Satu tahun lalu Gae Yeon resmi lulus dari Universitasnya dan resmi menjadi karyawan sebuah stasiun radio di Seoul. Dengan memegang sebuah cangkir kopi hangat yang selalu menemani pagi, ia membuka tirai jendela kamarnya.
“pagi ini cerah sekali” ucapnya lirih
yang kemudian meneguk kopi yang ada ditangannya. Memandang ke arah jalan yang
ada di depan rumah. Memandang angin yang menghembuskan pepohonan yang tinggi,
ia tersenyum ringan.
“yeobosseo-yeobosseo-yeobosseo” terdengar
bunyi ponsel Gae Yeon. Semakin terdengar suara itu, Gae Yeon semakin melepaskan
pendengarannya akan suara tersebut. Ia semakin menggenggam erat cangkir
tersebut, dengan kepulan asap dari kopinya, ia bergumam sendirian dengan
memejamkan mata.
Di sudut kota
Seoul, ada seorang wanita yang memiliki julukan ratu laundry, entah dari mana
dan siapa yang memberikan julukan tersebut. Barangkali kecintaannya terhadap
kain-kain kotor yang disulapnya menjadi wangilah yang membuat julukan itu ada.
“cepat kau kirim, So Eun-aa, palli palli.”
teriak seorang wanita paruh baya.
“ne eomma, lagi pula masih pagi.”
“palli palli palli!.”
“ne ne ne!” So Eun langsung mengangkat
baju-baju yang sudah di kemas rapi oleh ibunya. Ia menggayuh sepedanya dengan
kencang. “hah! Kenapa hidup ini terlalu
membosankan! Banyak sudah lowongan ku masuki, tapi kenapa diri ini selalu
merugi?!” dalihnya selama di perjalanan.
Di ujung jalan
pertigaan yang tak jauh dari rumah Gae Yeon, ada sebuah rumah yang dulunya dihuni
oleh keluarga yang bahagia – bukan bahagia – tapi sangat bahagia dengan seorang
anak wanita. Namun, itu 7 tahun yang lalu. Ditambah lagi ketika ia duduk di
kelas dua SMA ayahnya yang masih satu rumah dengannya memutuskan untuk pergi
dari rumah tersebut. California, USA. Hari itu ia menangis tersedu-sedu.
Melihat ayahnya berangkat menolak keinginannya untuk ikut, ia berdiri berjam-jam
di lantai bandara. Seakan ia mampu melupakan itu semua, ia hidup dari bekerja
di sebuah kedai kopi yang kini menjadi langganannya setelah beralih profesi
menjadi staff di sebuah stasiun radio. Juga langganan sahabatnya dan seorang
pria yang mengisi hatinya, Park Seo Jung, sungguh indah nama wanita itu.
Pagi-pagi terdengar
bunyi bel di apartemen seorang produser. Pria yang dulu pernah memiliki
pengalaman bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran itu kini tengah
berbahagia. Hanya karena makan malam yang ia jalani semalam, bahagianya
terletak pada seorang wanita yang meng-iyakan permintaannya tersebut.
Dan di tempat
yang berbeda, bel rumah Gae Yeon juga berbunyi. Tak lama mereka membukakan
pintu masing-masing.
“dengan tuan Kim Kwang Soo?”
“ne”
“ada kiriman untuk anda”
“ohh, kamsahamnida”.
Dengan mata
yang keheranan, dalam benaknya muncul “kiriman
ini lagi?”. Meskipun kiriman itu kadang mengusik pikirannya, entah alasan
apa ia tak merasa terganggu. Selagi kiriman itu datang, selalu ada sebuah surat
yang terselip di sela-sela makanan yang tertata rapi, pria yang tinggi semampai
bak model itu pun selalu membaca surat tersebut. Tak pernah ia tanggalkan tanpa
membaca. “semoga cuaca hari ini biru,
tidak kelabu” coretan bolpoin tanpa nama itu kembali muncul. “nuguseyo?” pentanyaan yang sama ketika
ia membaca surat dalam kesunyian apartemen yang berada di selatan kota Seoul.
Dengan
senyuman yang hangat, Gae Yeon membuka pintu rumahnya.
“kamsahamnida, seharusnya eonni tidak perlu
mengantarkannya sepagi ini,” ucap Gae Yeon.
“aku juga mengerti,” balas So Eun sedikit
kesal.
“kulihat hari ini banyak yang kau kirim,
mengapa tidak mencari tambahan pegawai saja?”
“ani”
“apakah kau tidak ingin mampir sebentar?”
“ani, aku terburu-buru, lain kali saja”
“arasseo. Hati-hati”
Gae Yeon yang
selalu berandai-andai akan serumah dengan So Eun, semakin melihat kebahagian So
Eun dengan keluarga yang membesarkannya, keinginan itu semakin lama semakin
memudar.
“aigoo Gae Yeon-aa, apa kau tidak bisa
mengangkat telfonku?!” teriak seorang pria berusia 27 tahun.
“hya! Kang Dong Hyuk-ssi, kusarankan lebih
baik kau datangi dia, minta maaflah kepadanya, itu kan kesalahanmu, jangan telfon
lalu mengirimnya boneka sebesar dirinya lagi” sambar seorang anak
laki-laki, usianya sekitar 17 tahunan.
“ada apa dengan yeoja ini? Kenapa sikapnya
selalu berubah-ubah” keluh Dong Hyuk tanpa menghiraukan perkataan laki-laki
tersebut.
“bukan dia yang berubah, tapi kau. Hubunganmu
dengan Gae Yeon noona seperti-”
“kau mau bilang seperti apa lagi?”
“ahh matta! Hubungan kalian kalau lagi
seperti ini bagaikan sepasang sepatu usang kemudian dibasuh lagi ketika membaik
dan kembali mengotorinya dan begitu seterusnya.” Laki-laki itu adalah adik
Dong Hyuk, setiap kakaknya bertengkar dengan tunangannya, ia selalu berdalih
panjang lebar, namun Dong Hyuk tetap menatap layar ponselnya di sudut kamarnya
dengan wajah berharap Gae Yeon akan menefonnya kembali.
Ketika Gae
Yeon kembali masuk ke dalam rumahnya, ponsel Gae Yeon kembali berdering. Kali
ini ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja ruang tamu. Terlihat di
layar ponselnya muncul sebuah nama, Park Seo Jung.
“ne, yeobosseo”
“sebelum ke kantor, nanti kau mampir ke rumahku
sebentar, bantu aku membawa barang-barang yang dipesan produser”
“ne” jawab Gae Yeon singkat dan langsung
menutup teleponnya dan segera berganti baju.
Dibalik
telepon, Seo Jung yang melihat Gae Yeon mematikan telefonnya begitu saja, membuat
Seo Jung mengumpat.
“hyeong, apakah kau benar-benar serius dengan
Gae Yeon noona?”
“hmm”
“geurigo wae?!”.
“wae mwo?”
“lalu mengapa kau selalu membuatnya marah,
bahkan kau yang salah, dia yang datang kesini. Pria macam apa kau!”
“Min Hyuk! Neo!”
Dong Hyuk yang
semakin kesal dengan tingkah laku adiknya hampir saja melempar ponselnya, namun
tiba-tiba ada telepon masuk, ia yang mengira telefon tersebut dari Gae Yeon,
sesegera ia mengangkatnya. Dan ternyata nama yang muncul bukanlah nama Gae Yeon,
melainkan nama sekretarisnya di kantor.
Tanpa banyak
basa basi selesai mengambil barang-barang di rumah Seo Jung, Gae Yeon dan Seo
Jung berangkat ke kantor. Pagi itu jalanan dekat halte sangat ramai, banyak
orang yang berkerumun. Gae Yeon tersentak untuk melihat kerumunan tersebut.
Ditambah lagi sebuah sepeda tua mirip sepeda ratu laundry.
“galke,”
ucap Gae Yeon dengan sebuah kelegaan.
“igo mwoya? Kalau kau ke rumahku hanya untuk
membawa barang itu saja aku juga bisa” keluh Seo Jung.
“ahh, arasseo” balas Gae Yeon seraya
mengambil beberapa barang dari genggaman Seo Jung.
“kaja!” lanjut Gae Yeon sedikit kesal.
Seo Jung menyeringai
licik dengan wajah innocent. Gae Yeon
hanya memasang muka datar. Saat ketika Gae Yeon dan Seo Jung akan memasuki bus
yang akan membawanya ke kantor, terdengar teriakan dari sebuah mobil yang
memanggil nama Gae Yeon hingga membuatnya mengurungkan langkahnya untuk menaiki
bus tersebut. Min Hyuk.
“noona! Gae Yeon noona.”
Sejenak, Gae
Yeon menoleh dan kemudian menoleh lagi. Ia tersenyum hangat pada Min Hyuk.
“bisa kita berbicara sebentar?” pinta Min
Hyuk.
Gae Yeon hanya
tersenyum ringan dan menggeleng. Segera Gae Yeon menaiki bus tersebut. Tersirat
wajah kecewa pada Min Hyuk.
“apakah aku harus membantunya lagi? ani ani”
bisik Min Hyuk.
Dengan
beberapa barang bawaan, Gae Yeon dan Seo Jung sama-sama memasuki kantor. Ia taruh
di pojok ruangan dan memulai seperti biasa. Dengan teliti ia terus memainkan
jari-jarinya di atas kertas putih dan bolpin kesayangan. Beberapa jam telah
berlalu, berbagai dokumen yang bertumpuk tadi pagi kini hampir selesai. Perut
yang berbunyi menghentikan Gae Yeon. Sebelum berangkat makan, ia dan Seo Jung
berangkat ke sebuah ruangan untuk menempatkan barang-barang yang tadi pagi
mereka bawa. Sesaat ketika masuk ke dalam ruangan tersebut, dua wanita yang
sudah sejak lama bersahabat itu pun dikejutkan oleh sesosok pria.
“produser Kim.” Ucap Seo Jung.
“kkamjjagiya!”
“mwohaneungeoya?” tanya Seo Jung.
“apakah produser mencari sesuatu?” sambar
Gae Yeon.
“ani, kalau sudah selesai, kalian bisa pergi,
gomawo. Ohh, Gae Yeon-ssi” produser Kim membalikkan badannya.
“ne?” jawab Gae Yeon.
“sudah kau buat poster lowongannya?”
“ne, produser”
“gomawo”
Gae Yeon
mengangguk. Dengan perasaan keheranan, Gae Yeon dan Seo Jung meninggalkan
produser Kim bersama barang-barang yang mungkin
bisa merasakan apa yang sedang ia rasakan.
“Ahn Hyun Joon Oppa!” teriak seorang
wanita remaja yang kemudian melebarkan senyumannya.
Ahn Hyun Joon pun
mengangkat bibirnya sehingga membentuk sebuah senyuman dan menghampiri dimana wanita
tersebut berdiri. Keduanya tersenyum dan saling memeluk. Dua menit berlalu,
pelukan itu masih berlangsung di atas lantai bandara Incheon.
“apakah kita akan terus berdiri disini? Tidak
pulang?” cletuk Hyun Joon melepaskan pelukan wanita itu.
“ahh, ne..” balas wanita yang tengah
berdiri di depannya selaku adik tiri dari Ahn Hyun Joon.
“neo, neomu yeppoda. Neo ireumi... Neomu kyeopta”
“mwoya! Nan.. yeoja! Yeoja! Araji!”
Hyun Joon
hanya tertawa kecil, melihat tingkah laku adik tirinya, Ahn Ji Kyeong. Setelah
12 tahun waktu yang ia habiskan di negeri paman sam untuk belajar, laki-laki
yang kini telah berusia 27 tahun tersebut kini telah menjelma sebagai seorang jaksa.
Dalam perjalanan pulang, selama di dalam taxi Ahn Hyun Joon memandang ke arah
adik tirinya tersebut. Sangat tajam pandangan mata itu menatap lamat-lamat
wanita di sampingnya yang sedang bermainan ponsel.
Teringat
ketika ayah kandungnya yang meninggalkannya ketika ia masih duduk di bangku
kelas 5 SD. Juga teringat bagaimana Ahn Hyun Joon menolak ibunya menikah lagi
dengan ayah dari Yan Ji Kyeong yang
kini telah berubah menjadi Ahn Ji Kyeong. Karena keputusan yang dibuat ibunya,
Hyun Joon memutuskan untuk melanjutkan sekolah SMA dan kuliah di Luar Negeri.
Tak ada yang
bisa merubahnya, meskipun Hyun Joon mampu bersikap lebih baik kepada adik
tirinya di banding 12 tahun lalu, bagi Hyun Joon, Ji Kyeong adalah wanita
remaja yang menginap, lebih tepatnya tinggal tetap di rumahnya kini.
“waeyo oppa?” tanya Ji Kyeong ketika
menyadari kakaknya memandangnya serius.
“ani. Oh ya, bagaimana dengan sekolahmu,
tahun ini bukankah kau akan persiapan memasuki universitas”
“ne, segala persiapan sudah aku lakukan.”
“arasseo, kau memang wanita yang penuh dengan
persiapan.”
“mwoya?!”
“apakah aku perlu mentraktirmu makan?”
“ohh. Neomu baegopeun!”
Hyun Joon
hanya tersenyum kecil, begitu pula Ji Kyeong. Meihat senyuman kecil itu, ia
teringat akan seseorang yang ia tinggalkan 12 tahun lalu.
“eoddisseo? Eraenmanieyo?” bisiknya dalam
hati.
“kenapa kau baru kembali jam segini! Masih
banyak yang harus kau antar!” bentak ibunya ketika So Eun baru memarkinkan
sepeda di depan rumahnya.
“eoddiga? Apa kau bermain dulu?” lanjut
ibu So Eun.
“hya! Eomma! Kalau eomma selalu marah, antar
saja sendiri! Lagi pula tadi aku melihat tabrakan dengan mata kepalaku, aku
hampir saja pingsan melihat darah yang tiba-tiba keluar dari telinga korban.
Teukteukideun. Neom-.”
“itu tidak bisa dijadikan alasan” seraya
ibunya memukul kepala So Eun.
“hya! Eomma! Kenapa kau selalu memukul kepala
ini? apayo” keluh So Eun sambil mengelus kepalanya yang sakit.
“hya So Eun-aa” mendadak nada tinggi
ibunya merendah.
“wae?” balas So Eun kesal.
“kau mau tidak bertemu dengan seorang pria?
Dia tampan, dan tinggi. Seperti artis – ahh matta! Rain, rain!”
“maksud eomma kencan buta? Ani ani, aku belum
terpikirkan untuk menikah, arasseo! Aku masih berusia 27 tahun, masih banyak
yang aku kerjakan. Meskipun dia setampan Rain juga aku tidak tertarik.”
“selain mengantar baju dan menyetrika, apa
yang kau lakukan ha?”
“eomma, lagi pula suami impianku
itu bukan yang seperti itu”
“kenapa kau sangat pilih-pilih? Masih
beruntung dia mau berkencan denganmu!”
“apa maksudnya dengan kata-kata masih beruntung?
Aigoo, micheonabwa. Galke..”
So Eun dengan
ringannya melangkahkan kakinya keluar rumah. Meninggalkan omelan ibunya yang
menginginkan dirinya segera menikah. Ia berjalan hingga ujung jalanan kota
Seoul. Dari jauh ia melihat sebuah poster yang tertempel di kaca sebuah toko.
“bukankah ini kedai kopi?” tanyanya
heran.
Lama So Eun
membaca poster tersebut. Hingga salah seorang pegawai kedai kopi itu pun
menghampiri So Eun.
“annyeong haseyo.. ada yang bisa saya bantu?”
“ne, mengapa ini tertulis disini? Bukankah
ini kedai kopi?”
“ne, salah satu karyawan mereka menaruhnya
disini, kalau kau mau kau bisa mengambilnya”
So Eun
mengangguk mengerti.
“apa kau tidak mau mampir ke kedai kami?”
“lain kali saja, aku masih ada urusan,
annyeong... kamsahamnida”
Pegawai itu
pun melepas So Eun dengan senyuman hangat. So Eun mulai terbayang jika dia
bekerja di kantor radio tersebut, meskipun itu hanya sebagai penyiar,
setidaknya dia bisa lulus dari omelan
sang ibu.
Waktu menunjukkan
pukul 23.30 kst. Gae Yeon tak menyadari itu, bahkan pantatnya pun masih
menempel di kursi kerjanya dari tadi sore. Sejenak ia pun menengok ke arah jam
yang berada sebelah komputernya, sangat malam. Dengan singkatnya Gae Yeon
langsung menyambar tas, ponsel, serta beberapa kertas kosong. Ia berjalan cepat
keluar kantor. Saat sampai di luar kantor, Gae Yeon di kejutkan dengan
panggilan suara produser.
“eomona! Produser Kim!” cletuk Gae Yeon
seraya menelan ludahnya karena terkejut.
“bukankah kau sudah pulang dari tadi?”
tanya produser Kim.
“anieyo,” balas Gae Yeon
menggeleng.
Sejanak
produser Kim terdiam, mengolah beberapa kata dalam pikirannya untuk mengajak
Gae Yeon pulang bersama.
“ohh, apakah kau akan naik bus sendirian?
Bukankah kau biasanya bersama presdir Kang?”
Gae Yeon hanya
tersenyum sambil kembali menggeleng dan tanpa basi basi ia pamit pergi terlebih
dahulu. Sebenarnya produser Kim sedikit canggung mengucapkan nama tunangan dari
wanita yang sudah lama ia kagumi. Namun, ada sebuah hal yang selalu ia pikirkan
setiap ia mengucapkan nama tunangan Gae Yeon. Kang Dong Hyuk, selain tunangan
dari Gae Yeon, ia juga seorang presdir muda yang berkantor di tempat yang sama
dengan produser Kim, hanya saja jabatan yang membedakan mereka berdua.
Tak jauh dari
kantornya, ponsel Gae Yeon pun berdering tanda ada pesan masuk. “Kang Dong Hyuk – Gae Yeon-aa, maaf atas
sikapku kemarin, aku sadar...”. Gae Yeon hanya tersenyum membaca isi pesan
tersebut. Hubungan yang ia jalani bersama Kang Dong Hyuk selama 5 tahun
tersebut ia sempat ingin mangakhirinya 6 bulan setelah mereka bertunangan.
Sesaat setelah
So Eun datang, ibunya kembali menyodorkan pertanyaan yang ia lontarkan siang
tadi. Dengan menutup kedua telinganya So Eun tak mendegarkan kata-kata ibunya
dan langsung masuk ke kamar mandi.
“dasar yeoja aneh! Apa kau tidak mau menikah
ha?!” teriak ibu So Eun.
“eomma, apa kau tau?” tanya So Eun ketika
ia keluar dari kamar mandi.
“mwo? Apakah kau mau,” wajah ibunya
berseri.
“kenapa yang ada di otak itu kencan, kencan,
kencan? Aigoo!”
“lalu apa? Apakah kau akan menua dengan
kain-kain kotor disini?!” wajah ibunya pun berubah garang.
So Eun duduk
dengan kaki yang ia silangkan. Ia mencoba duduk serelaks mungkin. Ibunya yang
tak sabar ingin mendengar kata-kata So Eun, hampir saja mendaratkan sendok
makan di kepala So Eun.
“aigoo! Eomma, aku tadi menemukan sebuah
lowongan pekerjaan, igo” seraya So Eun menunjukkan sebuah poster lowongan
pekerjaan.
“penyiar radio? Memang ada yang mendengarkan
suaramu?”
“kau melakukannya lagi. Arasseo, awas saja nanti
kalau aku memutuskan untuk meninggalkanmu” balas So Eun sambil tersenyum
licik dan meninggalkan ibunya.
Mendengar kata
meninggalkan, dengan sendok yang
masih berada dalam genggaman tangannya serta semangkuk sub lobak, ibu So Eun
kembali teringat sebuah tragedi akan 25 tahun yang lalu.
“aigoo..” keluh ibu So Eun lirih seraya
menghabiskan sub lobak tersebut.
Selesai
membereskan barang-barangnya, Hyun Joon berdiri bersandar pada jendela kamarnya
yang ukurannya hanya mencapai 1 x 3 meter saja. Melukiskan wajah seorang anak
kecil yang ia tinggalkan 12 tahun lalu bersama hembusan angin malam kota Seoul.
Saat itu, ia masih berada di Busan, anak kecil yang dulu ia tinggalkan, ia
ingin memeluknya sama seperti dulu. Tersenyum bersamanya juga hal yang ia rindukan.
“apakah kau sekarang masih di Busan?”
tanyanya sendiri.
Sesampainya di
rumah, Gae Yeon langsung membanting badannya ke kursi di ruang tamunya. Lelah,
hal yang selalu ia ucapkan ketika badan yang memiliki berat tak lebih dari 50kg
tersebut jatuh di kursi ruang tamunya yang panjang. Ia memejamkan matanya
sekejap dan kembali bangun meraih sebuah foto yang berbingkai.
“eomma, aku merindukanmu” bisik Gae Yeon.
“hajiman eomma, aku ingin memeluknya. Apakah
ini sebuah takdir, dia juga bahagia dengan keluarga barunya. Hanya senyuman
hangat yang aku terima darinya selain baju-bajuku kala aku tak mengajaknya
berbicara” lanjut Gae Yeon sambil mengingat kembali cerita kecelakaan yang
keluarganya alami.
25 tahun silam, sebuah kecelakaan tunggal memisahkan
Gae Yeon dengan kedua orang tuanya dan kakaknya Jung Ah yang kini berganti nama
menjadi So Eun. Saat mengetahui So Eun adalah kakaknya 2 tahun lalu, yang
sehari-harinya mengantarkan baju kesana-kemari, tak membuatnya menyesali bahwa
kakaknya hidup lebih kurang dari dirinya.
Setidaknya ada orang tua yang selalu berada disamping So Eun.
“yeobosseo-yeobosseo-yeobosseo” suara
ponsel menyadarkan Gae yeon dari lamunan.
Sebelum
mengangkatnya, ia memandang ke arah jam dinding yang terpasang tepat di sebelah
foto keluarga. 00.17 kst.
“dasar, ini sud-” ucapan Gae Yeon
terhenti ketika melihat nama yang muncul di layar ponselnya, dalam pikirannya
adalah nama Dong Hyuk, namun yang muncul adalah nama produser Kim. Tak lama ia
mengangkat telepon tersebut. Namun, ketika telepon itu terangkat, hanya suara bising
yang didengar Gae Yeon. Ia pun mengerutkan dahi. Dan saat Gae Yeon akan menekan
tombol merah di ponselnya, suara produser Kim pun muncul.
֍
“eomma, doakan anakmu ini, hilangkan pikiran
kencan buta itu, arasseo!” ucap So Eun.
“ne..”
Melihat So Eun
berangkat dengan langkah yang penuh keyakinan untuk melamar pekerjaan, ibu So
Eun memandang punggung anaknya yang semakin lama semakin dimakan jalan. Dengan
air mata yang menetes dari pelupuk matanya, ia teringat bagaimana dia bisa
mempunyai anak So Eun, seorang anak kecil yang ia temukan ketika berada di
sungai sebuah desa yang berada di Busan bersama suaminya 25 tahun silam, dengan
sebuah luka lebam di tubuh So Eun. Sepasang suami istri itu menolongnya. Dan
karena dokter sudah memvonis mereka tidak akan memiliki anak, ia dan suaminya memutuskan
untuk mengasuh So Eun yang kemudian membawanya ke Seoul. Hingga ketika So Eun genap
berusia 25 tahun, keluarga So Eun berubah drastis. Ayahnya meninggal dalam
sebuah kecelakaan dan banyak hutang yang ia tinggalkan, seluruh harta keluarga
So Eun habis untuk membayar hutang-hutang tersebut. Setelah beberapa bulan, ibunya
mulai merintis usaha laundry yang bertahan hingga So Eun kini telah berusia 27
tahun. Dan setelah So Eun lulus dari universitasnya 5 tahun lalu serta setelah
keluar dari pekerjaannya 2 tahun lalu, ibunya menginginkan anaknya nanti bisa
menikah dengan seorang laki-laki yang bisa membahagiakanya dengan hidup yang lebih
baik.
Dengan sangat
terkejut, Gae Yeon hampir terkena serangan jantung karena ada sebuah kiriman
besar sebesar dirinya berada di depan pintu rumah. Ia tersenyum-senyum sendiri
membaca surat yang tertulis di kiriman tersebut. “Gae Yeon, aku mohon maafkan aku..”
“hya! Oppa! Mengapa tiap kau minta maaf kau
hanya mengirimkan kiriman seperti ini? Memang aku anak kecil” keluh Gae
Yeon seraya memasukkan kiriman tersebut kedalam rumahnya dan segera berangkat
bekerja. Langkahnya sangat ringan. Hingga sampai di halte seorang pria menyapa
Ga Yeon. Gae Yeon hanya tersenyum kecil. Ia tak mengenal pria itu.
“ahh mungkin kau sudah lupa akan aku, Ahn
Hyun Joon, kau benar Choi Gae Yeon kan?”
“eomona! Hyun Joon oppa? Ahn Hyun Joon oppa?
Jeongmal?”
Hyun Joon menggangguk.
“Jinjjayo? Ahh, bogoshippeo! Apakah kau tinggal di
dekat sini juga?”
“ne, kenapa kau masih sama seperti yang dulu?”
“kenapa juga wajah oppa berubah?”
“mwoya! Kau ditanya mengapa kembali bertanya?
Ternyata sikapmu juga masih sama,”
Jam setengah
sembilan pagi. Pria itu menemukan anak kecil yang sudah lama ia rindukan. Choi Gae
Yeon. Pengakuan bahwa Gae Yeon sudah bertunangan dengan seseorang, sejenak
membuat Hyun Joon tersentak. Namun, setengah
dari dirinya menginginkan Gae Yeon hadir kembali dalam hidupnya. Senyuman itu
juga masih sama. Bahkan lebih indah dari yang dulu.
“ohh, oppa busku sudah datang, galke”
ucap Gae Yeon.
“jamkkaman! Bisa aku catat nomor teleponmu
yang sekarang?”
Gae Yeon
mengangguk.
“kau masih sama, masih tetap cantik dengan
lesung pipit itu” bisik Hyun Joon lirih.
“kenapa laki-laki itu berangkat lebih dulu? Mengapa
tidak menungguku dulu? Apakah dengan wanita dia selalu seperti itu?” keluh
Ji Kyeong sendirian.
Sambil
menunggu makan malamnya diantar, Gae Yeon tersenyum-senyum sendiri seraya
memandang ponsel yang menampilkan gambar seekor pinguin. Seo Jung yang berada
di depan Gae Yeon pun heran mengapa Gae Yeon bersikap tidak jelas seperti itu.
“apakah kau masih waras Choi Gae Yeon?”
cletuk Seo Jung tiba-tiba.
Mendengar
pertanyaan Seo Jung, Gae Yeon menciutkan senyumannya dan melirik Seo Jung.
“mwo mwo mwo? Kenapa kau melirikku seperti
itu? Aigoo.”
“ani, makanan kita sudah datang..
wahh mashitta”
Raut wajah So
Eun yang heran dengan sikap Gae Yeon, terus memandang Gae Yeon sambil makan. Gae
Yeon yang semakin lahap makan, semakin membuat Seo Jung heran.
“apakah nafsu makannya bertambah?” bisik
Seo Jung dalam hati.
Gae Yeon
bersikap seperti ini bukan karena kiriman boneka besar yang dikirim Dong Hyuk
pagi tadi, melainkan bertemunya kembali Gae Yeon dengan Hyun Joon, sesosok pria
yang selalu menjaganya. Gae Yeon merasa dunia ini mulai indah tanpa surga.
“eomma!!!” teriak So Eun hingga
mengagetkan ibunya.
“eomeona! Suaramu! Wae?”
“aku diterima aku diterima aku diterima aku
lolos aku lolos aku lolos....” jawab So Eun sambil memeluk ibunya erat.
“hya! So Eun-aa lepaskan pelukanmu, aku tidak
bisa bernapas!”
“sebaiknya eomma harus mencari pegawai baru,
aku tidak bisa membantumu lagi, ahh rasanya seperti bulan kini di pangkuanku,”
Ibunya melirik
licik.
“arasseo! eomma, saranghaeyo..
neomu neomu saranghae”
Ibunya hanya
tersenyum melihat tingkah laku anak So Eun. Ia menanggalkan tasnya dan mengerjakan
pekerjaan laundrynya dengan menyanyikan lagu favorit ibunya. Sesaat melihat So
Eun sangat riang, ibunya hampir saja meneteskan air mata.
Tiga bulan kemudian
“aku produser sebuah radio, kau juga menganggapku
seperti itu kan?” bisik Produser Kim dalam apartemennya dengan memandang foto
Gae Yeon yang diam-diam menyelinap di balik foto adiknya yang sudah lama
meninggal karena penyakit kanker otak.
Banyak hal
yang ia dapat ketika mengenal Gae Yeon. Tak sedikit pula rasa yang selama 1
tahun ia simpan. Ketika ia mengenal wanita baru, ia selalu menyisihkan satu
ruang kosong di hatinya kala mungkin ada
badai yang memisahkan antara Gae Yeon dan Dong Hyuk.
Sesaat
produser Kim pun membuka sebuah laci kecil. Disana banyak surat yang tersimpan.
Ia mengambil surat yang datang hari ini.
“cuacaku hari ini biru, tapi biru gelap”
ucap produser Kim.
Semakin lama
ia semakin nyaman dengan kedatangan surat itu meskipun kini kadang datang tanpa
kiriman makanan lagi. Kadang produser Kim berharap bisa melihat pengirim
tersebut sehingga ia bisa berbincang-bincang dengan si pengirim yang kini ia
juluki dengan julukan Mrs. Cuaca. Mengetahui pengirim wanita tak cukup untuk
produser Kim tanpa melihat wanita tersebut.
Tiga bulan
sudah Hyun Joon kembali berjalan bersama, makan malam bersama dengan Gae Yeon.
Sampai-sampai Gae Yeon mampu melupakan masalahnya dengan Dong Hyuk. Tiga bulan
ini juga Gae Yeon tak menghubungi Dong Hyuk sama sekali. Bukan karena ia sudah
berpaling dari Dong Hyuk, melainkan ia ingin meihat Dong Hyuk datang ke
rumahnya dan meminta maaf seperti yang ia inginkan dari dulu ketika Dong Hyuk
membuat salah. Namun selama itu Dong Hyuk tak kunjung datang.
Dan malam itu,
genap dua tahun ia bertunangan dengan Dong Hyuk. Karena Gae Yeon juga bisa
pulang lebih awal, ia pun mampir ke rumah Dong Hyuk. Dalam perjalanan kesana,
ia melamunkan bagaiamana bisa Dong Hyuk tak datang ke rumahnya, hanya telefon
dan kiriman yang datang. Bahkan lewat pun tidak. Satu kantor dengan Gae Yeon
pun tak membuat Dong Hyuk menghampiri Gae Yeon. Bagaimana bisa ia jatuh cinta
kepada laki-laki seperti Dong Hyuk. Sejak Gae Yeon menginginkan ia berpisah
dari Dong Hyuk sembilan bulan lalu, sejak Dong Hyuk menolak, sikapnya pun
berubah. Kadang Gae Yeon lelah menghadapi Dong Hyuk. Namun Gae Yeon mencoba
memahami Dong Hyuk terus menerus. Ia menginginkan hubungannya dengan Dong Hyuk
benar-benar berakhir dalam sebuah pemakaman. Dan lamunan itu akhirnya menepi ketika Gae
Yeon sampai di halte pemberhentian di dekat rumah Dong Hyuk. Berjarak sekitar
18 meter Gae Yeon pun sampai.
“bibi, Dong Hyuk oppa sudah pulang?” ucap
Gae Yeon yang mengagetkan ibu Dong Hyuk.
“Gae Yeon-aa!” teriak ibu Dong Hyuk
ketika melihat Gae Yeon.
Min Hyuk yang
juga rindu akan kedatangan Gae Yeon, saat mendengar ibunya teriak nama Gae Yeon
ia pun langsung keluar dari kamarnya menanggalkan buku-bukunya.
“noona!” ucap Min Hyuk.
Gae Yeon
tersenyum hangat kepada ibu dan adik Dong Hyuk kemudian memeluk mereka berdua.
“bogoshippeo” ucap ibu Dong Hyuk.
“nado..” balas Gae Yeon.
“ada apa dengan kalian?”
“seperti biasa”
“seperti biasa? Sampai tiga bulan?”
“aku menanti oppa datang ke rumah, tapi
penantian itu sia-sia”
“hya! Noona,
apa kau tidak rindu pada hyeongi?” tanya Min Hyuk.
Gae Yeon
menggeleng ringan dan tersenyum.
“mwoya! Ekspresi apa itu? Kau
benar-benar tidak merindukannya”
“bukankah kau persiapan untuk ke universitas?
Mengapa kau tidak belajar”
Min Hyuk membual.
Ibunya pun melirik Min Hyuk licik.
“bibi, aku tadi membeli beberapa sayuran
untuk Dong Hyuk oppa, bisa bibi bantu memasakkan untuknya?” tanya Gae Yeon.
Ibu Dong Hyuk
pun mengangguk.
Beberapa jam
berlalu, masakan yang dimasak Gae Yeon dan ibu Dong Hyuk telah selesai, namun Dong
Hyuk tak kunjung datang, yang seharusnya datang pukul 21.00 kst, hingga pukul 23.00
kst Dong Hyuk tak kunjung datang. Ruangan yang tadinya ramai karena kedatangan Gae
Yeon, kini sunyi. Berjam-jam Gae Yeon menunggu. Dengan kepulan asap dari
masakannya Gae Yeon beralih ke tempat duduk yang berada di ruang tamu. Sangat
lama. Dan karena Gae Yeon sudah tidak tahan menunggu Dong Hyuk, ia berniat
hendak berpamitan kepada ibu Dong Hyuk. Namun, sebuah ucapan salam terdengar. Dong
Hyuk datang. Gae Yeon berdiri tepat di sudut ruang tamu dengan senyumannya yang
khas dibarengi dengan lesung pipi yang selalu terpasang indah di wajah Gae Yeon.
Sepasang mata Dong
Hyuk tak sedetik pun terlepas dari wanita yang selalu menemaninya selama 6
tahun terakhir. Dong Hyuk tertegun memandang wajah Gae Yeon. Wajah yang tadinya
terlihat kecapekan, kini berubah, Dong Hyuk mendekat memeluk Gae Yeon.
“kiriman itu membuat jantungku hampir copot,
mengapa selalu mengirim itu? Memang aku anak kecil?” tanya Gae Yeon dalam
pelukan Dong Hyuk.
“melihatmu berdiri disini seperti mendapat
hadiah dari seorang petinggi negara.” dalih Dong Hyuk.
“geuraesseo? Lalu mengapa kau tak datang ke
rumahku?”
Dong Hyuk
terdiam. Dan entah mengapa ketika ia akan mendatangi Gae Yeon, sesuatu telah
mencegahnya. Hari ini, Gae Yeon belum menerima alasan dari Dong Hyuk mengapa
dia selalu mengirim kiriman ke rumahnya.
“ahh, arasseo! aku tadi memasakkan makanan kesukaanmu,
tapi dengan bantuan bibi juga.” ucap Gae Yeon.
“apa kau memaafkanku?” tanya Dong Hyuk.
“ani, kalau kau ku maafkan, jelas kau berulah
lagi.” jawab Gae Yeon.
“AKU. KANG DONG HYUK. BERJANJI TIDAK AKAN
MEMBUAT CHOI GAE YEON KECEWA LAGI.” dalih Dong Hyuk.
Gae Yeon hanya
tertawa. Ia pun menyuruh Dong Hyuk segera memakan makanannya. Ketika itu juga,
sebuah telepon masuk di ponsel Gae Yeon.
“nuguseyo?” tanya Dong Hyuk yang
sebenarnya sedikit mengetahui nama yang muncul di ponsel Gae Yeon.
“Seo Jung”
“ohh”.
Dong Hyuk menjawab
singkat dan kembali melanjutkan makan. Telepon yang sebenarnya dari Hyun Joon,
entah mengapa Gae Yeon berkata telepon itu dari Seo Jung. Dong Hyuk pun merasa
ada yang berbeda dengan senyum Gae Yeon malam ini. Seolah Gae Yeon telah
menemukan beberapa pasang puzzle yang dulunya hilang.
Di halte dekat
rumahnya, Hyun Joon yang menelfon Gae Yeon pun terkejut saat ia melihat
telefonnya tak diangkat. Sejenak ia tersenyum. Ia baru sadar dari khayalan. Gae
Yeon kini bukanlah anak kecil yang bisa bersamanya setiap waktu. Berpisah
ketika sekolah dan tidur saja. Gae Yeon kini sudah ada yang mengikat. Kang Dong
Hyuk, pria itu. Pria yang Hyun Joon tidak tahu bagaimana wajahnya tapi sedikitnya
ia mengetahui sikap Dong Hyuk dari cerita-cerita yang keluar dari mulut Gae
Yeon.
Makanan yang
ada di piring Dong Hyuk telah habis, ia pun memandang wajah Gae Yeon.
“apa ada yang salah denganku?” tanya Gae
Yeon.
“ani, hajiman..” ucapan Dong Hyuk
terputus.
Seperti ada
sebuah barang yang menyangkut dalam tenggorokan Dong Hyuk, mendadak suaranya
terhenti. Gae Yeon hanya menanggapinya dengan tatapan mata kecil yang menurut Dong
Hyuk ada sesuatu dibaliknya, namun Dong
Hyuk tidak mengetahui itu apa.
“aku cantik.” cletuk Gae Yeon yang
kemudian tertawa.
“mwoya!” ucap Dong Hyuk.
“wae?” balas Gae Yeon.
Gurauan itu
berlanjut hingga malam. Entah apakah ada sesuatu yang mengusiknya, Gae Yeon
sedikit mengangkat tangannya, melihat jam yang terpasang di pergelangan tangan.
Dengan senyuman hangat, ia mengakhiri candaan tersebut. Segera ia berpamitan
pulang pada keluarga Dong Hyuk. Dengan suaranya yang halus, Gae Yeon menolak
tawaran Dong Hyuk yang akan mengantarnya pulang.
“aku pulang dulu, istirahatlah, nanti ku
telepon sesampainya aku di rumah.” ucap Gae Yeon.
“hati-hati,” balas Dong Hyuk.
“jamkkaman” lanjut Dong Hyuk menghentikan
langkah Gae Yeon.
“wae?”
“tidak ada yang kau sembunyikan kan?”
“ada apa dengan pertanyaanmu itu?”
“telepon tadi, benarkah dari Seo Jung?”
“kau terlalu capek, sudahlah, cepat
beristirahat, biar pikiranmu kembali jernih, aku pulang dulu..”
“deo josimhae”
Gae Yeon
mengangguk dan tersenyum. Di tengah perjalanan, Gae Yeon teringat dengan
pertanyaan yang di lontarkan Dong Hyuk tentang telepon tadi. Ia sendiri pun
heran mengapa ia bisa berkata telepon itu dari Seo Jung, jelas-jelas itu adalah
Hyun Joon.
Jam dua belas
malam. Hyun Joon mendapati bahwa dirinya masih duduk di kursi halte. Dengan
tangan yang masih menggenggam ponsel. Dengan pikiran yang masih terbayangkan Gae
Yeon. Ia berharap ada seseorang yang mampu menyadarkannya dari lamunan malam
ini. Ia pun tak mengerti mengapa ia mampu mencintai wanita yang jelas-jelas
kini sudah ada yang mungkin cinta
lebih besar darinya. Dua puluh menit kemudian, ia pun beranjak dari tempat
duduk itu.
Hingga sampai
ia turun di halte dekat rumahnya, Gae Yeon masih terpikirkan akan hal tersebut.
Selagi berfikir, Gae Yeon pun dikejutkan oleh Hyun Joon yang tiba-tiba muncul
dari belakang.
“wae?”
“oppa, anieyo, hanya ada sedikit
hal yang mengusik pikiranku”
Hyun Joon
tersenyum. Begitu pula Gae Yeon membalas senyuman Hyun Joon. Pertemuan kembali
keduanya tiga bulan lalu sangat sederhana, sesederhana pagi tadi. Sesederhana
nasi putih yang disajikan bersama sup lobak.
“bisa kita mampir ke warung kaki lima sebrang?”
pinta Gae Yeon.
“ne”
Dengan sebuah
cerita, Gae Yeon dan Hyun Joon jalan beriringan yang juga dari jauh ada Dong
Hyuk yang tak disangka-sangka mengikuti Gae Yeon. Namun bukan Hyun Joon
masalahnya, masalahnya kini Gae Yeon, mengapa dia menyembunyikannya dari Dong
Hyuk.
Cerita itu
keluar dari mulut Gae Yeon. Hyun Joon menyambar. Ia mengingatkan tentang dua
ekor burung yang Gae Yeon lihat di lapangan sekolahnya jauh sebelum Hyun Joon
memutuskan untuk ke Amerika. Pikiran dua orang yang kini sedang memegang gelas
soju itu pun berjalan ke masa 14 tahun lalu.
Awalnya hanya ada seekor burung yang hinggap disana.
Mengapa? Mungkinkah dia menunggu pasangannya? Sangat lama. Hingga seekor burung
lainnya datang dan menghampirinya. Apakah dua burung itu berbincang? Entahlah. Yang
dilihat Gae Yeon dan Hyun Joon kala itu hanya keramahan di antara keduanya.
Namun, setelah berlama-lama salah satu burung itu pergi. Tinggallah burung yang
sendirian lagi.
Cerita itu
berhenti ketika mereka mengetahui bahwa sojunya habis. Mereka berdua tertawa.
Di mobilnya, Dong
Hyuk yang melihat hal itu pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Siapa
sebenarnya pria yang kini tengah tertawa bersama Gae Yeon. Mengapa Gae Yeon
terasa sangat berbahagia bersama pria tersebut. Mengapa sekarang rasanya sulit
untuk mendapatkan gelak tawa yang serupa?
Tak lama
setelah soju dalam botol itu habis, Hyun Joon dan Gae Yeon pun berdiri.
Berjalan pulang dan kembali bercerita.
Berhari-hari Gae Yeon dan Hyun Joon memantau burung
yang diam dalam kesendiriannya. Hingga akhirnya burung yang sendirian itu dihampiri
lagi dengan burung yang pergi beberapa hari lalu dan terbang bersama. Mengapa?
Kita tidak tahu apa yang terjadi diantar keduanya, kita hanya penonton, tapi
apakah kau tau Gae Yeon? Burung yang menunggu itu seperti yang kau lakukan
sekarang.
Sejenak Gae
Yeon tersenyum. Setidaknya burung itu masih beruntung di hampiri lagi dan
mereka bisa terbang bersama. Tidak Gae Yeon, ia lain hal. Lain cerita pula.
“ohh oppa. Yogi. Ini rumahku, rumah oppa
disebelah mana?”
Hyun Joon
menunjuk rumah yang jaraknya hanya 2 rumah dari rumah Gae Yeon. Gae Yeon pun
tertawa kecil.
“wae?”
“ani, annyeong...” ucapan terakhir Gae
Yeon pada Hyun Joon untuk mengakhiri hari ini.
Begitu pula Dong
Hyuk yang sudah meninggalkan Hyun Joon dan Gae Yeon sedari tadi. Ia terdiam
dalam sebuah ruangan. Ia terus menghela nafas. Mengapa Gae Yeon menyembunyikan
ini? Dong Hyuk serasa itu bukanlah pribadi Gae Yeon. Apakah dirinya kurang
mengenal Gae Yeon? Tentu Dong Hyuk merasa aneh. Bahkan dia juga berfikir,
apakah ini salahnya hingga Gae Yeon menyembunyikan itu.
“bukankah kau yang selalu kita harus saling
percaya?” bisiknya
Keesokan harinya,
dengan wajah kecutnya ia berangkat ke kantor.
“sepagi ini? Apakah kau akan menjemput Gae
Yeon?” tanya ibunya yang sedang sibuk menyiapkan sarapan. Tak ada jawaban
sepatah kata pun yang keluar dari mulut Dong Hyuk untuk menjawab pertanyaan
tersebut. Pertanyaan itu seperti pentanyaan yang tak perlu untuk di jawab.
Setelah meneguk segelas air puti di meja makan, ia hanya mengucapkan salam lalu
pergi.
“ayo bangun-ayo bangun-ayo bangun” sebuah
alarm yang terpasang di kamar So Eun. Tidak kesiangan.
“hya! So Eun-aa apa kau tak mau bangun?”
teriak ibu So Eun dari balik pintu kamar So Eun.
“eomma, aku masih ngantuk.” jawab So Eun
yang semakin menarik selimutnya.
“ini sudah siang! Apa kau mau di pecat dari
pekerjaanmu?” balas ibu So Eun membohongi anaknya.
Mendengar itu,
lantas So Eun pun terkejut. Tanpa melihat jam yang terpasang di kamar, dengan
cepat ia menyambar handuk yang tergantung di pintu kamar.
Sebuah senyuman
lebar keluar dari wajah ibunya saat So Eun keluar dari kamar. Wanita paruh baya
itu menyanyikan lagu selamat ulang tahun pada anak So Eun. Berbagai perasaan
bahagia menghampiri So Eun, dengan cepat ia meraih tubuh tua itu. Memeluknya.
“genap 26 tahun aku mengasuhmu” sebuah
pernyataan dari ibunya yang mengejutkan So Eun.
So Eun
tersenyum. Tak mempedulikan ucapan tersebut. Mungkin ada sesuatu yang ibunya
sembunyikan, namun So Eun tak ingin mengetahuinya hari ini. Dimakannya kue
kecil ala ibunya setelah So Eun meniup lilin.
“bagaimana kalau ibu membuka toko kue saja”
Ibunya
terkejut dengan pernyataan So Eun. Usaha laundry ini sudah lama, bahkan mereka
sudah memiliki pelanggan tetap.
“hya! Bagaimana bisa kau mengatakan itu?!”
bentak ibu So Eun.
Dengan rayuan-rayuan
anehnya, So Eun membujuk ibunya agar mau untuk berganti profesi. Hingga So Eun
selesai mandi pun ibunya tetap menolak.
“ahh, aku berangkat dulu” pamit So Eun
begitu saja.
“hya! Apa kau tidak sarapan?”
“rasanya aku sudah kenyang karena penolakanmu.
Bahkan untuk seminggu ini masih kenyang. Galke.”
“hati-hati” ibunya melepas So
Eun pergi. Sambil menyetrika baju, sesekali ibu So Eun berfikir. Perlukah ia
mengikuti ide konyol So Eun?
Ditengah
perjalananannya ke halte, So Eun yang terpikirkan akan ucapan ibunya tadi pagi,
hampir saja membuatnya tertabrak mobil.
“apa kau mau mati!” teriak seorang
ahjussi. Dengan cepat So Eun meminta maaf dan meninggalkannya begitu saja
meskipun ahjussi itu bercelomet bak burung belum di beri makan.
“oppa! Gidareyo!” teriak Ji Kyeong ketika
melihat Hyun Joon berangkat.
“kau kan bisa di antar sama supir,”
“mengapa kau naik bus, kan bisa berangkat
denganku”
“jjih! Kau selalu berangkat dengan yeoja itu.
Arasseo!” bisik Ji Kyeong marah.
Gae Yeon yang
baru saja keluar dari rumahnya, melihat Hyun Joon yang tengah berjalan menuju
halte bus.
“oppa!” panggil Gae Yeon keras.
Hyun Joon
menoleh dan tersenyum.
“jaksa Ahn, apa cuacamu pagi ini?”
“na?”
Gae Yeon
menggangguk. Hyun Joon tertawa. Mengapa Gae Yeon menjadi orang yang suka
membahas cuaca akhir-akhir ini?
“aku menirunya dari seseorang. Dan sepertinya
itu lebih baik” jelas Gae Yeon.
“geuraesseo” balas Hyun Joon yang kemudian
menggenggam tangan Gae Yeon. Dan selama perjalanan menuju halte, Gae Yeon dan
Hyun Joon mengobrol tentang cerita-cerita masa kecil mereka berdua. Tak
disangka pula, di tengah perjalanan sesaat Seo Jung yang juga kebetulan
berangkat kerja, ia pun mengurungkan niatnya untuk memanggil Gae Yeon.
“nuguseyo?” tanya Seo Jung sendirian.
Melihat pria
yang berjalan bersama Gae Yeon tak menaiki bus yang sama, Seo Jung semakin
bertanya-tanya, ini sudah yang ke sekian kalinya ia melihat Gae Yeon berangkat
dengan pria tersebut. Segala hal masuk dalam pikiran Seo Jung. Gae Yeon pun tak
pernah bercerita tentang pria lain selain Dong Hyuk. Seo Jung mencoba
mengembalikan pikirannya ke beberapa tahun lalu, mungkin Gae Yeon bercerita namun ia lupa. Hingga bus hampir sampai
di halte dekat kantornya, ia tak menemukan kenangan Gae Yeon bercerita tentang
pria lain. Hanya Dong Hyuk. Kang Dong Hyuk. Jikalau ada, itu pria yang tak penting
untuk ditanggapi. Dong Hyuk, pria yang bertunangan dengan Gae Yeon 2 tahun lalu
tepat setelah Gae Yeon lulus dari universitas juga pria yang disukai Seo Jung
sejak 8 tahun lalu.
“Gae Yeon-aa”
“ohh! Seo Jung-aa! Kenapa aku baru melihatmu
di bus?”
“gwenchana, ahh! Gae Yeon-aa”
“wae?”
“bukankah kemarin ulang tahun usia tunanganmu
dengan Dong Hyuk?”
Gae Yeon
mengangguk.
“apakah ada pesta?”
Gae Yeon
tersenyum sumringah. Seo Jung pun ikut tersenyum. Dan saat dua wanita itu masuk
ke kantornya, ada Dong Hyuk yang baru saja datang. Gae Yeon menyapanya lirih.
Senyuman Dong Hyuk melebar dan Gae Yeon pun menghampiri Dong Hyuk. Lama Dong
Hyuk memandang Gae Yeon.
“wae?” ucapan yang keluar dari bibir
manis Gae Yeon. Dong Hyuk mengecup kening Gae Yeon. Seo Jung yang berada tak
jauh dari tempat Gae Yeon dan Dong Hyuk berdiri pun tersentak. Melihat pria
yang ia cinta mengecup kening wanita lain. Namun, itu wajar, wanita itu
tunangannya. Namun ada yang tak wajar bagi Seo Jung. Entah apa itu.
“jika hari itu kau tidak bertemu dengan
wanita itu, apakah cinta itu untukku?” bisik Seo Jung yang sesekali
menghela nafas.
Seo Jung yang
masih berdiri di tempatnya dikejutkan dengan kedatangan So Eun. Seo Jung
memeluk So Eun. Namun So Eun cepat-cepat melepaskan pelukan itu. Seo Jung protes
keras. Sejauh mana pun ia memandang Dong Hyuk, sedalam apa perasannya dengan Dong
Hyuk, semua orang tidak mengetahui tentang hal itu. Yang orang lain tahu
hanyalah Dong Hyuk adalah tunangan Gae Yeon.
“kau sudah datang, ini tema hari ini”
ucap Gae Yeon seraya menyodorkan kertas yang berlembar-lembar.
“apakah kau sedang bahagia, Gae Yeon-ssi?”
sambar Produser Kim yang juga baru datang.
“ne, dia kemarin selesai pesta makan malam
dengan Dong Hyuk,” timpal Seo Jung.
Timpalan Seo
Jung mematahkan sebagian jiwa produser Kim. Namun, pada saat tertentu yang tak
pernah ia ramalkan, ada kalanya hatinya sakit karena cintanya yang hanya
sebelah tangan. Tanpa alasan yang masuk akal kadang produser Kim membayangkan
dirinya suatu saat nanti bisa menikah dengan Gae Yeon.
“ohh ya, So Eun-ssi” panggil produser Kim
sesaat ketika So Eun akan masuk ke ruangan on air.
“ne?”
“ternyata rumahmu satu arah denganku”
So Eun hanya
tersenyum seakan sudah mengetahui hal tersebut. Tak lama, setelah on air di
mulai, tiba-tiba di depan komputer produser Kim tersentak, hingga membuat Gae
Yeon dan Seo Jung serta dua orang lainnya terkejut.
“siapa yang membuat tema ini?” tanya
produser Kim. Gae Yeon melirik licik. Lirikan itu bak pisau belati. Produser
Kim menghela nafas.
“Apakah pengirim surat itu Gae Yeon? Mengapa
dia mengirimya? Alasannya apa?” tanya produser Kim dalam hati.
“aku terinspirasi dari koran, wae?” ujar Gae
Yeon.
Aneh. Sebuah
kata yang keluar dari mulut produser Kim. Gae Yeon mulai mengumpat.
“hya! Gae Yeon-ssi, kenapa kau suka sekali
mengumpat?!”
“ani,” balas Gae Yeon seraya mengibaskan
rambutnya.
Setidaknya
kasus yang ia tangani hari ini tak menghabiskan tenaganya untuk berdebat. Pukul
setengah enam, matahari yang sejak tadi sudah mulai tampak menghilangkan dirinya,
membuat langit kini tengah mengibarkan warna jingga. Dengan langkahnya ia
tersenyum bergegas kembali ke kantor. Ditemani segelas kopi hangat di
genggamannya, angin berhembus mulai mendingin. Tak terasa musim semi akan
segera hadir, Hyun Joon yang sedang menantikan musim itu pun semakin semangat
saja untuk menyambutnya. Sudah berapa lama ia tak menghabiskan musim
kesukaannya itu di Korea.
“saranghae” gumamnya. Entah untuk siapa.
Di sebuah
kedai kopi, Gae Yeon juga sedang bersama Dong Hyuk menikmati sepotong kue
coklat dengan kopi yang dipadu dengan tampilannya yang amat sangat indah.
Cappucino. Di sela ia menikmati kuenya, Gae Yeon meraih jemari Dong Hyuk. Pria
yang sedari tadi diam dengan garpu kue yang terus ia putar-putarkan. Saat ia
mengangkat wajahnya, Gae Yeon melempar senyuman pada Dong Hyuk, namun pria yang
pikirannya masih dengan banyak pertanyaan itu pun kembali menundukkan kepala.
“wae?” tanya Gae Yeon.
Dong Hyuk
tetap diam. Semenit kemudian Gae Yeon melepaskan tangannya yang memegang jari Dong
Hyuk. Dong Hyuk meraihnya kembali.
“saranghae” ucap Dong Hyuk.
Gae Yeon
tertawa kecil.
“wae? Bukankah semalam dua tahun tunangan
kita? Apa aku salah mengucapkan itu?” tanya Dong Hyuk protes.
“tch! Aku tertawa bukan karena salah, tapi
sikapmu, seperti baru mengucapkan kata itu padaku” jawab Gae Yeon kemudian
tertawa lagi.
“anieyo, hanya saja..”
“wae?”
“ani,”
“wae?” tanya Gae Yeon penasaran.
Dong Hyuk
kembali menggeleng. Gae Yeon hanya mengangkat alisnya dan melanjutkan menikmati
kue coklatnya. Secepat kilat Dong Hyuk kembali mengecup kening Gae Yeon. Gae
Yeon hanya mengamati tingkah laku sosok pria yang kini tengah duduk di depannya
menemani menyantap makan malam.
“sikapmu mengkhawatirkanku” cletuk Gae
Yeon seraya meraih ponselnya yang tengah berbunyi.
“produser bilang aku harus segera kembali ke
kantor.” Lanjutnya setelah membaca pesan produser Kim.
“katakan kau bersamaku”
“hya oppa!”
“biar Seo Jung saja yang membantu,”
“oppa, produser Kim sedang membutuhkanku,”
“nado. Setidaknya kau memilih satu yang lebih
penting di hidupmu”
“oppa, jebal. Kau jangan seperti
ini,”
Dong Hyuk
melepaskan genggaman tangannya. “pergilah”
ucapnya seketika.
“mianhae” balas Gae Yeon seraya
meninggalkan Dong Hyuk.
“mianata?” gumam Dong Hyuk yang kemudian
disusul dengan senyuman pahitnya. Dengan rasio dan akalnya, Dong Hyuk tak mampu
mengatakan apa yang sedang ia pikirkan. Ia pun bingung haruskah itu ditanyakan.
Sesosok wanita yang ia temui 6 tahun lalu dan wanita yang sudah bertunangan
dengannya 2 tahun lalu itu, mungkinkah menempatkan pria lain di hatinya? Dong
Hyuk menghela nafas panjang.
Malam ini
mendadak hujan turun dengan amat sangat lebat. Pandangan Hyun Joon kosong namun
tajam bagaikan samurai yang siap ditusukkan kepada seseorang. Dengan sesekali
ia tersenyum dalam kekosongan pikirannya.
Waktunya
pulang. Wanita itu menghentikan langkahnya ketika mendapati suasana di luar
hujan. Ia mengoceh tiada batas.
“wae?” cletuk produser Kim tiba-tiba.
“mengapa hujan? Menyebalkan.” Jawab So
Eun.
“hya, So Eun-ssi, bukankah rumah kita satu
arah?”
So Eun menelan
ludahnya sendiri dan refleks kakinya melangkah ke belakang. Dengan sedikit
gagap So Eun menjawab pertanyaan produser Kim.
“geurae, pulang bersamaku saja..”
So Eun yang
terkejut pun hampir saja mengeluarkan bola matanya.
“produser, bolehkah aku juga ikut? Aku lupa
membawa payung, hanya sampai halte saja” rengek Seo Jung tiba-tiba dari
belakang.
Produser Kim
pun meng-iyakan permintaan Seo Jung. Sejenak ada mobil Dong Hyuk yang menghampiri
tiga orang yang sedang berkumpul. Ia tersenyum pada seorang wanita yang masih
berjalan di belakang mereka bertiga.
“eonni, di luar hujan, apakah kau membawa
payung?” tanya Gae Yeon khawatir.
“kita akan satu kendaraan” sambar Seo
Jung.
Dengan
senyuman hangatnya Gae Yeon mengangguk ringan, dan segera memasuki mobil Dong
Hyuk. Seketika itu produser Kim memandang kesal pada mobil yang membawa Gae
Yeon pergi.
Dengan
payungnya dan ditemani rintik hujan yang memebasahi sepatunya, Hyun Joon
berjalan pulang. Didapatinya Gae Yeon sedang keluar dari mobil Dong Hyuk.
Semenit kemudian disusul Dong Hyuk juga keluar dari mobilnya. Sebuah kecupan
bibir mengagetkan Gae Yeon juga Hyun Joon yang melihatnya, serta Seo Jung yang
berdiri tak jauh di belakang Hyun Joon. Hyun Joon yang terperanjak dari
langkahnya pun menjatuhkan payung yang dipegangnya. Dengan helaan nafas
panjang, ia kembali berjalan ketika mobil Dong Hyuk menghilang.
“oppa!” tegur Gae Yeon saat melihat Hyun
Joon.
Hyun Joon yang
sengaja pura-pura tidak dengar pun dihentikan langkahnya dengan tepukan tangan Gae
Yeon di bahunya.
“ohh, kau basah?” cletuk Gae Yeon.
“bukankah rumahmu tidak melewati jalan ini?”
“sepertinya kau lelah, semoga esok lebih
baik.. annyeong jaksa Ahn..” Gae Yeon langsung meninggalkannya dengan
seutas kertas yang Gae Yeon jejalkan ke genggaman Hyun Joon.
֍
Seminggu
kemudian. Hyun Joon masih terbayang kejadian di malam yang penuh dengan
rintikan hujan beserta seutas kerta yang bertuliskan “nan haengbokkae”. Hyun Joon mengerti betul maksud tulisan itu.
Namun, dibanding Hyun Joon, mungkin Gae
Yeon lebih mengerti. Dan artinya
berbeda, hanya saja Hyun Joon enggan untuk menanyakan itu. Karena setelah
sampai di rumah, ia begitu saja menaruh kertas itu di atas rak buku. Sekarang
pun ia tak tahu apakah kertas itu masih menyelinap jatuh ke buku-bukunya atau
bahkan malah tersapu dan masuk ke tong sampah.
Gae Yeon yang
setiap paginya menantikan Hyun Joon menanyakan apa maksud tulisan di kertas
seminggu yang lalu pun tak kunjung mendapatkan pertanyaan tersebut. Hingga
akhirnya Gae Yeon yang bertanya, meskipun ada rasa canggung yang menyerbu
dirinya begitu saja. Pagi ini Gae Yeon diantar Hyun Joon ke kantor. Sampai di
dekat kantornya, Hyun Joon mengeluarkan kata-kata yang tak disukai Gae Yeon
dari dulu, “sayangnya aku tidak sedang
ingin mengetahuinya”.
Kesempatan
langka memang selalu berpihak padanya. Pagi ini So Eun kembali berangkat
bersama produser Kim. Tidak ada Seo Jung yang mengganggu pandangannya memandang
produser Kim pagi itu. Tajam memang, tapi mengandung artian indah.
“ku harap cuacaku hari ini biru,” ucap
produser Kim saat berjalan memasuki kantor.
So Eun sontak
tersedak tanpa alasan yang jelas.
“wae? Aku mengutipnya dari surat-surat di
apartemenku, pengirimnya selalu menginginkan cuaca cerah di setiap hariku,”
“geurae” jawab So Eun yang masih tak
percaya produser Kim mengutip kata-katanya.
“aku rasa pengirim itu, aku sudah
mengetahuinya”
So Eun lantas
menghentikan langkahnya yang berada tepat di tengah-tengah perjalanannya dan
memandang produser Kim dengan mata yang membelalak hampir keluar. Produser Kim
pun membalikkan punggung.
“awas!” cletuk produser Kim menarik
tangan So Eun dari tabrakan seseorang. Berbagai perasaan keluar, jantungnya
yang sedari tadi berdetak lebih kencang dari biasanya, semakin kencang saja.
Bahkan So Eun hampir saja mengeluarkan keringat dingin.
“benarkah yang produser katakan tadi?”
Produser Kim
mengangguk. Disusul dengan So Eun juga keringat dingin itu semakin ingin keluar
dari persembunyiannya. Ruangan lift yang sudah menantinya pun serasa tertawa
melihatnya, So Eun pun tanpa alasan yang jelas enggan satu lift dengan produser
Kim. Namun, Gae Yeon yang tiba-tiba datang menariknya masuk.
“eonni, mengapa kau menyukai kata-kata yang
berhubungan dengan cuaca?” tanya Gae Yeon.
“bukankah itu kata-katamu?” sambar
produser Kim.
So Eun dengan
sendirinya merasa kedoknya akan ketahuan. Ia menelan ludah yang mungkin makhluk halus saja yang
mendengar. “gluk gluk”.
“aku dan So Eun eonni mengutipnya dari koran,
tapi So Eun eonnilah yang sangat menyukainya” jelas Gae Yeon.
“apa nama korannya? Terbitnya tanggal berapa?”
tanya produser Kim penasaran.
“hya! Produser Kim, kau kira aku
mengingatnya! Jinjja!” keluh Gae Yeon meninggalkan produser Kim.
On air di
mulai. Selama itu produser Kim yang awalnya mengira pengirim surat itu Gae Yeon,
kini sedang mereka-reka apakah pengirimnya So Eun? Wanita yang menjadi rekan
kerjanya beberapa bulan lalu. Meskipun itu benar, menurut produser Kim itu tak
masuk akal. Amat sangat tak masuk akal. Bahkan surat itu datang sebelum dirinya
mengenal So Eun. Dengan lamunannya yang aneh membuat orang di dalam ruangan itu
kesal dengan sikap produser Kim. Hingga akhirnya Gae Yeon yang ternyata
diam-diam memiliki julukan ratu mengumpat
itu pun mengeluarkan jurusnya demi menghadapi produser Kim. Memandang Gae Yeon
yang mengeluarkan umpatannya, pertanyaan baru muncul di pikiran produser Kim,
rasanya jika Gae Yeon yang mengirimnya itu pun tidak mungkin. Tulisan tangannya
pun menandakan dia wanita yang halus.
“KIM KWANG SOO! Apakah telingamu masih
berguna?!” cletuk Gae Yeon melanjutkan kata-katanya.
“ohh sesange. Ne ne ne! Wae?!” bentak
produser Kim.
Setiap
tugasnya selesai, ia selalu membayangkan ia kembali ke kantornya bersama Gae
Yeon. Namun, sore yang cerah telah menyergap perasaannya kala teringatkan oleh
suatu malam. Pria itu menghentikan langkahnya. Badannya yang tegap dan tinggi
itu pun serasa tak kuat untuk melanjutkan langkah tersebut. Tak sewajarnya ia
menaruh hati pada wanita tersebut. Setidaknya ada pepatah bijak yang berkata “pilihlah satu. Meskipun ganjil kedengarannya
tidak enak, genap juga kadang mematikan”.
Hingga pada
suatu ketika produser Kim yang sedang makan malam bersama Gae Yeon dan bersama
rekan satu profesinya, saat akan melontarkan pertanyaan pada Gae Yeon, mendadak
diurungkan niatan tersebut. Suara yang hampir keluar itu pun kembali masuk
dalam tenggorokannya ketika Dong Hyuk memanggil Gae Yeon dan mengajak Gae Yeon
makan di luar. Karena Gae Yeon tak menjawab, Dong Hyuk yang mulai duduk dan
menatap mata Gae Yeon. Hal tersebut telah menciptakan suasana hening. Dong Hyuk
menatap mata Gae Yeon untuk menjemput kegugupan untuk bertanya. Wajar saja pikiran
Dong Hyuk terusik, ia mencintai Gae Yeon meskipun terkadang ia tak bisa
bersikap layaknya orang yang sudah saling mencinta bertahun-tahun. Namun,
perlahan tatapan itu mengurai senyuman dan memecah keheningan. Gae Yeon
memandang heran.
“kalian makan apa?” tanya pria yang
sehari-harinya di sapa dengan nama Presdir Kang tersebut.
Tawaan
orang-orang yang mengerubungi meja itu pun lepas. Keheningan itu pecah. Selagi
keheningan itu pecah, di sudut meja itu ada wanita yang bingung akan sikap pria
yang sekaligus tunangannya tersebut. Hanya saja karena sopan santun ia ikut
tertawa serasa tanpa beban. Juga dua manusia yang tertawa karena sopan santun,
Kim Kwang Soo dan Park Seo Jung.
Mata itu
memandang ke arah gambar anak kecil dalam sebuah ruang kecil dalam sebuah dompet.
Digenggam oleh tangan yang sehari-harinya memegang dokumen bertumpuk-tumpuk
beserta bolpoin sebagai kekasihnya. Terlihat bibirnya melebar, membentuk sebuah
senyuman yang indah. Ia semakin tak peduli dengan malam menakutkan tersebut. Ia
tersenyum dan melupakannya mentah-mentah. Sekitar satu menit kemudian ia
kembali menutup dompet tersebut dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Entah apa yang
terjadi. Malam ini Gae Yeon menanti Dong Hyuk. Hampir 2 jam ia berdiri di depan
kantornya dengan ditemani semilir angin yang menghembuskan kain yang menempel
di badannya dan rambut sebahu yang terurai.
“apakah kau sudah lama menungguku?”
cletuk Dong Hyuk memecah dinginnya malam.
Gae Yeon
menggeleng dan tersenyum. Jari-jari kecilnya meraih lengan tangan yang
ukurannya lebih besar dari lebar telapak tangannya.
“apa kau takut?” tanya Gae Yeon.
Dong Hyuk
tersenyum.
“bukankah hubungan ini sudah terlalu tua
untuk ditakutkan?”
“6 tahun bukanlah tua, ada yang bisa lebih
dari itu”
“ne, arasseo”
Dong Hyuk
tersenyum hangat. Namun batinnya diam. Gae Yeon memeluknya hangat. Mencoba
menenangkan Dong Hyuk. Dong Hyuk melepaskan napasnya pelan. Gae Yeon menepuk
punggungnya seraya melepaskan pelukannya, namun Dong Hyuk kembali menarik Gae
Yeon masuk dalam pelukan Dong Hyuk.
“tetaplah diam seperti ini sebelum aku
melepasmu” pinta Dong Hyuk.
Gae Yeon yang
memahami Dong Hyuk, memilih diam dari pada menjawab. Keadaan yang tadinya masih
terdengar suara dua pasang manusia itu pun kini kembali sunyi.
Di atas tempat
tidurnya, produser Kim yang kini mulai berharap lagi ada tombol delete yang mampu mengubah segalanya.
Ada tombol enter yang mampu
memperbarui keadaan. Keadaan seperti ini bukan yang pertama baginya, beberapa
hari lalu juga seperti ini, bulan lalu juga seperti ini, juga bulan-bulan
sebelumnya.
“nona cuaca, hari ini cuacaku kelabu lagi.
Semoga cuacamu biru” bisik produser Kim setelah meraih secarik kertas kecil.
Ratu laundry
yang kini menjelma menjadi seorang penyiar radio, malam ini menyanyi dari ujung
kamarnya hingga kamar mandi bahkan ketika ia menyikat gigi. Ibunya yang
berteriak karena suaranya pun tak ia pedulikan. Yang terbayang pada dirinya
hanya sesosok produser yang hampir membuatnya pingsan hari ini.
“hya! So Eun-aa, suaramu itu bisa merusak
telinga orang lain!”
“eomma, apakah eomma pernah merasakan
bagaimana mendapat hadiah dari Tuhan?”
“apa maksudmu”
“ahh, lupakan saja”
“memang kau mendapatkan apa? Menemukan cek $100jt?”
So Eun
mengangguk. Mata ibunya terperanjak seolah akan keluar. Mesin penyetrika baju
ia tanggalkan.
“tapi cek itu bukan dalam kertas, dalam
sebuah batin yang mampu menyimpan segalanya”
“HYA! SO EUN-aa!” bentak ibunya yang
langsung mengagetkan So Eun.
“wae? Wae? Wae?!!!”
“mengapa kau mengatakan itu sebagai cek $ 100jt?!”
“aku tak mengatakannya, itu kan keluar dari
mulut eomma! Annyeonghasimnika nyonya.”
“mwoya! Aish jinjja”
So Eun hanya
melangkah ringan masuk ke dalam kamarnya. Sejenak ia kembali keluar dan melihat
ibunya yang kembali menyetrika baju. Melihat punggung yang sudah tua pun So Eun
hanya menyeringai kecil dan kembali masuk ke dalam kamar.
Wanita yang
selalu berada dalam keheningan setelah orang tuanya bercerai 10 tahun lalu, dan
ditinggal ayahnya pergi ke California 7 tahun lalu itu berangan-angan Tuhan
menjatuhkan sesuatu yang indah baginya yang mampu memecah udara dingin dalam
hidupnya. Seo Jung mengusap foto pria yang mengisi hatinya sejak SMA dulu. Pria
yang selalu dalam angannya juga sebagai presdir dan sebagai tunangan temannya, Gae
Yeon. Keadaan beberapa tahun silam mengubah segalanya ketika Seo Jung
mengenalkan Dong Hyuk pada Gae Yeon. Namun, hari ini Seo Jung juga merasa
sesuatu yang hilang itu akankah kembali lagi?
“mengapa surat itu masih diam tak bereaksi apa-apa?”
tanyanya sendiri.
Sejak 30 menit yang lalu, ia berdiri di depan
kaca ruang kerjanya, ia tak mempedulikan ponsel yang sesekali berdering.
Menatap langit sore yang dipenuhi dengan awan. Sekejap pandangan Dong Hyuk
menghampa dalam balik kaca tersebut. Ia mencoba menembus ruang waktu. Menuju
hamparan laut yang indah ditemani beberapa batuan dan rumput yang indah. Di sela-sela rajutan molekul udara, 4 tahun silam, saat
hubungannya dengan Gae Yeon masih sangat hangat bagaikan kopi yang baru saja
diseduh. Dirinya seakan dibawa kembali didalam ingatan tersebut. Perlahan ia
beranjak meninggalkan kaca itu, menghampiri ponsel yang sedari tadi dibiarkan
berteman dengan buku-buku dokumen. Dong Hyuk meraihnya. Membaca pesan yang
diterima dari Seo Jung.
“holiday?”
ucapnya sendirian.
So Eun tertawa lepas. Disusul Seo Jung dan
salah satu rekannya yang sedang makan malam bersama, di sebuah warung kaki lima
yang berada tak jauh dari kantornya, mereka bertiga saling bercerita tentang
masa kecilmasing-masing. Candaan itu sangat ringan dan amat sangat
membahagiakan. Seakan tidak ada beban yang menghampiri mereka. Dengan sendok
yang sedang ia pegang, So Eun mempraktekkan bagaimana ibunya memukul kepalanya
dengan sendok makan. Suara tertawa itu pun kembali muncul, dengan cita-cita
masa kecilnya yang semakin memancing gelak tawa satu sama lain. Hingga gelak
tawa itu akhirnya berhenti dalam hitungan detik ketika ponsel Seo Jung
berbunyi.
“Kang Dong
Hyuk?” tanyanya dalam Hati.
“angkat
saja, bukankah kita juga akan kembali” sahut So Eun.
Seo Jung mengangguk dan pamit kembali ke
kantor terlebih dulu.
“waeyo?”
ucap Seo Jung saat mengangkat telepon Dong Hyuk.
“holiday?”
“ne,
bersama Gae Yeon juga, produser Kim juga tak mau ketinggalan”
“nanti
ku tunggu kau di kedai kopi langganan kita biasanya, pulang kerja,” dalih Dong
Hyuk yang kemudian menutup telefonnya begitu saja.
“ne,”
jawab Seo Jung.
Adakalanya keheningan adalah hadiah ulang
tahun yang terbaik. Bukankah mereka semua ingat dengan hari tersebut? Produser
Kim ulang tahun hari ini. Ia terdiam di sebuah tempat yang tidak pernah ada teman kerjanya yang tahu. Keheningan itu
mengapungkan pikirannya. Membayangkan Gae Yeon yang entah sekarang sedang
bermesraan dengan Dong Hyuk atau sudah merapatkan wajahnya pada bantal kesayangan.
Sebuah daun yang jatuh menyadarkannya dari khayalan. Mungkin cinta itu semakin
besar, lebih besar dari hatinya. Namun, sebuah daun itu tak menyadarkan seutuh
nyawanya, ia kembali terbayang ketika Gae Yeon sedang sibuk bekerja dan
tiba-tiba mengangkat wajahnya dengan sorotan dua bola mata yang garang,
produser Kim tertawa kecil.
“kenapa
produser tertawa sendiri?” cletuk seseorang tiba-tiba.
“eomeona!
So Eun-ssi, mwohaneungeoya?”
“anieyo,
wae?”
“ani,”
“ohh,
geurae, aku pulang dulu” pamit So Eun.
Produser Kim mengangguk. Bayangan wanita yang
lama kelamaan ditelan dengan sunyinya malam itu pun menyita pandangan produser
Kim. Membandingkannya dengan bayangkan tubuh Gae Yeon. Memang tak seindah Gae
Yeon, namun bayangan itu melebarkan senyuman produser Kim dan membuatnya
beranjak dari tempat duduk itu.
“hari ini serasa dunia tak berputar pada
porosnya” Gae Yeon bergeming sendirian.
Berdiri di
atas lantai kayu, di dalam ruangan yang berdiameter 7 x 5 meter berlapis
dinding berwarna putih keabu-abuan, ia terus memandang langit malam yang tak
bertuan. Angin yang sengaja menerobos masuk melewati sela-sela jendela kamarnya
yang tertutup, membuat Gae Yeon sesekali mengelus lengannya.
“sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang sedang
terjadi diantara kalian? Mengapa semuanya seperti ini?! Wae?!” emosi Gae
Yeon memuncak tanpa sengaja dibarengi dengan tetesan air asin dari matanya.
3 jam yang
lalu, setelah Dong Hyuk mengirimkan pesan menyuruh Gae Yeon pulang sendiri
tanpa ditemani Dong Hyuk. Membuat Gae Yeon mengikuti Dong Hyuk yang membelokkan
mobilnya di sebuah kedai kopi. Gae Yeon terkejut ketika ia melihat bahwa Dong
Hyuk menghampiri meja yang salah satu kursinya telah diduduki oleh seorang
wanita. Melihat wanita itu masih sama seperti yang lalu-lalu, hari ini Gae Yeon
mengikuti Dong Hyuk karena penasaran ingin melihat wajah wanita tersebut.
Dengan sebuah ekspresi mata yang terbelalak. Terkejut, tidak percaya, ia merasa
itu mimpi. Gae Yeon yang tak bisa berkomentar karena serasa mulutnya telah terkunci
dengan rasa terkejut yang amat sangat.
“Seo Jung-aa?!” ucap Gae Yeon seakan tak
percaya. Semakin tak percaya, hingga membuat Gae Yeon semakin penasaran dengan
apa yang Dong Hyuk dan Seo Jung. Ia pun menenangkan diri dan mulai memesan
segelas cappucino dengan sebuah waffle.
“apakah kau sudah lama menungguku” tanya Dong
Hyuk melihat Seo Jung yang sedang menikmati secangkir kopi yang masih
mengepulkan asap hangat.
Seo Jung
tersenyum. “ani, mana Gae Yeon?”
tanya Seo Jung.
Dong Hyuk
hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Seo Jung. Sedikit
perasaan tak enak menghampirinya, namun Seo Jung seakan itu hanya urusan biasa.
“apakah kau sudah mengajak Gae Yeon dan
produser Kim tentang liburan tersebut?”
Seo Jung
menggeleng ringan. “tadinya aku mau
bicara dengan mereka, tapi ak”
“cukup kau dan aku saja” sambar Dong Hyuk
memotong kata-kata Seo Jung.
Seo Jung
bingung.
“waeyo?”
“ini sudah jarang kita lakukan. Baiklah,
mungkin kau tidak enak dengan Gae Yeon, tapi” ucapan Dong Hyuk terhenti.
“tapi ini sudah menjadi rutinitas kau dan
aku? Itu maksudmu?”
Dong Hyuk
mengangguk. Seo Jung tertawa. Disusul Dong Hyuk yang ikut tertawa. Bersama
tenggorokan mereka yang meneguk secangkir kopi masing-masing.
Telinga yang
berada tak jauh dengan meja Dong Hyuk dan Seo Jung pun mendengar. Suara musik
di dalam kedai itu pun serasa tak lagi bersuara. “rutinitas” kata-kata itu bagai tombak yang menusuk telinganya. Dalam
dua menit, Gae Yeon meninggalkan mejanya dan melangkah pulang.
Keesokan
harinya, Gae Yeon yang tak menunjukkan tanda-tanda curiga, dengan raut wajah
yang bahagia pun memanggil Seo Jung yang sedang sibuk dengan ponselnya.
“Gae Yeon-aa, wajahmu sangat sumringah. Waeyo?”
“neodo,”
“na?”
Gae Yeon
mengangguk. Semula Gae Yeon mengenal Seo Jung dengan reputasinya di SMA yang
dibawanya hingga ke kampus sebagai pemain tennis yang handal dan tangguh dalam setiap
pertandingan. Serta sebagai teman yang selalu dengan istilah-istilah aneh untuk
menasehatinya tanpa ia mengerti maksud kata-kata tersebut. Namun, alasan itu
melebur hanya dengan waktu semalam. Pagi ini di benaknya sudah tidak ada Seo
Jung yang seperti dulu. Sekilas Gae Yeon berjalan dengan lamunan karena semalam.
“apakah kau memikirkan sesuatu?” tanya
Seo Jung seraya memasukkan ponselnya ke dalam tas.
“ne,”
“mwo?” tanya Seo Jung sedikit was-was.
“untuk pembukaan musim, tema apa yang
dipakai?”
“hya! Bukankah kau selalu menemukan tema yang
aneh tapi menggundang rating”
Gae Yeon
menggeleng. Dengan tatapan aneh, Gae Yeon melanjutkan langkahnya.
Dengan
keberaniannya, angin pagi itu menuntun produser Kim menyatakan perasaannya pada
Gae Yeon, namun pikiran Gae Yeon yang tak karuan membuat Gae Yeon tak
menggubris produser Kim. Saat sampai di kantornya, ia langsung duduk dan memanggil
So Eun. So Eun yang ternyata mendengar itu pun masih terdiam dalam perasaan terkejut.
Dua kali Gae Yeon memanggil, So Eun tak mendengar. Produser Kim yang tak
menyangka bahwa Gae Yeon bersikap seolah tak menganggapnya ada di ruangan itu
pun membentak Gae Yeon. Dua orang yang baru saja datang juga dikejutkan dengan
bentakan tersebut, termasuk Seo Jung yang menyusulnya dari belakang.
“bukankah aku tadi berbicara denganmu!”
“produser Kim, jinjjayo? Mianhae, apakah kau
sedang membutuhkan bantuanku?”
“lupakan saja” produser Kim meninggalkan
ruangan tersebut.
Gae Yeon yang
tak mengerti apa-apa, langsung menyodorkan pertanyaan pada So Eun.
So Eun
menjawabnya hanya dengan satu anggukan kepala. Gae Yeon pun penasaran, hingga membuat
produser Kim sangat marah.
“dia berkata, dia menyukaimu, itu saja yang
ku dengar.”
Gae Yeon pun
terkejut. Di samping kanannya, Seo Jung yang sedang menata mejanya pun ikut
terkejut. Ruangan itu tiba-tiba saja hening. Gae Yeon yang masih terkejut
dengan kejadian semalam, pagi ini ia kembali dikejutkan dengan pernyataan dari
produser Kim. Gae Yeon yang tak percaya, kembali bertanya pada So Eun hingga
membuat So Eun kesal. Di ruangan tersebut, Gae Yeon mengenal produser Kim. Juga
karena ruangan tersebut Dong Hyuk memutuskan bertunangan dengannya 2 tahun lalu.
Ruangan itu. Ruangan yang kini masih dengan keheningan. Gae Yeon jatuh terduduk.
Ia menjatuhkan tangannya ke beberapa tumpukan kertas putih di atas meja.
“akankah kita mulai tanpa produser?”
cletuk Seo Jung.
Lama tak ada
yang merespon ucapan Seo Jung.
“Gae”
“ne, ini sudah telat 15 menit” balas Gae
Yeon memotong Seo Jung.
Dalam
mimpinya, ketika ia mengucapkan kata-kata tersebut, Gae Yeon mampu merespon
dengan tingkah laku yang seakan tak percaya. Bukan malah seperti ini. Produser
Kim diam di kantin kantor. Hingga sore hari produser Kim tak kunjung kembali. Saat
istirahat tiba, So Eun dengan kecepatannya, ia langsung meninggalkan ruangan on
air, mendapati produser Kim berada di kantin dengan sebuah kotak warna coklat
pekat di tangannya. So Eun pun menghampiri produser Kim.
“produser disini? Apakah pantatmu tak pegal
duduk disana dari tadi pagi?” ucap So Eun menyodorkan sebotol minuman rasa
jeruk.
“gomawo. Bukankah kau tadi mendengarnya?”
“ne, waeyo?”
“apakah ada yang salah”
“ani, hanya saja waktunya kurang pas,
sepertinya Gae Yeon juga sedang ada masalah”
Produser Kim
meneguk minumannya. So Eun tersenyum hangat.
“waktunya memang kurang pas, kesalahannya
juga mengapa aku juga turut mendengarnya?” bisik So Eun dalam hati.
Tak disengaja,
Dong Hyuk yang sedang makan malam bersama adiknya, melihat Hyun Joon. Pria yang
sempat ia lihat beberapa hari lalu. Pria yang menghabiskan malamnya minum soju
bersama Gae Yeon. Pria yang selalu menemani Gae Yeon. Hyun Joon bersama dengan
seorang wanita yang juga tak dikenalnya. Dengan mata yang menelisik memasuki
ruang bicara di meja sudut restoran. Dalam pada itu, Dong Hyuk semakin
penasaran dengan pria tersebut. Keakraban di antara Hyun Joon dan wanita itu
pun tidak melebihi keakraban yang terjalin di antara Hyun Joon dengan Gae Yeon.
“hyeong, kau melihat apa?” tanya adik Min
Hyuk.
“kalau kau buru-buru, kau bisa pulang dulu”
“geurae” jawab adiknya tanpa rasa ingin
tahu sedikit pun.
Sesaat setelah
adiknya pergi. Masih dengan mata yang menelisik entah apa yang dipikirkan, Dong
Hyuk terus memperhatikan meja Hyun Joon. Sesaat ada wanita paruh baya datang. Didengarkan
baik-baik pembicaraan mereka olehnya. Bibi?
Pengadilan? 2 kata yang masih menghuni pikiran Dong Hyuk hingga ia kembali
ke kantor.
“pria itu akan menikah lagi?” pikirnya
begitu saja. Bibir itu pun membentuk senyuman licik.
Masih bermeter-meter
untuk sampai di rumah. Masih butuh waktu sekitar 1 jam lagi, di tambah waktu untuk
berjalan. Pikiran itu menggantungkan beberapa pertanyaan yang tak mungkin ia
tanyakan pada pria yang kini sedang menyetir di sampingnya. Entah apa yang
membuatnya dekat dengan pria ini. Mungkin karena jalan rumah mereka berdua
searah juga antara produser dan penyiar. Entahlah. Wanita itu masih tak mau
melepaskan pandangannya dari pria di sampingnya.
“mengapa kau memandangku seperti itu?”
Pertanyaan
yang tiba-tiba saja keluar dan mengagetkannya. Ia tersenyum.
“wae?”
“ani, bisakah aku memandang yang tak bisa
dipandang oleh orang lain?”
“sedari tadi kau memandangku hanya untuk
bertanya itu?”
“kenapa produser sangat PD, aku tadi
memandang keluar kaca”
“sepertinya pertanyaanmu mengandung arti. Apakah
kau ada masalah?”
Wanita itu
menggeleng ringan. Pria itu pun tersenyum.
“hati-hati” ucap wanita tersebut ketika
dirinya menyadari sudah waktunya keluar dari mobil tersebut.
“ahh, So Eun-ssi” panggil produser Kim.
“ne”
“cuacamu apa?”
“kelabu” jawab So Eun singkat dan
menyilahkan produsernya pulang.
“oh ya, apakah kau bisa meromendasikan kapan
waktu terbaik untukku mengatakan perasaanku pada Gae Yeon lagi?”
“kala hatinya sudah membaik” jawab So Eun
singkat.
Produser Kim
mengangguk ringan menerima jawaban So Eun. Mobil itu pun meninggalkan So Eun
yang berdiri dengan perasaan yang ingin berteriak. Bayangan mobil masih
membuatnya berdiri disana. Hingga bayangan itu menghilang ditelan dinginnya
malam.
“neol sarang” cletuknya seraya
membalikkan punggungnya berjalan pulang. Rumah laundry yang kini telah disulap
menjadi toko kue itu pun menjadi tujuannya setiap hari. Aroma kue yang masih
tinggal itu pun melebarkan senyuman So Eun.
֍
Lima hari sudah Gae Yeon tak
berkomunikasi dengan Dong Hyuk. Bukan Gae Yeon tak ingin menghubunginya, namun Dong
Hyuk yang dengan tiba-tiba saja tak mengangkat telepon Gae Yeon. Pesan yang ia
kirimkan ke Dong Hyuk pun tak kunjung ada balasan. Hingga akhirnya Dong Hyuk
menghubunginya di malam yang bersih tanpa awan. Dong Hyuk meminta Gae Yeon agar
tak mengganggunya untuk sementara waktu. Kenapa? Sebuah pertanyaan yang juga
tak ada jawaban dari Dong Hyuk.
Seminggu kemudian, Seo Jung yang tak
biasanya mengabil cuti selama satu minggu penuh dalam musim semi itu pun
membuat Gae Yeon kembali teringat akan hal yang ia dengar di kedai kopi
beberapa hari lalu. Dengan cepatnya Gae Yeon mencoba menghubungi Seo Jung. Hanya
pesan yang ia terima. Seo Jung saat ini akan meluncur ke Gangwon. Entah itu
benar atau tidak, yang jelas Gae Yeon ingin kesana pula. Mungkin Gae Yeon
terlalu teropsesi dengan perasaannya yang cemas.
“sepertinya, sejak saat itu dunia sudah tak
berputar pada porosnya” pikirnya dengan memainkan bolpoin yang tengah ia
genggam. Ponsel yang berdering sedari tadi tak ia pedulikan. Hingga produser
Kim menepuk bahunya dengan suara halus yang mendarat di telinga Ga Yeon.
“wae?!”
“rasanya telinga itu sudah saatnya di bawa ke
THT, ponselmu berbunyi”
“ohh! Oppa!” cletuk Gae Yeon melihat yang
telepon adalah Hyun Joon.
“ne, yeobeosseo”
“apakah kau tidak ada acara malam ini?”
“wae?”
“aku ada tiket naik bianglala”
Sontak Gae
Yeon tertawa lepas. Di balik telepon Hyun Joon mengerutkan dahinya.
“wae?”
“oppa bilang bianglala? Aigoo”
“bukankah kau belum pernah menaikinya hingga
dewasa ini?”
Perbincangan antara
Gae Yeon dan Hyun Joon di dengarkan baik oleh produser Kim. Ia mengira Hyun
Joon adalah Dong Hyuk. Dengan telinga yang masih campur aduk mencoba fokus pada
dua-duanya, dan akhirnya ia lepaskan pendengaran itu kala Gae Yeon meng-iyakan
permintaan si penelefon.
“mengapa kau mengajakku kesini? Lagi pula
mengapa mereka berdua tidak boleh?”
“apakah aku perlu mengatakanya padamu?”
Seo Jung
tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia. Sudah lama ia tak berlibur
berdua bersama temannya ini. Angin malam di pesisir laut di pulau Jaeju itu pun
menemani malam dua anak manusia itu. Dengan tubuh yang masing-masing dibaringkan
ke atas pasir pinggir pantai, mereka memandang jauh ratusan meter. Saling
membayangkan semaunya. Seakan mereka mampu menembus langit yang kini sedang
bertabur bintang. Sejenak Seo Jung berteriak histeris. Tak ada yang bereaksi
akan teriakan tersebut. Bahkan Dong Hyuk pun hanya memandangnya sekali saja. Tubuhnya
dibangunkan dari pasir yang telah menjadi alas tidurnya beberapa menit lalu. Di
tekukkan jari-jarinya seperti orang mau berdoa.
“apa yang akan kau lakukan?” tanya Dong
Hyuk penasaran.
“apakah ada bintang jatuh?” lanjutnya.
Seo Jung tak
mendengarkan Dong Hyuk.
Pemandangan
indah itu memantulkan cahaya matanya. Senyuman itu pun tak kalah indahnya, di
tambah dengan lesung pipi yang rasanya enggan ketinggalan ketika ia tersenyum. Pemandangannya
memang indah, namun baginya tak seindah paras Gae Yeon. Mungkin, pemandangan
itu kurang menarik simpati hatinya.
Gae Yeon yang
sedang menikmati pemandangan dari atas pun dikejutkan dengan selembar jas yang
mendarat di tubuhnya. Cuaca memang dingin. Dengan senyumannya Gae Yeon mencoba
sementara melupakan masalah yang menghantui benaknya itu.
Hyun Joon yang
berencana malam ini ia akan mengatakan perasaannya pada Gae Yeon, sesuatu telah
menghentikannnya terlebih dahulu. Malam ini, di matanya, Gae Yeon sedang ada
masalah, ia tak ingin menjadi beban yang berikutnya.
“seindah pantulan cahaya malam ini, aku ingin
tenggelam di dalamnya” ucap Gae Yeon.
“wae? Apakah kau sedang ada masalah?”
Gae Yeon
menggeleng.
“arasseo. kalau tidak mau bercerita tak apa”
“hya! Oppa!”
Hyun Joon
menatap Gae Yeon serius. Dengan pandangan yang menembus langit, tiba-tiba Gae
Yeon bercerita tentang masalahnya dengan Dong Hyuk. Tanpa alasan yang tak
diketahui Hyun Joon, pipi Gae Yeon kembali menjandi tempat air asin yang keluar
dari matanya. Sesegera mungkin Hyun Joon merengkuh tubuh Gae Yeon.
Di ujung Korea
Selatan kata-kata itu membangunkannya dari tidur.
“bagaimana bisa?”
“memang salahku, hajiman”
Kata-kata itu
pun berhenti ketika Dong Hyuk merengkuh tubuh Seo Jung.
“sudah berapa banyak pria yang menjadi
pacarmu? Mengapa kau mencintaiku?”
Cukup lama Seo
Jung menata keberaniannya untuk mengatakan ini. Tatapannya kosong ke arah jauh di
depannya, ditundukkanya kepala itu. Dong Hyuk menepuk bahunya dan melepaskan rengkuhan
tersebut.
“buat apa kau menyimpan sesuatu yang kini
telah membuat matamu berair? Bukankah di kantor banyak pria yang bisa kau
pilih? Kau cantik, bahkan lebih cantik dari Gae Yeon”
Dalih Dong
Hyuk tak mampu menghentikan air yang semakin membasahi pipi Seo Jung. Seo Jung
tak bersuara. Hanya air mata yang semakin deras. Dong Hyuk memandangnya iba. Ia
rangkul tubuh itu.
“aku mengerti” ucap Dong Hyuk.
“pasti... kau... sekarang sudah...”
“tenangkan dirimu” balas Dong Hyuk
memotong ucapan Seo Jung yang terbata-bata.
Lama Seo Jung
berada dalam pelukan Dong Hyuk. Hingga Dong Hyuk mengatakan yang hampir di luar
akalnya.
Dua anak
manusia itu kini sedang membahas cuaca. Mungkin bagi mereka membicarakan cuaca
lebih santai di banding membicarakan yang lain. Di perjalanannya ke kantor, So
Eun di buat tertawa oleh produser Kim.
“ahh, aku mau bertanya padamu”
“mwo?”
“ah tapi ku rasa aku sudah mempunyai
jawabannya”
Helaan nafas kesal
yang keluar ketika kata-kata seperti itu muncul dari mulut produser Kim.
“kadang dunia indah tanpa surga” ucap So
Eun.
“apa maksudmu?”
Kedekatan itu
semakin terasa. Baik di tempat kerja maupun di lain tempat. Dua orang itu
semakin mengerti satu sama lain. So Eun yang sebenarnya masih ingat dengan
kata-kata yang produser Kim ucapkan kepada Gae Yeon, entah mengapa ia ingin
melupakan semua itu.
Tak lama mobil
itu pun sampai di kantor, saat masuk ke ruangannya, ada Gae Yeon yang sudah
lama duduk di kursi yang ia putar-putarkan.
“aku bingung” cletuk Gae Yeon saat
menyadari ada yang masuk.
“wae? Apakah orang sepertimu bisa bingung?”
balas produser Kim.
So Eun hanya tersenyum
dan duduk di sofa yang berukuran tak sebegitu besar. Ia membiarkan Gae Yeon
berceloteh dengan produser Kim. Di tangannya sudah berada sebuah majalah. Majalah
itu bukan majalah humor, namun So Eun tertawa dan tersenyum semaunya. Hingga Gae
Yeon pun menghampirinya dan duduk tepat di samping So Eun.
“bukankah ini majalah metropolitan?”
tanya Gae Yeon saat menyadari ternyata majalah yang dibaca So Eun bukanlah
majalah humor. Dan tanpa ada jawaban dari So Eun, ia langsung menutup majalah
tersebut dan masuk ke ruangan on air.
“ohh sesange! Haruskah aku musnahkan
orang-orang seperti kalian!” teriak Gae Yeon.
Tak ada reaksi
yang di keluarkan dari orang-orang yang kini sudah memenuhi ruangan tersebut.
Sore yang
indah, Dong Hyuk dan Seo Jung perjalanan kembali ke Seoul. Tanpa perasaan
canggung, Seo Jung memeluk tubuh Dong Hyuk. Seminggu berlalu, banyak hal yang
terjadi diantara mereka. Di pantai itu, Dong Hyuk seakan mampu menekan tombol
tunda antara hubungannya dengan Gae Yeon, ia menerima Seo Jung dua hari setelah
Seo Jung mengungkapkan perasaannya. Entah apa yang ada dalam pikirannya kala
itu, Seo Jung yang awalnya tak percaya di buat Dong Hyuk bahwa hal itu bukanlah
mimpi.
“apa kau bahagia?”
Seo Jung
mengangguk.
“setelah sampai Seoul, bagaimana dengan Gae
Yeon?”
“itu urusanku”
Seo Jung
mengangguk dan tersenyum.
֍
Mobil itu
melaju kencang dan tiba-tiba saja membanting setir ke sisi jalan dan berhenti.
Ia pun menelangkupkan kedua tangannya, mengusapkan ke wajahnya. Ponsel yang
berada tak jauh darinya sedari tadi berbunyi. Ia pun meraih ponsel tersebut. Menekan
tombol yang berfungsi untuk menon-aktifkan dan menghela nafas. Dong Hyuk pun
kembali menjalankan mobilnya dengan sangat kencang.
“semoga hari ini tak seburuk kemarin,”
cletuk Hyun Joon dari belakang Gae Yeon.
“semoga” balasnya.
“apakah hari ini kau sibuk?”
“mungkin”
“sekedar makan malam?”
“gwenchana”
Hyun Joon
tersenyum. Ia tak mengetahui apa yang di alami Gae Yeon semalam. Meskipun Hyun
Joon hanya melihat dari jauh tanpa mengerti apa yang terjadi, ia mencoba
mengibur Gae Yeon sebaik mungkin.
“apakah kau tadi sedia payung?”
Gae Yeon
menghentikan langkahnya.
“jangan berjalan di belakangku, kalau oppa
ingin medahuliku, silahkan” ucap Gae Yeon.
“ani”
Mendengar
jawaban Hyun Joon, Gae Yeon langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Hyun
Joon. Sedikit air mata keluar kembali dari pelupuk mata Gae Yeon. Sesegera
mungkin ia mengusap air mata tersebut. Gae Yeon masih tak percaya dengan alasan
Dong Hyuk padanya semalam. Sejak hari itu Gae Yeon sudah merasa dunia
benar-benar tak berputar pada porosnya. Ia yang melihat Dong Hyuk dan Seo Jung
bermesraan dua hari yang lalu tak pelak membuatnya semakin ingin menggaruk
dunia ini.
“semuanya berubah” bisiknya dalam hati.
Dengan
tangannya yang di letakkan di dadanya, Gae Yeon menghela nafas dengan memandang
ke arah langit pagi itu. Senyumnya melebar.
Seperti
dugaannya, Gae Yeon akan melakukan itu. Anak kecil yang dulunya selalu menangis
dalam pelukannya, kini telah menjadi wanita seutuhnya. Hyun Joon tersenyum
seraya melanjutkan langkahnya.
“jamkkamaneyo” terdengar suara yang
menghentikan langkah Hyun Joon. Ia membalikkan badan.
“apakah kau memanggilku?” tanyannya.
Orang tersebut
mengangguk. Wanita, cantik, dengan rambut hitam pekat yang dikuncir membuat Hyun
Joon bertanya-tanya.
“wae?” tanya wanita tersebut.
“anieyo, apakah aku mengenalmu?”
Wanita
tersebut tertawa. Semakin membuat Hyun Joon bingung.
“aku lupa, Park Seo Jung imnida, ireumi?”
ucapnya sambil mengulurkan tangan.
“Ahn Hyun Joon imnida, annyeong..”
“galke,”
Hyun Joon
mengangguk. Dengan perasaan bahagia, akhirnya Seo Jung bisa berbincang dengan
Hyun Joon, pria yang selalu bersama Gae Yeon yang telah lama ingin ia kenal.
“eomona!” cletuk So Eun melihat
kedatangan Gae Yeon dengan tampilan matanya yang sedikit lebam.
“apakah kau semalam menangis?” tanya So
Eun.
Gae Yeon tak
berkomentar apa pun. So Eun dengan perasaan penasaran meninggalkan Gae Yeon dan
memasuki ruang on air.
“seorang jaksa? Tidak buruk. Tapi sepertinya
dia sudah mengenal Gae Yeon lama, lalu apa-” gumam Seo Jung sambil memasuki
ruang kerjanya.
“eomona! Gae Yeon-aa, ada apa dengan dirimu?”
tanya Seo Jung tiba-tiba.
Hanya helaan
nafas panjang yang diterima Seo Jung. Ia pun melirik ke arah So Eun yang sibuk
mempersiapkan dirinya untuk siaran hari ini.
“hya! Eonni! Ada apa dengan dia?” tanya
Seo Jung terhadap So Eun.
“mollayo, aku tanya dia hanya diam” jawab
So Eun ringan.
Gae Yeon yang
hanya fokus pada pekerjaannya pun tak menggubris berbagai pertanyaan yang dilontarkan
dari mulut-mulut di ruangan itu. Bahkan pertanyaan produser Kim pun tak ia gubris.
Hingga siaran selesai, Gae Yeon tak mengeluarkan suara apa-apa selain suara
bolpoin yang jatuh sore tadi.
Pukul 21.50
kst semua pegawai kantor itu pun pulang. Tak lain Gae Yeon juga keluar dari
kantornya, disusul teman-temannya juga Dong Hyuk.
“ohh, presdir, annyeong..” sapa So Eun.
Langkah Gae
Yeon berhenti. Ia membalikkan badan. Pandangan yang tajam ia lemparkan pada Dong
Hyuk. Namun, Dong Hyuk membuang pandangan itu dalam sekejap, ia berjalan ke
arah dimana ia parkir mobil Dong Hyuk. So Eun di buat penasaran dengan itu.
Namun, presdir Kim yang seolah tak peduli dengan itu langsung mengajak So Eun
pulang.
“oppa!” teriak Gae Yeon.
Dong Hyuk
terus melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan panggilan Gae Yeon. Dengan
langkah kecilnya Gae Yeon berlari menyusul Dong Hyuk. Tak lebih dari 10 menit, Gae
Yeon mendapatkan tangan Dong Hyuk. Memegangnya erat meskipun Dong Hyuk mencoba
melepaskan genggaman tersebut.
“sebenarnya apa yang salah denganku? Jangan
seperti ini, jangan membuatku semakin merasa bersalah karena kau tak
menjelaskannya”
“hya! Choi Gae Yeon! Harus bagaimana lagi aku
bersikap?”
“waeyo?”
“pada hari itu, kudapati kau bersama
laki-laki, bahkan telepon waktu itu mengapa kau menyembunyikannya? Wae?!”
Perlahan Gae
Yeon melepaskan genggamannya.
“aku tak menyembunyikannya, hanya saja itu
tak penting, dia teman sekaligus kakak.”
“oppa katamu?”
“lalu bagaimana denganmu? Mengapa kau setega
ini? Mengapa kau menjalinnya dengan Seo Jung? Wae?!” protes Gae Yeon seraya
air mata yang menyusul keluar.
“aku dengan Seo Jung tak ada apa-apa”
Gae Yeon
tesenyum licik. Sesegera ia mengusap air mata yang membasahi pipinya. Semalam
setelah ia bertengkar dengan Dong Hyuk karena ia di tuduh ingin berpisah
darinya karena Hyun Joon. Dengan banyak kata-kata yang terlontar dari mulut Gae
Yeon mengenai dirinya dengan Seo Jung, Dong Hyuk seakan tak mampu mengatakan
hal lain.
“cincin ini, akan kuberikan padamu. Jika kau
memang sudah lebih baik, mungkin aku bisa menerimamu lagi” ucap Gae Yeon
seraya melepas cincin yang terpasang di pergelangan tangannya dan segera
meninggalkan Dong Hyuk.
Dengan keadaan
yang mencekam, Dong Hyuk langsung membanting ponselnya hingga membuat Gae Yeon
membalikkan badannya dan tak peduli kemudian pergi.
Seo Jung yang
berada tak jauh dari tempat itu pun sangat terkejut dengan apa yang telah
terjadi. Dengan langkah yang sedikit ketakutan, Seo Jung menghampiri Dong Hyuk
dan memeluk tubuh tersebut. Di ujung terdapat Gae Yeon yang melihat hal
tersebut, ia yang berniat menenangkan Dong Hyuk pun kembali mengurungkan
niatnya dan membalikkan badannya dengan tetesan air mata yang kini semakin
membasahi pipinya. Tanpa menaiki bus, Gae Yeon berjalan pulang hingga Hyun Joon
yang berniat ke kantornya mendapati Gae Yeon berjalan dengan keadaan menangis.
“Gae Yeon-aa?” panggil Hyun Joon.
Gae Yeon
membalikkan badannya dan memeluk Hyun Joon erat. Hyun Joon diam. Hingga
akhirnya ia mengantarkan Gae Yeon pulang tanpa bertanya apapun.
Pagi datang. Gae
Yeon memasang raut wajah kecewa yang amat sangat. Sesekali dalam langkahnya ia
menghela nafas besar. Cukup besar. Seperti banyak beban yang dipikulnya secara
tiba-tiba. Matanya pun pagi ini cukup keruh karena banyak air mata yang ia
tahan.
“ohh sesange” ucap Gae Yeon.
Hari ini ia
ingin melewatinya tanpa melihat Dong Hyuk. Setelah turun dari bus di halte yang
dekat dengan kantornya, wanita yang rambutnya sebahu itu pun sesekali
menghentakkan kakinya ke jalanan dan teriak tanpa alasan yang jelas.
Seorang pria
yang masih berada di dalam mobilnya memperhatikan tingkah laku wanita tersebut.
Memandangnya serius hingga tak disadarinya bahwa sosok Gae Yeon telah hilang.
Ia pun menundukkan wajahnya sejenak dan menghela nafas.
“aigoo.. mengapa Gae Yeon-ssi seperti ini?
Hya! Semalam kenapa?” tanya Seo Jung yang pura-pura tak mengerti.
“wae?!” tanya Gae Yeon kembali.
“itu kan sudah menjadi makanan kita
sehari-hari” sambar produser Kim seketika yang juga menyimpan harapan
dibalik ucapannya pagi ini.
“produser memang sangat memahamiku” balas
Gae Yeon.
Seo Jung
langsung memonyongkan bibirnya.
“dasar cabul” cletuk So Eun.
Sontak Seo
Jung pun terkejut dengan perkataan So Eun hingga Seo Jung pun mengeluarkan
komat kamit yang meramaikan ruangan yang berukuran 20 x 15 m tersebut.
“hya! Seo Jung-aa, suaramu ketika marah itu
memang indah.”
“Han So Eun-ssi! Awas kau!” teriak Seo
Jung garang.
So Eun tertawa
lepas sampai membuat perutnya sakit.
“hidup ini memang rumit, ohh sesange...”
cletuk Gae Yeon kembali.
“Gae Yeon-aa, wae?” tanya produser Kim
dan Seo Jung berbarengan.
“eonni, on air akan dimulai, siap?” tanya
Gae Yeon pada So Eun.
“Gae Yeon-aa! Jawab aku!” protes Seo
Jung.
Gae Yeon hanya
tertawa sambil menepuk bahu Seo Jung. Hari ini Gae Yeon benar-benar ingin
menghilangkan beban semalam, dengan menggoda teman-temannya sepuas mungkin.
Namun, keinginan itu seperti debu di terpa angin kencang ketika ia melihat Dong
Hyuk mendatanginya saat ia sedang sibuk dengan on air hari ini. Beberapa menit
terdiam, Gae Yeon meninggalkan ruangan tersebut. Ia mengikuti langkah kemana Dong
Hyuk pergi.
“cincin ini untukkmu” ucap Dong Hyuk.
“simpan saja, itu bukan milikku lagi.”
“apakah kau serius dengan ucapanmu semalam?”
Gae Yeon mengangguk.
“semudah itu kau bertanya itu? Oppa, aku
tidak ingin bermain di dalam ini. Karena aku benar-benar serius denganmu. Tapi,
kau menghancurkan segalanya” dalih Gae Yeon.
“Gae Yeon-aa, mianhae. Aku minta maaf dengan
tulus. Akan kuakhiri semuanya dengan Seo Jung”
“kau jangan seperti itu, biarkan aku yang
terluka. Ohh.. segar sekali udaranya” ucap Gae Yeon meninggalkan Dong Hyuk
begitu saja.
“Gae Yeon-aa”
“jika aku memafkanmu, setelah aku fikir juga,
apakah aku harus menikah dengan pria yang baru saja memintaku kembali hanya
untuk sekedar bermain?”
Pertanyaan Gae
Yeon mengunci mulut Dong Hyuk hingga tak mampu menjawab. Gae Yeon pun hanya
tersenyum pahit dan meninggalkan Dong Hyuk.
Tiga bulan
kemudian, hubungan antara Gae Yeon dan Dong Hyuk semakin memburuk. Api yang
membakar tali itu sudah hampir sampai ujung. Seo Jung yang sudah mengenal Hyun
Joon dan sering berangkat bersamanya, kini tengah bahagia di atas terpuruknya
hubungan Gae Yeon dan Dong Hyuk. Kim Kwang Soo yang juga produser radio itu
lebih bahagia dari Seo Jung. Kini ia sudah mampu menekan tombol enter yang
sudah lama ia idamkan. Selain itu ada juga So Eun yang juga tak kalah
bahagianya, hari ini entah angin apa yang membuat dirinya bisa diajak produser
Kim makan malam. Ia tak memikirkan apakah ia satu-satunya wanita di kantornya
yang bisa makan malam bersama produsernya atau itu hanya sopan santun ia tak
peduli.
“aku pergi dulu” ucap produser Kim.
“ne, deo josimhae” balas So Eun.
Produser Kim
mengeluarkan tangannya dan melambaikannya. So Eun tersenyum.
Di matanya, Gae
Yeon adalah wanita yang ia kenal sejak duduk di bangku SMP dulu. Wanita yang
selalu tertawa meskipun sedang ada masalah. Wanita yang masih lekat dengan rasa
keingintahuan. Wanita yang sudah menjadi teman dan juga adik. Juga sebagai
seorang wanita seutuhnya. Pukul setengah sembilan pagi, Hyun Joon berangkat
tanpa ada Seo Jung. Ia berjalan pelan di belakang Gae Yeon yang sedang ngedumel
sendirian.
“waeyo Gae Yeon-ssi” cletuknya tiba-tiba.
“hya! Oppa! Kenapa muncul tiba-tiba? Dimana
Seo Jung? Bukankah kau selalu berangkat dengannya akhir-akhir ini”
“kau cemburu?”
“mwo mwo mwo! PD sekali kau! Hanya aneh saja,
bukannya biasanya kau bersamanya”
“ani, aku ingin bersamamu”
“sebegitu gampangkah pria berpindah hati?!
Aigoo..”
“bukankah pria memang seperti itu?”
Segala omelan
pun keluar dari mulut masing-masing. Setelah itu pun mereka tertawa. Pagi ini,
Gae Yeon merasa ada yang berbeda dengannya saat tertawa bersama Hyun Joon.
Seakan gelak tawa yang keluar dari mulut jaksa itu dapat mendamaikan segalanya.
Gae Yeon mencoba mengamati tawaan tersebut dalam setiap langkahnya menuju
halte.
“Gae Yeon-aa, mungkinkah aku akan memiliki
cinta Dong Hyuk seutuhnya? Dia bukanlah pria seperti apa yang kau pikirkan.
Hyun Joon-ssi aku mohon, bawalah cinta Gae Yeon padamu” bisik Seo Jung yang
menyaksikan keakraban diantara Gae Yeon dan Hyun Joon dari jauh.
2 tahun kemudian
Setelah banyak
hal yang dilakukannya, hari ini genap satu tahun enam bulan ia menjalani
kehidupan barunya dengan profesi duta wisata. Setelah 5 bulan ia termenung akan
keadaan hatinya juga cinta yang sudah di terpa air pantai. Setelah 3 bulan
selalu pergi ke tempat karaoke setelah bekerja. Setelah mendengar pengakuan
produsernya terhadapnya dan juga kenyataan bahwa sahabatnya menjalin hubungan
dengan mantan tunangannya. Selama itu ia selalu berkomentar pada dirinya setiap
pagi yang di ambil dari seseorang “cuacaku
hari ini biru”.
Hubungan Gae
Yeon dan So Eun kini pun sudah seperti adik-kakak, meskipun So Eun tak
mengetahui kenyataan itu, Gae Yeon sudah cukup bahagia dengan sekarang. Juga So
Eun yang mampu membuatkan ibunya sebuah toko kue yang telah berdiri dua tahun
lamanya.
Pukul delapan
pagi waktu korea selatan, Gae Yeon membuka matanya lebar-lebar. Ia tersenyum,
entah pada siapa. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkan dengan pelan
dan ringan kemudian ia membuka jendela kamar. Dengan senyumannya yang disusul
dengan wajahnya yang menghadap ke arah langit pagi yang tak bertuan.
Di jendela
yang lain, Hyun Joon pun sedang memejamkan matanya ke arah langit yang pagi ini
sangat biru, bersih tanpa awan sedikitpun. Ia tersenyum kecil. Setelah dirinya
kembali ke Seoul beberapa tahu lalu, ia merasa hal terindah di hidupnya adalah
bisa bertemu dengan Gae Yeon.
Di lain
tempat, So Eun yang sudah lebih dari dua tahun lalu menjadi penyiar radio yang
di produseri oleh pria yang sudah lama ia kagumi, sedang mempersiapkan dirinya
untuk pergi ke kantornya hari ini.
“eomma, semoga cuacamu hari ini pink!”
ucapnya sebelum berangkat ke kantor.
“hya! So Eun-aa, jamkkaman”
“wae?”
“igo”
“mwo?”
“untuk teman-teman kantormu”
“ahh, arasseo.. annyeong”
“deo josimhae”
“ne..” teriak So Eun membalas ucapan
ibunya.
Dengan seutas
baju warna orange di padu dengan celana coklat ia berangkat dengan senyuman
bahagia dari bibirnya yang tak berlipstik. Kenyataan bahwa So Eun bukan anak
kandung ibunya, tak membuat So Eun mencari orang tua kandungnya yang tak ia
ketahui dimana keberadaan mereka. Meskipun kenyataan itu sedikit mengejutkan dirinya,
ia mencoba melupakan hal tersebut. Ia tak ingin meninggalkan wanita yang sudah
membesarkannya hingga menjadi seperti sekarang.
Kini mobil produser
Kim selalu berhenti di ujung jalan rumah So Eun. Tidak ada yang mengetahui
mengapa pemilik mobil itu selalu berada disana dan selalu menunggu So Eun. Mungkin
karena ia mengetahui bahwa pengirim surat cuaca adalah So Eun atau yang lain,
entahlah. Padahal semua orang mengerti bahwa dirinya masih mencintai wanita
yang kini telah sendiri juga beralih profesi menjadi seorang pegawai
pariwisata. Namun, tak menutup kemungkinan bahwa dirinya mulai memiliki rasa
pada wanita yang selalu menemaninya setiap hari.
“woahh! Apakah kau sedang bahagia?”
“ne!”
Senyuman itu
melebar setiap melihat So Eun menghampirinya.
Dengan
hari-harinya yang kini telah ia lalui tanpa orang-orang yang membuatnya bingung
dan dengan profesi barunya, Gae Yeon hari ini ada perjalanan gratis ke Tokyo. Dengan
wajah yang amat sangat bahagia. Ia keluar dari rumahnya ditemani dengan koper
berukuran sedang.
Ia memejamkan
mata. Kembali ke satu tahun lalu, ia yang berencana menerima Dong Hyuk kembali,
namun ada alasan lain yang mengurungkan niatnya tersebut. Kenyataan yang sangat
memukul hatinya, ternyata Seo Jung sudah bertunangan dengan Dong Hyuk.
“cinta tak hanya pikiran dan kenangan. Interaksi.
Perkembangan dua manusia agar tetap harmonis.” Bisiknya lirih.
“indah sekali kata-kata itu” sahut
seseorang yang membuat Gae Yeon terkejut dan membuka matanya.
“oppa!” teriak Gae Yeon dan memeluknya.
“apakah kau benar-benar akan meninggalkan
Seoul?”
Gae Yeon
mengangguk. Dengan tatapan serius. Hyun Joon mencoba mencari cinta yang sudah
banyak dimiliki orang lain. Tatapan yang tajam pun membalas tatapan tersebut. Senyuman
itu melebar. Gae Yeon memeluk Hyun Joon.
“mwoya?!”
“ani, hanya perpisahan... kaja!”
Hyun Joon
tersenyum dan memeluk Gae Yeon. Tak lama mobil yang terparkir di depan rumah Gae
Yeon pun melaju menuju ke arah bandara Incheon. Beberapa menit setelah sampai
di bandara, Gae Yeon melihat Dong Hyuk bersama Seo Jung di sudut utara bandara.
Gae Yeon mengehela nafasnya dan melangkah pergi. Hyun Joon melepasnya dengan
senyuman hangat.
“aku merasakan apa yang kau rasa. Yang
mendamba untuk mengalami. Semoga setelah kau kembali ke Seoul, aku masih
memiliki cinta itu.” bisik Hyun Joon lirih dan meninggalkan bayangan Gae
Yeon.
Sejenak Gae
Yeon membalikkan badannya memandang ke arah Dong Hyuk yang tengah bercumbu
dengan Seo Jung. Dan mengalihkan pandangannya ke punggung Hyun Joon yang
semakin lamat-lamat menghilang.
“mungkin lama, namun mungkin juga kau masih
menjadi bagiannya.” bisik Gae Yeong melangkah pergi.
END.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar