맛의 조각
“Kadang,
bertemu dengan orang asing itu menyebalkan.
Namun,
tak sedikit yang menyukai hal itu.
Beberapa
orang mengatakan itu CINTA.
Beberapa
orang lagi mengatakan itu MUSIBAH.
Dan
beberapa orang juga mengatakan itu SEBUAH KENANGAN.
Di
dunia ini, tidak ada orang yang tak pernah jatuh cinta.
Setiap
harinya, setengah dari jutaan – bahkan milyaran orang di dunia ini merasakan
bagaimana rasanya jatuh cinta.
Mungkin
kau sekarang tengah merasakan hangatnya sebuah rengkuhan orang yang kau cintai.
Mungkin
kau sekarang sedang melambaikan tangan padanya.
Mungkin
kau sekarang sedang memandangnya di atas altar.
Mungkin
kau sekarang sedang menangis – kecewa – tak percaya karenanya.
Bahkan
mungkin kau sekarang sedang mencari orang tersebut – semuanya.
Kadang
cinta bisa memelukmu lebih indah dari mimpi yang indah.
Kadang
juga cinta bisa melepaskanmu lebih buruk dari mimpi buruk.
Cinta.
Hal kecil yang selalu menghiasi kehidupan manusia.”
Di bawah teriknya matahari awal musim semi
memang sangat indah. Musim semi memang bukan musim favoritnya, tapi ada satu
keadaan di musim semi yang sangat ia benci. Alasanya sangat sederhana. Ia tak
menyukai sinar matahari itu terlalu menyorot dirinya. Terlebih jika ia harus
berjalan kaki dari tempat bekerja hingga halte bus yang akan mengantarkan
pulang ke rumah.
Dentum high
hells selalu mewarnai lorong sekolah dan suasana kelas 2-3 sebuah SMA di Gwangju.
Saat murid-muridnya telat mengumpulkan tugas. Saat salah satu dari muridnya
telat masuk. Saat muridnya mulai beromong kosong. Sesuatu hal telah membawanya
dari Seoul ke Gwangju.
Karena wajah ayu itu banyak murid laki-laki
yang mengidolakan wanita tersebut. Namun, karena insiden dua tahun terakhir, wanita
yang usianya lumayan muda itu kehilangan raut wajah yang bahagia. Selain murid
di kelasnya, murid yang lain dan rekan kerjanya di sekolah pun menyayangkan hal
tersebut. Keadaan seperti ini sangat menyiksanya, membuatnya tertekan – mungkin
– mungkin juga mampu membuatnya depresi.
“lebih
baik sakit karena kau usir lima menit setelah aku datang, dari pada sakit hati
karena menolak kedatanganku mentah-mentah. Hari ini aku hanya bisa
mengirimkanmu ini, mulai malam ini aku akan belajar agar perjalananku masuk
universitas tidak sia-sia. Seperti yang kau bilang sebelum kau seperti ini. Jalja.”
Aku sangat mengetahui bagaimana, seperti apa,
dimana, karena apa – semuanya, hampir aku ketahui semua tentang wanita itu. Aku
adalah muridnya di SMA tempatnya bekerja. Wanita itu tahun ini berusia 28
tahun. Dan aku masuk 18 tahun. Kita berdua memiliki tanggal kelahiran yang
sama, jadi aku sangat gampang mengingat hari ulang tahun wanita tersebut.
Seperti yang ku bilang sebelumnya, wajahnya
sangat ayu. Di sekolah, dia ibaratkan satu-satunya bunga mawar yang mekar
dengan indah. Tapi apa kau tau, bunga mawar yang ku maksud kini telah layu.
Insiden dua tahun lalu memang sangat membekas di hatinya, dan tak semudah
membalikkan telapak tangan agar ia bisa lupa akan insiden tersebut.
Aku mengenalnya sejak aku duduk di bangku
sekolah dasar. Saat itu kita tak sengaja bertemu di area taman bermain
sekolahku. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan disana hingga kita bertemu dan
berteman – lebih tepatnya menjadi sepasang adik dan kakak. Kau tahu betapa
cantik, ayu, manis, ramah – dan kurasa semua sifat baik saat pertama aku
mengenalnya itu melekat padanya.
Saat itu, suaranya yang lembut membuatku
selalu rindu jika aku tak mengunjunginya. Meskipun ku tahu di rumah sudah ada
kedua orang tuaku, tapi entah kenapa aku selalu merindukan wanita tersebut. Aku
bersyukur, aku lahir di dunia ini bisa mengenalnya lebih. Kau bisa menyebutnya
ini cinta. Tapi jangan berlebihan.
Park Soo Jin. Jika kau mendengar nama ini
mungkin kau menganggapnya dia wanita. Tapi itu namaku, ya itu namaku. Naya. Nama wanita itu lebih cantik dari
namaku, Raina Ahn. Katanya, dia sedikit memiliki keturunan Eropa, tapi
keluarganya – dari kakek sampai kedua orang tuanya tak ada yang lahir di tanah
Eropa. Paling jauh kelahirannya di sebuah provinsi yang berada di timur Seoul,
Gangwon.
Jika kau nanti bertemu dengannya, sapa saja
dia Raina – atau juga bisa Ahn seongsaengnim.
Dia sangat ramah dengan semua orang. Jangankan orang asing, alien yang
menyapanya akan ia sambut dengan ramah – dengan rasa terkejut pula.
Sejak insiden yang menimpanya dua tahun lalu,
setiap aku berkunjung ke rumahnya, aku selalu di usir setelah lima menit aku
datang. Dia tak menolak kedatangannku, hanya saja sesaat setelah ia
membuatkanku minum, dan aku belum sempat meminumnya, ia mengusirku pergi.
Begitulah sikapnya padaku hingga hari ini. Kunjungan pertamaku dulu sempat membuatnya
terkejut, tapi anehnya dia pun tak menanyakan alasan mengapa aku mengikutinya
hingga ke Gwangju.
Mungkin kau sedang bertanya-tanya insiden apa
yang di alaminya hingga pribadinya berubah. Jika boleh ku tebak, mungkin kau
mengira orang tuanya kecelakaan lalu meninggal – atau yang lebih kompleks lagi
ia di tinggal meninggal pria yang ia cinta. Tapi sebenarnya bukan itu, ada hal
yang lain. Asal kau tahu, orang tuanya sudah meninggal terlebih dahulu sebelum
insiden dua tahun yang lalu terjadi. Eomeona!
Jamkkamaneyo, akan aku lanjutkan setelah aku selesai mandi. Jamkkaman.
Aku tidak bisa menentukan berapa lama waktu
yang ia butuhkan untuk kembali hidup seperti layaknya manusia. Insiden itu tak
hanya merugikanku, tapi juga semua orang disekelilingnya. Setiap ia
kebingungan, orang-orang mulai memberikannya pendapat. Dan setiap hari ia
menolak pendapat tersebut, terutama pendapatku. Bahkah setelah ia tahu, ia
menjadi wali kelasku, ia lebih tak menyukaiku.
Ohh, jam setengah delapan. Geuraesseo, aku harus pergi sekolah. Kau
juka akan berangkat sekolah bukan? Atau bekerja, ahh mungkin kau akan sarapan
dulu. Hari ini bulan pertamaku ku menjadi murid tahun ketiga. Aku akan sibuk.
Jadi aku tidak bisa banyak cerita nantinya.
Tapi jangan khawatir, semuanya akan ku
selesaikan.
Akan ku
suguhkan sesuatu yang terjadi dua tahun lalu. Disana juga ada aku. Nanti kau
bisa melihat bagaimana peranku disana. Tapi mungkin kau tidak suka peranku saat
itu. Tapi, gwenchana. Ingat pesanku,
ini aku kutip dari sebuah novel “cinta
itu seperti omong kosong. Jika kau ingin bahagia, bahagialah secukupnya. Jika
kau ingin menderita, menderitalah secukupnya. Tto mannayo.”
2
tahun yang lalu.
“noona!
Raina noona! Mianhae. mianhaneyo”
“gwenchana.
Ini bukan salahmu.”
“hajiman,
bukankah itu vas pemberian Hae Jin hyeong?”
“aa,
gwenchanayo. Araji?” dengan lembut Raina memeluk tubuh laki-laki itu erat.
Ia mengecup keningnya, seakan Raina akan pergi jauh, ia memberikan sebuah
pelukan yang sangat erat – amat sangat lama. Bahkan jika mampu menghitungnya
dengan stopwatch, itu terjadi dalam kurun waktu 30 menit.
Ia melepaskan pelukan tersebut sesaat setelah
suara seorang pria memanggilnya. Ia menghela nafas panjang. Di setiap
langkahnya, ia merasa khawatir. Entah kekhawatiran apa yang bernaung di
pikirannya beberapa hari terakhir ini.
“ohh,
noona. Apakah kau akan berangkat bekerja?” seorang anak SMP mendadak
menghampiri Raina yang akan masuk ke dalam mobil.
“ohh,
hyung? Neo?” lanjutnya.
“Soo
Jin-aa, ne. Apakah kau kenal dia?”
“geu
namja, nuguya noona?”
“geu
sarami, nae namjachinguya”
“MWO?!
HYUNGNIM. NEO!!”
“Soo
Jin-aa, waeyo?”
Soo Jin tak menjawab apapun. Wajahnya terlihat
garang.
“hajiman,
Soo Jin-aa, neo ireumi Park Soo Jin. Chagiya, neo ireumi Park Hae Jin. Apakah
ini kebetulan atau...”
“geu
saram, nae dongsaeng.” sambar Hae Jin membuat Raina terkejut.
Setelah beberapa jam ia sampai di sekolah. Setelah
dentum high hells itu melewati lorong
setiap kelas. Setelah semuanya berlalu dengan begitu cepat. Halaman rumahnya
pagi ini membuat Raina menyadari sesuatu. Ternyata ada sebuah rahasia dibalik
sebuah kenyataan. Ia melihat bagaimana Soo Jin marah karena wanita kakaknya
adalah Raina. Ia juga melihat betapa kecutnya raut muka Hae Jin setelah melihat
Soo Jin berdiri di depan Raina.
“apakah
diantara mereka terjadi sesuatu? Bagaimana aku tidak tahu tentang hal ini?
bukankah aku mengenal Soo Jin dan Hae Jin sejak 5 tahun yang lalu? Eotteohkae
ani arasseo?” bisik Raina sejak jam istrahat di mulai hingga sekarang.
Beberapa guru memperhatikannya, di kelasnya tidak ada murid yang menyebalkan.
“Ahn
seongsaengnim? Apakah malam ini kita bisa makan malam bersama?”
“ohh.
Kkamjjagiya!”
“Ahn-ssi,
mianhaeyo. Aku hanya menawarkan saja. Guru-guru yang lain juga ikut.”
Soo Jin sedang dalam perjalan pulang ke rumah.
Seperti biasa, Soo Jin yang gemar main game tak mau melewatkan untuk mampir
sebentar singgah di warung game online. Kegemarannya itu sering membuat orang
tuanya mengeluh. Meskipun ini tahun ketiganya di SMP ia tak pernah melakukan
hal yang lebih untuk masuk di SMA.
Sejenak langkahnya terhenti. Ia melihat sebuah
sepatu pantofel telah berhenti di
depannya begitu saja. Dengan cepat ia menengok wajah orang tersebut. Bukan
orang lain, tapi kakaknya, Hae Jin. Hari ini semua alasan untuk kakaknya, Soo
Jin tarik semua. Selalu menepati janji, tak pernah berbohong, dan semuanya ia
tarik. Mata Soo Jin melotot, menelisik, menerobos masuk ke pikiran Hae Jin.
Seakan ia mampu membaca pikiran orang lain, setelah raut mukanya yang memanas,
ia surutkan dan tertawa mengejek.
Hae Jin hanya memandang tawaan itu sejenak.
Suaranya mulai mengancam. Namun, Soo Jin bukanlah anak SMP yang takut dengan
ancaman orang dewasa. Setelah Hae Jin selesai berbicara, mata licik Soo Jin
mulai mengintimidasinya. Setelah itu dengan acuh Soo Jin meninggalkan Hae Jin
begitu saja.
Kejadian pagi tadi tak pernah terpikirkan oleh
Soo Jin. Ia yang mengira wanita Hae Jin adalah wanita yang Hae Jin sebutkan dua
bulan lalu ternyata bukan. Wanita itu adalah kenalannya, dan tak pernah, sama
sekali tak pernah menjalin sebuah hubungan khusus dengan Hae Jin. Bibir Soo Jin
terangkat sedikit saat melangkah masuk ke dalam rumah. Di ujung rumahnya adalah
kamar Hae Jin yang sama sekali belum pernah ia masuki.
Soo Jin mencoba menerka-nerka sesuatu.
Mulutnya mulai komat kamit. “hoksi, hoksi,
dia menyembunyikan sesuatu disana? Ani, ani. Hajiman, ahh~ kenapa aku jadi
memikirkan ini? Aigoo” ucap Soo Jin sendirian. Selangkah ia mulai
meninggalkan tempatnya berdiri dan melangkah masuk ke kamar. Tetapi pikirannya
mulai teringat akan kata-kata ayahnya dulu, bahwa Hae Jin tak sebaik yang ia
kira. Dan karena rasa penasarannya yang amat sangat, ia kembali mundur dan
memandangnya lagi. “ani ani.” ucap
Soo Jin sambil memukul kepalanya sendiri.
“mwoya
neol? Apakah kau menyadari betapa bodohnya dirimu?”
“ohh
eomma. Kkamjjagiya. Hajiman, pabo? Benarkah kau tadi mengatakan kata itu?”
Ibunya hanya mengangguk pelan dengan
menyiapkan makan malam hari ini.
“hya
eomma! Heol!”
“heol?
Jih.” ibunya tertawa sendiri mendengar keluhan Soo Jin. Bagaimana pun Soo
Jin yang tak mau belajar untuk persiapan masuk SMA, setidaknya Soo Jin mampu
bersikap lebih baik dari Hae Jin. Satu-satunya orang yang Ny. Seo dan Tn. Park
harapkan adalah Soo Jin. Bukan Hae Jin.
“aku
pulang. Gae Woon-aa. Ahn Gae Woon.. Apakah kau sudah tidur? Ini baru jam tujuh
malam” Raina terus memanggil nama tersebut, namun setelah beberapa menit,
tak ada respon apapun.
“Gae
Woon-aa”
“saengil
chukkahamnida... Saengil chukkahamnida noona... Saengil chukkahamnida...”
Gae Woon tiba-tiba muncul dari balik pintu rumahnya, dan di sampingnya ada Soo
Jin yang ternyata merencanakan semua ini.
“noona!
Saengil chukkahamnida. Ohh.” ucap Soo Jin mengerlingkan matanya.
Raina tergelitik, tersenyum, tak percaya,
terharu – semuanya ia rasakan. Melihat para dongsaeng
itu mengucapkan selamat ulang tahun mendahului Hae Jin. Wajah kecil dua orang
itu seakan mampu melepaskan semua hal negatif yang masih menggantung di pikiran
Raina malam ini.
“mwoya?
Apakah kau akan membiarkan lilinnya meleleh memenuhi kue ini?” protes Soo
Jin yang melihat Raina hanya diam memandang Soo Jin dan Gae Woon.
“arasseo”
Raina meniup lilin tersebut. “ini terlalu
dini” lanjut Raina yang mulai mengambil lilin tersebut.
“wae?
Lagi pula kita ini masih SMP tidak bisa keluar di atas jam 9, uri eomma bisa
marah. Kau juga” dalih Soo Jin seperti orang dewasa.
“noona,
Soo Jin hyeong, apakah malam ini boleh tidur disini?”
“hyeong?!
Sejak kapan panggilan itu kau buat untukku? Heol!”
“hya!
Hya! Soo Jin-aa, saenggil chukkae! Bukankah ini berarti ulang tahunmu juga?”
Raina mengusap seluruh wajah Soo Jin dengan krim kue.
“waah,
Soo Jin hyeong, saengil chukkae...”
“hya! Gae
Woon-aa, jangan panggil aku seperti itu!”
“hyeongnim?”
Raina hanya tersenyum melihat perseteruan itu.
Ia seolah kembali ke masa kecilnya yang ia habiskan di Ulsan. Raina pindah ke
Seoul setelah ia masuk SMA. Hari-harinya ia habiskan hanya dengan belajar,
karena ia tak mau menyia-nyiakan waktu yang ia miliki. Ia pindah ke Seoul saat
dirinya masuk tahun ketiga dan bertepatan saat akan masuk semester dua, jadi saat
itu waktu yang ia miliki amat sangat mendesak.
Hingga ia masuk di sebuah universitas dan
bertemu dengan Hae Jin yang saat itu juga mengambil jurusan yang sama dengan
Raina. Juga bertemu dengan Soo Jin saat menjemput adiknya pulang dari sekolah.
Mulai dari situ, hari-hari Raina mulai ramai dengan omelan Soo Jin bak seorang
wanita. Setiap pagi, saat Soo Jin akan berangkat ke sekolah, selalu
menyempatkan waktunya mampir sebentar untuk mengunjunginya.
㉷
Tak selamanya ia harus terpuruk dengan
keadaannya yang seperti ini. Aku sangat ingin menemukan dimana kkangpae itu berada. Tapi untuk
sementara waktu aku harus fokus untuk sekolahku. Akhir-akhir ini aku ikut kelas
malam agar aku bila pulang bersamanya – lebih tepatnya bisa mengikutinya
pulang.
Rumah yang ku tempati sekarang sama seperti di
Seoul dulu, jaraknya hanya sekitar 10 meter saja. Sebulan yang lalu, di sekolah
ini ada dua seonsaengnim baru, dia
mengajar bahasa inggris dan etika. Di banding dua kelas itu, aku lebih menyukai
kelas yang ada dia. Setidaknya aku bisa memandang wajahnya dengan suaranya yang
kini semakin lembut.
Setiap ia tidak masuk, semua warga SMA ini
menyayangkannya, apalagi beberapa hari ini ia baru saja kembali dari perjalanannya
ke Daejeon. Aku tidak tahu apa yang di lakukannya disana. Yang jelas dia kini
telah kembali ke Gwangju.
Otakku yang bekerja dengan cepat, dan dugaan
itu ternyata benar bahwa salah satu dari seongsaengnim
itu mencoba mendekati Ahn seongsaeng.
Dan anehnya, pria itu disambut baik olehnya, saat pria itu mengajaknya makan
malam bersama. Hal itu sukar jika di sebut dengan kata dinner. Karena itu bersama guru-guru yang lain.
“hya!
Soo Jin-aa, apa rencanamu untuk tahun ketiga ini? Apakah kau akan setia dengan
perpustakaan atau komputermu?”
Di sekolah ini, sebelum aku mengetahui dan
bertemu bahwa Raina noona mengajar disini, aku terlebih dulu bertemu dengan geu yeoja. Dia menjadi tetanggaku sejak
awal aku pindah ke Gwangju. Dia lari dari rumahnya yang ada di Jeju bersama
kakak laki-lakinya yang wajahnya lebih cantik dari dia. Awalnya aku kira mereka
lari ke Gwangju karena membuat kesalahan yang fatal, nyatanya mereka lari ke
Gwangju karena orang tuanya akan mengirim mereka berdua ke Amerika. Aku tidak
ingin tahu lebih dalam, karena itu tidak penting.
Dia juga selalu mengikutiku, entah kita di
masa lalu pernah bertemu atau apa, yang jelas dari pertama kita bertemu dia
seperti mengenalku lebih dari ia mengenal kakaknya. Dia adalah satu wanita yang
sangat tidak ku sukai, tapi juga satu wanita yang selalu ku rindukan. Tapi
rindu itu tak melebihi rinduku pada Raina noona.
Mereka sangat akrab dengan keluargaku, karena
mereka sering membantu keluargaku saat kesusahaan. Jadi meskipun kita baru
kenal dua tahun, ayah dan ibuku mengganggap mereka anaknya sendiri. Tapi
sebenarnya, jika aku harus menjadi saudaranya, aku sangat enggan. Dia terlalu
tomboi untuk ukuran seorang wanita. Bicaranya juga sering belepotan, kurang di
atur. Aku juga tidak suka namanya, harusnya nama itu buatku, dan namaku – tidak
untuknya, terlalu cantik. Dan aku
juga tidak suka karena marga keluarga kita sama.
“ada apa
dengan pandangan itu?! hya! Park Soo Jin!”
Suaranya sangat keras. Bahkan jika kau
berlomba teriak dengannya, yang ada pita suaramu yang putus. “wae! Berisik!”
“uhh...
Apakah kau akan benar-benar mengambil jurusan hukum?”
Aku tidak berpikir bahwa ia akan mengambil
jurusan yang sama denganku. Mengapa dia tidak sekolah di sekolahan seni saja
jika suaranya senyaring itu. “waeyo?”
“kau
jalan apa berlari? Mengapa malam ini langkahmu cepat sekali?”
Malam ini aku sangat kesal karena aku tida
bisa berada di belakang Raina noona. Hanya gara-gara kendala makan malam yang
sedang berlangsung. Di tambah wanita yang suka ingin tahu akan semua
kehidupanku. Inilah sifat buruknya yang pertama, jika ada orang bertanya
padanya, dia malah kembali bertanya.
“Park
Soo Jin! Soo Jin-aa! Yeosmeokeora!”
“hya!
Mengapa kau memukulku! Aigoo.”
“aku
tanya!”
“aku
juga tanya mengapa kau bertanya jurusan yang akan ku ambil besok?”
“aku
juga ingin kesana. Kau daftar di universitas mana?”
“semua
universitas yang tidak ada dirimu! Sudahlah, aku harus pulang.”
Dugaanku benar. Dia tidak ahli dalam hukum,
hari-harinya saja selalu dipenuhi dengan onar. Aku tidak tahu bagaimana orang
seperti dia bisa masuk di sekolah favorit seperti ini. rasanya harus ku sarankan
dia harus belajar tentang seni. Atau paling cocok ilmu ekonomi. Dia selalu
perhitungan dengan angka – itu sifat buruknya yang ketiga. Yang kedua, dia
selalu memukul orang-orang yang tidak menjawab pertanyaannya, untung saja jika
guru tak menjawab pertanyaan yang ia lontarkan, dia tidak memukulnya seenak
hati.
“neo!”
aku mengacungkan jariku tepat di depan matanya. Hal ini sudah sering ku
lakukan. Tapi tak membuatnya pergi.
“omo!
Kkamjjagiya! Wae? Naman wae?!”
“jangan
di belakangku. Jangan juga di depanku.”
“hya!
Bagaimana aku bisa pulang?! Kenapa kau seperti wanita? Aigoo.”
Pulang jika bersamanya adalah mimpi buruk
bagiku. Terlebih jika orang tuaku mengizinkannya ikut sarapan di rumah.
Kakaknya memasakkan untuknya stiap pagi, tapi dia selalu ingin sarapan satu
meja dengan keluargaku. Aku tidak tahu apa motifnya, aku juga tidak yakin jika
dia tidak memiliki motif apapun di balik sifat anehnya itu. Aku hanya perlu
jaga jarak dan berhati-hati.
Ini musim semi yang kedua yang kulewati di
Gwangju. Dan hari ini, untuk yang pertama kalinya selama aku tinggal di
Gwangju, aku melihat Raina noona di jemput oleh pria itu. rasa penasaranku
mulai timbul, apa yang terjadi pada makan malam semalam. Bagaimana bisa dia
berangkat dengan Raina noona.
“dorr!
Soo Jin-aa, kau melihat apa?”
“kau
adalah mimpi buruk bagiku. Aku pergi dulu. Jangan ikuti aku.”
“Park
Jeong Hun-aa! Oppa lupa sesuatu.”
Kau dengar, itu kakaknya yang memanggil.
Seperti yang ku bilang, namanya lebih – lebih cocok untukku. Kakaknya menjadi
seorang akuntan di sebuah perusahaan ternama di Gwangju. Hebat bukan. Aku dulu
juga sempat ingin menjadi seorang akuntan, tapi seiring perjalanan hidup yang
ku alami, aku ingin menjadi seorang anggota kepolisian.
“bukankah
itu jam tangan yang di pakai Hae Jin dua tahun lalu?” bisikku curiga.
Karena aku tidak suka penasaran, dengan langkah cepatku aku bertanya pada oppa wanita itu. Ini kali pertamaku
menyapanya, kali pertamaku bertatap muka dengan pria yang memiliki tinggi
sekitar 180 cm tersebut.
“jam ini
aku beli saat pelelangan, wae?”
“hyeongnim
jinjja? Jeongmal?”
“ohh?
Hyeongnim? Kau memanggil kakakku dengan sebutan itu?”
Rasanya ingin ku sumpal mulut besar itu dengan
sepatu. Bukankah panggilan itu wajar karena aku lebih muda 10 tahun di banding
pria ini.
“ohh,
aku membelinya di pelelangan. Yang punya adalah pemilik warung ayam di dekat
sekolahmu, karena ini merk yang langka, jadi aku berani membelinya dengan harga
mahal. Apakah kau kenal dengan jam ini?”
“Soo
Jin-aa, mengapa kau bertanya tentang jam yang dipakai uri oppa?” wanita itu
ikut bertanya di sela-sela obrolanku dengan Jeong Min hyeong.
“kapan
hyeongnim membelinya?”
“sekitar
1 tahun yang lalu”
“gomapgo.
Galke.”
Rasanya aku akan mengetahui keberadaan orang
itu. Ku rasa dia sedang berada di Gwangju saat itu, dan kemungkinan besar dia
menyuruh pemilik warung ayam itu untuk melelangkan jam tersebut. Dia adalah
penggila barang langka. Tidak ada orang lain yang ku kenal selain dia. Wanita
itu masih menggerutu di belakangku sejak berangkat tadi. Mulut itu tidak ada
lelahnya, aku penasaran makanan apa yang ia makan tadi pagi.
Aku melihat Raina noona keluar dari mobil
Jeong seongsaeng. Raut muka sama seperti biasanya. Tidak kecut – tidak manis
pula. Bisa di simpulkan dia ikut dalam mobil itu karena sopan santun. Hanya
tata krama. Di saat seperti ini, aku ingin masuk bersamanya, tapi wanita yang
di sampingku sekarang selalu menghalangi. Bisa di bayangkan, jika nanti aku
memiliki pacar, dan keadaan saat itu aku masih mengenal yeoja ini, akan ku pastikan itu adalah hal yang sangat buruk yang
terjadi di hidupku.
2
tahun lalu. Malam ulang tahun Raina Ahn.
Selama Raina mengenal Hae Jin hingga hari ini,
Raina tak pernah mendengar bahwa Hae Jin memiliki seorang adik. Bahkan dari
teman di kantornya pun tak ada yang membicarakan hal tersebut, begitu pula Hae
Jin.
“Soo
Jin-aa, apakah kakakmu pernah bercerita tentangku?”
“mengapa
bertanya dia padaku? Tanya saja padanya”
“apakah
kalian kalau di rumah tidak pernah berbincang-bincang?”
“anida.
Gae Woon-aa, apakah aku benar-benar malam ini akan tidur disini?”
“ne.
Tapi kau harus mau ku panggil dengan sebutan “hyeong”. Ara?”
“mwoya.
Ne ne ne!”
“jamkka
Soo Jin-aa, mengapa kau tidak pernah berbicara dengan Hae Jin?”
“anida.
Anigeottaen!”
“arasseo.
jalja.”
Raina mulai menyimpulkan semuanya. Jika Hae
Jin tidak bercerita tentangnya pada Soo Jin, kemungkinan besar Hae Jin juga
tidak bercerita tentang Raina pada ayah dan ibunya. Sekarang, sudah tahun
kelima ia mengenal Hae Jin, dan tahun kedua ia dan Hae Ji berpacaran.
“bukankah
dia bilang dia sering cerita kepada keluarganya tentangku?”
㉷
Hari ini aku masih bisa berjalan di belakang
Raina noona, tapi hal buruk menimpaku sekarang. Gyuranja itu mencegahku menaiki bus yang sama dengan Raina noona.
“ssip”
“ssipal!
Mengapa tak kau lanjutkan?”
“hya!
Neo! Gada! Aish jinjja.”
Jika aku bisa mengurungnya, aku akan
mengurungnya dan akan melepaskannya saat aku sudah tua. Wanita ini sangat
menganggungguku. Bisa kau bayangkan jika hidupmu selalu di tempeli wanita seperti
dia. Gyuranja ini, ibarat serangga
yang tak punya bunga lain untuk disinggahi.
“Soo
Jin-aa. Mari makan dulu, ayam dengan bir. Ahh ani ani. Ayam dengan cola. Otte?”
“shirreo!
Arasseo?!”
Setiap aku gusar. Setiap aku teriak. Setiap
aku berlaku kasar padanya, dia hanya menghela nafas kemudian membujukku
kembali. Jika seperti ini, dia juga bisa menjadi baby sister.
Aku menggaruk kepalaku. Entah mengapa malam
ini aku terpikirkan hal tersebut. Saat Hae Jin di beritakan telah membunuh
seorang anak, ayah dan ibuku tak peduli begitu saja. seolah-olah Hae Jin pernah
melakukan ini di masa lalu. Saat aku meminta pindah ke Gwangju pun mereka
menurutiku, meskipun aku harus merengek dulu. Tapi aneh jika baik ayah maupun
ibuku tidak menangisi Hae Jin.
Dari bayangan kamarku, terlihat bayangan ibuku
memasuki kamar ini. Dia membawakan kue. Sudah lama hal ini tidak terjadi.
“apakah
eomma tidak rindu dengan hyeongnim?”
“buat
apa merindukannya. Yang di depan mataku sekarang adalah kau.”
“hajiman
eomma, dia juga kan anakmu”
Mata ibuku memandangku dalam. Dia menghela
nafas panjang. Dalam beberapa detik saja, dia sudah duduk di atas tempat
tidurku. Dia kembali menghela nafas dan mulai menceritakan kejadian masa lalu.
Aku dan hyeongi terpaut usia 10
tahun. Saat aku lahir, ketika umurku 8 tahun, dia mencoba menenggelamkanku ke
dalam kolam. Itu yang pertama, yang kedua, masih di umur yang sama, ia mencoba
untuk membunuhku diam-diam. Ibuku tak mengerti motifnya apa – kenapa sampai dia
ingin membunuhku.
Cerita itu berakhir saat aku akan
menenggelamkan kesadaranku di atas bantal, ku rasa cerita itu belum selesai,
namun aku tidak akan meminta kelanjutannya karena dilihat dari raut wajah ibuku
semalam, dia ingin membuang semua hal yang terjadi saat itu. Memang benar,
kadang seburuk dan seindah apapun kenangan itu, jika ingatan kita tajam, dia
akan terus berada disana.
Dengan seragam sekolahnya, pagi-pagi buta dia
bertamu ke rumahku. Siapa lagi jika bukan adik dari tetanggaku. Sifat dia dan
kakaknya berbeda. Sangat berbeda. Bagikan langit dan bumi. Mungkin dulunya
orang tua wanita ini ingin anak laki-laki lagi, berhubung yang lahir adalah perempuan,
maka hanya namanya saja yang dijadikan pria.
“Jeong
Hun-aa, wahh penampilanmu pagi ini indah sekali”
“kamsahamnida
eomeoni. Aku kesini hanya memberikan ini,”
“mwoya
igo?”
“ini
untuk abeoji, bukankah hari ini dia ulang tahun? Semalam aku bertanya padanya”
Bahkan dia tahu ulang tahun ayahku. Aku saja
belum sempat memberikan hadiah untuk ayahku sendiri, tapi aku di dahului
olehnya. Tinggal ibuku yang juga akan ulang tahun bulan depan. Semoga saja
bulan depan dia tidak berada di hadapanku. Dia kesini juga sekalian mengajakku
berangkat sekolah. Tapi jam tujuh itu masih terlalu pagi, perjalananku ke
sekolah hanya butuh 20 menit saja.
2
tahun lalu. Malam ulang tahun Raina Ahn.
Di tengah ia sedang mencoba mencari jawaban
itu sendiri, tiba-tiba bel rumahnya berbunyi. Tepat pukul 10 malam.
“Hae
Jin-aa..”
“saengil
chukkahamnida.. Mian terlambat.”
“gwenchana,
kaja. Ahh, aku ingin bertanya satu hal padamu”
Hae Jin sedang menikmati suasana ia menuangkan
segelas anggur. “mwo?”
“mengapa
kau mengatakan kau tidak memiliki adik?”
Hae Jin berhenti menuangkan anggur. Memandang
wajah Raina dalam.
“apakah
kau mau tahu tentang hal itu? Apakah kau tidak takut dengan apa yang terjadi
dengan adikmu jika kau bertanya tentang keluargaku?”
“hajiman,
bukankah bulan depan kita akan bertunangan? Bagaimana bisa aku tidak mengetahui
semua tentangmu?”
“kau
tahu kan aku sangat tidak menyukai keluarga itu.”
“wae?”
“hari
ini kau benar-benar mempunyai keberanian. Apa kau benar-benar tidak menyayangi
adikmu?”
“Park
Hae Jin! Museun iriireo nassneunga?”
“apa
yang terjadi denganku?”
Raina mengangguk. Jari-jari tangannya mulai
mendingin. Badannya terlihat gemetar. Ini kali keduanya Hae Jin marah. Dan ini
yang paling parah. Ia tahu pribadi Hae Jin yang pemarah, tapi ia tidak
menyangka jika ditanya tentang keluarganya akan semarah ini.
“kau
benar-benar ingin tahu?”
Raina kembali menggangguk. Hae Jin memungut
botol anggur dan memecahkannya. Raina semakin takut.
“MWOHAEUNGEOYA
PARK HAE JIN!!!” teriak Raina keras.
Di sudut lantai dua rumah Raina yang gelap,
ada Soo Jin yang diam-diam mengintip kejadian malam ini. Ia tak menyangka bahwa
Hae Jin bisa melakukan itu pada Raina. Meskipun Soo Jin sangat membenci Hae Jin
karena telah berbohong padanya, ia masih mengampuni kebohongan tersebut. Tapi
malam ini Soo Jin benar-benar ingin menghukum kakaknya dengan tangannya
sendiri.
Raina adalah seorang wanita yang ia cintai,
tapi karena pacar Raina adalah Hae Jin, ia mulai menyudahi perasaan anehnya
itu. Sejenak, ia kembali melihat Hae Jin menampar Raina. Dengan mata melotot
Soo Jin berdiri dari tempat persembunyiannya, namun tetap tak terlihat.
Sementara Gae Woon yang sudah tertidur pulas
pun terbangun setelah mendengar pecahan botol tersebut. Ia mulai melangkah
keluar dari kamarnya, dan turun menghampiri suara tersebut. Dan Soo Jin yang
juga akan menampakkan dirinya, terkejut karena Gae Woon turut keluar dari
kamarnya.
“noona,
museun iriya?”
“Gae
Woon!” suara Raina mulai takut. Pengakuan yang di buat Hae Jin beberapa
menit yang lalu, setelah kemunculan Gae Woon, Raina semakin takut.
Dengan cepat Hae Jin mengampiri Gae Woon yang
masih dalam keadaan tidak sadar. “apakah
kau akan melindungi anak ini?”
“neo!
Yang kau inginkan aku, bukan dia. Biarkan dia”
“Ahn Gae
Woon. Raina Ahn, kalau dia tetap disisimu, pasti ini akan sulit untukku”
Suasana dalam ruangan itu semakin menakutkan,
Soo Jin yang awalnya akan menampakkan dirinya kembali bersembunyi karena Hae
Jin mulai garang. Dengan tangan yang gemetar, ia mengambil ponsel yang berada
dalam kantung celananya, ia mencoba menelpon Hae Jin, tapi panggilan itu tak
diangkat.
Dan semakin paniknya, Soo Jin mulai menelpon
rumah Raina, dan hal itu juga tak berhasil. Ia tak mempedulikan suara yang
membuatnya semakin panik. Ia mencoba menghubungi orang-orang yang ada di ponselnya
tersebut. Dan saat akan menekan tombol panggil pada nama ayahnya, suara pecahan
botol dan teriakan nama Gae Woon mengejutkan Soo Jin. Dengan mata telanjang,
Soo Jin melihat Hae Jin memukul kepala Gae
Woon.
“Gae
Woon-aa! Ireona! Ireona Gae Woon-aa! Ireona!”
“noo-noo-noona”
“Gae
Woon-aa, jamkkamaneyo, noona akan memanggilkan 119. Kau tidak boleh
meninggalkan noona”
“apakah
kau akan memanggil 119? Panggil dengan ponsel ini” ponsel yang tadinya
tergeletak di atas meja itu pun dengan kerasnya di banting oleh Hae Jin.
“hyeong!
Mwohaeungeoya!” suara Soo Jin mengejutkan Hae Jin.
“ternyata
kau bukan manusia. Uri appa, jeongmaloeyo. Kau tak sebaik yang ku kira!”
Wajah garang Hae Jin berubah menjadi sebuah
ketakukan saat Soo Jin tengah berdiri tak jauh dari tempatnya.
“Soo
Jin-aa. Mwohaeungeoya?! Cepat panggil 119”
“ne”
Belum sempat menekan tombol panggil, Hae Jin
yang ketakutan pun mendorong Soo Jin hingga terjatuh dan ia pun melarikan diri.
Pemakaman itu berlangsung khitmat. Raina masih
dalam keadaan tak percaya bahwa yang membuat Gae Woon meninggal adalah pria
yang ia cintai selama ini. Pria yang baginya lebih baik dari pria lain. Dan
seorang pria yang mempunyai kepribadian ramah pada semua orang. Namun,
seseorang yang mati-matian ia kenal selama lima tahun itu, hanya dalam waktu
semalam, semuanya bisa berakhir. Sekarang pun polisi masih belum mengetahui
keberadaan Hae Jin. Bahkan setelah melarikan diri semalam, Hae Jin tak kembali
ke rumah. Ponselnya pun sudah tidak aktif. Raina benar-benar tidak menyangka
akan ada hal seperti ini terjadi. Kekhawatiran itu telah terjawab.
“noona.
Mianhamnida. Jeosonghamnida”
“pergi kau
dari sini!”
“noona,
Raina noona, aku akan menangkapnya”
“apa kau
tuli. Bakke! Bakke! Bakkeyo!”
Dengan kekecewaan, Soo Jin keluar dari rumah Raina.
Beberapa hari ia tak mengajar. Dan rumahnya pun masih dalam keadaan yang sama.
Ia masih terdiam dengan kesunyian yang ada di rumah tersebut.
Beberapa minggu kemudian, Raina pindah ke
Gwangju dan mengajar disana. Dengan langkahnya yang lesu, ia meninggalkan
rumahnya – juga percakapan panjangnya dengan Hae Jin malam itu masih dengan
nyata teringat.
Soo Jin yang berencana mampir siang itu
terkejut dengan pernyataan tetangga Raina. Wanita ayu itu telah pindah ke
Gwangju, sebuah kota yang sangat jauh dari Seoul. Dengan langkahnya yang cepat,
ia berjalan pulang dan meminta orang tuanya untuk membatalkan niatannya untuk
mendaftarkan Soo Jin masuk di SMA faforit di Seoul. Ia meminta agar dirinya di
daftarkan di salah satu sekolahan di Gwangju.
Kedua orang tuanya pun terkejut dengan
pernyataan tersebut. Namun, karena Soo Jin terus menerus merengek, akhirnya
keluarga itu pun pindah ke Gwangju. Dan pekerjaan ayahnya yang ada di Seoul
terpaksa ditinggalkan.
㉷
“sebenarnya,
semalam bumi berputar kemana? Kenapa malam ini juga dia pulang dengan pria itu?”
aku menelisik sendirian dari kejauhan. Dan sejenak aku melihat wanita itu
mendatangi dua orang tersebut. Aku kira apa, dia memberikan buku yang ia pinjam
siang tadi. Tapi jika di perhatikan, mereka bertiga sedang membicarakan
sesuatu.
“Jeong
seongsaengnim, Ahn seongsaengnim, apakah aku bisa minta tolong pada kalian
berdua?”
“mwoya?”
“bantu
aku agar aku bisa masuk di satu universitas yang sama dengan Soo Jin.”
“yang
kau maksud Park Soo Jin muridku?”
Jeong Hun mengangguk. Terlihat Raina heran.
Tergambar betul jika dia telah memasang raut wajah heran. Aku semakin penasaran
dengan percakapan tersebut. Inilah waktu yang ku benci, saat aku mengikuti
orang, dan dia sedang berbicara dengan orang lain. Kesalahannya terletak pada
jarakku yang selalu terlalu jauh dari tempatnya berada.
“bukankah
kau direkomendasikan oleh wali kelasmu di jurusan ekonomi?”
“kalau
Ahn seonsaeng tidak bisa setidaknya Jeong seongsaeng bisa? Aah?”
“baiklah,
aku akan membantumu, tapi aku lebih bisa di bahasa”
“Ahn
seongsaengnim..”
Tak lama Raina pun ikut menggangguk. Jeong Hun
gembira setengah mati. Karena Raina noona dan Jeong seongsaeng naik mobil,
akhirnya aku akhiri rasa penasaranku malam ini. Barangkali aku menemukan jawabannya
dari gyuranja itu.
Malam ini warung ayam yang di sebutkan oleh
kakak Jeong Hun ku temukan. Ternyata warung itu ada tepat di sebelah utara
sekolahku. Ini juga kali pertamanya aku masuk di sebuah warung dimana
pengunjungnya rata-rata orang dewasa. Dan jika aku tidak salah menebak, Jeong
Hun si gyuranja itu sedang berada tak
jauh dari tempat warung ini.
Aku kecewa. Amat sangat kecewa. Satu tahun itu
waktu yang sangat singkat jika warung ini telah berganti pemilik. Tapi
alasannya memang masuk akal, tak ada yang tahu umur manusia. Pemilik sekarang
adalah orang yang membelinya dari anak pemilik sebelumnya. Aku sangat ingin
menemui anak pemilik sebelumnya, sayangnya dia sekarang tidak di Korea.
“hya!
Laki-laki cantik, apa yang kau lakukan di dalam?”
Betul dugaanku. “mencari yang di katakan niga oppaga.”
“memang
apa arti jam tangan itu?”
“pemilik
sebelumnya membunuh adik Raina noona”
“Raina
noona? Yang kau maksud Ahn seongsaengnim?”
Dan dari beberapa langkahku tadi aku baru
sadar, aku telah menceritakan insiden dua tahun lalu.
“apakah
kau mengambil hukum karena kau ingin menangkap pelakunya? Apakah di masa lalu
kau pernah dekat dengan Ahn seongsaengnim?”
“kaja.
Busnya sudah datang”
Wanita ini. Aku sarankan padamu, jika kau
bertemu dengannya di masa depan, jika kau ingin rahasiamu tidak diketahui oleh
wanita ini, jangan menceritakannya sekecil apapun kau ingin cerita. Karena
wanita ini jika ia mengetahui suatu hal yang membuatnya terkejut, jika kau
tidak menyelesaikan ceritamu, kau akan di kejar hingga dia menemukan
jawabannya. Seperti malam ini.
Aku benar-benar diluar kesadaranku saat
mengatakan itu. Aku juga tidak mengerti mengapa polisi belum menemukan
keberadaan kkangpae tersebut.
Bukankah dia tipe pria yang gampang untuk di temukan. Aku juga penasaran kenapa
Raina noona menerima jabatan tangan Jeong seongsaengnim, karena selama ia
mengajar di sekolahku, tak ada sejarah dia kembali dekat dengan pria lain.
Dan malam ini, keingginan aneh wanita itu
mulai kembali muncul. Jelas orang tuaku tidak mengizinkannya, bagaimana mungkin
dia ingin tidur satu kamar denganku. Sekarang aku benar-benar menyebutnya gyuranja.
“kamarmu
benar-benar rapi.” ucapnya saat dia melihat isi kamarku. Dengan bau wangi
yang ia cium setelah ia masuk, suasana hangat yang ia rasakan, sepertinya ia
kagum dengan tempat ini. Dan bisa dikatakan bahwa kamarnya tak serapi ini.
Sinar matahari pagi tiba-tiba membangunkanku. Sejenak,
aku melihat wajahnya lebih indah jika ia tidur di banding saat ia bangun. Sinar
matahari pagi ini menyorot wajahnya. Tapi tetap saja, dia gyuranja yang ku temui sejak dua tahun lalu. Suara ponselnya
berbunyi, dan betapa terkejutnya jika kau juga ikut melihat wallpaper yang
terpasang. Itu gambar langit senja dengan siluet empat orang. Yang berambut
panjang itu pasti dia. Disana juga tertulis sebuah kata yang membuatku
merinding.
“aku
ingin melihat senja seperti ini bersama kalian dan dengannya.
Jendela
senjaku di Gwangju sudah lama tak terlihat.
Berbeda
dengan di Jeju, aku bisa melihatnya kapan saja.
Kau
tahu kan betapa indahnya senja saat itu.
Untuk
maniak senja. Senja ini bukanlah yang terindah.
Tapi
aku yakin, tak ada siluet seindah siluet ini.
Untukmu,
uri eomma. Uri appa. Uri oppa. Saranghae.
Saat
aku pertama pindah kesini, cinta itu masih utuh.
Tapi
setahun yang lalu, seorang namja sedikit merebutnya. Gwenchana?”
Jika aku bisa melihat wajahnya saat ini dengan
wallpaper yang terpasang di ponselnya, itu berbeda 180° – sepertinya 180° itu terlalu kecil, ku rasa 360°. Bisa kau lihat dari perilakunya
sehari-hari. Kasar, tidak tahu sopan santun, suka mengejek, tak peduli –
semuanya. Tapi jika ku lihat lagi di kalimat yang ada di ponselnya tersebut,
alasan yang ku sebutkan sebelumnya tidak masuk akal sama sekali.
“bagaimana bisa?”
“mwoya?”
“kau jangan dekat-dekat denganku.”
“kau belum menjawab pertanyaan semalam.
Waeyo?”
“hya! Jeong Hun-aa. Nan-”
“uhh. Kau menyebut namaku. Wahh!!! Hari apa
ini? apakah aku akan mendapat keberkahan dari Tuhan?”
“aku masuk dulu!”
“dia malu.”
Apa yang
sedang terjadi pada diriku sejak semalam sangatlah aneh. Aku belum pernah
memanggil namanya sejak kita bertemu dua tahun lalu. Dan hari ini aku
memanggilnya bukan dengan sebutan gyuranja
tapi dengan namanya, Jeong Hun. Sepertinya otakku ini harus di service beberapa
jam.
Di
sekolah ini, beberapa minggu terakhir ini gyuranja
itu sangat terkenal. Karena tersiar kabar, dia akan mengikuti audisi sebuah agency yang terkenal di Seoul. Tapi
menurutku, kabar itu hanya kabar angin saja, buktinya sekarang dia sedang
serius di perpustakaan.
Seperti
biasa, Ahn seongsaengnim suka sekali mengabsen murid di kelasnya, padahal
sekolah ini sudah di lengkapi dengan absen elektrik sebelum masuk kelas. Tapi
dia sangat suka mengabsen secara manual. Mungkin itu yang ia lakukan di sekolah
sebelumnya, jadi sudah menjadi kebiasaan.
Hari
ini, tepat pukul 2 siang menit ke 52 detik ke 35 hari selasa. Untuk yang
pertama kalinya setelah dua tahun insiden kematian adiknya, Raina noona – ahh
bukan, Ahn seongsaengnim, memanggilku untuk ke ruang guru setelah pelajaran ini
berakhir. Aku sangat menunggu momen ini. Sudah lama aku merindukan suaranya
saat berbicang-bincang denganku.
Pukul
setengah lima sore, perbincangan panjang antara aku dan Raina noona berakhir.
Dia bertanya study yang akan ku lanjutkan, karena sebentar lagi libur musim panas
dan siap memasuki semester akhir. Aku tak mengatakan bahwa aku akan belajar
hukum. Ku bilang aku akan mengambil sastra. Tapi dari raut mukanya, sepertinya
dia sudah mengetahui bahwa aku akan belajar hukum. Maka dari itu dia tidak
kembali menanyakan apa alasanku mengambil sastra.
Dan
setelah dia pergi meninggalkanku di ujung ruang guru ini, saat aku akan
meninggalkan tempat dudukku, aku di buat kagum oleh langit senja yang tak
sengaja ku lihat sore ini. selama umurku 18 tahun ini, ini juga yang pertama
kalinya aku melihat senja. Tapi bukan karena aku telah melihat wallpaper itu,
hanya saja senja ini memang indah.
Dari
sudut jendela ini juga bisa ku lihat gyuranja
itu sedang berbincang dengan berdiri bersama angin yang menghembuskan beberapa
helai rambutnya yang coklat. Sekarang, sama seperti dia saat tidur, dia indah.
Cantik. Tapi ini bukan pujian untuk gyuranja
itu, untuk wanita yang tengah berjalan ke arah gyuranja itu, Raina noona. Tunggu sebentar, beberapa menit yang
lalu Raina noona bilang ia akan menemui seseorang. Orang itu adalah gyuranja itu. Juga Jeong seongsaengnim
sekarang hadir disana.
“apa yang sedang mereka bicarakan?”
bisikku pelan. Aku sangat penasaran dengan apa yang terjadi disana. Tapi untuk
kesana itu sangatlah tidak mungkin. Dan saat aku akan meninggalkan meja Ahn
seongsaengnim, aku melihat sesuatu yang ganjil di meja ini. Setelah aku
menengok kanan kiri, aku kembali duduk. Di sebuah buku, jika kau buka itu bukan
buku asli, itu sebuah kotak yang disamarkan menjadi buku. Disana terdapat foto kkangpae itu dan Jeong seongsaengnim.
“Ahn seongsaengnim”
“ohh, Soo Jin-aa. Waeyo?”
“apakah aku bisa berbicara denganmu?”
“silahkan”
Aku
mengajaknya meninggalkan sekolah ini lebih cepat. Tapi aku tidak mencari tempat
yang jauh, beberapa langkah dari rumah Raina noona. Wajahnya hari ini sedikit
sumringah, aku tidak tahu sedang terjadi apa padanya, yang penting sekarang aku
bisa mengobrol dengannya. Dengan keberanianku, aku menunjukan dua foto dengan
orang yang ku rasa mirip.
Saat dia
melihat foto itu, dia terkejut. Dengan pelan aku mulai bertanya yang tidak ku
ketahui.
“noona! Daedapae. Noona!” teriakku.
“apakah mereka orang yang sama?”
“NOONA!!” hingga aku teriak bagaimana pun
dia tetap diam.
“arasseo, mereka orang yang sama. Wae?”
Setelah
aku mengeluarkan pertanyaanku yang kesekian kalinya, aku mulai diam. Membiarkan
Raina noona berpikir. Mungkin aku terlalu
keras dengan ucapanku.
Setelah
lima menit aku menunggunya, akhirnya dia menatapku tajam. Tatapan itu seolah
ingin aku merahasiakan ini. Tapi sayang, belum sempat aku mendengar ucapan yang
keluar dari mulut manis itu, muncul si gyuranja.
Dan kedatangannya pun merusak segalanya. Kacau.
“kalian pulang bersama? Ahh, seongsaengnim,
apakah rumahmu di sekitar sini juga?”
“ohh, Jeung Hun-aa, ne. Rumahmu dimana?”
“tepat di sebelah rumah Soo Jin”
Selagi
dia berbincang-bincang dengan Raina noona, aku memilih pulang lebih dulu di
banding nanti harus berjalan bersama dengan gyuranja
itu. Selain mengurungnya, aku juga ingin membuang wanita itu ke ujung dunia.
Karena dia semuanya jadi berantakan.
“apa tidak bisa dia tidak muncul di hadapanku
sehari saja! ssip-”
“waeyo?”
“eomma, aku ingin membuat permintaan padamu.
Appa, neodo”
“mwo?”
“nanti, jika ada si gyuranja datang, dan
mencariku. Katak-”
“siapa yang kau panggil dengan sebutan gyuranja?”
Mata
ibuku mulai melirik licik. Aku salah sebut. Dia sangat tidak suka jika aku
menyebut nama orang lain dengan sebutan yang tak pantas. Memanggilnya dengan
nama hewan saja dia sudah marah, uri
eomma daebak.
“aigoo, waeyo?”
Belum
selesai, dia menerobos masuk. Dengan beberapa buku yang ada di tangannya,
senyumnya melebar. Ibu dan ayahku menyilahkan. Aku menghela nafas panjang dalam
setiap hembusan nafasku. Dia mendatangiku karena ingin belajar bersama. Sungguh
aneh.
“sebenarnya, aku mengetahui apa yang kalian
bicarakan waktu di persimpangan jalan”
Suaranya
terdengar pelan dan halus. Aku tak mempedulikannya, karena pembicaraan itu
belum selesai.
“wae? Kenapa kau diam? Bukankah kau ingin
tahu siapa Jeong seongsaengnim sebenarnya?”
Dari
lubuk hatiku aku sangat ingin mengetahuinya, tapi dari mulut anehnya, ku rasa
tidak. Dia masih diam sambil memandangku dengan tatapan yang serius dengan
tugas-tugasku, aku tidak berpikir sejauh itu. Tidak mungkin dia mengetahui yang
tidak ku ketahui.
Libur musim panas
Hingga
musim ini menghampiriku, aku belum menemukan apa yang di kerjakan gyuranja itu bersama dua orang guru
tersebut. Dan belum pernah kulihat betapa seriusnya beberapa hari terakhir
wanita itu untuk belajar. Bahkan untuk yang kesekian kalinya, dia sudah tak
mengikutiku di belakang. Aku merasa bebas, tapi aku juga penasaran. Serta aku
mulai ingin menanyakan hal yang terus menerus mengusik pikiranku.
Pagi ini
sebelum aku berangkat ke Seoul, aku menyempatkan diri untuk pergi ke warung
ayam tersebut, dan sejenak aku melihat tubuh yang mirip dengan kkangpae itu masuk ke dalam warung
tersebut. Setelah aku melihat wajahnya, ternyata itu Jeong seongsaengnim. Hari
ini aku di buat penasaran lagi dan lagi. Belum cukup dengan gyuranja itu, kini Jeong seongsaengnim
menambahkan di daftar buku penasaranku. Punggungnya benar-benar mirip dengan
dia. Aku adalah adiknya, meskipun kita sudah tidak bertemu selama dua tahun, tapi
jika melihat punggungnya aku sangat mengenali punggung tersebut.
Tapi
jika waktu ini bisa ku putar, foto yang disimpan Raina noona itu terlihat mirip
antara keduanya. Dan Jeong seongsaengnim sangat jarang berbicara denganku,
padahal dia tahu kemampuan bahasa inggrisku lemah, tapi dia sama sekali tak
mempedulikanku. Aku tak mengetahui asal muasal Jeong seongsaengnim, tapi aku
tahu tempat tinggalnya itu di apartemen mewah di ujung sebrang sana. Jika itu
benar dia, bagaimana bisa Raina noona tak mengenali – bukan hanya Raina noona,
aku juga.
“apakah dia operasi plastik? Operasi plastik?!
Hoksi?”
“kau berencana operasi plastik? Aigoo. Kau
sudah tampan,”
“apa yang kau lakukan disini?”
“kata ibumu, kau akan ke Seoul hari ini.”
Setelah
lama menghilang dari penglihatan mataku. Penampilannya hari ini benar-benar
rapi. Benar-benar seperti seorang yeoja.
“wae?”
“gwenchana. Galke.”
“jamkkaman. Kau dekat dengan dengan Jeong
seongsaengnim bukan?”
“wae?”
“kau tahu, dia itu berasal dari mana?”
“Ulsan. Waeyo?”
“bukankah Raina noona dari sana juga?”
“hya! Laki-laki cantik, kenapa jika di luar
sekolah kau memanggil Ahn seongsaengnim dengan sebutan Raina noona?”
“galke”
Hari ini
aku masih sadar. Aku tidak mungkin menceritakan yang lebih lagi kepada wanita
ini. Tapi, otak licik wanita ini selalu berjalan lebih cepat dari yang ku kira.
Dia mengancamku. Ancamannya memang tidak masuk akal, tapi bagaimana jika
benar-benar terjadi. Meskipun dia kasar, tidak tahu sopan santun dan
sebagainya, dia seseorang yang sangat menepati janji. Tapi aku tidak tahu jika
ini akan benar-benar ia jaga.
Selama
sekitar 15 menit aku bercerita tentang insiden dua tahun lalu. Tapi dari
ekspresi wajahnya yang datar, seolah dia sudah mengetahui ini sebelumnya. Di
kereta menuju Seoul ini, aku mulai menyarankan agar dia menjadi seorang
detektif. Kurasa sifat liciknya itu berguna untuk penyelidikan jika dia ikut
aktif di kepolisian. Tapi selama 15 menit ini, aku belum mendengar alasannya
kenapa pergi ke Seoul.
“kau mau mengunjungi universitas apa?”
“bukankah kau tidur?”
“aku tidak bisa tidur di tempat yang ramai.
Universitas apa yang akan kau masuki? Masih tetap dengan jurusan hukum ya?”
“wae? Mengapa jika aku mengambil jurusan
hukum?”
“gwenchana. Aku ingin mengambil sastra.”
Sastra.
Itu alasan yang ku gunakan untuk mengelabuhi Raina noona. Sepertinya aku tahu
mengapa akhir-akhir ini dia bekerja keras. Pantas di acungi jempol. Bukan
orangnya, tapi kerja keras yang ia lakukan.
“Jeong seongsaengnim, niga hyeongi”
ucapnya di sela-sela mulutnya yang sedang mengunyah permen karet. Aku yang
sedang minum pun tersedak.
“MWORAGO!!!” suaraku mengeras dan
mengejutkan beberapa orang, termasuk wanita gyuranja
ini. Tanpa di sangka, dengan keras pula dia menendang kakiku. Matanya melotot
seakan-akan bola matanya ingin keluar.
“kecilkan suaramu bodoh! Ini aku ketahui dari
Ahn seongsaengnim”
“neo! Kau memanggilku dengan sebutan bodoh?
Paboya? Aigoo.”
“memang ada masalah? Setiap hari juga kau
memanggilku dengan sebutan gyuranja. Baiklah jika kau memang tidak ingin tahu.
Jangan menggangguku.” dalihnya sangat panjang hingga membuatku muak. Tapi
jika bisa kembali ke beberapa menit yang lalu, dia tahu ini dari Raina noona.
“apakah sedekat itu kau dengan Raina, ani,
Ahn seongsaengnim?”
“mengapa dia cerita itu padamu?”
Aku
mulai kesal dengan sifat ini, ku coba menendang kakinya, dia lebih dulu
menghindar. Dan selama perjalanan ke Seoul, dia tetap diam dan dia kini tidak
berjalan di belakangku, namun di depanku lebih jauh. Langkahnya sangat cepat.
“jika aku di beri porsi kehidupan yang lebih
penting di masa depan, aku ingin bersama Raina noona. Tapi itu dulu. Di kereta
ini bulu matanya menarik perhatianku. Tapi hanya bulu matanya, bukan yang lain.
Jadi aku tetap ingin dengan Raina noona”
㉷
Seminggu
sudah aku diam di rumah. Setelah kunjunganku ke sebuah universitas di Seoul
beberapa hari lalu, seminggu juga aku tidak melihat wanita gyuranja itu berkeliaran di area rumahku. Kabar angin yang ku
dengar dia sedang mengunjungi orang tuanya di Jeju, tapi setiap malam aku lihat
dia pulang dari suatu tempat.
Akhir-akhir ini
dia sangat sukses membuatku penasaran. Juga Raina noona yang tadi pagi ku
kunjungi sedang tidak di rumah. Tak biasanya dia keluar pagi-pagi sekali saat
libur musim panas seperti ini. Dan jacpot
pun ku dapat, aku bertemu dengan wanita gyuranja
itu tepat di depan rumahku. Dia hanya menyapaku lalu pergi.
“hya! Kau bilang kau ke Jeju”
“bukankah kau tidak ingin tahu tentang
diriku? Galke.”
“aish! Hya! jamkkaman”
Dia
seolah sedang mengurusi sesuatu yang penting. Aku juga sedang mengurusi sesuatu
yang penting, tapi setidaknya dia bisa meluangkan waktunya sedikit. Untuk yang
kedua kalinya ku panggil namanya, dan ini sangat lengkap. Di lihat dari
punggungnya dia sedang tersenyum. Tapi setelah dia membalikkan badannya, raut
wajahnya sama dengan beberapa menit yang lalu, datar.
“I’m busy”
“apa yang terjadi dengan cara bahasanya?”
aku bertanya sendirian sedari tadi. Sudah pukul setengah dua belas malam, di
balik jendela kamarku, aku belum melihat dia kembali ke rumah.
“sebenarnya apa yang dia lakukan hingga
selarut ini?” tanya ku kemudian.
Dan karena
aku lelah dengan hari ini, aku mulai beranjak dari jendela kamarku, tapi ku
lihat dia mulai kembali ke rumah dengan sebuah mobil yang mengantarnya. Mobil
itu tak lain adalah mobil Raina noona. Dengan cepat aku melangkah keluar dan
mendapati mereka berdua masih disana. Wajah dua wanita itu terkejut. Mereka
menatapku secara bersamaan.
“museun iriya?” aku bertanya penasaran.
Mataku sekarang sebenarnya sangat ingin tidur.
“tanya pada Jeung Hun, galke.” Raina
noona seolah mengacuhkanku.
Sesaat
setelah kepergian Raina noona, aku mulai menatap wanita yang di depanku.
Tatapanku tajam. Dan kata yang keluar bukan memecahkan rasa penasaranku, tapi
malah mengejutkanku dan segera meninggalkanku sendiri.
“hya! Bagaimana bisa kau mengatakan itu?”
Beberapa
minggu kemudian libur musim panas tinggal lima hari lagi. Otakku benar-benar
kacau. Satu sisi aku sedang sibuk menyiapkan semester akhir di tahun ini, satu
sisi aku penasaran dengan apa yang terjadi antara Raina noona dan wanita gyurunja tersebut. Satu sisi juga, entah
kenapa aku juga merindukannya. Bulan ini ibuku ulang tahun, dia pun tidak datang ke rumahku.
Rencana
hari ini akan ku habiskan dengan datang ke perpustakaan, dan disana aku
menemukan gyuranja hidupku. Aku bisa
melihat betapa seriusnya dia belajar. Dengan pensil yang ia ketuk-ketukkan ke
meja, rambutnya yang di ikat rapi, baju yang terpadu apik, dia terlihat
mengagumkan. Aku mulai mengambil sebuah buku dan duduk tak jauh dari tempat gyuranja itu duduk. Aku tak menyangka,
dia benar-benar serius menjalani semua ini.
Dan,
setelah aku membuka buku ku, aku mulai sadar bahwa buku yang ku ambil adalah
buku panduan untuk pariwisata. Setelah
aku sadar, aku menepuk pipiku pelan. Beberapa menit yang lalu aku sangat
menikmati wanita itu sampai-sampai aku salah mengambil buku. Ini untuk yang
pertama kalinya aku seperti ini.
“aigoo. Sepertinya liburan kali ini tak
menyadarkan otakku sepenuhnya” keluhku dan mulai mengambil buku yang lain.
Dan saat yang bersamaan pula, wanita itu datang di balik rak buku dengan
mengejutkanku. Aku hanya memasang wajahku datar dan tak peduli. Tapi semakin
aku datarkan wajahku, dia mulai pindah meja. Aku terkejut seketika. Entah apa
ini aku tidak tahu, rasanya menatap matanya hari ini membuatku senam jantung.
“mwohaeungeoya?” tanyanya saat aku masih
tertegun menatapnya.
“apa yang ku lakukan disini bukan urusanmu.”
“ahh, matta! Baiklah, lanjutkan”
“ohh.”
Dan
ucapanku yang terakhir telah melebarkan sedikit bibirnya, tapi dia tetap
meneruskan menulis. Senyumnya memang tak mengejek, tapi aku merasa kesal. Ini
kali pertama aku merespon kata-kata yang sudah tak perlu untuk di respon.
Di ruangan
ini dipenuhi dengan anak-anak yang sedang berada di tahun ketiga. Entah itu SMP
atau SMA. Mereka semuanya sibuk dengan buku masing-masing, kecuali aku. Aku
sibuk dengan keadaan yang sedang ku alami, sebenarnya apa yang sedang terjadi
padaku akhir-akhir ini? Aku sendiri pun bingung dengan semua ini.
Pukul
lima sore, aku sudah mulai konsentrasi dengan buku ku beberapa jam yang lalu.
Karena tidak boleh membawa makanan ke dalam perpustakaan, aku di buat tekejut
dengan suara wanita itu. Dia mengajakku makan sebentar. Aku masih diam, aku
masih konsentrasi dengan buku ku. Beberapa menit kemudian, dia masih tetap
duduk di depanku dengan wajah yang menatapku penuh. Karena aku terus tak
merespon ucapannya, tanganya mulai bergerak mendekati bukuku.
“mwohaeungeoya?!”
“ohh kkamjjagiya! Kau sangat serius dengan
buku itu, apakah kau tidak lapar?”
Aku
tetap menjawabnya, tapi tak menatap wajahnya. “waeyo?”
“waeyo? Aigoo. Nan baegopeun,”
“makan saja sendiri”
“apakah kau tidak rindu denganku? Selama
liburan ini, kau membuatku rindu”
“ani, pergi saja sendiri”
“arasseo”
Setelah
dia pergi dari hadapanku, aku mulai mencerna kembali kata-kata yang dia ucapkan
tadi. Rindu. Bogoshipeo. Tapi ada
yang di lupakan olehnya, ponselnya masih tergeletak di atas meja. Dan saat ku
lihat wallpapernya, wallpapernya masih tetap sama dengan saat itu.
“jika dia rindu mengapa menghilang dari
hadapanku? Ahh ani ani, apa yang sedang ku pikirkan. Yang ku rindukan adalah
Raina noona.”
Di
sepanjang aku sedang di perpustakan. Selama wanita itu belum kembali dari
makannya, aku melihat Jeong seongsaengnim bersama seorang wanita. Bukan Raina
noona, tapi ku rasa aku pernah melihat wanita tersebut. Mereka juga sedang
memasuki perpustakan yang sekarang sedang ku tempati. Di antara keduanya
terlihat keakraban yang sangat kental. Tergambar bahwa mereka sudah kenal
sangat lama. Dan setelah Jeong seongsaengnim datang, wanita gyuranja itu kembali dari makan
malamnya. Raut wajahnya terkejut melihat Jeong seonsaengnim yang juga tengah
berada di dalam perpustakaan ini.
Dengan
cepat dia merogoh kantongnya, sedang mencari ponsel. Karena aku penasaran, ku
lambaikan tanganku dengan menggenggam ponselnya, wajahnya sumringah, tapi tetap
saja terkejut. Sebuah pesan dia kirimkan ke seseorang.
“waeyo? Apakah ada sesuatu yang terjadi?”
tanyaku saat dia kembali duduk di tempatnya. Namun, pertanyaanku tak di jawab.
“waeyo?”
“bukankah kau tidak ingin mengetahui yang
terjadi di hidupku?”
“Jeong Hun-aa,” entah apa yang singgah di
otakku, aku memanggilnya dengan memegang jari-jari tangannya. Dia mulai
menatapku. Begitu pula aku, tapi tatapanku mulai surut saat aku melihat Raina
noona datang. Sepertinya wanita ini menyadari kedatangan Raina noona, dengan
cepat dia melepaskan peganganku.
“Soo Jin-aa, niga yeogisseo?” ucapan
Raina noona seolah tak menginginkanku disini untuk sekarang.
“ani, aku sudah selesai. Aku akan pergi,
waeyo?”
“hajima. Ohh?”
Entah
kenapa karena kata-katanya itu aku mengangguk menurut.
㉷
Aku
merasa awal di semesterku yang terakhir ini aku akan mendapat kekacauan yang
tak ku inginkan. Di segala media cetak, baik tv maupun koran, berita tentang
Jeong seongsaengnim mencuat. Aku masih terkejut atas kejadian di pespustakaan
lima hari lalu. Selama ini ternyata aku tidak tahu, Jeong seongsaengnim adalah
Park Hae Jin, nan hyeongi. Dua wanita
yang sedang berjalan di depanku selama ini bergerak lebih cepat dari pada yang
ku kira.
Sekarang
aku baru mengerti mengapa Raina noona mendadak pindah ke Gwangju dan dengan
cepat menerima ajakan Jeong seongsaengnim saat itu. Raina noona bukan wanita
rapuh seperti perkiraanku, dia kuat. Bahkan dia bisa membuat uri hyeongnim masuk penjara. Saat orang
tuaku mendengar kabar tersebut, terkejut, tak percaya, terharu – semuanya
mereka rasakan. Aku juga tak menyangka orang yang pernah ku idolakan setelah
orang tuaku bisa berbuat seperti itu.
Dan hari
ini otakku mulai salah bekerja lagi, dengan rambutnya yang selalu di ikat rapi,
membuatku rindu padanya, pada gyuranja
tersebut. Seolah Raina noona mulai tergeser dari hatiku. Dan aku terkejut
dengan pengakuannya semalam.
13 jam yang lalu
Malam
ini aku di ajak Raina noona makan malam, bersama keluargaku dan tidak
ketinggalan keluarga gyuranja
tersebut. Kita semua makan di sebuah restoran yang bergaya nostalgia. Aku jadi
teringat saat aku pertama bertemu dengan Raina noona, aku sering teringat
dengan moment tersebut, karena saat itu adalah saat pertama kali saranghana bwa. Aku yang saat itu masih
SD tidak bisa mengatakan itu cinta, tapi saat aku SMP dan sekarang, aku
mengatakan itu cinta.
Semua
orang di meja ini sangat bahagia. Terlebih Raina noona, hari ini hari yang
menyakitkan bagiku. Orang tuaku yang dianggapnya seperti orang tuanya sendiri,
mengenalkan pacar barunya. Aku tak menyangka bahwa pria itu adalah Jeong Min hyeong. Ini sangat mengejutkanku. Tapi
tidak bagi tiga orang yang berada satu meja denganku, mereka sangat bahagia.
Menurut
cerita yang ku dengar, mereka berdua bertemu saat tak sengaja sedang berada di
rumah makan. Mereka adalah teman lama. Memang, Jeong Min hyeong adalah orang Jeju, tapi setengah dari hidupnya sekarang ia
habiskan di Gwangju dan Seoul. Aku merasa akuntan muda ini hidupnya nomaden.
Sekitar pukul
setengah sembilan malam, aku yang berlajan paling belakang di kejutkan dengan
rengkuhan tangan wanita gyuranja
tersebut. Dan lagi-lagi rengkuhan itu membuatku senam jantung. Entah karena apa
dan kenapa. Dengan cepat aku melepaskan rengkuhan tersebut.
“mianhae” suara yang ku dengar di
sela-sela telingaku sedang mendengarkan musik.
“hya! Soo Jin-aa” lanjutnya lagi.
Langkah
kaki ini ku hentikan sejenak. Aku menoleh ke arahnya yang masih berada di
belakangku. Wajahku tak lebih dari wajah orang yang tak peduli. Tapi wanita itu
mengerlingkan matanya dan itu membuatku geli.
“wae?”
“mianhae, selama tiga tahun terakhir aku
membuatmu terusik. Bahkan kau memanggilku dengan sebutan gyuranja”
“kau sadar? Ohh sesange..” aku mulai
melepaskan headsetku sebelah.
“ohh, aku sudah sadar dari dulu. Aku bersikap
seperti itu bukan karena aku menyukaimu, aku hanya ingin menggali info tentang
Hae Jin oppa dari keluargamu.Karena aku ingin membantu seongsaengnim”
Dan
pernyataan itu membuatku terkejut setengah mati. Rasanya kado untuk hari ini
belum cukup.
“kau memaafkanku kan?”
Aku
hanya mengangguk tak peduli dan menyumpal telingaku dengan headset lagi. Volume
lagu ku keraskan. Perasaan yang aneh itu memang belum bisa di sebut cinta, tapi
jika dibiarkan tumbuh lama-lama menjadi cinta. Dan yang merasakan perasaan aneh
itu hanya aku. Wanita yang selama ini aku panggil dengan sebutan gyuranja itu – wanita itu hanya membantu
Raina noona. Tidak lebih dari itu. Dan sekarang gambaran raut senyumannya
menghampiri otakku.
“apakah kau marah?”
“untuk apa aku marah. Bahkan aku bersyukur
kau sadar.”
Sejenak
langkah wanita itu terhenti dan mulai meraih pundakku. Dia berbisik sesuatu
yang tidak bisa di cerna oleh otakku. Dan beberapa menit kemudian sudah tidak
terdengar langkahnya, aku mulai bergeming sendirian. Tapi aku tak menyangka,
saat aku menengok ke belakang ternyata wanita itu masih berdiri terdiam.
“kau tidak jadi ke Seoul?”
“ani. Wae? Bukankah kisah Raina noona sudah
selesai?”
“ahh geurae! Kau benar. Ne! Lagi pula tidak
ada untungnya aku mengikutimu terus! Joa, aku akan karaoke. Kau tidak ikut?”
“masih banyak yang harus ku kerjakan.”
Sementara
yang lain memilih karaoke bersama, aku lebih memilih untuk persiapanku ke
sekolah esok hari. Itu alasan yang ku pakai, cukup masuk akal memang, tapi
sebenarnya bukan itu yang membuatku tidak ikut. Gyuranja itulah yang membuatku memilih tidak ikut. Ku ulangi sekali
lagi, aku heran dengan diriku sendiri, aku merasa sakit saat dia berkata “aku bersikap seperti ini bukan karena aku
menyukaimu” cukup sampai itu saja. Kata-kata itu bagaikan sebilah samurai
yang mendadak tertancap di diriku.
“jadi selama beberapa bulan terakhir ini, aku
sendiri yang merasakan hal tersebut. Aigoo.”
5 tahun kemudian
Hari-hari
ku saat semester akhir di SMA ku lalui dengan cepat, dugaan awal akan ada
kekacauan itu tak datang. Jalanku mulus hingga sekarang. Dan saat itu, lagi-lagi
orang tuaku pindah ke Seoul, ke rumah lama kita. Karena perpindahan itu mereka
putuskan saat aku libur pendek setelah kelulusanku, aku membantu mereka membawa
barang-barang mereka ke Seoul.
Saat itu
aku memilih tetap di Gwangju, karena wanita itu seolah menahan kepergianku,
padahal dia sudah fix untuk berangkat
ke Seoul. Dan akhirnya aku tidak mengambil hukum, aku belajar tentang
kedokteran. Sangat melenceng dari segala yang ku pikirkan bukan. Selama aku
kuliah hingga sekarang, aku tidak tinggal di rumah tersebut, rumah yang penuh
dengan onar. Aku pindah ke sebuah rumah inap yang jaraknya lebih dekat dari
kampus.
Hari ini
adalah hari bersejarah bagiku, setelah aku mengikuti magang di rumah sakit
kampusku, dan mulai di pekerjakan sementara. Hari ini pengangkatanku sebagai
seorang dokter di salah satu rumah sakit di Gwangju.
Tentang
Raina noona dan Jeong Min hyeong,
mereka sudah menikah dua tahun setelah makan malam itu terjadi, dan sekarang
kabarnya Raina noona telah melahirkan seorang anak wanita yang tak kalah cantik
dengan Raina Noona.
Dan satu
orang ini masih membuatku gamang. Karena sampai saat ini perasaan aneh lima
tahun lalu masih berada menetap di diriku. Dari kabar yang ku dengar, dia telah
menjadi seorang polisi di kantor kepolisian pusat Seoul. Dan saat kelulusannya
dulu, dia meraih gelar mahasiswa terbaik di akademi kepolisian. Aku turut
bahagia mendengar itu. Tapi setelah lima tahun ku lewati, jika aku bertemu
dengannya, aku ingin mengatakan hal yang konyol. Tapi hanya hal tersebut yang
ingin ku katakan. Jika aku tidak bisa bertemu, namun kau bertemu dengannya –
atau mungkin kau temannya, sampaikan hal tersebut.
“meskipun aku memanggilmu dengan sebutan
“gyuranja”, tidak melihatmu selama lima tahun membuatku merindukanmu.”