menepuk bahunya dan melepaskan rengkuhan tersebut.
buat apa kau menyimpan sesuatu yang kini telah membuat matamu berair? Bukankah di kantor banyak pria yang bisa kau pilih? Kau cantik, bahkan lebih cantik dari Gae Yeon
Dalih Dong Hyuk tak mampu menghentikan air yang semakin membasahi pipi Seo Jung. Seo Jung tak bersuara. Hanya air mata yang semakin deras. Dong Hyuk memandangnya iba. Ia rangkul tubuh itu.
aku mengerti” ucap Dong Hyuk.
pasti... kau... sekarang sudah...
tenangkan dirimu” balas Dong Hyuk memotong ucapan Seo Jung yang terbata-bata.
Lama Seo Jung berada dalam pelukan Dong Hyuk. Hingga Dong Hyuk mengatakan yang hampir di luar akalnya.

Dua anak manusia itu kini sedang membahas cuaca. Mungkin bagi mereka membicarakan cuaca lebih santai di banding membicarakan yang lain. Di perjalanannya ke kantor, So Eun di buat tertawa oleh produser Kim.
ahh, aku mau bertanya padamu
mwo?
ah tapi ku rasa aku sudah mempunyai jawabannya
Helaan nafas kesal yang keluar ketika kata-kata seperti itu muncul dari mulut produser Kim.
kadang dunia indah tanpa surga” ucap So Eun.
apa maksudmu?
Kedekatan itu semakin terasa. Baik di tempat kerja maupun di lain tempat. Dua orang itu semakin mengerti satu sama lain. So Eun yang sebenarnya masih ingat dengan kata-kata yang produser Kim ucapkan kepada Gae Yeon, entah mengapa ia ingin melupakan semua itu.
Tak lama mobil itu pun sampai di kantor, saat masuk ke ruangannya, ada Gae Yeon yang sudah lama duduk di kursi yang ia putar-putarkan.
aku bingung” cletuk Gae Yeon saat menyadari ada yang masuk.
wae? Apakah orang sepertimu bisa bingung?” balas produser Kim.
So Eun hanya tersenyum dan duduk di sofa yang berukuran tak sebegitu besar. Ia membiarkan Gae Yeon berceloteh dengan produser Kim. Di tangannya sudah berada sebuah majalah. Majalah itu bukan majalah humor, namun So Eun tertawa dan tersenyum semaunya. Hingga Gae Yeon pun menghampirinya dan duduk tepat di samping So Eun.
bukankah ini majalah metropolitan?” tanya Gae Yeon saat menyadari ternyata majalah yang dibaca So Eun bukanlah majalah humor. Dan tanpa ada jawaban dari So Eun, ia langsung menutup majalah tersebut dan masuk ke ruangan on air.
ohh sesange! Haruskah aku musnahkan orang-orang seperti kalian!” teriak Gae Yeon.
Tak ada reaksi yang di keluarkan dari orang-orang yang kini sudah memenuhi ruangan tersebut.

Sore yang indah, Dong Hyuk dan Seo Jung perjalanan kembali ke Seoul. Tanpa perasaan canggung, Seo Jung memeluk tubuh Dong Hyuk. Seminggu berlalu, banyak hal yang terjadi diantara mereka. Di pantai itu, Dong Hyuk seakan mampu menekan tombol tunda antara hubungannya dengan Gae Yeon, ia menerima Seo Jung dua hari setelah Seo Jung mengungkapkan perasaannya. Entah apa yang ada dalam pikirannya kala itu, Seo Jung yang awalnya tak percaya di buat Dong Hyuk bahwa hal itu bukanlah mimpi.
apa kau bahagia?
Seo Jung mengangguk.
setelah sampai Seoul, bagaimana dengan Gae Yeon?
itu urusanku
Seo Jung mengangguk dan tersenyum.

֍

Mobil itu melaju kencang dan tiba-tiba saja membanting setir ke sisi jalan dan berhenti. Ia pun menelangkupkan kedua tangannya, mengusapkan ke wajahnya. Ponsel yang berada tak jauh darinya sedari tadi berbunyi. Ia pun meraih ponsel tersebut. Menekan tombol yang berfungsi untuk menon-aktifkan dan menghela nafas. Dong Hyuk pun kembali menjalankan mobilnya dengan sangat kencang.

semoga hari ini tak seburuk kemarin,” cletuk Hyun Joon dari belakang Gae Yeon.
semoga” balasnya.
apakah hari ini kau sibuk?
mungkin
sekedar makan malam?
gwenchana
Hyun Joon tersenyum. Ia tak mengetahui apa yang di alami Gae Yeon semalam. Meskipun Hyun Joon hanya melihat dari jauh tanpa mengerti apa yang terjadi, ia mencoba mengibur Gae Yeon sebaik mungkin.
apakah kau tadi sedia payung?
Gae Yeon menghentikan langkahnya.
jangan berjalan di belakangku, kalau oppa ingin medahuliku, silahkan” ucap Gae Yeon.
ani
Mendengar jawaban Hyun Joon, Gae Yeon langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Hyun Joon. Sedikit air mata keluar kembali dari pelupuk mata Gae Yeon. Sesegera mungkin ia mengusap air mata tersebut. Gae Yeon masih tak percaya dengan alasan Dong Hyuk padanya semalam. Sejak hari itu Gae Yeon sudah merasa dunia benar-benar tak berputar pada porosnya. Ia yang melihat Dong Hyuk dan Seo Jung bermesraan dua hari yang lalu tak pelak membuatnya semakin ingin menggaruk dunia ini.
semuanya berubah” bisiknya dalam hati.
Dengan tangannya yang di letakkan di dadanya, Gae Yeon menghela nafas dengan memandang ke arah langit pagi itu. Senyumnya melebar.
Seperti dugaannya, Gae Yeon akan melakukan itu. Anak kecil yang dulunya selalu menangis dalam pelukannya, kini telah menjadi wanita seutuhnya. Hyun Joon tersenyum seraya melanjutkan langkahnya.
jamkkamaneyo” terdengar suara yang menghentikan langkah Hyun Joon. Ia membalikkan badan.
apakah kau memanggilku?” tanyannya.
Orang tersebut mengangguk. Wanita, cantik, dengan rambut hitam pekat yang dikuncir membuat Hyun Joon bertanya-tanya.
wae?” tanya wanita tersebut.
anieyo, apakah aku mengenalmu?
Wanita tersebut tertawa. Semakin membuat Hyun Joon bingung.
aku lupa, Park Seo Jung imnida, ireumi?” ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Ahn Hyun Joon imnida, annyeong..
galke,
Hyun Joon mengangguk. Dengan perasaan bahagia, akhirnya Seo Jung bisa berbincang dengan Hyun Joon, pria yang selalu bersama Gae Yeon yang telah lama ingin ia kenal.

eomona!” cletuk So Eun melihat kedatangan Gae Yeon dengan tampilan matanya yang sedikit lebam.
apakah kau semalam menangis?” tanya So Eun.
Gae Yeon tak berkomentar apa pun. So Eun dengan perasaan penasaran meninggalkan Gae Yeon dan memasuki ruang on air.
seorang jaksa? Tidak buruk. Tapi sepertinya dia sudah mengenal Gae Yeon lama, lalu apa-” gumam Seo Jung sambil memasuki ruang kerjanya.
eomona! Gae Yeon-aa, ada apa dengan dirimu?” tanya Seo Jung tiba-tiba.
Hanya helaan nafas panjang yang diterima Seo Jung. Ia pun melirik ke arah So Eun yang sibuk mempersiapkan dirinya untuk siaran hari ini.
hya! Eonni! Ada apa dengan dia?” tanya Seo Jung terhadap So Eun.
mollayo, aku tanya dia hanya diam” jawab So Eun ringan.
Gae Yeon yang hanya fokus pada pekerjaannya pun tak menggubris berbagai pertanyaan yang dilontarkan dari mulut-mulut di ruangan itu. Bahkan pertanyaan produser Kim pun tak ia gubris. Hingga siaran selesai, Gae Yeon tak mengeluarkan suara apa-apa selain suara bolpoin yang jatuh sore tadi.
Pukul 21.50 kst semua pegawai kantor itu pun pulang. Tak lain Gae Yeon juga keluar dari kantornya, disusul teman-temannya juga Dong Hyuk.
ohh, presdir, annyeong..” sapa So Eun.
Langkah Gae Yeon berhenti. Ia membalikkan badan. Pandangan yang tajam ia lemparkan pada Dong Hyuk. Namun, Dong Hyuk membuang pandangan itu dalam sekejap, ia berjalan ke arah dimana ia parkir mobil Dong Hyuk. So Eun di buat penasaran dengan itu. Namun, presdir Kim yang seolah tak peduli dengan itu langsung mengajak So Eun pulang.
oppa!” teriak Gae Yeon.
Dong Hyuk terus melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan panggilan Gae Yeon. Dengan langkah kecilnya Gae Yeon berlari menyusul Dong Hyuk. Tak lebih dari 10 menit, Gae Yeon mendapatkan tangan Dong Hyuk. Memegangnya erat meskipun Dong Hyuk mencoba melepaskan genggaman tersebut.
sebenarnya apa yang salah denganku? Jangan seperti ini, jangan membuatku semakin merasa bersalah karena kau tak menjelaskannya
hya! Choi Gae Yeon! Harus bagaimana lagi aku bersikap?
waeyo?
pada hari itu, kudapati kau bersama laki-laki, bahkan telepon waktu itu mengapa kau menyembunyikannya? Wae?!
Perlahan Gae Yeon melepaskan genggamannya.
aku tak menyembunyikannya, hanya saja itu tak penting, dia teman sekaligus kakak.
oppa katamu?
lalu bagaimana denganmu? Mengapa kau setega ini? Mengapa kau menjalinnya dengan Seo Jung? Wae?!” protes Gae Yeon seraya air mata yang menyusul keluar.
aku dengan Seo Jung tak ada apa-apa
Gae Yeon tesenyum licik. Sesegera ia mengusap air mata yang membasahi pipinya. Semalam setelah ia bertengkar dengan Dong Hyuk karena ia di tuduh ingin berpisah darinya karena Hyun Joon. Dengan banyak kata-kata yang terlontar dari mulut Gae Yeon mengenai dirinya dengan Seo Jung, Dong Hyuk seakan tak mampu mengatakan hal lain.
cincin ini, akan kuberikan padamu. Jika kau memang sudah lebih baik, mungkin aku bisa menerimamu lagi” ucap Gae Yeon seraya melepas cincin yang terpasang di pergelangan tangannya dan segera meninggalkan Dong Hyuk.
Dengan keadaan yang mencekam, Dong Hyuk langsung membanting ponselnya hingga membuat Gae Yeon membalikkan badannya dan tak peduli kemudian pergi.
Seo Jung yang berada tak jauh dari tempat itu pun sangat terkejut dengan apa yang telah terjadi. Dengan langkah yang sedikit ketakutan, Seo Jung menghampiri Dong Hyuk dan memeluk tubuh tersebut. Di ujung terdapat Gae Yeon yang melihat hal tersebut, ia yang berniat menenangkan Dong Hyuk pun kembali mengurungkan niatnya dan membalikkan badannya dengan tetesan air mata yang kini semakin membasahi pipinya. Tanpa menaiki bus, Gae Yeon berjalan pulang hingga Hyun Joon yang berniat ke kantornya mendapati Gae Yeon berjalan dengan keadaan menangis.
Gae Yeon-aa?” panggil Hyun Joon.
Gae Yeon membalikkan badannya dan memeluk Hyun Joon erat. Hyun Joon diam. Hingga akhirnya ia mengantarkan Gae Yeon pulang tanpa bertanya apapun.

Pagi datang. Gae Yeon memasang raut wajah kecewa yang amat sangat. Sesekali dalam langkahnya ia menghela nafas besar. Cukup besar. Seperti banyak beban yang dipikulnya secara tiba-tiba. Matanya pun pagi ini cukup keruh karena banyak air mata yang ia tahan.
ohh sesange” ucap Gae Yeon.
Hari ini ia ingin melewatinya tanpa melihat Dong Hyuk. Setelah turun dari bus di halte yang dekat dengan kantornya, wanita yang rambutnya sebahu itu pun sesekali menghentakkan kakinya ke jalanan dan teriak tanpa alasan yang jelas.
Seorang pria yang masih berada di dalam mobilnya memperhatikan tingkah laku wanita tersebut. Memandangnya serius hingga tak disadarinya bahwa sosok Gae Yeon telah hilang. Ia pun menundukkan wajahnya sejenak dan menghela nafas.

aigoo.. mengapa Gae Yeon-ssi seperti ini? Hya! Semalam kenapa?” tanya Seo Jung yang pura-pura tak mengerti.
wae?!” tanya Gae Yeon kembali.
itu kan sudah menjadi makanan kita sehari-hari” sambar produser Kim seketika yang juga menyimpan harapan dibalik ucapannya pagi ini.
produser memang sangat memahamiku” balas Gae Yeon.
Seo Jung langsung memonyongkan bibirnya.
dasar cabul” cletuk So Eun.
Sontak Seo Jung pun terkejut dengan perkataan So Eun hingga Seo Jung pun mengeluarkan komat kamit yang meramaikan ruangan yang berukuran 20 x 15 m tersebut.
hya! Seo Jung-aa, suaramu ketika marah itu memang indah.
Han So Eun-ssi! Awas kau!” teriak Seo Jung garang.
So Eun tertawa lepas sampai membuat perutnya sakit.
hidup ini memang rumit, ohh sesange...” cletuk Gae Yeon kembali.
Gae Yeon-aa, wae?” tanya produser Kim dan Seo Jung berbarengan.
eonni, on air akan dimulai, siap?” tanya Gae Yeon pada So Eun.
Gae Yeon-aa! Jawab aku!” protes Seo Jung.
Gae Yeon hanya tertawa sambil menepuk bahu Seo Jung. Hari ini Gae Yeon benar-benar ingin menghilangkan beban semalam, dengan menggoda teman-temannya sepuas mungkin. Namun, keinginan itu seperti debu di terpa angin kencang ketika ia melihat Dong Hyuk mendatanginya saat ia sedang sibuk dengan on air hari ini. Beberapa menit terdiam, Gae Yeon meninggalkan ruangan tersebut. Ia mengikuti langkah kemana Dong Hyuk pergi.
cincin ini untukkmu” ucap Dong Hyuk.
simpan saja, itu bukan milikku lagi.
apakah kau serius dengan ucapanmu semalam?
Gae Yeon mengangguk.
semudah itu kau bertanya itu? Oppa, aku tidak ingin bermain di dalam ini. Karena aku benar-benar serius denganmu. Tapi, kau menghancurkan segalanya” dalih Gae Yeon.
Gae Yeon-aa, mianhae. Aku minta maaf dengan tulus. Akan kuakhiri semuanya dengan Seo Jung
kau jangan seperti itu, biarkan aku yang terluka. Ohh.. segar sekali udaranya” ucap Gae Yeon meninggalkan Dong Hyuk begitu saja.
Gae Yeon-aa
jika aku memafkanmu, setelah aku fikir juga, apakah aku harus menikah dengan pria yang baru saja memintaku kembali hanya untuk sekedar bermain?
Pertanyaan Gae Yeon mengunci mulut Dong Hyuk hingga tak mampu menjawab. Gae Yeon pun hanya tersenyum pahit dan meninggalkan Dong Hyuk.

Tiga bulan kemudian, hubungan antara Gae Yeon dan Dong Hyuk semakin memburuk. Api yang membakar tali itu sudah hampir sampai ujung. Seo Jung yang sudah mengenal Hyun Joon dan sering berangkat bersamanya, kini tengah bahagia di atas terpuruknya hubungan Gae Yeon dan Dong Hyuk. Kim Kwang Soo yang juga produser radio itu lebih bahagia dari Seo Jung. Kini ia sudah mampu menekan tombol enter yang sudah lama ia idamkan. Selain itu ada juga So Eun yang juga tak kalah bahagianya, hari ini entah angin apa yang membuat dirinya bisa diajak produser Kim makan malam. Ia tak memikirkan apakah ia satu-satunya wanita di kantornya yang bisa makan malam bersama produsernya atau itu hanya sopan santun ia tak peduli.
aku pergi dulu” ucap produser Kim.
ne, deo josimhae” balas So Eun.
Produser Kim mengeluarkan tangannya dan melambaikannya. So Eun tersenyum.

Di matanya, Gae Yeon adalah wanita yang ia kenal sejak duduk di bangku SMP dulu. Wanita yang selalu tertawa meskipun sedang ada masalah. Wanita yang masih lekat dengan rasa keingintahuan. Wanita yang sudah menjadi teman dan juga adik. Juga sebagai seorang wanita seutuhnya. Pukul setengah sembilan pagi, Hyun Joon berangkat tanpa ada Seo Jung. Ia berjalan pelan di belakang Gae Yeon yang sedang ngedumel sendirian.
waeyo Gae Yeon-ssi” cletuknya tiba-tiba.
hya! Oppa! Kenapa muncul tiba-tiba? Dimana Seo Jung? Bukankah kau selalu berangkat dengannya akhir-akhir ini
kau cemburu?
mwo mwo mwo! PD sekali kau! Hanya aneh saja, bukannya biasanya kau bersamanya
ani, aku ingin bersamamu
sebegitu gampangkah pria berpindah hati?! Aigoo..
bukankah pria memang seperti itu?
Segala omelan pun keluar dari mulut masing-masing. Setelah itu pun mereka tertawa. Pagi ini, Gae Yeon merasa ada yang berbeda dengannya saat tertawa bersama Hyun Joon. Seakan gelak tawa yang keluar dari mulut jaksa itu dapat mendamaikan segalanya. Gae Yeon mencoba mengamati tawaan tersebut dalam setiap langkahnya menuju halte.  
Gae Yeon-aa, mungkinkah aku akan memiliki cinta Dong Hyuk seutuhnya? Dia bukanlah pria seperti apa yang kau pikirkan. Hyun Joon-ssi aku mohon, bawalah cinta Gae Yeon padamu” bisik Seo Jung yang menyaksikan keakraban diantara Gae Yeon dan Hyun Joon dari jauh.

2 tahun kemudian
Setelah banyak hal yang dilakukannya, hari ini genap satu tahun enam bulan ia menjalani kehidupan barunya dengan profesi duta wisata. Setelah 5 bulan ia termenung akan keadaan hatinya juga cinta yang sudah di terpa air pantai. Setelah 3 bulan selalu pergi ke tempat karaoke setelah bekerja. Setelah mendengar pengakuan produsernya terhadapnya dan juga kenyataan bahwa sahabatnya menjalin hubungan dengan mantan tunangannya. Selama itu ia selalu berkomentar pada dirinya setiap pagi yang di ambil dari seseorang “cuacaku hari ini biru”.
Hubungan Gae Yeon dan So Eun kini pun sudah seperti adik-kakak, meskipun So Eun tak mengetahui kenyataan itu, Gae Yeon sudah cukup bahagia dengan sekarang. Juga So Eun yang mampu membuatkan ibunya sebuah toko kue yang telah berdiri dua tahun lamanya.
Pukul delapan pagi waktu korea selatan, Gae Yeon membuka matanya lebar-lebar. Ia tersenyum, entah pada siapa. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkan dengan pelan dan ringan kemudian ia membuka jendela kamar. Dengan senyumannya yang disusul dengan wajahnya yang menghadap ke arah langit pagi yang tak bertuan.
Di jendela yang lain, Hyun Joon pun sedang memejamkan matanya ke arah langit yang pagi ini sangat biru, bersih tanpa awan sedikitpun. Ia tersenyum kecil. Setelah dirinya kembali ke Seoul beberapa tahu lalu, ia merasa hal terindah di hidupnya adalah bisa bertemu dengan Gae Yeon.
Di lain tempat, So Eun yang sudah lebih dari dua tahun lalu menjadi penyiar radio yang di produseri oleh pria yang sudah lama ia kagumi, sedang mempersiapkan dirinya untuk pergi ke kantornya hari ini.
eomma, semoga cuacamu hari ini pink!” ucapnya sebelum berangkat ke kantor.
hya! So Eun-aa, jamkkaman
wae?
igo
mwo?
untuk teman-teman kantormu
ahh, arasseo.. annyeong
deo josimhae
ne..” teriak So Eun membalas ucapan ibunya.
Dengan seutas baju warna orange di padu dengan celana coklat ia berangkat dengan senyuman bahagia dari bibirnya yang tak berlipstik. Kenyataan bahwa So Eun bukan anak kandung ibunya, tak membuat So Eun mencari orang tua kandungnya yang tak ia ketahui dimana keberadaan mereka. Meskipun kenyataan itu sedikit mengejutkan dirinya, ia mencoba melupakan hal tersebut. Ia tak ingin meninggalkan wanita yang sudah membesarkannya hingga menjadi seperti sekarang.
Kini mobil produser Kim selalu berhenti di ujung jalan rumah So Eun. Tidak ada yang mengetahui mengapa pemilik mobil itu selalu berada disana dan selalu menunggu So Eun. Mungkin karena ia mengetahui bahwa pengirim surat cuaca adalah So Eun atau yang lain, entahlah. Padahal semua orang mengerti bahwa dirinya masih mencintai wanita yang kini telah sendiri juga beralih profesi menjadi seorang pegawai pariwisata. Namun, tak menutup kemungkinan bahwa dirinya mulai memiliki rasa pada wanita yang selalu menemaninya setiap hari.
woahh! Apakah kau sedang bahagia?
ne!
Senyuman itu melebar setiap melihat So Eun menghampirinya.

Dengan hari-harinya yang kini telah ia lalui tanpa orang-orang yang membuatnya bingung dan dengan profesi barunya, Gae Yeon hari ini ada perjalanan gratis ke Tokyo. Dengan wajah yang amat sangat bahagia. Ia keluar dari rumahnya ditemani dengan koper berukuran sedang.
Ia memejamkan mata. Kembali ke satu tahun lalu, ia yang berencana menerima Dong Hyuk kembali, namun ada alasan lain yang mengurungkan niatnya tersebut. Kenyataan yang sangat memukul hatinya, ternyata Seo Jung sudah bertunangan dengan Dong Hyuk.
cinta tak hanya pikiran dan kenangan. Interaksi. Perkembangan dua manusia agar tetap harmonis.” Bisiknya lirih.
indah sekali kata-kata itu” sahut seseorang yang membuat Gae Yeon terkejut dan membuka matanya.
oppa!” teriak Gae Yeon dan memeluknya.
apakah kau benar-benar akan meninggalkan Seoul?
Gae Yeon mengangguk. Dengan tatapan serius. Hyun Joon mencoba mencari cinta yang sudah banyak dimiliki orang lain. Tatapan yang tajam pun membalas tatapan tersebut. Senyuman itu melebar. Gae Yeon memeluk Hyun Joon.
mwoya?!
ani, hanya perpisahan... kaja!
Hyun Joon tersenyum dan memeluk Gae Yeon. Tak lama mobil yang terparkir di depan rumah Gae Yeon pun melaju menuju ke arah bandara Incheon. Beberapa menit setelah sampai di bandara, Gae Yeon melihat Dong Hyuk bersama Seo Jung di sudut utara bandara. Gae Yeon mengehela nafasnya dan melangkah pergi. Hyun Joon melepasnya dengan senyuman hangat.
aku merasakan apa yang kau rasa. Yang mendamba untuk mengalami. Semoga setelah kau kembali ke Seoul, aku masih memiliki cinta itu.” bisik Hyun Joon lirih dan meninggalkan bayangan Gae Yeon.
Sejenak Gae Yeon membalikkan badannya memandang ke arah Dong Hyuk yang tengah bercumbu dengan Seo Jung. Dan mengalihkan pandangannya ke punggung Hyun Joon yang semakin lamat-lamat menghilang.
mungkin lama, namun mungkin juga kau masih menjadi bagiannya.” bisik Gae Yeong melangkah pergi.

END.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar