Kamis, 31 Juli 2014

때때로


Di sebuah bangunan tua, sore ini ia masih duduk disana. Tahun ini ia memasuki umur yang ke 9. Masih cukup dini. Bahkan sangat dini. Namun, di usia tersebut ia sudah di terpa sebuah permasalahan yang sengaja menghampirinya setelah adiknya lahir lima tahun lalu. Bagi orang lain mungkin iri karena kini yang menghiasi rumahnya bertambah satu orang, tapi di dalam dirinya bukan itu masalahnya, melainkan sikap orang tuanya yang tiba-tiba berubah begitu saja.
Ayahnya adalah seorang dosen di sebuah universitas dan ibunya seorang guru sebuah SMA di Busan. Bae Yu Ri. Seorang anak kecil yang hari ini tengah dilanda kebingungan. Tidur-makan-sekolah-belajar. Empat kegiatan yang tak pernah terlewatkan.
Di sekolah, Yuri yang selalu di jauhi teman-temannya selalu mencoba menghibur dirinya sendiri dengan datang ke sebuah bangunan tua. Disana tak ada orang lain selain dirinya yang kesepian. Dibangunan ini juga, Yuri selalu memikirkan perkataan ibunya bahwa ia harus menjadi seorang ahli bedah. Juga perkataan ayahnya yang menginginkannya menjadi ahli fisika. Setiap memikirkan hal itu, Yuri selalu menghela nafas panjang. Umurnya baru 9 tahun, namun segala yang terjadi di hidupnya untuk masa depan seakan sudah di tentukan oleh kedua orang tuanya yang selalu mengontrol segala kegiatan yang di lakukan oleh Yuri.
Hari ini untuk yang pertama kalinya, ada sebuah langkah kaki tengah berjalan mendekat. Yuri mulai menoleh. Memandang sepatu yang terus berjalan mendekatinya. Pelan-pelan ia mulai menjalankan bola matanya melihat orang tersebut.
eomeona! Park Ji Eum? Mwohaneungeoya?
kau sendiri sedang apa disini? Sepertinya kau sangat menikmati
Yuri mengangguk. Tempat ini sudah dianggap Yuri sebagai rumah keduanya saat orang-orang mulai tak memperdulikannya lagi.
aku akan pindah ke Seoul. Aku sangat tidak menginginkan itu
wae?
disana aku akan tinggal bersama uri halmeoni
Yuri hanya tersenyum simpul. Ji Eum, seorang teman yang pernah dekat dengan Yuri. Sejak mereka duduk di bangku TK mereka berteman baik. Namun, setelah masuk SD entah apa yang terjadi Ji Eum sedikit menjauh dari Yuri.
Sembilan tahun setelah kelahirannya, dijauhi seseorang yang sudah dekat dengannya seperti sudah menjadi hal yang biasa bagi Yuri. Bahkan orang yang ia percaya menghianatinya seperti angin lalu yang dengan gampang ia maafkan saat mereka minta maaf.

Pukul tujuh malam. Yuri baru menginjakkan kakinya kembali di rumah. Mata ibunya sudah melotot memandanginya yang baru saja mengucapkan salam. Omelan ibunya yang sengaja memuncak bagaikan pengganti makan malam.
aku tidak ingin menua di rumah ini. – 15 Maret 1993
Yuri langsung menyambar handuk dan menanggalkan buku hariannya. Entah ia salah paham dengan sikap orang tuanya yang selalu menyalahkannya atau yang lain, Yuri tak tahu. Yuri masih anak kecil, namun yang ia fikirkan melebihi orang dewasa. Apapun yang ia lakukan dengan telat, ibunya yang hanya sibuk dengan adiknya selalu memarahinya dengan suara keras hingga membuat jantung Yuri berdetak lebih kencang.
ahh, eomma. Ri Ah, apakah sudah pergi beristirahat?
bisakah kau sekarang pergi belajar? Mengapa setiap pulang sekolah kau selalu menonton tv?
Yuri tersenyum. Memperhatikan ayahnya yang sedang sibuk membaca koran.
kau jangan memandangku seperti itu. Cepat pergi belajar. Kau harus menjadi ahli fisika.
Yuri mulai berdiri. Melangkah memasuki kamarnya yang berada di ujung. Ia mengambil sebuah buku. Bukan buku pelajaran, melainkan sebuah kliping yang sengaja ia buat dari beberapa koran ayahnya yang sudah tak terpakai. Ia usap sampul buku tersebut. Seolah-olah ia mampu berkomunikasi dengan buku-buku yang tertata rapi di meja belajarnya. Setelah terdiam dalam waktu yang cukup lama, kemudian disusul dengan gelengan kepala Yuri, tiba-tiba ibunya menerobos masuk ke kamar Yuri. Menaruh dua buah buku yang harus di pelajari oleh Yuri. Materi di dalamnya adalah materi yang sangat tidak disukai Yuri.
baca ini. Jangan tidur dulu.
Yuri hanya mengangguk pasrah. Ia tak pernah menolak apa yang ibunya berikan. Meskipun itu sama sekali tak disukai oleh Yuri. Setelah ibunya meninggalkan kamarnya, ia mulai meraih buku yang tergeletak di atas kasur. Hanya mengambilnya lalu di tata rapi di antara buku-buku sekolah.
Yuri tak pernah menginginkan profesi sebagai ahli bedah maupun ahli fisika seperti yang diinginkan kedua orang tuanya, ia memiliki ketertarikan khusus dalam dunia sejarah dan ilmu sosial. Meskipun persaingan pendidikan di Korea yang sangat ketat, tak pernah membuat Yuri terfikir untuk mempelajari seperti yang diinginkan kedua orang tuanya. Menurutnya, mendalami ilmu sejarah adalah sebuah time travel yang mengasyikkan. Bahkan menurut Yuri, ia merasa mampu belajar segala hal di samping belajar sejarah. Sudah sekian banyak kliping-kliping yang sengaja ia buat. Di sebuah box yang tersimpan di bawah kasurnya, disana tempat persembunyian kliping-kliping tersebut.

Pukul setengah tujuh pagi. Yuri yang akan berangkat ke sekolah tiba-tiba di cegah oleh ayahnya untuk masuk ke dalam mobil. Yuri sejenak bingung. Belum sempat mengeluarkan pertanyaan, ayahnya sudah mengeluarkan alasannya yang susah dicerna oleh otak Yuri.
kau jangan melulu bergantung pada orang tua” ucap ayah Yuri.
Ibunya hanya diam tak berkata apapun. Setelah ayahnya berangkat bekerja ibunya kembali masuk ke dalam rumah. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia melangkah berangkat sekolah. Di halte, Yuri menakar uang sakunya untuk naik bus.
Yuri-aa!” panggil seseorang.
Dia bukan Ji Eum. Tapi temannya yang lain. Ia diberi tawaran untuk berangkat dengannya ke sekolah. Yuri menolak. Temannya memaksa. Dalam perjalanan 30 menit, ia sampai di sekolah.
Bae Yu Ri. Bukankah dia anak seorang dosen? Tapi dia memaksaku untuk memberinya tumpangan ke sekolah
gomapta Ha Young-aa” ucap Yuri yang segera meninggalkan Ha Young yang sangat hobi mengolok-olok Yuri.
Pelajaran dimulai. Yuri bukanlah murid yang pandai. Bukan juga murid yang bodoh. Jika di tes IQ, mungkin dia berada di poin rata-rata. Namun, setiap pelajaran yang behubungan dengan angka, entah mengapa kepala Yuri selalu pusing jika terus menerus mengikuti penjelasan guru.
Hari ini juga, nilai tes minggu lalu di bagikan. 80 poin. Yuri tersenyum dengan poin tersebut. Namun, berbeda dengan dua orang yang kini tengah memarahinya di ruang tamu.
gunakan otakmu! Bagimana kau akan menjadi ahli fisika jika nilai matematikamu hanya sebatas ini?!” bentak ayahnya.
apakah kau tidak bisa meningkatkannya? Mengapa terus menerus hanya 85?!” sambar ibunya.
Yuri hanya mampu mengucapkan maaf. Malam ini adalah malam pertama orang tuanya memarahinya karena nilai ulangannya yang mendapatkan 80 poin di bidang pelajaran matematika dan 85 poin di sains. Air matanya terus ia tahan hingga orang tuanya meninggalkannya di ruang tamu sendirian.
apakah akan ada suara seperti hari ini di hari berikutnya? – 16 Desember 1993

Maret 1996
Yuri memasuki tahun terakhir di SD. Satu tahun kedepan, Yuri persiapan masuk ke SMP. Tahun ini juga adiknya masuk di SD yang sama dengan Yuri. Sama dengan dirinya, adiknya juga sudah disiapkan karir masa depan oleh kedua orang tuanya. Namun, hanya satu profesi dan harus dijalankan. Jaksa. Sebuah profesi yang dulunya sangat diinginkan oleh ibu Yuri. Berbeda dengan Yuri yang diam-diam menolak keinginan kedua orang tuanya, Ri Ah menerima keinginan orang tuanya dengan lapang dada.
Minggu yang cerah di musim panas. Seperti biasa, Yuri setiap hari libur sekolah selalu duduk di bangunan tua tersebut. Di bawah pohon yang sangat rindang, angin meniup rambut coklat Yuri. Segera ia menyelipkan rambutnya di sela-sela telinga. Di tangannya ia pegang sebuah kamera yang tahun lalu dibelikan oleh ayahnya karena peringkat yang di dapat Yuri.
Meskipun ia mendapatkan kamera tersebut, dan mendapatkan peringkat kedua di kelasnya, tak membuat sikap orang tuanya berubah begitu saja. Yuri di suruh belajar lebih keras agar saat upacara sekolah satu tahun ke depan ia mendapatkan cumlaude. Dengan mata yang menerawang jauh, Yuri membayangkan kelak saat dirinya menjadi seorang sejarahwan. Sejenak senyum itu mendarat di wajah Yuri.
apakah kau sedang bahagia?” tanya seseorang yang sempat mengejutkan Yuri.
Ji Eum? Oraenmanieyo?
Ji Eum tersenyum polos.
bagaimana di Seoul? Apakah orang-orang disana ramah?
ne.
logatmu terdengar seperti orang Seoul asli
Ji Eum tergelitik mendengar pernyatan Yuri. Pertama di Seoul, Ji Eum mati-matian mengubah logat kental Busannya dengan logat Seoul.
kamera? Apakah orang tuamu sudah merestui impianmu?
Yuri memandang kameranya dan tersenyum. Kemudian menggeleng kecewa. Kamera tersebut hanyalah hadiah. Orang tuanya tak pernah mengerti impian Yuri.
mengapa kau tak mengatakan pada mereka bahwa kau tidak ingin menjadi seperti apa yang mereka inginkan? Wae?
Yuri kembali tersenyum. Memberitahu orang tuanya tentang impian besar Yuri. Itu sangat tidak mungkin bagi Yuri. Perlakuan apa yang akan di dapat Yuri jika ternyata dirinya tak pernah menginginkan menjadi ahli bedah maupun ahli fisika.
mereka terlalu teropsesi dengan impian mereka yang tak bisa mereka capai. Aku lelah dengan semua ini
hajiman, jika kau menolaknya, bukankah kau yang mengatakan padaku bahwa kita harus menuruti apa yang diinginkan orang tua kita?
Yuri mendadak diam. Ia menghela nafas panjang.
ternyata aku salah dengan kata-kata tersebut.
Jie Eum terdiam. Memandang wajah Yuri yang semakin dalam menatap langit.
kau kesini apakah liburan?
liburan? Ani. Orang tuaku sedang mengemas barangnya yang ada di Busan.
kau akan tinggal di Seoul selamanya?
Ji Eum menggeleng.
lalu?
kita akan tinggal di California. Aku harus meninggalkan segala tentang Busan dan Seoul dengan sangat cepat.
Yuri tersedak dengan ludahnya sendiri saat mendengar pernyataan mengejutkan dari Ji Eum.
apakah kau akan kembali ke Korea?
entahlah. Namun, jika takdirku disana, aku akan menerimanya
Yuri memandang wajah temannya prihatin.
sudah jam segini, aku harus kembali. Annyeong. Akan ku nantikan kau di masa depan. Galke
Yuri mengangguk pasti. Ia mengamati langkah Ji Eum yang semakin jauh meninggalkannya sendiri. Selanjutnya, Yuri mengangkat badannya berdiri. Wajahnya di hadapkan tepat ke matahari yang panasnya melebihi hawa api kompor. Sekitar 1 menit ia melepaskan pandangan tersebut dan melangkah pergi.


Dua tahun kemudian. Lulus dari SD dengan nilai tertinggi kedua sedikit mengurangi amarah kedua orang tua Yuri. Tahun ini, tahun kedua Yuri di SMP. Namun, perhatian orang tuanya juga sedikit berkurang. Adiknya yang selalu mendapatkan peringkat pertama di kelasnya, membuat Yuri sedikit merasa iri dengan sentuhan lembut tangan ibu dan ayahnya yang selalu menyanjung adiknya, Ri Ah.
SMP yang dimasuki Yuri bukan sekolah yang biasa. Ia didaftarkan orang tuanya di sebuah SMP favorit di Busan. Tahun pertamanya di sekolah tersebut sempat membuat Yuri jatuh sakit. Di sekolahnya, setiap hari ada pelajaran tambahan yang membuatnya pulang malam. Namun ia sedikit bersyukur, meskipun ayahnya jarang menjemput dan mengantarnya, ia bisa melihat senyuman orang tuanya setiap kali ia akan berangkat dan pulang sekolah.
bagaimana dengan ulangan minggu lalu?
Dengan percaya diri, ia menyebutkan semua mata pelajaran dengan poin yang ia dapat. Adiknya tersenyum pada Yuri. Memuji Yuri.
kau jangan memuji kakakmu. Itu nilai sempurna yang baru ia dapat di SMP” ujar ayahnya menciutkan senyuman Yuri.
Suasana makan malam hari ini sedikit tak mengenakkan Yuri. Setelah makanannya habis, tanpa banyak basa basi, ia langsung pergi meninggalkan meja makan tersebut. Seperti orang yang sangat ingin berteriak, Yuri menangis menghadap jendela.
eonni, gwenchana. Nilai ulanganku minggu lalu tak sesempurna eonni” sambar Ri Ah yang sengaja masuk ke dalam kamar Yuri.
apa impianmu?
aku ingin belajar hukum. Dan bisa menjadi jaksa. Ayah dan ibu memahamiku
Yuri tersenyum. Menyilahkan Ri Ah keluar. Ri Ah tak pernah menolak keinginan orang tuanya, meskipun ia harus mengorbankan impiannya yang sangat ingin mempelajari ilmu ekonomi.

Sore ini, sepulang sekolah Yuri diajak teman sekelasnya bermain scrabble. Mereka mendatangi sebuah rumah yang keseluruhan dindingnya bercat putih. Selain Yuri, disana terdapat dua orang lagi dan pemilik rumah. Yoon Da Jung. Seorang wanita yang sangat cantik dan banyak di kagumi oleh para laki-laki di sekolahnya, dengan senyuman ramah yang mematikan.
ahh! Apakah aku boleh tau apa impian kalian?” cletuk Da Jung saat akan memulai permainan. Semua orang menatap Da Jung.
geurae. Dimulai dari In Jung, what your dream?” lanjut Da Jung.
nanaeun Hwang In Jung. Aku bermimpi menjadi entertainment. Setelah dari sini, aku akan masuk ke Anyang Art High School
woahh! Naneun, Han Se Na. Aku bermimpi menjadi seorang designer. Kelak, aku akan membuat kalian memakai baju buatanku.
naneun Yoon Da Jung, aku bermimpi menjadi seorang ahli hukum. Aku akan menjadi jaksa dan menumpaskan kejahatan di Korea.
Tiba di giliran Yuri. Ia masih terdiam. In Jung, Se Na, juga Da Jung adalah teman-teman Yuri yang ia temui saat tahun pertama masuk SMP. Mereka berbeda dengan orang-orang yang di temui Yuri di SD. Dari ketiga temannya, Yuri sangat dekat dengan Da Jung. Namun, kedekatan Da Jung dengannya sedikit ia beri batas.
kau memilih mana? Menjadi ahli bedah atau ahli fisika?” ucap Da Jung.
Dua teman yang lain terkejut. Impian Yuri bukanlah salah satu dari dua profesi tersebut. Pikiran Yuri mendadak gamang. Jika ia mengatakan impian yang sebenarnya, bagaimana dengan Da Jung yang juga sangat dekat dengan orang tua Yuri. Jika ia mengatakan profesi yang diinginkan orang tuanya, berarti ia harus melakukannya, ia takut impiannya akan tenggelam seiring berjalannya waktu. Beberapa menit kemudian, karena Yuri tak menjawab apa impiannya, dengan suara lantangnya, In Jung memulai permainan.

Pukul setengah dua belas malam, matanya masih menatap buku-buku tebal yang menamaninya selama ini. Kedua telinganya masih terpasang earphone. Musiknya sangat keras. Yuri masih tak percaya dengan perkataan kedua orang tuanya yang akan memasukkannya di sebuah SMA di Seoul. Besok adalah hari pertamanya memasuki tahun tekahir di SMP, hari ini ia mendapatkan sebuah gambaran tentang Hannyoung High School. Sebuah sekolahan yang berada di Gangdong-Gu, Seoul.
Yuri sangat mengerti betul sekolahan tersebut. Untuk masuk di SMA tersebut tidaklah mudah. Tes yang harus dijalani pun sangat ketat. Bahkan sepengatahuannya, kakak kelasnya yang daftar disana tidak lolos tes. Orang itu adalah gadis terpandai di SMP. Yuri tidak bisa membayangkan dirinya sendiri.

mworago?! Aku tidak mau sekolah disana. Shirreo!
Da Jung-aa. Jebal,
eomma. Appa. Naneun shirreo! Arasseo.
anak ini, hya! Yoon Da Jung! Hannyoung bukan sekedar SMA. Toh kita nanti akan pindah ke Seoul,
Da Jung membalikkan badannya saat mendengar bahwa keluarganya berencana pindah ke Seoul. Ia memutar pandangannya ke arah ayah dan ibunya yang sedari tadi merajuk.
sepertinya harus aku pikirkan lagi. Aku tidur dulu.” pamit  Da Jung. Mendengar ucapan Da Jung, kedua orang tuanya tersenyum bahagia.

Di sebuah SMP yang terletak di distrik Gyeonggi-Do, ia berjalan melewati lorong sekolah. Ia menyusuri dari setiap telapak kaki yang lewat. Ia juga menjadi perhatian semua gadis di sekolah. Kang Hyun Joo, dia adalah anak dari seorang pemilik perusahaan terbesar di Korea Selatan. Wajahnya yang tampan, tubuhnya yang tegap selalu membuat gadis-gadis terlena. Apalagi dia adalah salah satu dari tim basket di sekolahnya, ia menjabat sebagai ketua tim. Di sekolahnya, ia menaksir seorang gadis yang asli Seoul.
Gadis itu tinggi semampai, umurnya sebaya dengan Hyun Joo, ia juga berprofesi sebagai seorang model cilik, beberapa bulan terakhir ini, ia mulai mengambil dunia akting. Han Hye Jin. Di sekolahnya juga banyak laki-laki yang mengaguminya, namun tak ada yang menyita pandangan Hye Jin. Bahkan Hyun Joo pun tak ia lirik sama sekali. Setiap paginya, ia selalu di sambut oleh Hyun Joo yang hobi mendatangi kelas Hye Jin. Namun, semua itu tak pernah membuat Hye Jin melirik Hyun Joo. Di dalam dirinya, tak ada laki-laki yang lebih baik dari orang yang meninggalkannya 2 tahun lalu.

Langit biru yang ia lihat dari beberapa jam yang lalu kini berubah menjadi jingga. Yuri mengangkat tangannya, mengambil gambar langit sore ini. Ia tersenyum. Ia mulai melangkahkan kakinya pergi. Baru beberapa langkah dari tempat duduknya, ia mendengar sebuah suara dari semak-semak yang tak jauh dari tempatnya berada. Suara itu menyita pandangannya dan rasa penasaran dalam dirinya. Yuri dengan cepat menuruni bangunan tua tersebut, ia menghampiri suara yang semakin lama semakin membuatnya penasaran.
DORR! Mwohaneungeoya?
Yuri sangat terkejut. Jantungnya serasa ingin copot seketika. Yoon Da Jung. Gadis yang membuat Yuri terkejut.
mwoya neo?” Yuri bertanya kembali.
mwoya?! Ku dengar kau akan daftar di Hannyoung. Benarkah itu?
Yuri menoleh  Da Jung. Kemudian mengangguk.
ohh Yuri-aa. Kita akan satu sekolahan lagi. Ohh sesange. Aku sangat beruntung
wae?
hya! Bae Yu Ri-ssi. Aku juga akan daftar disana Da Jung mengerlipkan matanya sesekali. Yuri mengerutkan dahi tak percaya.
ekspresi apa itu? apakah kau tidak bahagia? Perkiraan, keluargaku akan pindah ke Seoul saat aku kelas dua SMA nanti, jadi dari pada membuatku lelah, aku dipindahkan ke Seoul terlebih dulu” dalih  Da Jung panjang tanpa di minta Yuri.
apakah kau bahagia?” tanya Yuri yang kembali dalam duduknya. Ia menyilangkan kakinya yang panjang.  Da Jung menjawabnya dengan anggukan pasti.
sudah ku duga.
wae? Bukankah kau juga bahagia. Sebuah penghormatan jika kita bisa sekolah disana.
itu sangat jauh, aku takut orang tuaku diam-diam akan meninggalkanku hidup sendiri di Korea
Da Jung dengan kecepatan jet, tangannya begitu saja memukul kepala Yuri. Yuri pun dengan tak sengaja mengumpat.
dasar jalang! Kau jangan mengumpat!
lalu kenapa kau memukul kepalaku?!
kau jangan berfikir aneh-aneh tentang keluargamu sendiri. Aigoo..
Yuri melepaskan earphone yang menempel di telinga  Da Jung. menyuruh  Da Jung mendengarkan ceritanya baik-baik. Lima hari yang lalu, sesaat Yuri akan ke kamar mandi, ia tak sengaja mendengar percakapan orang tuanya yang masih berada di ruang keluarga. Ia menguping hingga percakapan itu selesai. Ayahnya akan di pindah tugaskan ke luar negeri selama waktu yang belum di tentukan. Dan ayahnya hanya bisa membawa salah satu antara Yuri atau Ri Ah.
ahh! Mungkin kau salah dengar, kalau dia akan meninggalkanmu, buat apa mereka susah payah menyuruhmu masuk ke SMA Hannyoung
Yuri menghela nafasnya panjang. Cerita yang keluar dari mulut Yuri tak membuat otak Da Jung memahami dengan cepat.
menurutmu, apakah ada dosen yang di pindah tugaskan? Memang mereka tentara?
Da Jung di kunci dengan perkataan Yuri yang memotong suaranya begitu saja.  Da Jung mulai memandang wajah Yuri yang tak ikhlas dengan keputusan sepihak yang dibuat oleh kedua orang tua Yuri.
apakah hidupmu sesulit mereka yang tak mempunyai makanan untuk dimakan? Tak punya tempat untuk ditinggali? Tak memiliki keluarga yang dapat mereka kasihi? Apakah seperti itu?
ani. Arasseo. Aku memang tak sesulit itu, tapi jika mereka tak mempunyai makanan untuk dimakan, namun mereka memiliki tempat tinggal dan keluarga, semua itu mampu mewakili rasa lapar mereka.
berarti kau juga akan bahagia bila tak ada keluarga tapi ada makanan dan tempat tinggal. Bukan begitu kah intinya?
Yuri menatap mata  Da Jung dalam.  Da Jung sedikit memiliki kesalahan dalam mengartikan ucapan Yuri.
bukankah begitu?
jika keluarga itu berbeda. Orang yang sesukses apapun, memiliki harta yang tak terhingga pun akan kesepian tanpa adanya keluarga.
Da Jung mulai diam tak merespon kata-kata Yuri. Ia menatap mata yang kini tengah menahan air mata yang ingin keluar. Mereka duduk terdiam hingga beberapa jam. Hingga sebuah bintang seakan menyapa Yuri dan menyuruhnya pulang.
apakah kita akan pulang?
Yuri mengangguk.
bagaimana kau mengetahui tempat ini?
aku mengikutimu Da Jung menyeringai. Yuri tertawa. Seperti rasa keputus asaan yang dirasakan Yuri beberapa jam yang lalu lenyap di makan malam.

Pagi ini, Yuri yang sudah siap berangkat ke sekolah mengurai senyum sebisanya di depan ibu dan ayahnya yang masih sibuk sarapan. Sejenak Ri Ah memanggil Yuri. Ia menjejalkan sebuah kertas dalam genggaman Yuri. Yuri tersenyum lebar.
galke” pamit Yuri.
Di perjalanan, ia membuka kertas dari Ri Ah yang dilipat hingga menjadi sangat kecil.
eomma, appa, mereka bilang akan pindah ke California. Aku ingin bersamamu. Aku tak ingin bersama mereka
Yuri menghentikan langkahnya seketika. Saat ini ia berada di tengah-tengah jalan raya. Hingga lampu berubah merah, rasa terkejutnya masih terasa. Ia tak percaya hal itu benar-benar terjadi. Saat ia mendapatkan teman yang mampu memahami dengan benar, keluarganya akan pergi tanpa mengikutsertakan dirinya. Suara klakson mobil tak membuatnya terkejut, hingga lampu berubah hijau untuk kesekian kalinya ia baru melangkahkan kakinya pergi.


Upacara kelulusan diadakan hari ini. Hyun Joo sudah menyiapkan segala hal untuk menyatakan perasaannya pada Hye Jin. Namun naas, semua itu hanya dalam angannya saja, malam kelulusan yang akan ia jadikan sebagai momen indah pun gagal, Hye Jin sudah tidak berada dalam rumah tersebut. Perasaannya sangat kecewa. Hadiah-hadiah yang akan ia berikan pada Hye Jin ia buang begitu saja. Ia baru menyadari bahwa cintanya itu benar-benar hanya cinta sepihak. Cinta pertamanya kini telah gagal.

Tes yang sangat rumit itu mengantarkan Yuri lolos dan menjadi siswi baru di Hannyoung High School. Di SMPnya pun ia menyabet nilai tertinggi, disusul dengan  Da Jung di tempat kedua. Malam ini Yuri sangat bahagia, orang tuanya memeluknya erat. Pelukan yang selama ini ia inginkan.
Dari kejauhan, Da Jung yang memandangnya pun ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh temannya tersebut.
apakah kau ingin di peluk seperti itu?
ohh, appa. Anieyo. Aku belum pernah melihatnya tersenyum seperti itu. Sepertinya dia sangat bahagia
Da Jung terus memandang Yuri yang seakaan tak ingin melepaskan pelukan tersebut. Setelah beberapa menit Yuri berada dalam pelukan hangat orang tuanya, ia mulai berjalan pulang. Dengan menaiki mobil ayahnya yang sudah lama tak ia tumpangi.  Da Jung pun begitu, ia mulai melangkah pergi meninggalkan sekolahnya, meninggalkan segala kenangan di Busan karena besok pagi ia sudah harus meninggalkan tempat yang memiliki banyak kenangan indah tentangnya dan semua orang.

Pagi yang cerah. Sama dengan  Da Jung, Yuri hari ini juga berangkat ke Seoul. Meninggalkan Busan, sebuah kota yang menjadi saksi dari separuh hidupnya selama ini. Ia juga meninggalkan bangunan tua yang ikut menjadi saksi hidupnya sehari-hari. Pukul setengah sebelas pagi, ia sudah melewati perbatasan Gyeonsangnam-Do. Ia benar-benar meninggalkan Busan hari ini. Benar-benar pergi.
hari ini aku pergi – 20 Februari 2000
Mobil ayahnya melaju sangat kencang. Seolah momen Yuri meninggalkan Busan ingin segera ia akhiri. Selama perjalanan, ia memandang wajah ayahnya yang sangat serius menyetir mobil. Tak peduli dengan Yuri yang setiap menit mencoba mengajaknya berbicara. Ayahnya benar-benar menyetir dengan serius.
apakah setiap musim aku harus mengunjungi Busan ayah?
eobseo. Waeyo?
wae? Aku jelas akan merindukan kalian. Aku di Seoul sendirian. Bahkan perjalanan satu jam pun tak cukup. Bagaimana bisa aku tak merindukannya? Aigoo..
apakah kau sudah dewasa?
ohh geurae!
Yuri melihat senyum yang mendarat pada wajah ayahnya yang kembali serius menyetir. Yuri pun melepaskan pandangan tersebut dengan memandang ke tepi jalan. Sekarang ia boleh dibilang seorang yang sangat beruntung, dari sekian pendaftar di Hannyoung High School, ia adalah salah satu dari 30% siswa yang di terima.

Hari ini, pukul delapan malam waktu Seoul, baik  Da Jung maupun Yuri sedang menikmati malam di Seoul. Jarak tempat tinggal yang di sediakan ayahnya tak sebegitu jauh dari sekolahan, hanya menaiki satu bus ia sudah sampai. Yuri masih menatap haru bintang-bintang di langit Seoul. Ayahnya sudah pergi kembali ke Busan beberapa menit yang lalu. Kenangan selama perjalanan ke Seoul seolah akan menjadi momen terakhir ia melihat dan menikmati wajah tua ayahnya.
Di lain tempat, berbeda dengan Yuri,  Da Jung sudah melepaskan pandangannya terhadap langit malam Seoul yang penuh bintang. Ia mulai berbincang-bincang dengan keluarga di Seoul. Untuk sementara waktu ia akan tinggal bersama keluarga adik dari ibunya, sebelum orang tuanya benar-benar pindah ke Seoul.

Rumah yang di tempati oleh Yuri seorang diri sangat sederhana. Terdapat  dua kamar tidur. Satu  di lantai bawah dan satu kamar di lantai atas. Ia memilih lantai atas untuk kamar tidurnya, yang di bawah ia gunakan sebagai tempat menyimpan beberapa barang bawaannya dari Busan. Semalaman ia tidak bisa tidur, lingakaran hitam di matanya membuat mata kecilnya bagaikan mata panda. Dengan penampilan yang sangat acak-acakan, setelah mengisi diary hariannya, ia memulai aktivitas pagi ini.
“pagi ini sangat sepi. Baru semalam, aku merindukan suasana Busan. – 21 Februari 2000”

Kota Seoul pagi ini benar-benar menjadi pemandangan matanya setelah sampai di Seoul semalam.  Da Jung baru saja membuka matanya setelah ia terlelap dalam mimpinya yang indah. Bibinya sengaja tak membangunkan  Da Jung, karena hari ini hari terakhir sebelum  Da Jung memulai aktifitas di sekolah barunya, Hannyoung High School.

Di pojok ruangan, foto keluarganya masih tergeletak tak terjamah. Sejenak matanya melirik foto tersebut, Yuri mengusapnya dengan tangan yang di bungkus dengan sarung plastik.
annyeonghaseyo. Eomma, appa.” bisik Yuri.
Ia langsung mengangkat foto tersebut dan menaruhnya di jajaran foto-foto yang ia bawa dari Busan. Rumah yang tadinya berantakan, dalam kurun waktu empat jam sudah kembali rapi. Ia lantas berdiri dan memandang foto-foto tersebut. Sebuah senyuman mendarat di bibir Yuri.
kalian semua membuatku rindu” ucapnya dengan posisi tangan yang di pinggang. Ia kembali tersenyum. Kemudian ia mulai membersihkan badannya dari debu-debu yang sengaja menempel setelah itu mulai mencari sarapan dan kerja paruh waktu.


Da Jung sengaja berdiri di depan pintu rumah Yuri. Semalam, setelah ia melihat Yuri yang sedang berkeliaran di Seoul sendirian menyita pandangannya begitu saja. Hari ini minggu kedua mereka memulai sekolah di lingkungan baru Hannyoung High School, namun baru semalam Da Jung menemukan alamat rumah Yuri yang di Seoul.
Beberapa menit kemudian, saat Yuri membuka pintu rumahnya, di buat terkejut dengan  Da Jung yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya menyejajarkan tinggi badannya di atas sepatu cats yang mereka pakai. Mata Yuri melotot paksa. Dengan rasa penasaran yang enggan di ungkapkan, Yuri mengerutkan dahi. Namun Da Jung memandang Yuri dengan licik.
yeoja ini, jinjja. Tch!
wae? Wae? Wae?
WAE? WAE MWO BAE YU RI-ssi?!” suara keras  Da Jung membuat Yuri tersentak. Tangan Da Jung dengan cepat menyambar kepala Yuri.
dasar jalang! Apa yang kau lakukan di depan rumah makan semalam? Mengapa kau tak memberitahuku kalau rumahmu disini? Wae?!
Tanpa menjawab pertanyaan Da Jung, Yuri dengan paksa menyingkirkan Da Jung dari depan pintu rumahnya dan segera berangkat sekolah.
hya! Bae Yu Ri! Berhenti kau!
waeyo?
ohh sesange! Kau tak mendengarkanku?
kau tidak bertanya, buat apa aku memberitahumu. Yang kulakukan disana semalam, aku baru saja selesai be-kerja
neo?
Yuri memandang wajah Da Jung licik.
ada apa dengan pandangan itu? Mengapa kau bekerja?
agar aku bisa hidup. Sudahlah. Busnya sudah datang.
Segala pertanyaan menggerutu menghiasi telinga Yuri selama di perjalanan. Sekitar 30 menit Da Jung dan Yuri sampai di pemberhentian halte yang dekat dengan SMA Hannyoung.
Setelah melewati gerbang sekolahnya yang menjulang tinggi dengan beberapa pohon yang tertanam rapi, mereka mulai memasuki kelas. Selama satu minggu ini, tidak banyak yang Yuri kenal. Dari 20 siswa di kelas, Yuri hanya mengenal 7 orang termasuk Da Jung. Ia tak pernah ambil pusing jika memiliki ruang kelas dengan penghuni yang baru. Ia selalu menggunakan rumus lama yang selalu ia tanamkan di hidupnya. Meskipun ia hanya mengenal 7 orang di kelasnya, 7 orang tersebut sangat membantunya dalam segala hal.

Di lain kelas, terdapat sesosok laki-laki yang selalu menyita pandangan Da Jung dan beberapa teman di kelasnya, mungkin juga satu sekolah. Dia adalah laki-laki yang sempat tinggal di distrik Gyeonggi-do karena cinta pertamanya yang telah kandas. Ia memutuskan untuk pergi ke Seoul.
Dia juga seorang anak laki-laki yang berasal dari keluarga chaebol. Tingginya mungkin sekitar 178 cm. Entah lebih atau kurang, Yuri selalu mengira-ngira sendiri. Ia tak pernah melirik laki-laki itu, hanya saja Da Jung selalu merajuk agar ia mengorek-orek tentang laki-laki itu. Namanya pun cukup tampan, Kang Hyun Joo. Sebelumnya, ia sangat enggan untuk bersekolah disini, namun setelah mendapatkan perlakuan saat malam kelulusan SMP itu, ia mengambil keputusan untuk sekolah disini.
Jantungnya mencelos saat Hyun Joo tiba-tiba saja menyodorkan tangan kanannya untuk mengetahui nama Yuri. Di kelasnya yang sudah berakhir sore ini, Da Jung dibuat terkejut dengan uluran tangan tersebut.
bukankah kau perempuan yang dari Busan itu, yang mendapat posisi pertama di urutan siswa yang terpilih di SMA ini? Benarkan? Kudengar namamu Bae Yu Ri, benarkah? Naneun, Kang Hyun Joo Imnida.
Dengan santainya, Yuri menerima uluran tangan Hyun Joo. Mungkin hanya sekitar 15 detik, setelah Yuri mengucapkan namanya, Yuri melepaskan jabatan tangan tersebut. Wajahnya yang enggan menatap Hyun Joo pun segera mengakhiri percakapan sore ini. Kuluman senyum yang menghiasi wajah Yuri saat sengaja pamit meninggalkan kelasnya membuat Hyun Joo memandang penasaran juga kesal.
apakah kau langsung berangkat bekerja?” tanya Da Jung yang sengaja mengikuti Yuri.
ne
Da Jung melepaskan temannya di tengah jalan. Ia memandang punggung Yuri yang tergambar berapa ton beban yang di pikul Yuri. Sesekali Da Jung melihat punggung itu menghela nafas panjang. Kaki yang sengaja di hentak-hentakkan ke tanah membuat Da Jung mengurai senyuman.
kau selalu saja aneh. Bae Yu Ri” ucap Da Jung dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.

2 tahun kemudian
17 tahun sudah lewat. Hari ini Yuri usianya bertambah setahun. Semakin lama, kerja paruh waktu yang ia jalani sangat banyak. Paruh waktu yang ia kerjakan saat libur musim panas, salju dan libur-libur lainnya. Paruh waktu yang ia kerjakan saat pulang sekolah. Meskipun tahun ini ia mulai ikut kelas malam, itu tak membuat Yuri mengurangi kegiatannya dalam kerja paruh waktu.
Prestasinya terus meningkat seiring berjalannya waktu. Juga keluarga yang ternyata kini sudah tinggal di California. Yuri yang selalu sibuk dengan hari-harinya sendiri, membuatnya dua tahun terakhir ini tak ada kontak dengan keluarganya di Busan. Adiknya yang kini sudah melupakan kakaknya, kini tengah serius menjalani dunia hukum. Walaupun adiknya masih kelas 2 SMP, ia yang terbiasa dengan orang tuanya yang mengaturnya, tahun ini mulai mempersiapkan tahun terakhir di SMP dan setelah lulus SMA besok ia berencana kuliah di Eropa.
Hari ini, libur musim panas dan Yuri sengaja di liburkan oleh bosnya agar bisa pulang ke Busan. Hidup yang ia jalani di Seoul tak sedatar di Busan. Disini ia bertemu banyak orang yag selalu mengasihi Yuri. Termasuk orang tua Da Jung yang kini sudah berada di Seoul setahun yang lalu. Juga Kang Hyun Joo yang masih sibuk mendekatinya meskipun Hyun Joo tahu bahwa Yuri menolaknya mentah-mentah. Dan ada seseorang yang selalu menghiasi malam Yuri sejak dua tahun lalu.
Meskipun libur musim kali ini ia tidak bekerja, namun Yuri masih tetap tidak bisa berangkat ke Busan. Ia harus menyiapkan dirinya masuk ke Universitas dan tahun terakhir di Hannyoung.
Tak terasa memang, 3 tahun sudah Yuri hidup seorang diri di Seoul, selama ini ia tak pernah membayangkan bahwa dirinya bisa hidup di sebuah kota besar yang sangat jauh dari tempat kelahirannya tanpa keluarganya satu pun. Semakin ia menikmati kehidupannya di Seoul, ia terus teringat akan perbincangannya dengan Da Jung beberapa tahun lalu di bangunan tua malam itu.
Di rumahnya, ia yang sedang sibuk mengayunkan buku dan bolpoin yang masih ia pukul-pukulkan di atas meja. Beberapa menit saat Yuri sedang asyik-asyiknya mulai memainkan matanya dengan media sosial, tiba-tiba bel rumahnya berbunyi. Yuri menghela nafas. Memandang pintu kamarnya dan segera berdiri.
bukankah hari ini ia liburan dengan keluarganya?” bisik Yuri.
Spontan, ia membuka matanya saat mendapati kaki yang di lihat adalah kaki seorang laki-laki. Ia mulai menatap wajah laki-laki tersebut. Senyum tipis di bibir laki-laki tersebut membuat Yuri sedikit mengerutkan dahi.
apakah aku boleh masuk?
silahkan.
Yuri masih tak percaya yang bertamu ke rumahnya di awal musim panas ini adalah Hyun Joo. Hyun Joo yang masih berdiri mengamati seluruh ruangan di rumah Yuri, di kejutkan dengan lukisan yang tergantung di pojok ruang tamu Yuri.
bagaimana bisa kau tahu alamat rumahku?” tanya Yuri dengan menyuguhkan segelas minuman.
Meskipun Hyun Joon sempat terkejut melihat gambaran tersebut, setelah ia melihat jelas bahwa itu adalah sebuah lukisan langit senja. Sepertinya Hyun Joo tertarik untuk melihat langit senja yang tergambar di kanvas tersebut.
beberapa hari yang lalu, aku mengikutimu. Wae?
mengapa semua orang selalu mengikutiku” keluah Yuri kesal.
aku tidak berniat mengikutimu, hanya saja kau yang selalu membuatku penasaran” dalih Hyun Joo.
Minumannya ia teguk untuk yang kesekian kalinya, Hyun Joo mulai membuka pertanyaan setelah beberapa menit membiarkan Yuri tetap diam dengan jari-jari yang melekat dengan bolpoin.
lukisan di pojok itu, apakah kau melukisnya?
Yuri menggeleng.
lalu?
Yuri menanggalkan bolpoin dan bukunya, ia mulai berdiri dan mengambil lukisan tersebut.
yang kau maksud lukisan ini atau yang di pojok sana?
berapa banyak lukisan langit senja yang kau punya?
Yuri menaruh lukisannya di atas meja begitu saja. Yuri sangat enggan mengatakan jumlah barang koleksi yang ia miliki. Sejenak ia membuat Hyun Joo mengikuti langkahnya memasuki sebuah ruangan.
disini, kau bisa melihat berbagai foto. Kau bisa memilikinya jika kau mau
Yuri bukanlah maniak senja. Namun, ia merasa tenang jika menatap langit senja yang mempunyai warna berbeda-beda dalam setiap kemunculannya.
bukankah kau tertarik di dunia sejarah? Bukan di dunia fotografi
bukan berarti jika aku tertarik dengan dunia sejarah aku tidak boleh belajar dunia fotografi” jelas Yuri mematikan perkataan Hyun Joo.
mengapa rumah ini sepi sekali? Kemana orang tuamu?
Yuri menoleh terkejut saat Hyun Joo melontarkan pertanyaan tersebut.
kau tak perlu menjawabnya, aku tidak terlalu penasaran
Yuri masih tak ingin melepaskan pandangannya terhadap wajah laki-laki yang kini tengah asyik melenggangkan matanya di antara foto-foto langit senja.
orang tuaku di Busan. Mungkin mereka sudah pindah ke California. wae? Kau tertarik dengan orang tuaku juga?
Hyun Joo tertawa kecil. Perempuan yang selama ini membuatnya penasaran ternyata memiliki sebuah sisi yang mengagumkan. Bahkan lebih mengagumkan dengan Hye Jin. Tata cara bahasanya hari ini sedikit berbeda dengan hari-harinya yang selalu cuek dan garang.

Da Jung melihat bibir pantai dengan naungan senyum yang sedari tadi hadir menghiasi wajahnya yang disinari oleh matahari. Ia menatap langit yang sangat biru itu dengan bahagia. Ia teringat akan Yuri yang mungkin sekarang sedang asyik dengan dunianya.
ahh.. Bae Yu Ri. Kau benar-benar. Membuatku sendirian
Di sudut pandangan matanya, di bawah teriknya matahari, ia melihat bayangan seorang pria yang menyita pandangan Da Jung. Ia mengalihkan pandangannya ke arah bayangan tersebut. Di balik T-shirt yang berwarna kuning dan rambut yang kecoklatan, terdapat badan yang gagah. Tingginya mengingatkannya dengan Hyun Joo. Matanya sangat menikmati gambaran laki-laki tersebut, hingga seseorang memanggil Da Jung dan membuat laki-laki itu ikut menoleh.
ohh! Im Jae Hyun-ssi?! Benarkah itu kau?!” panggil kakak sepupu Da Jung yang kemudian meninggalkan Da Jung menghampiri laki-laki tersebut.
ohh.. hyeong-nim. Oeraenmaieyo?
wahh... kau sekarang sudah tumbuh dewasa, bagaimana sekolahmu di Jepang? Kapan kau kembali ke Korea?
oppa, galke” pamit Da Jung pelan meninggalkan kakak sepupunya.
hyeong, nugunde?” tanya Jae Hyun.
Da Jung-aa, jamkkaman. Dia adik sepupuku, dia juga sebaya denganmu.
Da Jung hanya mengamati perawakan laki-laki tersebut dan menjabat uluran tangan tersebut. Da Jung mengucapkan namanya dengan sangat formal hingga membuat Jae Hyun sedikit tergelitik.
sepertinya kau murid SMA Hannyoung, bukan?
Da Jung spontan terkejut.
eotteohkae arasseo?
bukankah murid-murid SMA Hannyoung terkenal?
Da Jung hanya melirik licik kemudian pergi meninggalkan laki-laki tersebut mengobrol dengan kakak sepupunya yang sepertinya sudah kenal lama dengan laki-laki itu.
Im Jae Hyun? Sepertinya aku tak pernah mendengar nama itu di sekolah.” bisik Da Jung di setiap langkahnya.

Yuri masih sibuk dengan bolpoin dan buku-bukunya sedari tadi. membiarkan Hyun Joo semakin mengamati seluruh foto-foto langit senja yang ia cetak beberapa tahun lalu. Sejenak Hyun Joo menatap Yuri yang semakin menggilai beberapa lembar kertas yang di stappler tersebut. Hingga tanpa sadar sepasang mata Hyun Joo dan Yuri bertemu, sangat lekat. Hingga membuat Hyun Joo melepaskan tatapan tersebut dengan salah tingkah.
waeyo?
apakah nantinya kau akan menikah dengan pekerjaan masa depanmu?
ani. Wae? Kau berencana menikah dengan pekerjaan masa depanmu?
a-anieyo. Mengapa kau berfikir sedangkal itu?
sudah jam sembilan malam, apa kau mau menjadi penjaga rumahku?
Dalam waktu sekejap, Hyun Joo pamit pulang. Ia tak mengerti mengapa ia merasakan keanehan dengan dirinya sendiri setelah matanya bertemu dengan mata Yuri. Namun, keanehan itu pun membuahkan sebuah senyuman di wajah Hyun Joo. Saat Yuri menatap bola mata Hyun Joo dengan tatapan polosnya tadi, menurut Hyun Joo sangat mengasyikkan.
Beberapa menit setelah Hyun Joo benar-benar pergi dari rumahnya, bahkan mungkin jejak kakinya juga sudah hilang, Yuri mulai membayangkan mata sipit Hyun Joo yang ia tatap beberapa menit yang lalu hingga membuat Hyun Joo melangkah pergi. Sejenak ia pun teringat akan seseorang yang pernah singgah di hatinya saat ia masih tahun pertama di Hannyoung. Laki-laki yang ia temui di sebuah restoran tempatnya bekerja malam itu.
Seseorang yang memiliki tinggi melebihi Hyun Joo membuat malam itu seakan cepat berlalu. Meskipun jika di sebut cinta pertama itu sangat aneh, namun Yuri selalu menyebutnya seperti itu. Yuri ingat betul siapa nama laki-laki tersebut, nama yang Yuri ingin mengetahui siapa sebenarnya laki-laki tersebut. Han Jun Ho. Nama itu, masih terkemas rapi di otak Yuri bersama sepenggal rautan sejarah hidupnya selama ini.
hari ini, untuk yang pertama kalinya ada orang yang mengingatkan tentangmu, Han Jun Ho – 17 Juli 2002


Sebuah duka menghiasi rumah yang mempunyai konsep berundak pagi ini, ibunya telah meninggalkan keluarga tersebut. Ayahnya masih berada di sudut ruang tamu setelah upacara pemakaman selesai. Ia sendiri masih memandang foto dengan senyuman polos tersebut. Penyakit yang sudah di derita ibunya sekian lama itu, ia tak pernah mengetahui akan hal tersebut.
Ri Ah-aa, gwenchana.” ayahnya berdehem.
apa eonni tahu tentang hal ini?
Ayahnya menggeleng.
itu lebih baik. Yang jelas ia tak mengetahui kita disini
Ayahnya memeluk Ri Ah erat. Sudah lebih dari 3 tahun keluarga Yuri meninggalkan Korea. Selama 4 tahun terakhir di California, baik ayah Yuri dan ibunya yang kini sudah meninggal, tak pernah menghubungi Yuri sama sekali. Tentang alasan mengapa Yuri harus sekolah ke Seoul adalah agar Yuri tidak mengetahui jika keluarganya akan pindah ke California tanpa susah-susah mengajak Yuri.

Ujian masuk universitasnya sukses. Yuri sekarang sedang semakin sibuk belajar tentang kebudayaan korea dari jaman Dinasti Jeoseon hingga sekarang. Sementara Da Jung sedang sibuk dengan dunia hukum. Untuk yang pertama kalinya, sejak Da Jung berteman dengan Yuri selama enam tahun lamanya, hari ini Yuri mengajaknya makan malam setelah mereka saling sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Yuri yang telah mendapatkan beasiswa untuk masuk di universitasnya kini tak membuat yuri mengurangi pekerjaan paruh waktunya yang sudah lama ia jalani.
apakah hari kau libur?
ye” jawaban yang di terima Da Jung selalu singkat. Bagaimana pun panjangnya pertanyaan yang ia lontarkan ke Yuri.
Yuri yang sedang sibuk dengan makanannya, tiba-tiba pandangannya di sita oleh kedatangan seorang laki-laki yang kini tengah duduk dengan pria paruh baya. Han Jun Ho. Laki-laki itu. Malam ini hadir kembali dalam pandangan mata Yuri setelah 3 tahun terakhir tak pernah terlihat.
nuguseyo?” tanya Da Jung penasaran.
geu namja.
Da Jung menoleh ke arah pandangan Yuri bernaung. Laki-laki yang hanya terlihat punggungnya itu membuat Yuri tersenyum begitu indah.
kau kenal? Ireumi?
aku tidak mengenalnya, tapi namanya Han Jun Ho
Han Jun Ho” alis Da Jung spontan terangkat begitu saja saat mendengar nama tersebut. Han Jun Ho adalah nama kakak sepupunya yang hanya selisih dengan Da Jung satu tahun.
benarkah namanya Han Jun Ho?” tanya Da Jung memastikan.
Yuri mengangguk. Mata Da Jung mulai mengintidasi meja yang terdapat di sebelah barat mejanya. Dan tanpa sengaja, Da Jung tersedak begitu saja saat melihat pria paruh baya yang sedang ia lihat adalah ayahnya sendiri. Yuri tidak mengetahui jika pria paruh baya itu adalah ayah Da Jung. Selama di Seoul ini, Yuri hanya pernah sekali singgah di rumah Da Jung, dan saat itu juga ayah Da Jung tidak ada di rumah.
bagaimana kau bisa mengetahui laki-laki itu?
beberapa tahun lalu dia datang di restoran tempatku bekerja, seseorang memanggil dengan sebutan itu. wae? Apakah kau mengenalnya?
Da Jung menggeleng ringan. Yuri hanya tersenyum dan segera menghabiskan makanannya.
ku dengar Hyun Joo kuliah di Harvard. Benarkah itu?
ohh. Dia pamit ke rumah sebelum berangkat.
Yuri-aa? Apakah hubungan kalian sedekat itu?” mata Da Jung mulai mengintimidasi Yuri.
hya! Bukan seperti yang kau fikirkan, dia hanya sekedar berpamitan. Kepergiannya pun menguntungkan bagi diriku
wae?
aku tidak susah-susah lagi menerima tamu yang selalu enggan pulang seperti dia
Da Jung mulai tergelitik.
bukankah kau menyukainya? Mengapa bukan kau saja yang mendapat perlakuan ini?
hya! Yuri-aa, jika aku teruskan akan menjadi cinta sepihak. Dan itu, neomu neomu apayo
apakah kau sudah memiliki penggantinya?
Da Jung mengangguk. Memang terbilang cukup cepat jika Da Jung bisa menghilangkan rasa sukanya terhadap Hyun Joo setelah kedatangan Jae Hyun setahun yang lalu. Da Jung juga tak pernah menyangka jika kehadiran Jae Hyun banyak membawa cerita di hidupnya.
ireumi?” tanya Yuri penasaran.
Im Jae Hyun
dia satu kampus dengan kita? Mengapa kau tak memberitahuku?
bagaimana aku bisa memberitahumu jika kau sibuk dengan duniamu?” keluh Da Jung kesal.

Pukul sembilan malam. Da Jung dan Yuri baru saja keluar dari restoran tersebut, tak sengaja sebuah suara menghentikan langkah Da Jung.
appa?” ucap Da Jung.
nuguseyo?
ahh, ayah ini Bae Yu Ri. Teman yang sering ku ceritakan padamu. Ayah sedang apa disini?
Belum sempat menjawab, dan Yuri yang baru saja memberi salam pada ayah Da Jung, seolah ia dibuat terkejut dengan keadaan yang sedang ia alami. Han Jun Ho, laki-laki yang sering berada dalam pikiran Yuri kini tengah berdiri menengadah langit malam Seoul.
ohh, oppa. Ini temanku, Bae Yu Ri
Sejenak Yuri mengangkat alisnya dan menyebutkan namanya serta memberi salam.
sepertinya aku pernah melihatmu beberpa kali di kedai kopi Mango Six, bukan?
Yuri menyeringai kecil. “ne, aku bekerja paruh waktu disana
hya! Yuri-aa, itu milik Jun Ho appa.
Spontan Yuri menelan ludahnya begitu saja. Suara yang baru saja keluar dari mulut Da Jung membuatnya sangat terkejut.
apakah kita akan kembali bersama-sama?” ucap ayah Da Jung menjemput keterkejutan yang masih berada dalam diri Yuri.
Da Jung mengiyakan permintaan ayahnya, Jun Ho pun demikian. Namun, Yuri menolak hal itu. mata Da Jung yang sesekali merem melek membuat Yuri melirik Da Jung licik saat menumpangi mobil Jun Ho. Suara gemuruh dalam mobil itu sejenak menghilang sesaat setelah Yuri menuruni mobil tersebut.
hari ini aku baru menyadari, ternyata dia anak bosku sendiri. Aigoo – 17 Desember 2003


Tanpa di duga-duga, setelah perkenalannya di depan sebuah restoran keluarga tiga tahun yang lalu, hari ini Yuri di ajak Jun Ho untuk pergi ke taman Jinhae. Sekitar pukul dua siang mobil berwarna putih itu melaju kencang meninggalkan rumah Yuri. Setelah sekitar 3 jam dari Seoul, akhirnya mobil itu sampai di daerah Gyeongsangnam-do. Daerah itu hanya memakan waktu satu jam jika Yuri mau mampir ke Busan. Namun wajah tampan disampingnya membuat Yuri enggan cepat-cepat mengakhiri hari ini. Meskipun wajah tampan itu milik anak dari mantan bosnya sendiri.
apakah kau pernah ke taman Jinhae sebelumnya?
Yuri tersenyum kecil.
ku dengar dari Da Jung, kau menyukaiku?
Sontak dua bola mata Yuri menoleh ke arah Jun Ho.
maksudmu?” Yuri menaikkan alisnya.
Jun Ho tertawa tergelitik.
ani. Aku hanya menggodamu. Hanya saja-” Jun Ho tak melanjutkan ucapannya dan membuat Yuri penasaran.
Hari ini bukanlah musim semi atau musim panas. Bukan juga musim salju yang dimana sebuah musim yang sangat di sukai oleh Yuri. Hari ini adalah musim gugur. Tepat di bawah bunga sakura yang berjatuhan suara gagah Jun Ho mengejutkan Yuri. Juga tangan Jun Ho yang mengambil sebuah kelopak bunga sakura yang sengaja mendarat di kepala Yuri, semakin membuat Yuri salah tingkah.
apakah kau ingin mampir ke rumahmu di Busan?
ohh, apakah boleh?
ne,
mengapa tiba-tiba kau mengajakku kesini? Apakah aku satu-satunya pegawai paruh waktu Mango Six yang di ajak anak bosnya keluar jalan-jalan?
Sejenak Jun Ho menyeringai geli.
ternyata wanita ini sangat PD. Kau tau pegawai yang bernama Jenny? Dia lebih sering keluar denganku. Bahkan dia sering berbagi kasur denganku
Jenny Kim?
that’s right! Bahkan kita sering tidur bersama. Juga kita pernah main suap-suapan, tapi hanya sekali.
Mata Yuri melotot. “hoksi?...
hya! Kau usia berapa memang? Bukankah usia kita hanya selisih empat tahun? Bisa tidak membuang pikiran kotor seperti itu?
bagaimana aku tidak memikirkan itu. Bahkan kalian saja sering melakukan hal yang sama. Bukankah dia itu juga sama denganmu?
berbagi kasur dan tidur bersama, karena aku sering menginap di tempatnya
lalu yang main suap-suapan?
saat itu kita masih di bangku SMA. Sedang ada perlombaan.
hajiman.. kenapa aku merasa aneh dengan suasana itu? apakah mungkin kalian juga pernah berciuman?
Jun Ho tergelitik dengan pertanyaan Yuri.
aigoo. Mengapa bisa aku menyukai pria seperti ini?” bisik Yuri melihat tawa Jun Ho yang muncul setelah ia bertanya hal aneh.
hya! Mana mungkin aku mencium pria. Aigoo.. meskipun kita sering bersama, kita tidak mungkin melakukan itu. Meskipun Jenny terlihat seperti wanita, dia masih normal. Arasseo?” jelas Jun Ho panjang.
hanya satu wanita di dunia ini yang mampu membuatku luluh.
Yuri memandang wajah tampan Jun Ho yang sedang membayangkan seseorang.
geu yeoja, nugunde?
dia sekarang sedang sibuk dengan karirnya di dunia entertaintment
apakah dia wanita yang kau maksud beberapa hari lalu tentang langit senja?
ne. Dia sangat menyukai langit senja. Sejak pertemuan terakhir kita di Seoul beberapa tahun silam, aku hanya bisa mengobrol dengannya saat dia menghubungiku. Dia juga sebaya denganmu
apakah dia, choem sarang?
Jun Ho menggeleng.
mungkinkah ini cinta sepihak?
Jun Ho tersenyum dan mengelak. Meskipun wanita itu adalah cinta pertama Jun Ho, tapi Jun Ho selalu menganggapnya adik. Terlebih setelah wanita itu memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Jun Ho. Rasanya sedikit ada sebuah perbedaan yang tiba-tiba dirasakan oleh Jun Ho akhir-akhir ini. Meskipun Jun Ho tidak memiliki rasa cinta di hatinya untuk wanita tersebut. Namun selama perjalanan hidupnya, Jun Ho selalu menginginkan wanita itu menampakkan dirinya di depan Jun Ho dengan seorang pria yang ia gandeng dan berdiri di samping tubuh tingginya. Dan sampai sekarang Jun Ho masih menantikan hal tersebut.

Sebuah angin pagi benua eropa kembali membuka matanya setelah semalaman tertidur lelap. Sudah empat tahun ia meneguhkan dirinya di Universitas terkemuka di dunia. Hari ini ia akan mengikuti upacara kelulusan di Universitas. Orang tua dan kakaknya pun datang jauh-jauh dari Korea untuk menyaksikan hari kelulusannya, dengan tubuh yang semakin dewasa, Hyun Joo tersenyum lebar.
Seolah ia akan mendapat sebuah tiket menonton pertunjukan dunia secara gratis, ia menggambarkan wajahnya betapa bahagianya ia sekarang. Ia sudah menantikan waktu empat tahun ini, waktu untuk kembali ke Korea dan menemui Yuri yang sudah lama ia rindukan.
Sebelum ia menaiki panggung, ia memejamkan matanya sebentar. Mengucapkan sebuah nama yang sudah lama ia rindukan. Sebuah nama yang sempat membuatnya tidak ingin berangkat ke Harvard. Sebuah nama yang ia temui setelah dirinya menjadi siswa Hannyoung High School. Sebuah nama yang selalu melekat di dalam otaknya.

Semalaman Yuri terjaga dalam tidurnya di kamar tidur yang sudah bertahun-tahun tidak ia tempati. Wajah Jun Ho yang masih menempel di bantal menjadi perhatiannya, bulu matanya yang panjang, rambutnya yang hitam namun tidak pekat, sejenak membuat Yuri tersenyum kecil. Keluarga yang tak pernah mengadakan kontak dengannya kini benar-benar pindah ke California. Saat sampai di rumahnya semalam, Yuri tak merasa terkejut sama sekali, karena sebelumnya ia sudah mengira hal ini akan terjadi.
kau tahu hal yang sangat menggamangkan fikiranku? Ketika keluargaku benar-benar meninggalkanku – 17 Agustus 2006

ahjumma? Jun Ho oppa, eoddiseo?” suara Da Jung menghiasi suasana rumah Jun Ho yang masih sibuk menata taman di depan rumah.
ohh Da Jung-aa. Jun Ho sedang di Busan, wae?
Busan?
Bibinya mengangguk.
dengan siapa? Lagi pula, bukankah oppa tidak punya teman di Busan?
dengan Yuri. Ku dengar dia temanmu,
Da Jung mengangguk. “apakah mereka berencana ke suatu tempat?
hya! Da Jung-aa, kau kira oppamu suka di kontrol? Tanya saja dengan dia. Aigoo.” keluh ibu Jun Ho.
katanya hari ini ingin menemui uri Im Jae Hyun oppa, nyatanya pergi begitu saja. Dasar Jalang.” gerutu Da Jung selama di perjalanan kembali pulang.

8 tahun kemudian
Sudah 8 tahun berlalu, setiap orang disekelilingnya telah berubah. Waktu dan keadaan pun berubah. Hanya satu hal yang sampai sekarang belum berubah, hatinya. Hati seorang wanita yang kini tengah duduk memandang hujan di luar. Beberapa orang yang berlalu lalang menghiasi pandangannya dan membuatnya tersenyum. Setelah banyak hal yang sering membuatnya bingung selama 6 tahun yang lalu, hari ini ia tersenyum karena mampu menatanya kembali selama 2 tahun terakhir.
Da Jung, teman yang menemaninya sejak SMP bulan depan akan melangsungkan pernikahan dengan laki-laki yang ia temui di pantai beberapa tahun yang lalu. Laki-laki yang telah membuat Yuri merasa dunia ini memang tak mampu berubah jika bukan dirinya sendiri yang merubah kini tengah terbaring lemas di rumah sakit karena penyakit kanker. Dan laki-laki yang dulu sibuk dengan perasaannya terhadap Yuri kini telah kencan dengan seorang wanita lain.
oraenmanida, Bae Yu Ri-ssi
neo?
ada apa dengan ekspresi itu? apakah kau tidak mengenalku?
Park Ji Eum-aa?” wajah Yuri semakin tak percaya. Seorang teman SD nya yang bahkan dulu sempat berkata akan tinggal di California kini tengah tersenyum di depannya. Dengan busana yang elegan. Dengan profesi yang kini tengah ia jalani, Yuri masih dalam keadaan terkejut.
ku rasa aku pernah melihat wajah ini. Bagaimana kau bisa menjadi seorang jaksa?
geuge, ah. Eum, geunyang.
apakah kau akan terus mengatakan, ah eum ah eum terus?
hya! Bahasamu jelek sekali. Apakah seperti ini sikap seorang artis sepertimu?
Ji Eum menyeringai kecil. Percakapan itu serasa kembali ke jaman SD saat Ji Eum pamit atas kepergiannya ke California. Keakraban di antaranya masih terasa. Meskipun sudah sekian lama tidak bertemu. Keduanya terkesiap dalam memori masa lalu. Terus tertawa karena hari-harinya dulu. Hingga hujan di luar pun kini tinggal setetes. Hingga Yuri menyadari sesuatu yang sudah lama ia tinggalkan.
apakah kau pernah menengok Busan?
beberapa kali. Disana suasananya sangat berbeda di banding 18 tahun yang lalu. Anak-anak disana juga sering mengingatkanku tentang hari-hariku di SD dulu. Apakah kau juga sering mengunjungi Busan?
Yuri tersenyum dan sejenak menggeleng. “aku kesana 9 tahun yang lalu
bagaimana dengan keluargamu? Bagaimana bisa kau sekarang di Seoul?
Yuri tercenung mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Ji Eum. Sesekali Yuri mengetukkan jarinya ke atas meja. Membuat Ji Eum heran. Sejenak pandangan Yuri menerobos keluar ke arah jalan raya.
geudaereul, nan mollas” suara Yuri terhenti begitu saja setelah melihat seseorang yang menyebarang jalan dengan baju kuning yang di padu dengan rok pendek warna hitam tak lupa dengan sepatu keds.
galke.
aish! Hya! Hya! Eodiga? Hya!” Ji Eum terus memanggil Yuri yang semakin tak mempedulikannya. Langkah Yuri sangat cepat. Seolah ia melihat seseorang yang sudah lama ia rindukan. Langkah wanita itu semakin ia dekati dan punggung itu pun mampu di raih Yuri. Dengan nafasnya yang terengah-engah, Yuri memanggil nama wanita tersebut.
Bae Ri Ah-aa?
Wanita itu membalikkan badannya dengan santai. Matanya tiba-tiba membelalak setelah orang yang memanggilnya adalah jaksa yang akhir-akhir ini muncul di tv dengan kasus yang tidak ringan.
ke-ke-keomsanim? Bagaimana anda tahu nama saya?
Yuri tersenyum. Yuri merasa sebuah kelegaan kembali mengampiri dirinya. Dengan cepat Yuri memeluk tubuh Ri Ah. Tubuh wanita yang sudah sekian lama tidak ia lihat. Wanita yang sudah menciptakan kerinduan yang dalam.
oraenmanieyo? Appa, eomma. Ottokhe Jinesimnika?
Ri Ah kembali terkejut dan melepaskan pelukan Yuri.
neon, Yuri eonni? Bae Yu Ri?
Yuri mengangguk. Keduanya saling berpandangan. Ri Ah masih tak percaya. Eonninya yang dulu pernah mengatakan padanya bahwa ingin menjadi seorang ahli sejarah, kini telah menjadi seorang jaksa.


Ada sesuatu di balik sweater rajutan yang kini masih menempel di genggaman tangannya malam ini, seakan Tuhan memberi yang lama dan mengambil yang baru. Sebulan setelah Yuri bertemu kembali dengan adiknya, kabar mengejutkan dari keluarga Jun Ho. Laki-laki yang masih ia cintai dan selalu menemaninya selama ini telah meninggal dunia. Yuri sangat tak percaya dengan keadaan yang kini tengah ia alami. Bahkan ia kembali menanyakan kepada Da Jung karena dua minggu yang lalu Jun Ho dikabarkan bisa pulang dalam kurun dua hari. Namun, ada sebuah hal yang kembali membuatnya tak percaya. Park Ji Eum. Wanita yang bulan lalu makan malam dengannya kini hadir dalam upacara pemakaman Jun Ho hari ini. Bahkan orang tua Jun Ho pun mengenal baik Ji Eum. Yuri melintaskan pandangannya ke arah Da Jung.
Da Jung menghela nafas pendek. “dia wanita yang dimaksud Jun Ho oppa
Ji- Ji – Ji Eum-aa? Pak Ji Eum?

Beberapa jam setelah upacara pemakan Jun Ho berakhir, Da Jung masih menahan pertanyaan mengapa Yuri sampai mengenal Ji Eum. Bahkan Da Jung pun tak pernah mengenalkan Ji Eum pada Yuri. Ekspresi yang sempat ditunjukkan Yuri saat menyebut nama Ji Eum seolah Yuri sudah mengenal Ji Eum lama.
eomoni, gaseyo” pamit Ji Eum meninggalakan keluarga Jun Ho. Seiring kepergian Ji Eun yang ditemani managernya, Da Jung mulai mengahampiri Yuri yang juga akan pergi. Namun, sebelum Da Jung sempat mengeluarkan suaranya memanggil Yuri, ibu Jun Ho telah menghentikan langkah Yuri yang baru saja berpamitan.
apakah kau akan lama di kantor?
waeyo?
apakah kau mau menemaniku hari ini?
eomoni. Yuri akan sibuk dengan pekerjaannya, nanti akan ku temani” cletuk Da Jung menyela Yuri.
Yuri mendekatkan tubuhnya ke arah ibu dan ayah Jun Ho. “aku akan kembai setelah pekerjaanku selesai. Gwenchanayo?
Ibu Jun Ho mengangguk kecewa. Yuri tetap meninggalkan keluarga Jun Ho dengan terpaksa. Sepasang mata bulat ibu Jun Ho memandang langkah Yuri. Seorang wanita yang juga dekat dengan ibu Jun Ho. Seorang wanita yang selalu menghiburnya saat ia putus asa akan Jun Ho yang kini benar-benar meninggalkan mereka.

Pukul tujuh malam. Sebulan setelah kematian Jun Ho. Aura kebahagiaan tak terelakkan setelah upacara pernikahan Da Jung. Yuri yang akan menerima lemparan bunga Da Jung hingga saat ini pun belum datang. Di kantor kejaksaan tinggi Seoul, Yuri masih duduk termenung karena kasus yang kembali ditangani setelah 8 tahun lalu di lepaskan. Dan hari ini Yuri masih tak percaya dengan yang ia alami. Semua bukti yang ia miliki ternyata masih ada yang terlewatkan.
apakah kau tidak mau mengganti saja? Sebentar lagi dimulai
anieyo. Aku juga ingin melihat wanita itu menikah sepertiku

Sejenak Yuri melihat layar ponsel yang menyimpan gambarnya dan Ri Ah. Ia tersenyum. Dan ia pun terkejut setelah melihat bahwa jam yang muncul di ponselnya telah lebih jam tujuh. Ia baru saja teringat akan sesuatu. Dengan segera ia melaju dengan mobil silvernya.
Sementara Yuri masih dalam perjalanan, salah seorang teman Da Jung menyuruh Da Jung agar mengganti penerima bunga tersebut. Namun Da Jung tetap tidak mau. Dan beberapa menit setelah penundaan, tibalah Yuri dengan nafas yang terengah-engah namun dibarengi dengan senyuman polos.
waseo
ne. Mianhae. Kaja.

mengapa kau tidak mengganti saja? Bukankah sudah ku bilang kalau dalam up-
kau jangan banyak bicara. Umurmu sudah berapa jalang?
hya! Mengapa kau memanggilku seperti itu lagi?
Seorang laki-laki yang berpakaian rapi tengah berdiri di tepi jendela. Langkahnya berjalan mendekati tempat Yuri. Senyum dan mata sipit tampak menghiasi wajahnya. Suaranya keluar memanggil Yuri. Yuri yang masih sibuk dengan Da Jung pun terenyak. Matanya memastikan. Ia terkejut melihat Hyun Joo tengah berdiri di ambang pintu.
nan ireojeul arasseo. Dia masih menunggumu. Dia sangat keras kepala, bukankah sudah kau temukan dia dengan wanita itu?
Da Jung-aa, apakah kau mengundang pria ini ke pestamu?
aigoo. Kita sudah tidak bertemu berapa lama Yuri-aa. Apakah kau tidak merindukanku?
apakah kau perlu untuk dirindukan?
hya! Hya! Kalian ini, apa yang kalian lakukan! Mengapa adu pertanyaan. Ahh, Hyun Joo-aa Yuri akan menikah. Dia tadi menerima bunga dariku
Wajah Hyun Joo berubah gembira.
aku tidak akan menikah denganmu
arayo. Kau akan menikah dengan pekerjaanmu. Arata, aratago.
hya! Ssip-
Da Jung hanya menghilang dari tempat Yuri dan Hyun Joo. Dari jauh ia mengamati dua temannya tersebut. Seakan momen lalu kini telah kembali. Suara ejekan yang berlangsung beberapa menit yang lalu kini telah mencair. Entah apa yang dibicarakan Yuri dan Hyun Joo di tepi jendela. Setidaknya Da Jung tahu satu hal, selama kurun waktu kurang lebih 9 tahun Da Jung mengenal Hyun Joo, hari ini ia baru melihat Hyun Joo menyikapi sikap Yuri yang juga semakin hari semakin dewasa.
Ketiganya sempat tumbuh di kehidupan yang sama. Dengan beberapa permasalahan yang selalu dihadapi dan enggan bercerita satu sama lain. Da Jung juga mulai menyadari satu hal lain, bahwa untuk jatuh cinta itu tak semudah yang ia kira. Yuri yang pernah mencintai kakak sepupunya tak semudah itu melupakan semua itu dan memulai dengan Hyun Joo. Beberapa menit berlalu, segera disurutkan pandangannya dan mulai mengahampiri beberapa teman yang lain.
Sementara Yuri yang masih sedang berbincang-bincang dengan Hyun Joo, gelas anggur yang ia pegang selama 5 menit yang lalu itu tak tersentuh bibirnya sama sekali setelah mendengar ucapan Hyun Joo yang mengejutkan. Baru kali ini, wajah Yuri menghangat karena ucapan tersebut. Ini bukan yang pertama kalinya Hyun Joo mengucapkan keinginannya untuk hidup dan tua bersama dengan Yuri. Pandangan Yuri seakan bertanya pada Hyun Joo, hingga membuat Hyun Joo menghela nafas pendek.
ahh! Mungkin kebahagiaan itu tak sesederhana yang aku kira. Minumlah
ohh

Di ujung jendela mobilnya, Yuri masih mencerna segala ucapan yang sering ia dengar dari mulut Hyun Joo. Di tengah waktunya menyetir, Hyun Joo mulai menyanyikan lagu aneh yang membuat Yuri tersenyum. Laki-laki yang disebelahnya yang telah memberikan rasa. Bahagia, rindu, kesal, tertawa – semuanya. Namun, Yuri yang memang menyadari itu cinta, tak semudah itu mengucapkan sebuah kata yang kebanyakan orang menganggap enteng.
apakah ini sisi Bae Yuri saat diam?
mengapa kau tadi datang tanpa mobil?
aku tahu kau akan datang dengan mobil ini, jadi buat apa aku susah-susah bawa mobil jika aku ingin nebeng denganmu
jika aku mengatakannya “IYA” apa yang kau lakukan?
besok kita langsung menikah
micheosseo!
hajiman, apakah kau akan mengatakan itu?” Hyun Joo dengan seenak hatinya menghentikan mobilnya secara mendadak.
hya! I munjero naneun michil geosgatta! Jalankan lagi!
jika kau mengatakan itu, aku akan sangat bahagia. Bahkan mungkin aku menggantikan bumi mengitari matahari jika kau mengatakan itu.
eotteohkaeneun geu yeoja?
jadi kau yang membuatnya datang padaku?
bukankah kau sangat ingin menikah?
hya! Kau kira aku akan menikah dengan wanita yang ku kenal hanya dalam waktu sehari?!
hajiman, bukankah kau tau masa lalu ku sangat buruk jika aku menikah denganmu?
aku tak peduli bagaimana masa lalumu kemarin. Yang kupedulikan hanyalah, apakah Bae Yu Ri akan menerimaku?
hanya itu?
apalagi memang? Apakah aku harus mengungkit masa kelammu dengan keluargamu? Perlukah itu? kurasa tidak!
rumahku terlewatkan.
astaga! Mian mian.

jalja..” pamit Hyun Joo setelah sampai di rumah Yuri dan mulai mencari taksi untuk pulang. Dengan senyuman yang mengantarkan Hyun Joo pulang, rasanya Yuri tidak akan menyesali bagaimana masa lalunya yang menyedihkan. Masa lalu yang membuatnya sulit untuk di mengerti. Masa lalu yang mengantarkannya bertemu dengan beberapa orang yang sampai sekarang masih di sampingnya meskipun ia kadang membuat onar. Minggu depan ia akan kembali menghadiri pesta pertunangan. Ri Ah, wanita yang kini tengah menamatkan wajahnya di atas bantal.

bahagia itu sederhana. Apakah kau besok mau berlibur ke Busan?
hya! Hyun Joo oppa, apa kau tidak tahu kasus yang di tangani eonni sangat berat?
maka dari itu.
aku tidak bisa, apakah kau perlu ku buatkan makanan baru kau enyah?
eonni, galke.
ahh, Ri Ah-aa. Keluarga Seo, tolong kau katakan padanya aku akan memenuhi undangannya besok
waseo! Waseo waseo! Gomapta eonni! gomapseumnida
keluarga Seo? Nugunde?
apakah kau perlu tahu?
geureom! Bukankah aku akan menjadi masa depanmu? Marebwa,
mokkoyo.
baiklah kalau tidak mau memberitahu. Arasseo
Yuri hanya tersenyum memandnag Hyun Joo yang tak pernah bosan mendatangi rumahnya meskipun kadang Yuri menolaknya mentah-mentah. Di ujung pandangannya, Yuri mulai menyadari satu hal.
seseorang pernah mengatakan. Bahagia itu sederhana.
bukankah itu kata-kataku? Benarkan?
Yuri tahu, di atas langit masih ada langit. Dan kebahagiaan sekarang yang ia rasakan tidak melebihi rasa bahagianya di masa lalu. Serta kehidupannya sebagai seorang jaksa tidak pernah ia pikirkan sama sekali. Bahkan untuk bersama Hyun Joo, dulu adalah sebuah hal yang lebih tidak pantas untuk dipikirkan. Namun, setelah sebulan berlalu, Yuri kembali menarik kata-kata itu. Bahwa bersama Hyun Joo adalah sebuah hal yang sangat pantas untuk dipikirkan.
saranghae
kau mengucapkan apa barusan?
saranghae
dasi hanbeon! Dasi hanbeon
saranghandago sarang
Hyun Joo merapatkan tubuhnya memeluk Yuri. “hari ini, aku tidak ingin mengakhirinya. Nado sarangahae Bae Yu Ri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar