Kamis, 31 Juli 2014



맛의 조각

“Kadang, bertemu dengan orang asing itu menyebalkan.
Namun, tak sedikit yang menyukai hal itu.
Beberapa orang mengatakan itu CINTA.
Beberapa orang lagi mengatakan itu MUSIBAH.
Dan beberapa orang juga mengatakan itu SEBUAH KENANGAN.
Di dunia ini, tidak ada orang yang tak pernah jatuh cinta.
Setiap harinya, setengah dari jutaan – bahkan milyaran orang di dunia ini merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta.
Mungkin kau sekarang tengah merasakan hangatnya sebuah rengkuhan orang yang kau cintai.
Mungkin kau sekarang sedang melambaikan tangan padanya.
Mungkin kau sekarang sedang memandangnya di atas altar.
Mungkin kau sekarang sedang menangis – kecewa – tak percaya karenanya.
Bahkan mungkin kau sekarang sedang mencari orang tersebut – semuanya.
Kadang cinta bisa memelukmu lebih indah dari mimpi yang indah.
Kadang juga cinta bisa melepaskanmu lebih buruk dari mimpi buruk.
Cinta. Hal kecil yang selalu menghiasi kehidupan manusia.”

Di bawah teriknya matahari awal musim semi memang sangat indah. Musim semi memang bukan musim favoritnya, tapi ada satu keadaan di musim semi yang sangat ia benci. Alasanya sangat sederhana. Ia tak menyukai sinar matahari itu terlalu menyorot dirinya. Terlebih jika ia harus berjalan kaki dari tempat bekerja hingga halte bus yang akan mengantarkan pulang ke rumah.
Dentum high hells selalu mewarnai lorong sekolah dan suasana kelas 2-3 sebuah SMA di Gwangju. Saat murid-muridnya telat mengumpulkan tugas. Saat salah satu dari muridnya telat masuk. Saat muridnya mulai beromong kosong. Sesuatu hal telah membawanya dari Seoul ke Gwangju.
Karena wajah ayu itu banyak murid laki-laki yang mengidolakan wanita tersebut. Namun, karena insiden dua tahun terakhir, wanita yang usianya lumayan muda itu kehilangan raut wajah yang bahagia. Selain murid di kelasnya, murid yang lain dan rekan kerjanya di sekolah pun menyayangkan hal tersebut. Keadaan seperti ini sangat menyiksanya, membuatnya tertekan – mungkin – mungkin juga mampu membuatnya depresi.

lebih baik sakit karena kau usir lima menit setelah aku datang, dari pada sakit hati karena menolak kedatanganku mentah-mentah. Hari ini aku hanya bisa mengirimkanmu ini, mulai malam ini aku akan belajar agar perjalananku masuk universitas tidak sia-sia. Seperti yang kau bilang sebelum kau seperti ini. Jalja.

Aku sangat mengetahui bagaimana, seperti apa, dimana, karena apa – semuanya, hampir aku ketahui semua tentang wanita itu. Aku adalah muridnya di SMA tempatnya bekerja. Wanita itu tahun ini berusia 28 tahun. Dan aku masuk 18 tahun. Kita berdua memiliki tanggal kelahiran yang sama, jadi aku sangat gampang mengingat hari ulang tahun wanita tersebut.
Seperti yang ku bilang sebelumnya, wajahnya sangat ayu. Di sekolah, dia ibaratkan satu-satunya bunga mawar yang mekar dengan indah. Tapi apa kau tau, bunga mawar yang ku maksud kini telah layu. Insiden dua tahun lalu memang sangat membekas di hatinya, dan tak semudah membalikkan telapak tangan agar ia bisa lupa akan insiden tersebut.
Aku mengenalnya sejak aku duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu kita tak sengaja bertemu di area taman bermain sekolahku. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan disana hingga kita bertemu dan berteman – lebih tepatnya menjadi sepasang adik dan kakak. Kau tahu betapa cantik, ayu, manis, ramah – dan kurasa semua sifat baik saat pertama aku mengenalnya itu melekat padanya.
Saat itu, suaranya yang lembut membuatku selalu rindu jika aku tak mengunjunginya. Meskipun ku tahu di rumah sudah ada kedua orang tuaku, tapi entah kenapa aku selalu merindukan wanita tersebut. Aku bersyukur, aku lahir di dunia ini bisa mengenalnya lebih. Kau bisa menyebutnya ini cinta. Tapi jangan berlebihan.
Park Soo Jin. Jika kau mendengar nama ini mungkin kau menganggapnya dia wanita. Tapi itu namaku, ya itu namaku. Naya. Nama wanita itu lebih cantik dari namaku, Raina Ahn. Katanya, dia sedikit memiliki keturunan Eropa, tapi keluarganya – dari kakek sampai kedua orang tuanya tak ada yang lahir di tanah Eropa. Paling jauh kelahirannya di sebuah provinsi yang berada di timur Seoul, Gangwon.
Jika kau nanti bertemu dengannya, sapa saja dia Raina – atau juga bisa Ahn seongsaengnim. Dia sangat ramah dengan semua orang. Jangankan orang asing, alien yang menyapanya akan ia sambut dengan ramah – dengan rasa terkejut pula.
Sejak insiden yang menimpanya dua tahun lalu, setiap aku berkunjung ke rumahnya, aku selalu di usir setelah lima menit aku datang. Dia tak menolak kedatangannku, hanya saja sesaat setelah ia membuatkanku minum, dan aku belum sempat meminumnya, ia mengusirku pergi. Begitulah sikapnya padaku hingga hari ini. Kunjungan pertamaku dulu sempat membuatnya terkejut, tapi anehnya dia pun tak menanyakan alasan mengapa aku mengikutinya hingga ke Gwangju.
Mungkin kau sedang bertanya-tanya insiden apa yang di alaminya hingga pribadinya berubah. Jika boleh ku tebak, mungkin kau mengira orang tuanya kecelakaan lalu meninggal – atau yang lebih kompleks lagi ia di tinggal meninggal pria yang ia cinta. Tapi sebenarnya bukan itu, ada hal yang lain. Asal kau tahu, orang tuanya sudah meninggal terlebih dahulu sebelum insiden dua tahun yang lalu terjadi. Eomeona! Jamkkamaneyo, akan aku lanjutkan setelah aku selesai mandi. Jamkkaman.
Aku tidak bisa menentukan berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk kembali hidup seperti layaknya manusia. Insiden itu tak hanya merugikanku, tapi juga semua orang disekelilingnya. Setiap ia kebingungan, orang-orang mulai memberikannya pendapat. Dan setiap hari ia menolak pendapat tersebut, terutama pendapatku. Bahkah setelah ia tahu, ia menjadi wali kelasku, ia lebih tak menyukaiku.
Ohh, jam setengah delapan. Geuraesseo, aku harus pergi sekolah. Kau juka akan berangkat sekolah bukan? Atau bekerja, ahh mungkin kau akan sarapan dulu. Hari ini bulan pertamaku ku menjadi murid tahun ketiga. Aku akan sibuk. Jadi aku tidak bisa banyak cerita nantinya.
Tapi jangan khawatir, semuanya akan ku selesaikan.
 Akan ku suguhkan sesuatu yang terjadi dua tahun lalu. Disana juga ada aku. Nanti kau bisa melihat bagaimana peranku disana. Tapi mungkin kau tidak suka peranku saat itu. Tapi, gwenchana. Ingat pesanku, ini aku kutip dari sebuah novel “cinta itu seperti omong kosong. Jika kau ingin bahagia, bahagialah secukupnya. Jika kau ingin menderita, menderitalah secukupnya. Tto mannayo.

2 tahun yang lalu.
noona! Raina noona! Mianhae. mianhaneyo
gwenchana. Ini bukan salahmu.
hajiman, bukankah itu vas pemberian Hae Jin hyeong?
aa, gwenchanayo. Araji?” dengan lembut Raina memeluk tubuh laki-laki itu erat. Ia mengecup keningnya, seakan Raina akan pergi jauh, ia memberikan sebuah pelukan yang sangat erat – amat sangat lama. Bahkan jika mampu menghitungnya dengan stopwatch, itu terjadi dalam kurun waktu 30 menit.
Ia melepaskan pelukan tersebut sesaat setelah suara seorang pria memanggilnya. Ia menghela nafas panjang. Di setiap langkahnya, ia merasa khawatir. Entah kekhawatiran apa yang bernaung di pikirannya beberapa hari terakhir ini.
ohh, noona. Apakah kau akan berangkat bekerja?” seorang anak SMP mendadak menghampiri Raina yang akan masuk ke dalam mobil.
ohh, hyung? Neo?” lanjutnya.
Soo Jin-aa, ne. Apakah kau kenal dia?
geu namja, nuguya noona?
geu sarami, nae namjachinguya
MWO?! HYUNGNIM. NEO!!
Soo Jin-aa, waeyo?
Soo Jin tak menjawab apapun. Wajahnya terlihat garang.
hajiman, Soo Jin-aa, neo ireumi Park Soo Jin. Chagiya, neo ireumi Park Hae Jin. Apakah ini kebetulan atau...
geu saram, nae dongsaeng.” sambar Hae Jin membuat Raina terkejut.
Setelah beberapa jam ia sampai di sekolah. Setelah dentum high hells itu melewati lorong setiap kelas. Setelah semuanya berlalu dengan begitu cepat. Halaman rumahnya pagi ini membuat Raina menyadari sesuatu. Ternyata ada sebuah rahasia dibalik sebuah kenyataan. Ia melihat bagaimana Soo Jin marah karena wanita kakaknya adalah Raina. Ia juga melihat betapa kecutnya raut muka Hae Jin setelah melihat Soo Jin berdiri di depan Raina.
apakah diantara mereka terjadi sesuatu? Bagaimana aku tidak tahu tentang hal ini? bukankah aku mengenal Soo Jin dan Hae Jin sejak 5 tahun yang lalu? Eotteohkae ani arasseo?” bisik Raina sejak jam istrahat di mulai hingga sekarang. Beberapa guru memperhatikannya, di kelasnya tidak ada murid yang menyebalkan.
Ahn seongsaengnim? Apakah malam ini kita bisa makan malam bersama?
ohh. Kkamjjagiya!
Ahn-ssi, mianhaeyo. Aku hanya menawarkan saja. Guru-guru yang lain juga ikut.

Soo Jin sedang dalam perjalan pulang ke rumah. Seperti biasa, Soo Jin yang gemar main game tak mau melewatkan untuk mampir sebentar singgah di warung game online. Kegemarannya itu sering membuat orang tuanya mengeluh. Meskipun ini tahun ketiganya di SMP ia tak pernah melakukan hal yang lebih untuk masuk di SMA.
Sejenak langkahnya terhenti. Ia melihat sebuah sepatu pantofel telah berhenti di depannya begitu saja. Dengan cepat ia menengok wajah orang tersebut. Bukan orang lain, tapi kakaknya, Hae Jin. Hari ini semua alasan untuk kakaknya, Soo Jin tarik semua. Selalu menepati janji, tak pernah berbohong, dan semuanya ia tarik. Mata Soo Jin melotot, menelisik, menerobos masuk ke pikiran Hae Jin. Seakan ia mampu membaca pikiran orang lain, setelah raut mukanya yang memanas, ia surutkan dan tertawa mengejek.
Hae Jin hanya memandang tawaan itu sejenak. Suaranya mulai mengancam. Namun, Soo Jin bukanlah anak SMP yang takut dengan ancaman orang dewasa. Setelah Hae Jin selesai berbicara, mata licik Soo Jin mulai mengintimidasinya. Setelah itu dengan acuh Soo Jin meninggalkan Hae Jin begitu saja.
Kejadian pagi tadi tak pernah terpikirkan oleh Soo Jin. Ia yang mengira wanita Hae Jin adalah wanita yang Hae Jin sebutkan dua bulan lalu ternyata bukan. Wanita itu adalah kenalannya, dan tak pernah, sama sekali tak pernah menjalin sebuah hubungan khusus dengan Hae Jin. Bibir Soo Jin terangkat sedikit saat melangkah masuk ke dalam rumah. Di ujung rumahnya adalah kamar Hae Jin yang sama sekali belum pernah ia masuki.
Soo Jin mencoba menerka-nerka sesuatu. Mulutnya mulai komat kamit. “hoksi, hoksi, dia menyembunyikan sesuatu disana? Ani, ani. Hajiman, ahh~ kenapa aku jadi memikirkan ini? Aigoo” ucap Soo Jin sendirian. Selangkah ia mulai meninggalkan tempatnya berdiri dan melangkah masuk ke kamar. Tetapi pikirannya mulai teringat akan kata-kata ayahnya dulu, bahwa Hae Jin tak sebaik yang ia kira. Dan karena rasa penasarannya yang amat sangat, ia kembali mundur dan memandangnya lagi. “ani ani.” ucap Soo Jin sambil memukul kepalanya sendiri.
mwoya neol? Apakah kau menyadari betapa bodohnya dirimu?
ohh eomma. Kkamjjagiya. Hajiman, pabo? Benarkah kau tadi mengatakan kata itu?
Ibunya hanya mengangguk pelan dengan menyiapkan makan malam hari ini.
hya eomma! Heol!
heol? Jih.” ibunya tertawa sendiri mendengar keluhan Soo Jin. Bagaimana pun Soo Jin yang tak mau belajar untuk persiapan masuk SMA, setidaknya Soo Jin mampu bersikap lebih baik dari Hae Jin. Satu-satunya orang yang Ny. Seo dan Tn. Park harapkan adalah Soo Jin. Bukan Hae Jin.

aku pulang. Gae Woon-aa. Ahn Gae Woon.. Apakah kau sudah tidur? Ini baru jam tujuh malam” Raina terus memanggil nama tersebut, namun setelah beberapa menit, tak ada respon apapun.
Gae Woon-aa
saengil chukkahamnida... Saengil chukkahamnida noona... Saengil chukkahamnida...” Gae Woon tiba-tiba muncul dari balik pintu rumahnya, dan di sampingnya ada Soo Jin yang ternyata merencanakan semua ini.
noona! Saengil chukkahamnida. Ohh.” ucap Soo Jin mengerlingkan matanya.
Raina tergelitik, tersenyum, tak percaya, terharu – semuanya ia rasakan. Melihat para dongsaeng itu mengucapkan selamat ulang tahun mendahului Hae Jin. Wajah kecil dua orang itu seakan mampu melepaskan semua hal negatif yang masih menggantung di pikiran Raina malam ini.
mwoya? Apakah kau akan membiarkan lilinnya meleleh memenuhi kue ini?” protes Soo Jin yang melihat Raina hanya diam memandang Soo Jin dan Gae Woon.
arasseo” Raina meniup lilin tersebut. “ini terlalu dini” lanjut Raina yang mulai mengambil lilin tersebut.
wae? Lagi pula kita ini masih SMP tidak bisa keluar di atas jam 9, uri eomma bisa marah. Kau juga” dalih Soo Jin seperti orang dewasa.
noona, Soo Jin hyeong, apakah malam ini boleh tidur disini?
hyeong?! Sejak kapan panggilan itu kau buat untukku? Heol!
hya! Hya! Soo Jin-aa, saenggil chukkae! Bukankah ini berarti ulang tahunmu juga?” Raina mengusap seluruh wajah Soo Jin dengan krim kue.
waah, Soo Jin hyeong, saengil chukkae...
hya! Gae Woon-aa, jangan panggil aku seperti itu!
hyeongnim?
Raina hanya tersenyum melihat perseteruan itu. Ia seolah kembali ke masa kecilnya yang ia habiskan di Ulsan. Raina pindah ke Seoul setelah ia masuk SMA. Hari-harinya ia habiskan hanya dengan belajar, karena ia tak mau menyia-nyiakan waktu yang ia miliki. Ia pindah ke Seoul saat dirinya masuk tahun ketiga dan bertepatan saat akan masuk semester dua, jadi saat itu waktu yang ia miliki amat sangat mendesak.
Hingga ia masuk di sebuah universitas dan bertemu dengan Hae Jin yang saat itu juga mengambil jurusan yang sama dengan Raina. Juga bertemu dengan Soo Jin saat menjemput adiknya pulang dari sekolah. Mulai dari situ, hari-hari Raina mulai ramai dengan omelan Soo Jin bak seorang wanita. Setiap pagi, saat Soo Jin akan berangkat ke sekolah, selalu menyempatkan waktunya mampir sebentar untuk mengunjunginya.


Tak selamanya ia harus terpuruk dengan keadaannya yang seperti ini. Aku sangat ingin menemukan dimana kkangpae itu berada. Tapi untuk sementara waktu aku harus fokus untuk sekolahku. Akhir-akhir ini aku ikut kelas malam agar aku bila pulang bersamanya – lebih tepatnya bisa mengikutinya pulang.
Rumah yang ku tempati sekarang sama seperti di Seoul dulu, jaraknya hanya sekitar 10 meter saja. Sebulan yang lalu, di sekolah ini ada dua seonsaengnim baru, dia mengajar bahasa inggris dan etika. Di banding dua kelas itu, aku lebih menyukai kelas yang ada dia. Setidaknya aku bisa memandang wajahnya dengan suaranya yang kini semakin lembut.
Setiap ia tidak masuk, semua warga SMA ini menyayangkannya, apalagi beberapa hari ini ia baru saja kembali dari perjalanannya ke Daejeon. Aku tidak tahu apa yang di lakukannya disana. Yang jelas dia kini telah kembali ke Gwangju.
Otakku yang bekerja dengan cepat, dan dugaan itu ternyata benar bahwa salah satu dari seongsaengnim itu mencoba mendekati Ahn seongsaeng. Dan anehnya, pria itu disambut baik olehnya, saat pria itu mengajaknya makan malam bersama. Hal itu sukar jika di sebut dengan kata dinner. Karena itu bersama guru-guru yang lain.
hya! Soo Jin-aa, apa rencanamu untuk tahun ketiga ini? Apakah kau akan setia dengan perpustakaan atau komputermu?
Di sekolah ini, sebelum aku mengetahui dan bertemu bahwa Raina noona mengajar disini, aku terlebih dulu bertemu dengan geu yeoja. Dia menjadi tetanggaku sejak awal aku pindah ke Gwangju. Dia lari dari rumahnya yang ada di Jeju bersama kakak laki-lakinya yang wajahnya lebih cantik dari dia. Awalnya aku kira mereka lari ke Gwangju karena membuat kesalahan yang fatal, nyatanya mereka lari ke Gwangju karena orang tuanya akan mengirim mereka berdua ke Amerika. Aku tidak ingin tahu lebih dalam, karena itu tidak penting.
Dia juga selalu mengikutiku, entah kita di masa lalu pernah bertemu atau apa, yang jelas dari pertama kita bertemu dia seperti mengenalku lebih dari ia mengenal kakaknya. Dia adalah satu wanita yang sangat tidak ku sukai, tapi juga satu wanita yang selalu ku rindukan. Tapi rindu itu tak melebihi rinduku pada Raina noona.
Mereka sangat akrab dengan keluargaku, karena mereka sering membantu keluargaku saat kesusahaan. Jadi meskipun kita baru kenal dua tahun, ayah dan ibuku mengganggap mereka anaknya sendiri. Tapi sebenarnya, jika aku harus menjadi saudaranya, aku sangat enggan. Dia terlalu tomboi untuk ukuran seorang wanita. Bicaranya juga sering belepotan, kurang di atur. Aku juga tidak suka namanya, harusnya nama itu buatku, dan namaku – tidak untuknya, terlalu cantik. Dan aku juga tidak suka karena marga keluarga kita sama.
ada apa dengan pandangan itu?! hya! Park Soo Jin!
Suaranya sangat keras. Bahkan jika kau berlomba teriak dengannya, yang ada pita suaramu yang putus. “wae! Berisik!
uhh... Apakah kau akan benar-benar mengambil jurusan hukum?
Aku tidak berpikir bahwa ia akan mengambil jurusan yang sama denganku. Mengapa dia tidak sekolah di sekolahan seni saja jika suaranya senyaring itu. “waeyo?
kau jalan apa berlari? Mengapa malam ini langkahmu cepat sekali?
Malam ini aku sangat kesal karena aku tida bisa berada di belakang Raina noona. Hanya gara-gara kendala makan malam yang sedang berlangsung. Di tambah wanita yang suka ingin tahu akan semua kehidupanku. Inilah sifat buruknya yang pertama, jika ada orang bertanya padanya, dia malah kembali bertanya.
Park Soo Jin! Soo Jin-aa! Yeosmeokeora!
hya! Mengapa kau memukulku! Aigoo.
aku tanya!
aku juga tanya mengapa kau bertanya jurusan yang akan ku ambil besok?
aku juga ingin kesana. Kau daftar di universitas mana?
semua universitas yang tidak ada dirimu! Sudahlah, aku harus pulang.
Dugaanku benar. Dia tidak ahli dalam hukum, hari-harinya saja selalu dipenuhi dengan onar. Aku tidak tahu bagaimana orang seperti dia bisa masuk di sekolah favorit seperti ini. rasanya harus ku sarankan dia harus belajar tentang seni. Atau paling cocok ilmu ekonomi. Dia selalu perhitungan dengan angka – itu sifat buruknya yang ketiga. Yang kedua, dia selalu memukul orang-orang yang tidak menjawab pertanyaannya, untung saja jika guru tak menjawab pertanyaan yang ia lontarkan, dia tidak memukulnya seenak hati.
neo!” aku mengacungkan jariku tepat di depan matanya. Hal ini sudah sering ku lakukan. Tapi tak membuatnya pergi.
omo! Kkamjjagiya! Wae? Naman wae?!
jangan di belakangku. Jangan juga di depanku.
hya! Bagaimana aku bisa pulang?! Kenapa kau seperti wanita? Aigoo.
Pulang jika bersamanya adalah mimpi buruk bagiku. Terlebih jika orang tuaku mengizinkannya ikut sarapan di rumah. Kakaknya memasakkan untuknya stiap pagi, tapi dia selalu ingin sarapan satu meja dengan keluargaku. Aku tidak tahu apa motifnya, aku juga tidak yakin jika dia tidak memiliki motif apapun di balik sifat anehnya itu. Aku hanya perlu jaga jarak dan berhati-hati.

Ini musim semi yang kedua yang kulewati di Gwangju. Dan hari ini, untuk yang pertama kalinya selama aku tinggal di Gwangju, aku melihat Raina noona di jemput oleh pria itu. rasa penasaranku mulai timbul, apa yang terjadi pada makan malam semalam. Bagaimana bisa dia berangkat dengan Raina noona.
dorr! Soo Jin-aa, kau melihat apa?
kau adalah mimpi buruk bagiku. Aku pergi dulu. Jangan ikuti aku.
Park Jeong Hun-aa! Oppa lupa sesuatu.
Kau dengar, itu kakaknya yang memanggil. Seperti yang ku bilang, namanya lebih – lebih cocok untukku. Kakaknya menjadi seorang akuntan di sebuah perusahaan ternama di Gwangju. Hebat bukan. Aku dulu juga sempat ingin menjadi seorang akuntan, tapi seiring perjalanan hidup yang ku alami, aku ingin menjadi seorang anggota kepolisian.
bukankah itu jam tangan yang di pakai Hae Jin dua tahun lalu?” bisikku curiga. Karena aku tidak suka penasaran, dengan langkah cepatku aku bertanya pada oppa wanita itu. Ini kali pertamaku menyapanya, kali pertamaku bertatap muka dengan pria yang memiliki tinggi sekitar 180 cm tersebut.
jam ini aku beli saat pelelangan, wae?
hyeongnim jinjja? Jeongmal?
ohh? Hyeongnim? Kau memanggil kakakku dengan sebutan itu?
Rasanya ingin ku sumpal mulut besar itu dengan sepatu. Bukankah panggilan itu wajar karena aku lebih muda 10 tahun di banding pria ini.
ohh, aku membelinya di pelelangan. Yang punya adalah pemilik warung ayam di dekat sekolahmu, karena ini merk yang langka, jadi aku berani membelinya dengan harga mahal. Apakah kau kenal dengan jam ini?
Soo Jin-aa, mengapa kau bertanya tentang jam yang dipakai uri oppa?” wanita itu ikut bertanya di sela-sela obrolanku dengan Jeong Min hyeong.
kapan hyeongnim membelinya?
sekitar 1 tahun yang lalu
gomapgo. Galke.
Rasanya aku akan mengetahui keberadaan orang itu. Ku rasa dia sedang berada di Gwangju saat itu, dan kemungkinan besar dia menyuruh pemilik warung ayam itu untuk melelangkan jam tersebut. Dia adalah penggila barang langka. Tidak ada orang lain yang ku kenal selain dia. Wanita itu masih menggerutu di belakangku sejak berangkat tadi. Mulut itu tidak ada lelahnya, aku penasaran makanan apa yang ia makan tadi pagi.

Aku melihat Raina noona keluar dari mobil Jeong seongsaeng. Raut muka sama seperti biasanya. Tidak kecut – tidak manis pula. Bisa di simpulkan dia ikut dalam mobil itu karena sopan santun. Hanya tata krama. Di saat seperti ini, aku ingin masuk bersamanya, tapi wanita yang di sampingku sekarang selalu menghalangi. Bisa di bayangkan, jika nanti aku memiliki pacar, dan keadaan saat itu aku masih mengenal yeoja ini, akan ku pastikan itu adalah hal yang sangat buruk yang terjadi di hidupku.

2 tahun lalu. Malam ulang tahun Raina Ahn.
Selama Raina mengenal Hae Jin hingga hari ini, Raina tak pernah mendengar bahwa Hae Jin memiliki seorang adik. Bahkan dari teman di kantornya pun tak ada yang membicarakan hal tersebut, begitu pula Hae Jin.
Soo Jin-aa, apakah kakakmu pernah bercerita tentangku?
mengapa bertanya dia padaku? Tanya saja padanya
apakah kalian kalau di rumah tidak pernah berbincang-bincang?
anida. Gae Woon-aa, apakah aku benar-benar malam ini akan tidur disini?
ne. Tapi kau harus mau ku panggil dengan sebutan “hyeong”. Ara?
mwoya. Ne ne ne!
jamkka Soo Jin-aa, mengapa kau tidak pernah berbicara dengan Hae Jin?
anida. Anigeottaen!
arasseo. jalja.
Raina mulai menyimpulkan semuanya. Jika Hae Jin tidak bercerita tentangnya pada Soo Jin, kemungkinan besar Hae Jin juga tidak bercerita tentang Raina pada ayah dan ibunya. Sekarang, sudah tahun kelima ia mengenal Hae Jin, dan tahun kedua ia dan Hae Ji berpacaran.
bukankah dia bilang dia sering cerita kepada keluarganya tentangku?


Hari ini aku masih bisa berjalan di belakang Raina noona, tapi hal buruk menimpaku sekarang. Gyuranja itu mencegahku menaiki bus yang sama dengan Raina noona.
ssip
ssipal! Mengapa tak kau lanjutkan?
hya! Neo! Gada! Aish jinjja.
Jika aku bisa mengurungnya, aku akan mengurungnya dan akan melepaskannya saat aku sudah tua. Wanita ini sangat menganggungguku. Bisa kau bayangkan jika hidupmu selalu di tempeli wanita seperti dia. Gyuranja ini, ibarat serangga yang tak punya bunga lain untuk disinggahi.
Soo Jin-aa. Mari makan dulu, ayam dengan bir. Ahh ani ani. Ayam dengan cola. Otte?
shirreo! Arasseo?!
Setiap aku gusar. Setiap aku teriak. Setiap aku berlaku kasar padanya, dia hanya menghela nafas kemudian membujukku kembali. Jika seperti ini, dia juga bisa menjadi baby sister.

Aku menggaruk kepalaku. Entah mengapa malam ini aku terpikirkan hal tersebut. Saat Hae Jin di beritakan telah membunuh seorang anak, ayah dan ibuku tak peduli begitu saja. seolah-olah Hae Jin pernah melakukan ini di masa lalu. Saat aku meminta pindah ke Gwangju pun mereka menurutiku, meskipun aku harus merengek dulu. Tapi aneh jika baik ayah maupun ibuku tidak menangisi Hae Jin.
Dari bayangan kamarku, terlihat bayangan ibuku memasuki kamar ini. Dia membawakan kue. Sudah lama hal ini tidak terjadi.
apakah eomma tidak rindu dengan hyeongnim?
buat apa merindukannya. Yang di depan mataku sekarang adalah kau.
hajiman eomma, dia juga kan anakmu
Mata ibuku memandangku dalam. Dia menghela nafas panjang. Dalam beberapa detik saja, dia sudah duduk di atas tempat tidurku. Dia kembali menghela nafas dan mulai menceritakan kejadian masa lalu. Aku dan hyeongi terpaut usia 10 tahun. Saat aku lahir, ketika umurku 8 tahun, dia mencoba menenggelamkanku ke dalam kolam. Itu yang pertama, yang kedua, masih di umur yang sama, ia mencoba untuk membunuhku diam-diam. Ibuku tak mengerti motifnya apa – kenapa sampai dia ingin membunuhku.
Cerita itu berakhir saat aku akan menenggelamkan kesadaranku di atas bantal, ku rasa cerita itu belum selesai, namun aku tidak akan meminta kelanjutannya karena dilihat dari raut wajah ibuku semalam, dia ingin membuang semua hal yang terjadi saat itu. Memang benar, kadang seburuk dan seindah apapun kenangan itu, jika ingatan kita tajam, dia akan terus berada disana.

Dengan seragam sekolahnya, pagi-pagi buta dia bertamu ke rumahku. Siapa lagi jika bukan adik dari tetanggaku. Sifat dia dan kakaknya berbeda. Sangat berbeda. Bagikan langit dan bumi. Mungkin dulunya orang tua wanita ini ingin anak laki-laki lagi, berhubung yang lahir adalah perempuan, maka hanya namanya saja yang dijadikan pria.
Jeong Hun-aa, wahh penampilanmu pagi ini indah sekali
kamsahamnida eomeoni. Aku kesini hanya memberikan ini,
mwoya igo?
ini untuk abeoji, bukankah hari ini dia ulang tahun? Semalam aku bertanya padanya
Bahkan dia tahu ulang tahun ayahku. Aku saja belum sempat memberikan hadiah untuk ayahku sendiri, tapi aku di dahului olehnya. Tinggal ibuku yang juga akan ulang tahun bulan depan. Semoga saja bulan depan dia tidak berada di hadapanku. Dia kesini juga sekalian mengajakku berangkat sekolah. Tapi jam tujuh itu masih terlalu pagi, perjalananku ke sekolah hanya butuh 20 menit saja.

2 tahun lalu. Malam ulang tahun Raina Ahn.
Di tengah ia sedang mencoba mencari jawaban itu sendiri, tiba-tiba bel rumahnya berbunyi. Tepat pukul 10 malam.
Hae Jin-aa..
saengil chukkahamnida.. Mian terlambat.
gwenchana, kaja. Ahh, aku ingin bertanya satu hal padamu
Hae Jin sedang menikmati suasana ia menuangkan segelas anggur. “mwo?
mengapa kau mengatakan kau tidak memiliki adik?
Hae Jin berhenti menuangkan anggur. Memandang wajah Raina dalam.
apakah kau mau tahu tentang hal itu? Apakah kau tidak takut dengan apa yang terjadi dengan adikmu jika kau bertanya tentang keluargaku?
hajiman, bukankah bulan depan kita akan bertunangan? Bagaimana bisa aku tidak mengetahui semua tentangmu?
kau tahu kan aku sangat tidak menyukai keluarga itu.
wae?
hari ini kau benar-benar mempunyai keberanian. Apa kau benar-benar tidak menyayangi adikmu?
Park Hae Jin! Museun iriireo nassneunga?
apa yang terjadi denganku?
Raina mengangguk. Jari-jari tangannya mulai mendingin. Badannya terlihat gemetar. Ini kali keduanya Hae Jin marah. Dan ini yang paling parah. Ia tahu pribadi Hae Jin yang pemarah, tapi ia tidak menyangka jika ditanya tentang keluarganya akan semarah ini.
kau benar-benar ingin tahu?
Raina kembali menggangguk. Hae Jin memungut botol anggur dan memecahkannya. Raina semakin takut.
MWOHAEUNGEOYA PARK HAE JIN!!!” teriak Raina keras.
Di sudut lantai dua rumah Raina yang gelap, ada Soo Jin yang diam-diam mengintip kejadian malam ini. Ia tak menyangka bahwa Hae Jin bisa melakukan itu pada Raina. Meskipun Soo Jin sangat membenci Hae Jin karena telah berbohong padanya, ia masih mengampuni kebohongan tersebut. Tapi malam ini Soo Jin benar-benar ingin menghukum kakaknya dengan tangannya sendiri.
Raina adalah seorang wanita yang ia cintai, tapi karena pacar Raina adalah Hae Jin, ia mulai menyudahi perasaan anehnya itu. Sejenak, ia kembali melihat Hae Jin menampar Raina. Dengan mata melotot Soo Jin berdiri dari tempat persembunyiannya, namun tetap tak terlihat.
Sementara Gae Woon yang sudah tertidur pulas pun terbangun setelah mendengar pecahan botol tersebut. Ia mulai melangkah keluar dari kamarnya, dan turun menghampiri suara tersebut. Dan Soo Jin yang juga akan menampakkan dirinya, terkejut karena Gae Woon turut keluar dari kamarnya.
noona, museun iriya?
Gae Woon!” suara Raina mulai takut. Pengakuan yang di buat Hae Jin beberapa menit yang lalu, setelah kemunculan Gae Woon, Raina semakin takut.
Dengan cepat Hae Jin mengampiri Gae Woon yang masih dalam keadaan tidak sadar. “apakah kau akan melindungi anak ini?
neo! Yang kau inginkan aku, bukan dia. Biarkan dia
Ahn Gae Woon. Raina Ahn, kalau dia tetap disisimu, pasti ini akan sulit untukku
Suasana dalam ruangan itu semakin menakutkan, Soo Jin yang awalnya akan menampakkan dirinya kembali bersembunyi karena Hae Jin mulai garang. Dengan tangan yang gemetar, ia mengambil ponsel yang berada dalam kantung celananya, ia mencoba menelpon Hae Jin, tapi panggilan itu tak diangkat.
Dan semakin paniknya, Soo Jin mulai menelpon rumah Raina, dan hal itu juga tak berhasil. Ia tak mempedulikan suara yang membuatnya semakin panik. Ia mencoba menghubungi orang-orang yang ada di ponselnya tersebut. Dan saat akan menekan tombol panggil pada nama ayahnya, suara pecahan botol dan teriakan nama Gae Woon mengejutkan Soo Jin. Dengan mata telanjang, Soo Jin melihat Hae Jin memukul kepala Gae  Woon.
Gae Woon-aa! Ireona! Ireona Gae Woon-aa! Ireona!
noo-noo-noona
Gae Woon-aa, jamkkamaneyo, noona akan memanggilkan 119. Kau tidak boleh meninggalkan noona
apakah kau akan memanggil 119? Panggil dengan ponsel ini” ponsel yang tadinya tergeletak di atas meja itu pun dengan kerasnya di banting oleh Hae Jin.
hyeong! Mwohaeungeoya!” suara Soo Jin mengejutkan Hae Jin.
ternyata kau bukan manusia. Uri appa, jeongmaloeyo. Kau tak sebaik yang ku kira!
Wajah garang Hae Jin berubah menjadi sebuah ketakukan saat Soo Jin tengah berdiri tak jauh dari tempatnya.
Soo Jin-aa. Mwohaeungeoya?! Cepat panggil 119
ne
Belum sempat menekan tombol panggil, Hae Jin yang ketakutan pun mendorong Soo Jin hingga terjatuh dan ia pun melarikan diri.

Pemakaman itu berlangsung khitmat. Raina masih dalam keadaan tak percaya bahwa yang membuat Gae Woon meninggal adalah pria yang ia cintai selama ini. Pria yang baginya lebih baik dari pria lain. Dan seorang pria yang mempunyai kepribadian ramah pada semua orang. Namun, seseorang yang mati-matian ia kenal selama lima tahun itu, hanya dalam waktu semalam, semuanya bisa berakhir. Sekarang pun polisi masih belum mengetahui keberadaan Hae Jin. Bahkan setelah melarikan diri semalam, Hae Jin tak kembali ke rumah. Ponselnya pun sudah tidak aktif. Raina benar-benar tidak menyangka akan ada hal seperti ini terjadi. Kekhawatiran itu telah terjawab.
noona. Mianhamnida. Jeosonghamnida
pergi kau dari sini!
noona, Raina noona, aku akan menangkapnya
apa kau tuli. Bakke! Bakke! Bakkeyo!
Dengan kekecewaan, Soo Jin keluar dari rumah Raina. Beberapa hari ia tak mengajar. Dan rumahnya pun masih dalam keadaan yang sama. Ia masih terdiam dengan kesunyian yang ada di rumah tersebut.

Beberapa minggu kemudian, Raina pindah ke Gwangju dan mengajar disana. Dengan langkahnya yang lesu, ia meninggalkan rumahnya – juga percakapan panjangnya dengan Hae Jin malam itu masih dengan nyata teringat.
Soo Jin yang berencana mampir siang itu terkejut dengan pernyataan tetangga Raina. Wanita ayu itu telah pindah ke Gwangju, sebuah kota yang sangat jauh dari Seoul. Dengan langkahnya yang cepat, ia berjalan pulang dan meminta orang tuanya untuk membatalkan niatannya untuk mendaftarkan Soo Jin masuk di SMA faforit di Seoul. Ia meminta agar dirinya di daftarkan di salah satu sekolahan di Gwangju.
Kedua orang tuanya pun terkejut dengan pernyataan tersebut. Namun, karena Soo Jin terus menerus merengek, akhirnya keluarga itu pun pindah ke Gwangju. Dan pekerjaan ayahnya yang ada di Seoul terpaksa ditinggalkan.


sebenarnya, semalam bumi berputar kemana? Kenapa malam ini juga dia pulang dengan pria itu?” aku menelisik sendirian dari kejauhan. Dan sejenak aku melihat wanita itu mendatangi dua orang tersebut. Aku kira apa, dia memberikan buku yang ia pinjam siang tadi. Tapi jika di perhatikan, mereka bertiga sedang membicarakan sesuatu.
Jeong seongsaengnim, Ahn seongsaengnim, apakah aku bisa minta tolong pada kalian berdua?
mwoya?
bantu aku agar aku bisa masuk di satu universitas yang sama dengan Soo Jin.
yang kau maksud Park Soo Jin muridku?
Jeong Hun mengangguk. Terlihat Raina heran. Tergambar betul jika dia telah memasang raut wajah heran. Aku semakin penasaran dengan percakapan tersebut. Inilah waktu yang ku benci, saat aku mengikuti orang, dan dia sedang berbicara dengan orang lain. Kesalahannya terletak pada jarakku yang selalu terlalu jauh dari tempatnya berada.
bukankah kau direkomendasikan oleh wali kelasmu di jurusan ekonomi?
kalau Ahn seonsaeng tidak bisa setidaknya Jeong seongsaeng bisa? Aah?
baiklah, aku akan membantumu, tapi aku lebih bisa di bahasa
Ahn seongsaengnim..
Tak lama Raina pun ikut menggangguk. Jeong Hun gembira setengah mati. Karena Raina noona dan Jeong seongsaeng naik mobil, akhirnya aku akhiri rasa penasaranku malam ini. Barangkali aku menemukan jawabannya dari gyuranja itu.
Malam ini warung ayam yang di sebutkan oleh kakak Jeong Hun ku temukan. Ternyata warung itu ada tepat di sebelah utara sekolahku. Ini juga kali pertamanya aku masuk di sebuah warung dimana pengunjungnya rata-rata orang dewasa. Dan jika aku tidak salah menebak, Jeong Hun si gyuranja itu sedang berada tak jauh dari tempat warung ini.

Aku kecewa. Amat sangat kecewa. Satu tahun itu waktu yang sangat singkat jika warung ini telah berganti pemilik. Tapi alasannya memang masuk akal, tak ada yang tahu umur manusia. Pemilik sekarang adalah orang yang membelinya dari anak pemilik sebelumnya. Aku sangat ingin menemui anak pemilik sebelumnya, sayangnya dia sekarang tidak di Korea.
hya! Laki-laki cantik, apa yang kau lakukan di dalam?
Betul dugaanku. “mencari yang di katakan niga oppaga.
memang apa arti jam tangan itu?
pemilik sebelumnya membunuh adik Raina noona
Raina noona? Yang kau maksud Ahn seongsaengnim?
Dan dari beberapa langkahku tadi aku baru sadar, aku telah menceritakan insiden dua tahun lalu.
apakah kau mengambil hukum karena kau ingin menangkap pelakunya? Apakah di masa lalu kau pernah dekat dengan Ahn seongsaengnim?
kaja. Busnya sudah datang
Wanita ini. Aku sarankan padamu, jika kau bertemu dengannya di masa depan, jika kau ingin rahasiamu tidak diketahui oleh wanita ini, jangan menceritakannya sekecil apapun kau ingin cerita. Karena wanita ini jika ia mengetahui suatu hal yang membuatnya terkejut, jika kau tidak menyelesaikan ceritamu, kau akan di kejar hingga dia menemukan jawabannya. Seperti malam ini.
Aku benar-benar diluar kesadaranku saat mengatakan itu. Aku juga tidak mengerti mengapa polisi belum menemukan keberadaan kkangpae tersebut. Bukankah dia tipe pria yang gampang untuk di temukan. Aku juga penasaran kenapa Raina noona menerima jabatan tangan Jeong seongsaengnim, karena selama ia mengajar di sekolahku, tak ada sejarah dia kembali dekat dengan pria lain.
Dan malam ini, keingginan aneh wanita itu mulai kembali muncul. Jelas orang tuaku tidak mengizinkannya, bagaimana mungkin dia ingin tidur satu kamar denganku. Sekarang aku benar-benar menyebutnya gyuranja.
kamarmu benar-benar rapi.” ucapnya saat dia melihat isi kamarku. Dengan bau wangi yang ia cium setelah ia masuk, suasana hangat yang ia rasakan, sepertinya ia kagum dengan tempat ini. Dan bisa dikatakan bahwa kamarnya tak serapi ini.

Sinar matahari pagi tiba-tiba membangunkanku. Sejenak, aku melihat wajahnya lebih indah jika ia tidur di banding saat ia bangun. Sinar matahari pagi ini menyorot wajahnya. Tapi tetap saja, dia gyuranja yang ku temui sejak dua tahun lalu. Suara ponselnya berbunyi, dan betapa terkejutnya jika kau juga ikut melihat wallpaper yang terpasang. Itu gambar langit senja dengan siluet empat orang. Yang berambut panjang itu pasti dia. Disana juga tertulis sebuah kata yang membuatku merinding.
aku ingin melihat senja seperti ini bersama kalian dan dengannya.
Jendela senjaku di Gwangju sudah lama tak terlihat.
Berbeda dengan di Jeju, aku bisa melihatnya kapan saja.
Kau tahu kan betapa indahnya senja saat itu.
Untuk maniak senja. Senja ini bukanlah yang terindah.
Tapi aku yakin, tak ada siluet seindah siluet ini.
Untukmu, uri eomma. Uri appa. Uri oppa. Saranghae.
Saat aku pertama pindah kesini, cinta itu masih utuh.
Tapi setahun yang lalu, seorang namja sedikit merebutnya. Gwenchana?

Jika aku bisa melihat wajahnya saat ini dengan wallpaper yang terpasang di ponselnya, itu berbeda 180° sepertinya 180° itu terlalu kecil, ku rasa 360°. Bisa kau lihat dari perilakunya sehari-hari. Kasar, tidak tahu sopan santun, suka mengejek, tak peduli – semuanya. Tapi jika ku lihat lagi di kalimat yang ada di ponselnya tersebut, alasan yang ku sebutkan sebelumnya tidak masuk akal sama sekali.
bagaimana bisa?
mwoya?
kau jangan dekat-dekat denganku.
kau belum menjawab pertanyaan semalam. Waeyo?
hya! Jeong Hun-aa. Nan-
uhh. Kau menyebut namaku. Wahh!!! Hari apa ini? apakah aku akan mendapat keberkahan dari Tuhan?
aku masuk dulu!
dia malu.
Apa yang sedang terjadi pada diriku sejak semalam sangatlah aneh. Aku belum pernah memanggil namanya sejak kita bertemu dua tahun lalu. Dan hari ini aku memanggilnya bukan dengan sebutan gyuranja tapi dengan namanya, Jeong Hun. Sepertinya otakku ini harus di service beberapa jam.
Di sekolah ini, beberapa minggu terakhir ini gyuranja itu sangat terkenal. Karena tersiar kabar, dia akan mengikuti audisi sebuah agency yang terkenal di Seoul. Tapi menurutku, kabar itu hanya kabar angin saja, buktinya sekarang dia sedang serius di perpustakaan.

Seperti biasa, Ahn seongsaengnim suka sekali mengabsen murid di kelasnya, padahal sekolah ini sudah di lengkapi dengan absen elektrik sebelum masuk kelas. Tapi dia sangat suka mengabsen secara manual. Mungkin itu yang ia lakukan di sekolah sebelumnya, jadi sudah menjadi kebiasaan.
Hari ini, tepat pukul 2 siang menit ke 52 detik ke 35 hari selasa. Untuk yang pertama kalinya setelah dua tahun insiden kematian adiknya, Raina noona – ahh bukan, Ahn seongsaengnim, memanggilku untuk ke ruang guru setelah pelajaran ini berakhir. Aku sangat menunggu momen ini. Sudah lama aku merindukan suaranya saat berbicang-bincang denganku.

Pukul setengah lima sore, perbincangan panjang antara aku dan Raina noona berakhir. Dia bertanya study yang akan ku lanjutkan, karena sebentar lagi libur musim panas dan siap memasuki semester akhir. Aku tak mengatakan bahwa aku akan belajar hukum. Ku bilang aku akan mengambil sastra. Tapi dari raut mukanya, sepertinya dia sudah mengetahui bahwa aku akan belajar hukum. Maka dari itu dia tidak kembali menanyakan apa alasanku mengambil sastra.
Dan setelah dia pergi meninggalkanku di ujung ruang guru ini, saat aku akan meninggalkan tempat dudukku, aku di buat kagum oleh langit senja yang tak sengaja ku lihat sore ini. selama umurku 18 tahun ini, ini juga yang pertama kalinya aku melihat senja. Tapi bukan karena aku telah melihat wallpaper itu, hanya saja senja ini memang indah.
Dari sudut jendela ini juga bisa ku lihat gyuranja itu sedang berbincang dengan berdiri bersama angin yang menghembuskan beberapa helai rambutnya yang coklat. Sekarang, sama seperti dia saat tidur, dia indah. Cantik. Tapi ini bukan pujian untuk gyuranja itu, untuk wanita yang tengah berjalan ke arah gyuranja itu, Raina noona. Tunggu sebentar, beberapa menit yang lalu Raina noona bilang ia akan menemui seseorang. Orang itu adalah gyuranja itu. Juga Jeong seongsaengnim sekarang hadir disana.
apa yang sedang mereka bicarakan?” bisikku pelan. Aku sangat penasaran dengan apa yang terjadi disana. Tapi untuk kesana itu sangatlah tidak mungkin. Dan saat aku akan meninggalkan meja Ahn seongsaengnim, aku melihat sesuatu yang ganjil di meja ini. Setelah aku menengok kanan kiri, aku kembali duduk. Di sebuah buku, jika kau buka itu bukan buku asli, itu sebuah kotak yang disamarkan menjadi buku. Disana terdapat foto kkangpae itu dan Jeong seongsaengnim.

Ahn seongsaengnim
ohh, Soo Jin-aa. Waeyo?
apakah aku bisa berbicara denganmu?
silahkan
Aku mengajaknya meninggalkan sekolah ini lebih cepat. Tapi aku tidak mencari tempat yang jauh, beberapa langkah dari rumah Raina noona. Wajahnya hari ini sedikit sumringah, aku tidak tahu sedang terjadi apa padanya, yang penting sekarang aku bisa mengobrol dengannya. Dengan keberanianku, aku menunjukan dua foto dengan orang yang ku rasa mirip.
Saat dia melihat foto itu, dia terkejut. Dengan pelan aku mulai bertanya yang tidak ku ketahui.
noona! Daedapae. Noona!” teriakku.
apakah mereka orang yang sama?
NOONA!!” hingga aku teriak bagaimana pun dia tetap diam.
arasseo, mereka orang yang sama. Wae?
Setelah aku mengeluarkan pertanyaanku yang kesekian kalinya, aku mulai diam. Membiarkan Raina noona berpikir. Mungkin aku terlalu  keras dengan ucapanku.
Setelah lima menit aku menunggunya, akhirnya dia menatapku tajam. Tatapan itu seolah ingin aku merahasiakan ini. Tapi sayang, belum sempat aku mendengar ucapan yang keluar dari mulut manis itu, muncul si gyuranja. Dan kedatangannya pun merusak segalanya. Kacau.
kalian pulang bersama? Ahh, seongsaengnim, apakah rumahmu di sekitar sini juga?
ohh, Jeung Hun-aa, ne. Rumahmu dimana?
tepat di sebelah rumah Soo Jin
Selagi dia berbincang-bincang dengan Raina noona, aku memilih pulang lebih dulu di banding nanti harus berjalan bersama dengan gyuranja itu. Selain mengurungnya, aku juga ingin membuang wanita itu ke ujung dunia. Karena dia semuanya jadi berantakan.
apa tidak bisa dia tidak muncul di hadapanku sehari saja! ssip-
waeyo?
eomma, aku ingin membuat permintaan padamu. Appa, neodo
mwo?
nanti, jika ada si gyuranja datang, dan mencariku. Katak-
siapa yang kau panggil dengan sebutan gyuranja?
Mata ibuku mulai melirik licik. Aku salah sebut. Dia sangat tidak suka jika aku menyebut nama orang lain dengan sebutan yang tak pantas. Memanggilnya dengan nama hewan saja dia sudah marah, uri eomma daebak.
aigoo, waeyo?
Belum selesai, dia menerobos masuk. Dengan beberapa buku yang ada di tangannya, senyumnya melebar. Ibu dan ayahku menyilahkan. Aku menghela nafas panjang dalam setiap hembusan nafasku. Dia mendatangiku karena ingin belajar bersama. Sungguh aneh.
sebenarnya, aku mengetahui apa yang kalian bicarakan waktu di persimpangan jalan
Suaranya terdengar pelan dan halus. Aku tak mempedulikannya, karena pembicaraan itu belum selesai.
wae? Kenapa kau diam? Bukankah kau ingin tahu siapa Jeong seongsaengnim sebenarnya?
Dari lubuk hatiku aku sangat ingin mengetahuinya, tapi dari mulut anehnya, ku rasa tidak. Dia masih diam sambil memandangku dengan tatapan yang serius dengan tugas-tugasku, aku tidak berpikir sejauh itu. Tidak mungkin dia mengetahui yang tidak ku ketahui.

Libur musim panas
Hingga musim ini menghampiriku, aku belum menemukan apa yang di kerjakan gyuranja itu bersama dua orang guru tersebut. Dan belum pernah kulihat betapa seriusnya beberapa hari terakhir wanita itu untuk belajar. Bahkan untuk yang kesekian kalinya, dia sudah tak mengikutiku di belakang. Aku merasa bebas, tapi aku juga penasaran. Serta aku mulai ingin menanyakan hal yang terus menerus mengusik pikiranku.
Pagi ini sebelum aku berangkat ke Seoul, aku menyempatkan diri untuk pergi ke warung ayam tersebut, dan sejenak aku melihat tubuh yang mirip dengan kkangpae itu masuk ke dalam warung tersebut. Setelah aku melihat wajahnya, ternyata itu Jeong seongsaengnim. Hari ini aku di buat penasaran lagi dan lagi. Belum cukup dengan gyuranja itu, kini Jeong seongsaengnim menambahkan di daftar buku penasaranku. Punggungnya benar-benar mirip dengan dia. Aku adalah adiknya, meskipun kita sudah tidak bertemu selama dua tahun, tapi jika melihat punggungnya aku sangat mengenali punggung tersebut.
Tapi jika waktu ini bisa ku putar, foto yang disimpan Raina noona itu terlihat mirip antara keduanya. Dan Jeong seongsaengnim sangat jarang berbicara denganku, padahal dia tahu kemampuan bahasa inggrisku lemah, tapi dia sama sekali tak mempedulikanku. Aku tak mengetahui asal muasal Jeong seongsaengnim, tapi aku tahu tempat tinggalnya itu di apartemen mewah di ujung sebrang sana. Jika itu benar dia, bagaimana bisa Raina noona tak mengenali – bukan hanya Raina noona, aku juga.
apakah dia operasi plastik? Operasi plastik?! Hoksi?
kau berencana operasi plastik? Aigoo. Kau sudah tampan,
apa yang kau lakukan disini?
kata ibumu, kau akan ke Seoul hari ini.
Setelah lama menghilang dari penglihatan mataku. Penampilannya hari ini benar-benar rapi. Benar-benar seperti seorang yeoja.
wae?
gwenchana. Galke.
jamkkaman. Kau dekat dengan dengan Jeong seongsaengnim bukan?
wae?
kau tahu, dia itu berasal dari mana?
Ulsan. Waeyo?
bukankah Raina noona dari sana juga?
hya! Laki-laki cantik, kenapa jika di luar sekolah kau memanggil Ahn seongsaengnim dengan sebutan Raina noona?
galke
Hari ini aku masih sadar. Aku tidak mungkin menceritakan yang lebih lagi kepada wanita ini. Tapi, otak licik wanita ini selalu berjalan lebih cepat dari yang ku kira. Dia mengancamku. Ancamannya memang tidak masuk akal, tapi bagaimana jika benar-benar terjadi. Meskipun dia kasar, tidak tahu sopan santun dan sebagainya, dia seseorang yang sangat menepati janji. Tapi aku tidak tahu jika ini akan benar-benar ia jaga.

Selama sekitar 15 menit aku bercerita tentang insiden dua tahun lalu. Tapi dari ekspresi wajahnya yang datar, seolah dia sudah mengetahui ini sebelumnya. Di kereta menuju Seoul ini, aku mulai menyarankan agar dia menjadi seorang detektif. Kurasa sifat liciknya itu berguna untuk penyelidikan jika dia ikut aktif di kepolisian. Tapi selama 15 menit ini, aku belum mendengar alasannya kenapa pergi ke Seoul.
kau mau mengunjungi universitas apa?
bukankah kau tidur?
aku tidak bisa tidur di tempat yang ramai. Universitas apa yang akan kau masuki? Masih tetap dengan jurusan hukum ya?
wae? Mengapa jika aku mengambil jurusan hukum?
gwenchana. Aku ingin mengambil sastra.
Sastra. Itu alasan yang ku gunakan untuk mengelabuhi Raina noona. Sepertinya aku tahu mengapa akhir-akhir ini dia bekerja keras. Pantas di acungi jempol. Bukan orangnya, tapi kerja keras yang ia lakukan.
Jeong seongsaengnim, niga hyeongi” ucapnya di sela-sela mulutnya yang sedang mengunyah permen karet. Aku yang sedang minum pun tersedak.
MWORAGO!!!” suaraku mengeras dan mengejutkan beberapa orang, termasuk wanita gyuranja ini. Tanpa di sangka, dengan keras pula dia menendang kakiku. Matanya melotot seakan-akan bola matanya ingin keluar.
kecilkan suaramu bodoh! Ini aku ketahui dari Ahn seongsaengnim
neo! Kau memanggilku dengan sebutan bodoh? Paboya? Aigoo.
memang ada masalah? Setiap hari juga kau memanggilku dengan sebutan gyuranja. Baiklah jika kau memang tidak ingin tahu. Jangan menggangguku.” dalihnya sangat panjang hingga membuatku muak. Tapi jika bisa kembali ke beberapa menit yang lalu, dia tahu ini dari Raina noona.
apakah sedekat itu kau dengan Raina, ani, Ahn seongsaengnim?
mengapa dia cerita itu padamu?
Aku mulai kesal dengan sifat ini, ku coba menendang kakinya, dia lebih dulu menghindar. Dan selama perjalanan ke Seoul, dia tetap diam dan dia kini tidak berjalan di belakangku, namun di depanku lebih jauh. Langkahnya sangat cepat.

jika aku di beri porsi kehidupan yang lebih penting di masa depan, aku ingin bersama Raina noona. Tapi itu dulu. Di kereta ini bulu matanya menarik perhatianku. Tapi hanya bulu matanya, bukan yang lain. Jadi aku tetap ingin dengan Raina noona


Seminggu sudah aku diam di rumah. Setelah kunjunganku ke sebuah universitas di Seoul beberapa hari lalu, seminggu juga aku tidak melihat wanita gyuranja itu berkeliaran di area rumahku. Kabar angin yang ku dengar dia sedang mengunjungi orang tuanya di Jeju, tapi setiap malam aku lihat dia pulang dari suatu tempat.
Akhir-akhir ini dia sangat sukses membuatku penasaran. Juga Raina noona yang tadi pagi ku kunjungi sedang tidak di rumah. Tak biasanya dia keluar pagi-pagi sekali saat libur musim panas seperti ini. Dan jacpot pun ku dapat, aku bertemu dengan wanita gyuranja itu tepat di depan rumahku. Dia hanya menyapaku lalu pergi.
hya! Kau bilang kau ke Jeju
bukankah kau tidak ingin tahu tentang diriku? Galke.
aish! Hya! jamkkaman
Dia seolah sedang mengurusi sesuatu yang penting. Aku juga sedang mengurusi sesuatu yang penting, tapi setidaknya dia bisa meluangkan waktunya sedikit. Untuk yang kedua kalinya ku panggil namanya, dan ini sangat lengkap. Di lihat dari punggungnya dia sedang tersenyum. Tapi setelah dia membalikkan badannya, raut wajahnya sama dengan beberapa menit yang lalu, datar.
I’m busy

apa yang terjadi dengan cara bahasanya?” aku bertanya sendirian sedari tadi. Sudah pukul setengah dua belas malam, di balik jendela kamarku, aku belum melihat dia kembali ke rumah.
sebenarnya apa yang dia lakukan hingga selarut ini?” tanya ku kemudian.
Dan karena aku lelah dengan hari ini, aku mulai beranjak dari jendela kamarku, tapi ku lihat dia mulai kembali ke rumah dengan sebuah mobil yang mengantarnya. Mobil itu tak lain adalah mobil Raina noona. Dengan cepat aku melangkah keluar dan mendapati mereka berdua masih disana. Wajah dua wanita itu terkejut. Mereka menatapku secara bersamaan.
museun iriya?” aku bertanya penasaran. Mataku sekarang sebenarnya sangat ingin tidur.
tanya pada Jeung Hun, galke.” Raina noona seolah mengacuhkanku.
Sesaat setelah kepergian Raina noona, aku mulai menatap wanita yang di depanku. Tatapanku tajam. Dan kata yang keluar bukan memecahkan rasa penasaranku, tapi malah mengejutkanku dan segera meninggalkanku sendiri.
hya! Bagaimana bisa kau mengatakan itu?

Beberapa minggu kemudian libur musim panas tinggal lima hari lagi. Otakku benar-benar kacau. Satu sisi aku sedang sibuk menyiapkan semester akhir di tahun ini, satu sisi aku penasaran dengan apa yang terjadi antara Raina noona dan wanita gyurunja tersebut. Satu sisi juga, entah kenapa aku juga merindukannya. Bulan ini ibuku ulang tahun,  dia pun tidak datang ke rumahku.
Rencana hari ini akan ku habiskan dengan datang ke perpustakaan, dan disana aku menemukan gyuranja hidupku. Aku bisa melihat betapa seriusnya dia belajar. Dengan pensil yang ia ketuk-ketukkan ke meja, rambutnya yang di ikat rapi, baju yang terpadu apik, dia terlihat mengagumkan. Aku mulai mengambil sebuah buku dan duduk tak jauh dari tempat gyuranja itu duduk. Aku tak menyangka, dia benar-benar serius menjalani semua ini.
Dan, setelah aku membuka buku ku, aku mulai sadar bahwa buku yang ku ambil adalah buku panduan untuk pariwisata.  Setelah aku sadar, aku menepuk pipiku pelan. Beberapa menit yang lalu aku sangat menikmati wanita itu sampai-sampai aku salah mengambil buku. Ini untuk yang pertama kalinya aku seperti ini.
aigoo. Sepertinya liburan kali ini tak menyadarkan otakku sepenuhnya” keluhku dan mulai mengambil buku yang lain. Dan saat yang bersamaan pula, wanita itu datang di balik rak buku dengan mengejutkanku. Aku hanya memasang wajahku datar dan tak peduli. Tapi semakin aku datarkan wajahku, dia mulai pindah meja. Aku terkejut seketika. Entah apa ini aku tidak tahu, rasanya menatap matanya hari ini membuatku senam jantung.
mwohaeungeoya?” tanyanya saat aku masih tertegun menatapnya.
apa yang ku lakukan disini bukan urusanmu.
ahh, matta! Baiklah, lanjutkan
ohh.
Dan ucapanku yang terakhir telah melebarkan sedikit bibirnya, tapi dia tetap meneruskan menulis. Senyumnya memang tak mengejek, tapi aku merasa kesal. Ini kali pertama aku merespon kata-kata yang sudah tak perlu untuk di respon.
Di ruangan ini dipenuhi dengan anak-anak yang sedang berada di tahun ketiga. Entah itu SMP atau SMA. Mereka semuanya sibuk dengan buku masing-masing, kecuali aku. Aku sibuk dengan keadaan yang sedang ku alami, sebenarnya apa yang sedang terjadi padaku akhir-akhir ini? Aku sendiri pun bingung dengan semua ini.

Pukul lima sore, aku sudah mulai konsentrasi dengan buku ku beberapa jam yang lalu. Karena tidak boleh membawa makanan ke dalam perpustakaan, aku di buat tekejut dengan suara wanita itu. Dia mengajakku makan sebentar. Aku masih diam, aku masih konsentrasi dengan buku ku. Beberapa menit kemudian, dia masih tetap duduk di depanku dengan wajah yang menatapku penuh. Karena aku terus tak merespon ucapannya, tanganya mulai bergerak mendekati bukuku.
mwohaeungeoya?!
ohh kkamjjagiya! Kau sangat serius dengan buku itu, apakah kau tidak lapar?
Aku tetap menjawabnya, tapi tak menatap wajahnya. “waeyo?
waeyo? Aigoo. Nan baegopeun,
makan saja sendiri
apakah kau tidak rindu denganku? Selama liburan ini, kau membuatku rindu
ani, pergi saja sendiri
arasseo
Setelah dia pergi dari hadapanku, aku mulai mencerna kembali kata-kata yang dia ucapkan tadi. Rindu. Bogoshipeo. Tapi ada yang di lupakan olehnya, ponselnya masih tergeletak di atas meja. Dan saat ku lihat wallpapernya, wallpapernya masih tetap sama dengan saat itu.
jika dia rindu mengapa menghilang dari hadapanku? Ahh ani ani, apa yang sedang ku pikirkan. Yang ku rindukan adalah Raina noona.

Di sepanjang aku sedang di perpustakan. Selama wanita itu belum kembali dari makannya, aku melihat Jeong seongsaengnim bersama seorang wanita. Bukan Raina noona, tapi ku rasa aku pernah melihat wanita tersebut. Mereka juga sedang memasuki perpustakan yang sekarang sedang ku tempati. Di antara keduanya terlihat keakraban yang sangat kental. Tergambar bahwa mereka sudah kenal sangat lama. Dan setelah Jeong seongsaengnim datang, wanita gyuranja itu kembali dari makan malamnya. Raut wajahnya terkejut melihat Jeong seonsaengnim yang juga tengah berada di dalam perpustakaan ini.
Dengan cepat dia merogoh kantongnya, sedang mencari ponsel. Karena aku penasaran, ku lambaikan tanganku dengan menggenggam ponselnya, wajahnya sumringah, tapi tetap saja terkejut. Sebuah pesan dia kirimkan ke seseorang.
waeyo? Apakah ada sesuatu yang terjadi?” tanyaku saat dia kembali duduk di tempatnya. Namun, pertanyaanku tak di jawab.
waeyo?
bukankah kau tidak ingin mengetahui yang terjadi di hidupku?
Jeong Hun-aa,” entah apa yang singgah di otakku, aku memanggilnya dengan memegang jari-jari tangannya. Dia mulai menatapku. Begitu pula aku, tapi tatapanku mulai surut saat aku melihat Raina noona datang. Sepertinya wanita ini menyadari kedatangan Raina noona, dengan cepat dia melepaskan peganganku.
Soo Jin-aa, niga yeogisseo?” ucapan Raina noona seolah tak menginginkanku disini untuk sekarang.
ani, aku sudah selesai. Aku akan pergi, waeyo?
hajima. Ohh?
Entah kenapa karena kata-katanya itu aku mengangguk menurut.


Aku merasa awal di semesterku yang terakhir ini aku akan mendapat kekacauan yang tak ku inginkan. Di segala media cetak, baik tv maupun koran, berita tentang Jeong seongsaengnim mencuat. Aku masih terkejut atas kejadian di pespustakaan lima hari lalu. Selama ini ternyata aku tidak tahu, Jeong seongsaengnim adalah Park Hae Jin, nan hyeongi. Dua wanita yang sedang berjalan di depanku selama ini bergerak lebih cepat dari pada yang ku kira.
Sekarang aku baru mengerti mengapa Raina noona mendadak pindah ke Gwangju dan dengan cepat menerima ajakan Jeong seongsaengnim saat itu. Raina noona bukan wanita rapuh seperti perkiraanku, dia kuat. Bahkan dia bisa membuat uri hyeongnim masuk penjara. Saat orang tuaku mendengar kabar tersebut, terkejut, tak percaya, terharu – semuanya mereka rasakan. Aku juga tak menyangka orang yang pernah ku idolakan setelah orang tuaku bisa berbuat seperti itu.
Dan hari ini otakku mulai salah bekerja lagi, dengan rambutnya yang selalu di ikat rapi, membuatku rindu padanya, pada gyuranja tersebut. Seolah Raina noona mulai tergeser dari hatiku. Dan aku terkejut dengan pengakuannya semalam.

13 jam yang lalu
Malam ini aku di ajak Raina noona makan malam, bersama keluargaku dan tidak ketinggalan keluarga gyuranja tersebut. Kita semua makan di sebuah restoran yang bergaya nostalgia. Aku jadi teringat saat aku pertama bertemu dengan Raina noona, aku sering teringat dengan moment tersebut, karena saat itu adalah saat pertama kali saranghana bwa. Aku yang saat itu masih SD tidak bisa mengatakan itu cinta, tapi saat aku SMP dan sekarang, aku mengatakan itu cinta.
Semua orang di meja ini sangat bahagia. Terlebih Raina noona, hari ini hari yang menyakitkan bagiku. Orang tuaku yang dianggapnya seperti orang tuanya sendiri, mengenalkan pacar barunya. Aku tak menyangka bahwa pria itu adalah Jeong Min hyeong. Ini sangat mengejutkanku. Tapi tidak bagi tiga orang yang berada satu meja denganku, mereka sangat bahagia.
Menurut cerita yang ku dengar, mereka berdua bertemu saat tak sengaja sedang berada di rumah makan. Mereka adalah teman lama. Memang, Jeong Min hyeong adalah orang Jeju, tapi setengah dari hidupnya sekarang ia habiskan di Gwangju dan Seoul. Aku merasa akuntan muda ini hidupnya nomaden.

Sekitar pukul setengah sembilan malam, aku yang berlajan paling belakang di kejutkan dengan rengkuhan tangan wanita gyuranja tersebut. Dan lagi-lagi rengkuhan itu membuatku senam jantung. Entah karena apa dan kenapa. Dengan cepat aku melepaskan rengkuhan tersebut.
mianhae” suara yang ku dengar di sela-sela telingaku sedang mendengarkan musik.
hya! Soo Jin-aa” lanjutnya lagi.
Langkah kaki ini ku hentikan sejenak. Aku menoleh ke arahnya yang masih berada di belakangku. Wajahku tak lebih dari wajah orang yang tak peduli. Tapi wanita itu mengerlingkan matanya dan itu membuatku geli.
wae?
mianhae, selama tiga tahun terakhir aku membuatmu terusik. Bahkan kau memanggilku dengan sebutan gyuranja
kau sadar? Ohh sesange..” aku mulai melepaskan headsetku sebelah.
ohh, aku sudah sadar dari dulu. Aku bersikap seperti itu bukan karena aku menyukaimu, aku hanya ingin menggali info tentang Hae Jin oppa dari keluargamu.Karena aku ingin membantu seongsaengnim
Dan pernyataan itu membuatku terkejut setengah mati. Rasanya kado untuk hari ini belum cukup.
kau memaafkanku kan?
Aku hanya mengangguk tak peduli dan menyumpal telingaku dengan headset lagi. Volume lagu ku keraskan. Perasaan yang aneh itu memang belum bisa di sebut cinta, tapi jika dibiarkan tumbuh lama-lama menjadi cinta. Dan yang merasakan perasaan aneh itu hanya aku. Wanita yang selama ini aku panggil dengan sebutan gyuranja itu – wanita itu hanya membantu Raina noona. Tidak lebih dari itu. Dan sekarang gambaran raut senyumannya menghampiri otakku.
apakah kau marah?
untuk apa aku marah. Bahkan aku bersyukur kau sadar.
Sejenak langkah wanita itu terhenti dan mulai meraih pundakku. Dia berbisik sesuatu yang tidak bisa di cerna oleh otakku. Dan beberapa menit kemudian sudah tidak terdengar langkahnya, aku mulai bergeming sendirian. Tapi aku tak menyangka, saat aku menengok ke belakang ternyata wanita itu masih berdiri terdiam.
kau tidak jadi ke Seoul?
ani. Wae? Bukankah kisah Raina noona sudah selesai?
ahh geurae! Kau benar. Ne! Lagi pula tidak ada untungnya aku mengikutimu terus! Joa, aku akan karaoke. Kau tidak ikut?
masih banyak yang harus ku kerjakan.
Sementara yang lain memilih karaoke bersama, aku lebih memilih untuk persiapanku ke sekolah esok hari. Itu alasan yang ku pakai, cukup masuk akal memang, tapi sebenarnya bukan itu yang membuatku tidak ikut. Gyuranja itulah yang membuatku memilih tidak ikut. Ku ulangi sekali lagi, aku heran dengan diriku sendiri, aku merasa sakit saat dia berkata “aku bersikap seperti ini bukan karena aku menyukaimu” cukup sampai itu saja. Kata-kata itu bagaikan sebilah samurai yang mendadak tertancap di diriku.
jadi selama beberapa bulan terakhir ini, aku sendiri yang merasakan hal tersebut. Aigoo.

5 tahun kemudian
Hari-hari ku saat semester akhir di SMA ku lalui dengan cepat, dugaan awal akan ada kekacauan itu tak datang. Jalanku mulus hingga sekarang. Dan saat itu, lagi-lagi orang tuaku pindah ke Seoul, ke rumah lama kita. Karena perpindahan itu mereka putuskan saat aku libur pendek setelah kelulusanku, aku membantu mereka membawa barang-barang mereka ke Seoul.
Saat itu aku memilih tetap di Gwangju, karena wanita itu seolah menahan kepergianku, padahal dia sudah fix untuk berangkat ke Seoul. Dan akhirnya aku tidak mengambil hukum, aku belajar tentang kedokteran. Sangat melenceng dari segala yang ku pikirkan bukan. Selama aku kuliah hingga sekarang, aku tidak tinggal di rumah tersebut, rumah yang penuh dengan onar. Aku pindah ke sebuah rumah inap yang jaraknya lebih dekat dari kampus.
Hari ini adalah hari bersejarah bagiku, setelah aku mengikuti magang di rumah sakit kampusku, dan mulai di pekerjakan sementara. Hari ini pengangkatanku sebagai seorang dokter di salah satu rumah sakit di Gwangju.
Tentang Raina noona dan Jeong Min hyeong, mereka sudah menikah dua tahun setelah makan malam itu terjadi, dan sekarang kabarnya Raina noona telah melahirkan seorang anak wanita yang tak kalah cantik dengan Raina Noona.
Dan satu orang ini masih membuatku gamang. Karena sampai saat ini perasaan aneh lima tahun lalu masih berada menetap di diriku. Dari kabar yang ku dengar, dia telah menjadi seorang polisi di kantor kepolisian pusat Seoul. Dan saat kelulusannya dulu, dia meraih gelar mahasiswa terbaik di akademi kepolisian. Aku turut bahagia mendengar itu. Tapi setelah lima tahun ku lewati, jika aku bertemu dengannya, aku ingin mengatakan hal yang konyol. Tapi hanya hal tersebut yang ingin ku katakan. Jika aku tidak bisa bertemu, namun kau bertemu dengannya – atau mungkin kau temannya, sampaikan hal tersebut.
meskipun aku memanggilmu dengan sebutan “gyuranja”, tidak melihatmu selama lima tahun membuatku merindukanmu.