Di sebuah bangunan tua, sore ini ia masih duduk disana. Tahun ini ia memasuki umur yang ke 9. Masih cukup dini. Bahkan sangat dini. Namun, di usia tersebut ia sudah di terpa sebuah permasalahan yang sengaja menghampirinya setelah adiknya lahir lima tahun lalu. Bagi orang lain mungkin iri karena kini yang menghiasi rumahnya bertambah satu orang, tapi di dalam dirinya bukan itu masalahnya, melainkan sikap orang tuanya yang tiba-tiba berubah begitu saja.
Ayahnya adalah seorang dosen di sebuah
universitas dan ibunya seorang guru sebuah SMA di Busan. Bae Yu Ri. Seorang
anak kecil yang hari ini tengah dilanda kebingungan.
Tidur-makan-sekolah-belajar. Empat kegiatan yang tak pernah terlewatkan.
Di sekolah, Yuri yang selalu di jauhi
teman-temannya selalu mencoba menghibur dirinya sendiri dengan datang ke sebuah
bangunan tua. Disana tak ada orang lain selain dirinya yang kesepian. Dibangunan
ini juga, Yuri selalu memikirkan perkataan ibunya bahwa ia harus menjadi
seorang ahli bedah. Juga perkataan ayahnya yang menginginkannya menjadi ahli
fisika. Setiap memikirkan hal itu, Yuri selalu menghela nafas panjang. Umurnya
baru 9 tahun, namun segala yang terjadi di hidupnya untuk masa depan seakan
sudah di tentukan oleh kedua orang tuanya yang selalu mengontrol segala
kegiatan yang di lakukan oleh Yuri.
Hari ini untuk yang pertama kalinya,
ada sebuah langkah kaki tengah berjalan mendekat. Yuri mulai menoleh. Memandang
sepatu yang terus berjalan mendekatinya. Pelan-pelan ia mulai menjalankan bola
matanya melihat orang tersebut.
“eomeona!
Park Ji Eum? Mwohaneungeoya?”
“kau
sendiri sedang apa disini? Sepertinya kau sangat menikmati”
Yuri mengangguk. Tempat ini sudah
dianggap Yuri sebagai rumah keduanya saat orang-orang mulai tak
memperdulikannya lagi.
“aku
akan pindah ke Seoul. Aku sangat tidak menginginkan itu”
“wae?”
“disana
aku akan tinggal bersama uri halmeoni”
Yuri hanya tersenyum simpul. Ji Eum,
seorang teman yang pernah dekat dengan Yuri. Sejak mereka duduk di bangku TK mereka
berteman baik. Namun, setelah masuk SD entah apa yang terjadi Ji Eum sedikit
menjauh dari Yuri.
Sembilan tahun setelah kelahirannya,
dijauhi seseorang yang sudah dekat dengannya seperti sudah menjadi hal yang
biasa bagi Yuri. Bahkan orang yang ia percaya menghianatinya seperti angin lalu
yang dengan gampang ia maafkan saat mereka minta maaf.
Pukul tujuh malam. Yuri baru
menginjakkan kakinya kembali di rumah. Mata ibunya sudah melotot memandanginya
yang baru saja mengucapkan salam. Omelan ibunya yang sengaja memuncak bagaikan
pengganti makan malam.
“aku
tidak ingin menua di rumah ini. – 15 Maret 1993”
Yuri langsung menyambar handuk dan
menanggalkan buku hariannya. Entah ia salah paham dengan sikap orang tuanya
yang selalu menyalahkannya atau yang lain, Yuri tak tahu. Yuri masih anak
kecil, namun yang ia fikirkan melebihi orang dewasa. Apapun yang ia lakukan
dengan telat, ibunya yang hanya sibuk dengan adiknya selalu memarahinya dengan
suara keras hingga membuat jantung Yuri berdetak lebih kencang.
“ahh,
eomma. Ri Ah, apakah sudah pergi beristirahat?”
“bisakah
kau sekarang pergi belajar? Mengapa setiap pulang sekolah kau selalu menonton
tv?”
Yuri tersenyum. Memperhatikan ayahnya
yang sedang sibuk membaca koran.
“kau
jangan memandangku seperti itu. Cepat pergi belajar. Kau harus menjadi ahli
fisika.”
Yuri mulai berdiri. Melangkah memasuki
kamarnya yang berada di ujung. Ia mengambil sebuah buku. Bukan buku pelajaran,
melainkan sebuah kliping yang sengaja ia buat dari beberapa koran ayahnya yang
sudah tak terpakai. Ia usap sampul buku tersebut. Seolah-olah ia mampu
berkomunikasi dengan buku-buku yang tertata rapi di meja belajarnya. Setelah terdiam
dalam waktu yang cukup lama, kemudian disusul dengan gelengan kepala Yuri,
tiba-tiba ibunya menerobos masuk ke kamar Yuri. Menaruh dua buah buku yang
harus di pelajari oleh Yuri. Materi di dalamnya adalah materi yang sangat tidak
disukai Yuri.
“baca
ini. Jangan tidur dulu.”
Yuri hanya mengangguk pasrah. Ia tak
pernah menolak apa yang ibunya berikan. Meskipun itu sama sekali tak disukai
oleh Yuri. Setelah ibunya meninggalkan kamarnya, ia mulai meraih buku yang
tergeletak di atas kasur. Hanya mengambilnya lalu di tata rapi di antara
buku-buku sekolah.
Yuri tak pernah menginginkan profesi
sebagai ahli bedah maupun ahli fisika seperti yang diinginkan kedua orang
tuanya, ia memiliki ketertarikan khusus dalam dunia sejarah dan ilmu sosial.
Meskipun persaingan pendidikan di Korea yang sangat ketat, tak pernah membuat
Yuri terfikir untuk mempelajari seperti yang diinginkan kedua orang tuanya. Menurutnya,
mendalami ilmu sejarah adalah sebuah time travel yang mengasyikkan. Bahkan
menurut Yuri, ia merasa mampu belajar segala hal di samping belajar sejarah.
Sudah sekian banyak kliping-kliping yang sengaja ia buat. Di sebuah box yang
tersimpan di bawah kasurnya, disana tempat persembunyian kliping-kliping
tersebut.
Pukul setengah tujuh pagi. Yuri yang
akan berangkat ke sekolah tiba-tiba di cegah oleh ayahnya untuk masuk ke dalam
mobil. Yuri sejenak bingung. Belum sempat mengeluarkan pertanyaan, ayahnya
sudah mengeluarkan alasannya yang susah dicerna oleh otak Yuri.
“kau
jangan melulu bergantung pada orang tua” ucap ayah Yuri.
Ibunya hanya diam tak berkata apapun.
Setelah ayahnya berangkat bekerja ibunya kembali masuk ke dalam rumah. Dengan
mata yang berkaca-kaca, ia melangkah berangkat sekolah. Di halte, Yuri menakar
uang sakunya untuk naik bus.
“Yuri-aa!”
panggil seseorang.
Dia bukan Ji Eum. Tapi temannya yang
lain. Ia diberi tawaran untuk berangkat dengannya ke sekolah. Yuri menolak.
Temannya memaksa. Dalam perjalanan 30 menit, ia sampai di sekolah.
“Bae
Yu Ri. Bukankah dia anak seorang dosen? Tapi dia memaksaku untuk memberinya
tumpangan ke sekolah”
“gomapta
Ha Young-aa” ucap Yuri yang segera meninggalkan Ha Young yang sangat hobi mengolok-olok Yuri.
Pelajaran dimulai. Yuri bukanlah murid
yang pandai. Bukan juga murid yang bodoh. Jika di tes IQ, mungkin dia berada di
poin rata-rata. Namun, setiap pelajaran yang behubungan dengan angka, entah
mengapa kepala Yuri selalu pusing jika terus menerus mengikuti penjelasan guru.
Hari ini juga, nilai tes minggu lalu
di bagikan. 80 poin. Yuri tersenyum dengan poin tersebut. Namun, berbeda dengan
dua orang yang kini tengah memarahinya di ruang tamu.
“gunakan
otakmu! Bagimana kau akan menjadi ahli fisika jika nilai matematikamu hanya
sebatas ini?!” bentak ayahnya.
“apakah
kau tidak bisa meningkatkannya? Mengapa terus menerus hanya 85?!” sambar
ibunya.
Yuri hanya mampu mengucapkan maaf.
Malam ini adalah malam pertama orang tuanya memarahinya karena nilai ulangannya
yang mendapatkan 80 poin di bidang pelajaran matematika dan 85 poin di sains.
Air matanya terus ia tahan hingga orang tuanya meninggalkannya di ruang tamu
sendirian.
“apakah
akan ada suara seperti hari ini di hari berikutnya? – 16 Desember 1993”
Maret 1996
Yuri memasuki tahun terakhir di SD.
Satu tahun kedepan, Yuri persiapan masuk ke SMP. Tahun ini juga adiknya masuk
di SD yang sama dengan Yuri. Sama dengan dirinya, adiknya juga sudah disiapkan
karir masa depan oleh kedua orang tuanya. Namun, hanya satu profesi dan harus
dijalankan. Jaksa. Sebuah profesi yang dulunya sangat diinginkan oleh ibu Yuri.
Berbeda dengan Yuri yang diam-diam menolak keinginan kedua orang tuanya, Ri Ah
menerima keinginan orang tuanya dengan lapang dada.
Minggu yang cerah di musim panas.
Seperti biasa, Yuri setiap hari libur sekolah selalu duduk di bangunan tua
tersebut. Di bawah pohon yang sangat rindang, angin meniup rambut coklat Yuri.
Segera ia menyelipkan rambutnya di sela-sela telinga. Di tangannya ia pegang
sebuah kamera yang tahun lalu dibelikan oleh ayahnya karena peringkat yang di
dapat Yuri.
Meskipun ia mendapatkan kamera
tersebut, dan mendapatkan peringkat kedua di kelasnya, tak membuat sikap orang
tuanya berubah begitu saja. Yuri di suruh belajar lebih keras agar saat upacara
sekolah satu tahun ke depan ia mendapatkan cumlaude.
Dengan mata yang menerawang jauh, Yuri membayangkan kelak saat dirinya menjadi
seorang sejarahwan. Sejenak senyum itu mendarat di wajah Yuri.
“apakah
kau sedang bahagia?” tanya seseorang yang sempat mengejutkan Yuri.
“Ji
Eum? Oraenmanieyo?”
Ji Eum tersenyum polos.
“bagaimana
di Seoul? Apakah orang-orang disana ramah?”
“ne.”
“logatmu
terdengar seperti orang Seoul asli”
Ji Eum tergelitik mendengar pernyatan
Yuri. Pertama di Seoul, Ji Eum mati-matian mengubah logat kental Busannya
dengan logat Seoul.
“kamera?
Apakah orang tuamu sudah merestui impianmu?”
Yuri memandang kameranya dan
tersenyum. Kemudian menggeleng kecewa. Kamera tersebut hanyalah hadiah. Orang
tuanya tak pernah mengerti impian Yuri.
“mengapa
kau tak mengatakan pada mereka bahwa kau tidak ingin menjadi seperti apa yang
mereka inginkan? Wae?”
Yuri kembali tersenyum. Memberitahu
orang tuanya tentang impian besar Yuri. Itu sangat tidak mungkin bagi Yuri.
Perlakuan apa yang akan di dapat Yuri jika ternyata dirinya tak pernah
menginginkan menjadi ahli bedah maupun ahli fisika.
“mereka
terlalu teropsesi dengan impian mereka yang tak bisa mereka capai. Aku lelah
dengan semua ini”
“hajiman,
jika kau menolaknya, bukankah kau yang mengatakan padaku bahwa kita harus
menuruti apa yang diinginkan orang tua kita?”
Yuri mendadak diam. Ia menghela nafas
panjang.
“ternyata
aku salah dengan kata-kata tersebut.”
Jie Eum terdiam. Memandang wajah Yuri
yang semakin dalam menatap langit.
“kau
kesini apakah liburan?”
“liburan?
Ani. Orang tuaku sedang mengemas barangnya yang ada di Busan.”
“kau
akan tinggal di Seoul selamanya?”
Ji Eum menggeleng.
“lalu?”
“kita
akan tinggal di California. Aku harus meninggalkan segala tentang Busan dan
Seoul dengan sangat cepat.”
Yuri tersedak dengan ludahnya sendiri
saat mendengar pernyataan mengejutkan dari Ji Eum.
“apakah
kau akan kembali ke Korea?”
“entahlah.
Namun, jika takdirku disana, aku akan menerimanya”
Yuri memandang wajah temannya
prihatin.
“sudah
jam segini, aku harus kembali. Annyeong. Akan ku nantikan kau di masa depan.
Galke”
Yuri mengangguk pasti. Ia mengamati
langkah Ji Eum yang semakin jauh meninggalkannya sendiri. Selanjutnya, Yuri
mengangkat badannya berdiri. Wajahnya di hadapkan tepat ke matahari yang
panasnya melebihi hawa api kompor. Sekitar 1 menit ia melepaskan pandangan
tersebut dan melangkah pergi.
㉷
Dua tahun kemudian. Lulus dari SD
dengan nilai tertinggi kedua sedikit mengurangi amarah kedua orang tua Yuri.
Tahun ini, tahun kedua Yuri di SMP. Namun, perhatian orang tuanya juga sedikit
berkurang. Adiknya yang selalu mendapatkan peringkat pertama di kelasnya,
membuat Yuri sedikit merasa iri dengan sentuhan lembut tangan ibu dan ayahnya
yang selalu menyanjung adiknya, Ri Ah.
SMP yang dimasuki Yuri bukan sekolah
yang biasa. Ia didaftarkan orang tuanya di sebuah SMP favorit di Busan. Tahun
pertamanya di sekolah tersebut sempat membuat Yuri jatuh sakit. Di sekolahnya,
setiap hari ada pelajaran tambahan yang membuatnya pulang malam. Namun ia
sedikit bersyukur, meskipun ayahnya jarang menjemput dan mengantarnya, ia bisa
melihat senyuman orang tuanya setiap kali ia akan berangkat dan pulang sekolah.
“bagaimana
dengan ulangan minggu lalu?”
Dengan percaya diri, ia menyebutkan
semua mata pelajaran dengan poin yang ia dapat. Adiknya tersenyum pada Yuri.
Memuji Yuri.
“kau
jangan memuji kakakmu. Itu nilai sempurna yang baru ia dapat di SMP” ujar
ayahnya menciutkan senyuman Yuri.
Suasana makan malam hari ini sedikit
tak mengenakkan Yuri. Setelah makanannya habis, tanpa banyak basa basi, ia
langsung pergi meninggalkan meja makan tersebut. Seperti orang yang sangat
ingin berteriak, Yuri menangis menghadap jendela.
“eonni,
gwenchana. Nilai ulanganku minggu lalu tak sesempurna eonni” sambar Ri Ah
yang sengaja masuk ke dalam kamar Yuri.
“apa
impianmu?”
“aku
ingin belajar hukum. Dan bisa menjadi jaksa. Ayah dan ibu memahamiku”
Yuri tersenyum. Menyilahkan Ri Ah
keluar. Ri Ah tak pernah menolak keinginan orang tuanya, meskipun ia harus
mengorbankan impiannya yang sangat ingin mempelajari ilmu ekonomi.
Sore ini, sepulang sekolah Yuri diajak
teman sekelasnya bermain scrabble.
Mereka mendatangi sebuah rumah yang keseluruhan dindingnya bercat putih. Selain
Yuri, disana terdapat dua orang lagi dan pemilik rumah. Yoon Da Jung. Seorang
wanita yang sangat cantik dan banyak di kagumi oleh para laki-laki di
sekolahnya, dengan senyuman ramah yang mematikan.
“ahh!
Apakah aku boleh tau apa impian kalian?” cletuk Da Jung saat akan memulai
permainan. Semua orang menatap Da Jung.
“geurae.
Dimulai dari In Jung, what your dream?” lanjut Da Jung.
“nanaeun
Hwang In Jung. Aku bermimpi menjadi entertainment. Setelah dari sini, aku akan
masuk ke Anyang Art High School”
“woahh!
Naneun, Han Se Na. Aku bermimpi menjadi seorang designer. Kelak, aku akan
membuat kalian memakai baju buatanku.”
“naneun
Yoon Da Jung, aku bermimpi menjadi seorang ahli hukum. Aku akan menjadi jaksa
dan menumpaskan kejahatan di Korea.”
Tiba di giliran Yuri. Ia masih
terdiam. In Jung, Se Na, juga Da Jung adalah teman-teman Yuri yang ia temui
saat tahun pertama masuk SMP. Mereka berbeda dengan orang-orang yang di temui
Yuri di SD. Dari ketiga temannya, Yuri sangat dekat dengan Da Jung. Namun,
kedekatan Da Jung dengannya sedikit ia beri batas.
“kau
memilih mana? Menjadi ahli bedah atau ahli fisika?” ucap Da Jung.
Dua teman yang lain terkejut. Impian
Yuri bukanlah salah satu dari dua profesi tersebut. Pikiran Yuri mendadak
gamang. Jika ia mengatakan impian yang sebenarnya, bagaimana dengan Da Jung
yang juga sangat dekat dengan orang tua Yuri. Jika ia mengatakan profesi yang
diinginkan orang tuanya, berarti ia harus melakukannya, ia takut impiannya akan
tenggelam seiring berjalannya waktu. Beberapa menit kemudian, karena Yuri tak
menjawab apa impiannya, dengan suara lantangnya, In Jung memulai permainan.
Pukul setengah dua belas malam,
matanya masih menatap buku-buku tebal yang menamaninya selama ini. Kedua
telinganya masih terpasang earphone. Musiknya sangat keras. Yuri masih tak
percaya dengan perkataan kedua orang tuanya yang akan memasukkannya di sebuah
SMA di Seoul. Besok adalah hari pertamanya memasuki tahun tekahir di SMP, hari
ini ia mendapatkan sebuah gambaran tentang Hannyoung High School. Sebuah
sekolahan yang berada di Gangdong-Gu, Seoul.
Yuri sangat mengerti betul sekolahan
tersebut. Untuk masuk di SMA tersebut tidaklah mudah. Tes yang harus dijalani
pun sangat ketat. Bahkan sepengatahuannya, kakak kelasnya yang daftar disana
tidak lolos tes. Orang itu adalah gadis terpandai di SMP. Yuri tidak bisa
membayangkan dirinya sendiri.
“mworago?!
Aku tidak mau sekolah disana. Shirreo!”
“
Da Jung-aa. Jebal,”
“eomma.
Appa. Naneun shirreo! Arasseo.”
“anak
ini, hya! Yoon Da Jung! Hannyoung bukan sekedar SMA. Toh kita nanti akan pindah
ke Seoul,”
Da Jung membalikkan badannya saat
mendengar bahwa keluarganya berencana pindah ke Seoul. Ia memutar pandangannya
ke arah ayah dan ibunya yang sedari tadi merajuk.
“sepertinya
harus aku pikirkan lagi. Aku tidur dulu.” pamit Da Jung. Mendengar ucapan Da Jung, kedua orang
tuanya tersenyum bahagia.
Di sebuah SMP yang terletak di distrik
Gyeonggi-Do, ia berjalan melewati lorong sekolah. Ia menyusuri dari setiap
telapak kaki yang lewat. Ia juga menjadi perhatian semua gadis di sekolah. Kang
Hyun Joo, dia adalah anak dari seorang pemilik perusahaan terbesar di Korea
Selatan. Wajahnya yang tampan, tubuhnya yang tegap selalu membuat gadis-gadis
terlena. Apalagi dia adalah salah satu dari tim basket di sekolahnya, ia
menjabat sebagai ketua tim. Di sekolahnya, ia menaksir seorang gadis yang asli
Seoul.
Gadis itu tinggi semampai, umurnya
sebaya dengan Hyun Joo, ia juga berprofesi sebagai seorang model cilik,
beberapa bulan terakhir ini, ia mulai mengambil dunia akting. Han Hye Jin. Di
sekolahnya juga banyak laki-laki yang mengaguminya, namun tak ada yang menyita
pandangan Hye Jin. Bahkan Hyun Joo pun tak ia lirik sama sekali. Setiap
paginya, ia selalu di sambut oleh Hyun Joo yang hobi mendatangi kelas Hye Jin.
Namun, semua itu tak pernah membuat Hye Jin melirik Hyun Joo. Di dalam dirinya,
tak ada laki-laki yang lebih baik dari orang yang meninggalkannya 2 tahun lalu.
Langit biru yang ia lihat dari
beberapa jam yang lalu kini berubah menjadi jingga. Yuri mengangkat tangannya,
mengambil gambar langit sore ini. Ia tersenyum. Ia mulai melangkahkan kakinya
pergi. Baru beberapa langkah dari tempat duduknya, ia mendengar sebuah suara
dari semak-semak yang tak jauh dari tempatnya berada. Suara itu menyita
pandangannya dan rasa penasaran dalam dirinya. Yuri dengan cepat menuruni
bangunan tua tersebut, ia menghampiri suara yang semakin lama semakin
membuatnya penasaran.
“DORR!
Mwohaneungeoya?”
Yuri sangat terkejut. Jantungnya
serasa ingin copot seketika. Yoon Da Jung. Gadis yang membuat Yuri terkejut.
“mwoya
neo?” Yuri bertanya kembali.
“mwoya?!
Ku dengar kau akan daftar di Hannyoung. Benarkah itu?”
Yuri menoleh Da Jung. Kemudian mengangguk.
“ohh
Yuri-aa. Kita akan satu sekolahan lagi. Ohh sesange. Aku sangat beruntung”
“wae?”
“hya!
Bae Yu Ri-ssi. Aku juga akan daftar disana” Da Jung mengerlipkan matanya sesekali. Yuri
mengerutkan dahi tak percaya.
“ekspresi
apa itu? apakah kau tidak bahagia? Perkiraan, keluargaku akan pindah ke Seoul
saat aku kelas dua SMA nanti, jadi dari pada membuatku lelah, aku dipindahkan
ke Seoul terlebih dulu” dalih Da
Jung panjang tanpa di minta Yuri.
“apakah
kau bahagia?” tanya Yuri yang kembali dalam duduknya. Ia menyilangkan
kakinya yang panjang. Da Jung
menjawabnya dengan anggukan pasti.
“sudah
ku duga.”
“wae?
Bukankah kau juga bahagia. Sebuah penghormatan jika kita bisa sekolah disana.”
“itu
sangat jauh, aku takut orang tuaku diam-diam akan meninggalkanku hidup sendiri
di Korea”
Da Jung dengan kecepatan jet,
tangannya begitu saja memukul kepala Yuri. Yuri pun dengan tak sengaja
mengumpat.
“dasar
jalang! Kau jangan mengumpat!”
“lalu
kenapa kau memukul kepalaku?!”
“kau
jangan berfikir aneh-aneh tentang keluargamu sendiri. Aigoo..”
Yuri melepaskan earphone yang menempel
di telinga Da Jung. menyuruh Da Jung mendengarkan ceritanya baik-baik. Lima
hari yang lalu, sesaat Yuri akan ke kamar mandi, ia tak sengaja mendengar
percakapan orang tuanya yang masih berada di ruang keluarga. Ia menguping
hingga percakapan itu selesai. Ayahnya akan di pindah tugaskan ke luar negeri
selama waktu yang belum di tentukan. Dan ayahnya hanya bisa membawa salah satu
antara Yuri atau Ri Ah.
“ahh!
Mungkin kau salah dengar, kalau dia akan meninggalkanmu, buat apa mereka susah
payah menyuruhmu masuk ke SMA Hannyoung”
Yuri menghela nafasnya panjang. Cerita
yang keluar dari mulut Yuri tak membuat otak Da Jung memahami dengan cepat.
“menurutmu,
apakah ada dosen yang di pindah tugaskan? Memang mereka tentara?”
Da Jung di kunci dengan perkataan Yuri
yang memotong suaranya begitu saja. Da
Jung mulai memandang wajah Yuri yang tak ikhlas dengan keputusan sepihak yang
dibuat oleh kedua orang tua Yuri.
“apakah
hidupmu sesulit mereka yang tak mempunyai makanan untuk dimakan? Tak punya
tempat untuk ditinggali? Tak memiliki keluarga yang dapat mereka kasihi? Apakah
seperti itu?”
“ani.
Arasseo. Aku memang tak sesulit itu, tapi jika mereka tak mempunyai makanan
untuk dimakan, namun mereka memiliki tempat tinggal dan keluarga, semua itu
mampu mewakili rasa lapar mereka.”
“berarti
kau juga akan bahagia bila tak ada keluarga tapi ada makanan dan tempat
tinggal. Bukan begitu kah intinya?”
Yuri menatap mata Da Jung dalam. Da Jung sedikit memiliki kesalahan dalam
mengartikan ucapan Yuri.
“bukankah
begitu?”
“jika
keluarga itu berbeda. Orang yang sesukses apapun, memiliki harta yang tak
terhingga pun akan kesepian tanpa adanya keluarga.”
Da Jung mulai diam tak merespon
kata-kata Yuri. Ia menatap mata yang kini tengah menahan air mata yang ingin
keluar. Mereka duduk terdiam hingga beberapa jam. Hingga sebuah bintang seakan
menyapa Yuri dan menyuruhnya pulang.
“apakah
kita akan pulang?”
Yuri mengangguk.
“bagaimana
kau mengetahui tempat ini?”
“aku
mengikutimu” Da Jung menyeringai.
Yuri tertawa. Seperti rasa keputus asaan yang dirasakan Yuri beberapa jam yang
lalu lenyap di makan malam.
Pagi ini, Yuri yang sudah siap berangkat
ke sekolah mengurai senyum sebisanya di depan ibu dan ayahnya yang masih sibuk
sarapan. Sejenak Ri Ah memanggil Yuri. Ia menjejalkan sebuah kertas dalam
genggaman Yuri. Yuri tersenyum lebar.
“galke”
pamit Yuri.
Di perjalanan, ia membuka kertas dari
Ri Ah yang dilipat hingga menjadi sangat kecil.
“eomma,
appa, mereka bilang akan pindah ke California. Aku ingin bersamamu. Aku tak
ingin bersama mereka”
Yuri menghentikan langkahnya seketika.
Saat ini ia berada di tengah-tengah jalan raya. Hingga lampu berubah merah,
rasa terkejutnya masih terasa. Ia tak percaya hal itu benar-benar terjadi. Saat
ia mendapatkan teman yang mampu memahami dengan benar, keluarganya akan pergi
tanpa mengikutsertakan dirinya. Suara klakson mobil tak membuatnya terkejut,
hingga lampu berubah hijau untuk kesekian kalinya ia baru melangkahkan kakinya
pergi.
㉷
Upacara kelulusan diadakan hari ini.
Hyun Joo sudah menyiapkan segala hal untuk menyatakan perasaannya pada Hye Jin.
Namun naas, semua itu hanya dalam angannya saja, malam kelulusan yang akan ia
jadikan sebagai momen indah pun gagal, Hye Jin sudah tidak berada dalam rumah
tersebut. Perasaannya sangat kecewa. Hadiah-hadiah yang akan ia berikan pada
Hye Jin ia buang begitu saja. Ia baru menyadari bahwa cintanya itu benar-benar
hanya cinta sepihak. Cinta pertamanya kini telah gagal.
Tes yang sangat rumit itu mengantarkan
Yuri lolos dan menjadi siswi baru di Hannyoung High School. Di SMPnya pun ia
menyabet nilai tertinggi, disusul dengan Da Jung di tempat kedua. Malam ini Yuri sangat
bahagia, orang tuanya memeluknya erat. Pelukan yang selama ini ia inginkan.
Dari kejauhan, Da Jung yang
memandangnya pun ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh temannya
tersebut.
“apakah
kau ingin di peluk seperti itu?”
“ohh,
appa. Anieyo. Aku belum pernah melihatnya tersenyum seperti itu. Sepertinya dia
sangat bahagia”
Da Jung terus memandang Yuri yang
seakaan tak ingin melepaskan pelukan tersebut. Setelah beberapa menit Yuri
berada dalam pelukan hangat orang tuanya, ia mulai berjalan pulang. Dengan
menaiki mobil ayahnya yang sudah lama tak ia tumpangi. Da Jung pun begitu, ia mulai melangkah pergi
meninggalkan sekolahnya, meninggalkan segala kenangan di Busan karena besok
pagi ia sudah harus meninggalkan tempat yang memiliki banyak kenangan indah
tentangnya dan semua orang.
Pagi yang cerah. Sama dengan Da Jung, Yuri hari ini juga berangkat ke
Seoul. Meninggalkan Busan, sebuah kota yang menjadi saksi dari separuh hidupnya
selama ini. Ia juga meninggalkan bangunan tua yang ikut menjadi saksi hidupnya
sehari-hari. Pukul setengah sebelas pagi, ia sudah melewati perbatasan Gyeonsangnam-Do.
Ia benar-benar meninggalkan Busan hari ini. Benar-benar pergi.
“hari
ini aku pergi – 20 Februari 2000”
Mobil ayahnya melaju sangat kencang.
Seolah momen Yuri meninggalkan Busan ingin segera ia akhiri. Selama perjalanan,
ia memandang wajah ayahnya yang sangat serius menyetir mobil. Tak peduli dengan
Yuri yang setiap menit mencoba mengajaknya berbicara. Ayahnya benar-benar
menyetir dengan serius.
“apakah
setiap musim aku harus mengunjungi Busan ayah?”
“eobseo.
Waeyo?”
“wae?
Aku jelas akan merindukan kalian. Aku di Seoul sendirian. Bahkan perjalanan
satu jam pun tak cukup. Bagaimana bisa aku tak merindukannya? Aigoo..”
“apakah
kau sudah dewasa?”
“ohh
geurae!”
Yuri melihat senyum yang mendarat pada
wajah ayahnya yang kembali serius menyetir. Yuri pun melepaskan pandangan
tersebut dengan memandang ke tepi jalan. Sekarang ia boleh dibilang seorang
yang sangat beruntung, dari sekian pendaftar di Hannyoung High School, ia
adalah salah satu dari 30% siswa yang di terima.
Hari ini, pukul delapan malam waktu
Seoul, baik Da Jung maupun Yuri sedang
menikmati malam di Seoul. Jarak tempat tinggal yang di sediakan ayahnya tak
sebegitu jauh dari sekolahan, hanya menaiki satu bus ia sudah sampai. Yuri
masih menatap haru bintang-bintang di langit Seoul. Ayahnya sudah pergi kembali
ke Busan beberapa menit yang lalu. Kenangan selama perjalanan ke Seoul seolah
akan menjadi momen terakhir ia melihat dan menikmati wajah tua ayahnya.
Di lain tempat, berbeda dengan Yuri, Da Jung sudah melepaskan pandangannya terhadap
langit malam Seoul yang penuh bintang. Ia mulai berbincang-bincang dengan
keluarga di Seoul. Untuk sementara waktu ia akan tinggal bersama keluarga adik
dari ibunya, sebelum orang tuanya benar-benar pindah ke Seoul.
Rumah yang di tempati oleh Yuri
seorang diri sangat sederhana. Terdapat
dua kamar tidur. Satu di lantai
bawah dan satu kamar di lantai atas. Ia memilih lantai atas untuk kamar tidurnya,
yang di bawah ia gunakan sebagai tempat menyimpan beberapa barang bawaannya
dari Busan. Semalaman ia tidak bisa tidur, lingakaran hitam di matanya membuat
mata kecilnya bagaikan mata panda. Dengan penampilan yang sangat acak-acakan,
setelah mengisi diary hariannya, ia memulai aktivitas pagi ini.
“pagi ini sangat sepi. Baru semalam, aku merindukan suasana Busan.
– 21 Februari 2000”
Kota Seoul pagi ini benar-benar
menjadi pemandangan matanya setelah sampai di Seoul semalam. Da Jung baru saja membuka matanya setelah ia
terlelap dalam mimpinya yang indah. Bibinya sengaja tak membangunkan Da Jung, karena hari ini hari terakhir sebelum
Da Jung memulai aktifitas di sekolah
barunya, Hannyoung High School.
Di pojok ruangan, foto keluarganya
masih tergeletak tak terjamah. Sejenak matanya melirik foto tersebut, Yuri
mengusapnya dengan tangan yang di bungkus dengan sarung plastik.
“annyeonghaseyo.
Eomma, appa.” bisik Yuri.
Ia langsung mengangkat foto tersebut
dan menaruhnya di jajaran foto-foto yang ia bawa dari Busan. Rumah yang tadinya
berantakan, dalam kurun waktu empat jam sudah kembali rapi. Ia lantas berdiri
dan memandang foto-foto tersebut. Sebuah senyuman mendarat di bibir Yuri.
“kalian
semua membuatku rindu” ucapnya dengan posisi tangan yang di pinggang. Ia
kembali tersenyum. Kemudian ia mulai membersihkan badannya dari debu-debu yang
sengaja menempel setelah itu mulai mencari sarapan dan kerja paruh waktu.
㉷
Da Jung sengaja berdiri di depan pintu
rumah Yuri. Semalam, setelah ia melihat Yuri yang sedang berkeliaran di Seoul
sendirian menyita pandangannya begitu saja. Hari ini minggu kedua mereka
memulai sekolah di lingkungan baru Hannyoung High School, namun baru semalam Da
Jung menemukan alamat rumah Yuri yang di Seoul.
Beberapa menit kemudian, saat Yuri
membuka pintu rumahnya, di buat terkejut dengan Da Jung yang sudah berdiri di depan pintu
rumahnya menyejajarkan tinggi badannya di atas sepatu cats yang mereka pakai. Mata Yuri melotot paksa. Dengan rasa
penasaran yang enggan di ungkapkan, Yuri mengerutkan dahi. Namun Da Jung
memandang Yuri dengan licik.
“yeoja
ini, jinjja. Tch!”
“wae?
Wae? Wae?”
“WAE?
WAE MWO BAE YU RI-ssi?!” suara keras
Da Jung membuat Yuri tersentak. Tangan Da Jung dengan cepat menyambar
kepala Yuri.
“dasar
jalang! Apa yang kau lakukan di depan rumah makan semalam? Mengapa kau tak
memberitahuku kalau rumahmu disini? Wae?!”
Tanpa menjawab pertanyaan Da Jung,
Yuri dengan paksa menyingkirkan Da Jung dari depan pintu rumahnya dan segera
berangkat sekolah.
“hya!
Bae Yu Ri! Berhenti kau!”
“waeyo?”
“ohh
sesange! Kau tak mendengarkanku?”
“kau
tidak bertanya, buat apa aku memberitahumu. Yang kulakukan disana semalam, aku
baru saja selesai be-kerja”
“neo?”
Yuri memandang wajah Da Jung licik.
“ada
apa dengan pandangan itu? Mengapa kau bekerja?”
“agar
aku bisa hidup. Sudahlah. Busnya sudah datang.”
Segala pertanyaan menggerutu menghiasi
telinga Yuri selama di perjalanan. Sekitar 30 menit Da Jung dan Yuri sampai di
pemberhentian halte yang dekat dengan SMA Hannyoung.
Setelah melewati gerbang sekolahnya
yang menjulang tinggi dengan beberapa pohon yang tertanam rapi, mereka mulai
memasuki kelas. Selama satu minggu ini, tidak banyak yang Yuri kenal. Dari 20
siswa di kelas, Yuri hanya mengenal 7 orang termasuk Da Jung. Ia tak pernah
ambil pusing jika memiliki ruang kelas dengan penghuni yang baru. Ia selalu
menggunakan rumus lama yang selalu ia tanamkan di hidupnya. Meskipun ia hanya
mengenal 7 orang di kelasnya, 7 orang tersebut sangat membantunya dalam segala
hal.
Di lain kelas, terdapat sesosok
laki-laki yang selalu menyita pandangan Da Jung dan beberapa teman di kelasnya,
mungkin juga satu sekolah. Dia adalah laki-laki yang sempat tinggal di distrik
Gyeonggi-do karena cinta pertamanya yang telah kandas. Ia memutuskan untuk pergi
ke Seoul.
Dia juga seorang anak laki-laki yang
berasal dari keluarga chaebol.
Tingginya mungkin sekitar 178 cm. Entah lebih atau kurang, Yuri selalu
mengira-ngira sendiri. Ia tak pernah melirik laki-laki itu, hanya saja Da Jung
selalu merajuk agar ia mengorek-orek tentang laki-laki itu. Namanya pun cukup
tampan, Kang Hyun Joo. Sebelumnya, ia sangat enggan untuk bersekolah disini,
namun setelah mendapatkan perlakuan saat malam kelulusan SMP itu, ia mengambil
keputusan untuk sekolah disini.
Jantungnya mencelos saat Hyun Joo
tiba-tiba saja menyodorkan tangan kanannya untuk mengetahui nama Yuri. Di
kelasnya yang sudah berakhir sore ini, Da Jung dibuat terkejut dengan uluran
tangan tersebut.
“bukankah
kau perempuan yang dari Busan itu, yang mendapat posisi pertama di urutan siswa
yang terpilih di SMA ini? Benarkan? Kudengar namamu Bae Yu Ri, benarkah?
Naneun, Kang Hyun Joo Imnida.”
Dengan santainya, Yuri menerima uluran
tangan Hyun Joo. Mungkin hanya sekitar 15 detik, setelah Yuri mengucapkan
namanya, Yuri melepaskan jabatan tangan tersebut. Wajahnya yang enggan menatap
Hyun Joo pun segera mengakhiri percakapan sore ini. Kuluman senyum yang
menghiasi wajah Yuri saat sengaja pamit meninggalkan kelasnya membuat Hyun Joo
memandang penasaran juga kesal.
“apakah
kau langsung berangkat bekerja?” tanya Da Jung yang sengaja mengikuti Yuri.
“ne”
Da Jung melepaskan temannya di tengah
jalan. Ia memandang punggung Yuri yang tergambar berapa ton beban yang di pikul
Yuri. Sesekali Da Jung melihat punggung itu menghela nafas panjang. Kaki yang
sengaja di hentak-hentakkan ke tanah membuat Da Jung mengurai senyuman.
“kau
selalu saja aneh. Bae Yu Ri” ucap Da Jung dengan cepat meninggalkan tempat
tersebut.
2 tahun kemudian
17 tahun sudah lewat. Hari ini Yuri
usianya bertambah setahun. Semakin lama, kerja paruh waktu yang ia jalani
sangat banyak. Paruh waktu yang ia kerjakan saat libur musim panas, salju dan libur-libur
lainnya. Paruh waktu yang ia kerjakan saat pulang sekolah. Meskipun tahun ini
ia mulai ikut kelas malam, itu tak membuat Yuri mengurangi kegiatannya dalam
kerja paruh waktu.
Prestasinya terus meningkat seiring
berjalannya waktu. Juga keluarga yang ternyata kini sudah tinggal di California.
Yuri yang selalu sibuk dengan hari-harinya sendiri, membuatnya dua tahun
terakhir ini tak ada kontak dengan keluarganya di Busan. Adiknya yang kini
sudah melupakan kakaknya, kini tengah serius menjalani dunia hukum. Walaupun
adiknya masih kelas 2 SMP, ia yang terbiasa dengan orang tuanya yang
mengaturnya, tahun ini mulai mempersiapkan tahun terakhir di SMP dan setelah
lulus SMA besok ia berencana kuliah di Eropa.
Hari ini, libur musim panas dan Yuri
sengaja di liburkan oleh bosnya agar bisa pulang ke Busan. Hidup yang ia jalani
di Seoul tak sedatar di Busan. Disini ia bertemu banyak orang yag selalu
mengasihi Yuri. Termasuk orang tua Da Jung yang kini sudah berada di Seoul
setahun yang lalu. Juga Kang Hyun Joo yang masih sibuk mendekatinya meskipun
Hyun Joo tahu bahwa Yuri menolaknya mentah-mentah. Dan ada seseorang yang
selalu menghiasi malam Yuri sejak dua tahun lalu.
Meskipun libur musim kali ini ia tidak
bekerja, namun Yuri masih tetap tidak bisa berangkat ke Busan. Ia harus
menyiapkan dirinya masuk ke Universitas dan tahun terakhir di Hannyoung.
Tak terasa memang, 3 tahun sudah Yuri
hidup seorang diri di Seoul, selama ini ia tak pernah membayangkan bahwa
dirinya bisa hidup di sebuah kota besar yang sangat jauh dari tempat
kelahirannya tanpa keluarganya satu pun. Semakin ia menikmati kehidupannya di
Seoul, ia terus teringat akan perbincangannya dengan Da Jung beberapa tahun
lalu di bangunan tua malam itu.
Di rumahnya, ia yang sedang sibuk mengayunkan
buku dan bolpoin yang masih ia pukul-pukulkan di atas meja. Beberapa menit saat
Yuri sedang asyik-asyiknya mulai memainkan matanya dengan media sosial,
tiba-tiba bel rumahnya berbunyi. Yuri menghela nafas. Memandang pintu kamarnya
dan segera berdiri.
“bukankah
hari ini ia liburan dengan keluarganya?” bisik Yuri.
Spontan, ia membuka matanya saat
mendapati kaki yang di lihat adalah kaki seorang laki-laki. Ia mulai menatap
wajah laki-laki tersebut. Senyum tipis di bibir laki-laki tersebut membuat Yuri
sedikit mengerutkan dahi.
“apakah
aku boleh masuk?”
“silahkan.”
Yuri masih tak percaya yang bertamu ke
rumahnya di awal musim panas ini adalah Hyun Joo. Hyun Joo yang masih berdiri
mengamati seluruh ruangan di rumah Yuri, di kejutkan dengan lukisan yang
tergantung di pojok ruang tamu Yuri.
“bagaimana
bisa kau tahu alamat rumahku?” tanya Yuri dengan menyuguhkan segelas
minuman.
Meskipun Hyun Joon sempat terkejut
melihat gambaran tersebut, setelah ia melihat jelas bahwa itu adalah sebuah
lukisan langit senja. Sepertinya Hyun Joo tertarik untuk melihat langit senja
yang tergambar di kanvas tersebut.
“beberapa
hari yang lalu, aku mengikutimu. Wae?”
“mengapa
semua orang selalu mengikutiku” keluah Yuri kesal.
“aku
tidak berniat mengikutimu, hanya saja kau yang selalu membuatku penasaran”
dalih Hyun Joo.
Minumannya ia teguk untuk yang
kesekian kalinya, Hyun Joo mulai membuka pertanyaan setelah beberapa menit
membiarkan Yuri tetap diam dengan jari-jari yang melekat dengan bolpoin.
“lukisan
di pojok itu, apakah kau melukisnya?”
Yuri menggeleng.
“lalu?”
Yuri menanggalkan bolpoin dan bukunya,
ia mulai berdiri dan mengambil lukisan tersebut.
“yang
kau maksud lukisan ini atau yang di pojok sana?”
“berapa
banyak lukisan langit senja yang kau punya?”
Yuri menaruh lukisannya di atas meja
begitu saja. Yuri sangat enggan mengatakan jumlah barang koleksi yang ia
miliki. Sejenak ia membuat Hyun Joo mengikuti langkahnya memasuki sebuah
ruangan.
“disini,
kau bisa melihat berbagai foto. Kau bisa memilikinya jika kau mau”
Yuri bukanlah maniak senja. Namun, ia
merasa tenang jika menatap langit senja yang mempunyai warna berbeda-beda dalam
setiap kemunculannya.
“bukankah
kau tertarik di dunia sejarah? Bukan di dunia fotografi”
“bukan
berarti jika aku tertarik dengan dunia sejarah aku tidak boleh belajar dunia
fotografi” jelas Yuri mematikan perkataan Hyun Joo.
“mengapa
rumah ini sepi sekali? Kemana orang tuamu?”
Yuri menoleh terkejut saat Hyun Joo
melontarkan pertanyaan tersebut.
“kau
tak perlu menjawabnya, aku tidak terlalu penasaran”
Yuri masih tak ingin melepaskan
pandangannya terhadap wajah laki-laki yang kini tengah asyik melenggangkan
matanya di antara foto-foto langit senja.
“orang
tuaku di Busan. Mungkin mereka sudah pindah ke California. wae? Kau tertarik
dengan orang tuaku juga?”
Hyun Joo tertawa kecil. Perempuan yang
selama ini membuatnya penasaran ternyata memiliki sebuah sisi yang mengagumkan.
Bahkan lebih mengagumkan dengan Hye Jin. Tata cara bahasanya hari ini sedikit
berbeda dengan hari-harinya yang selalu cuek dan garang.
Da Jung melihat bibir pantai dengan
naungan senyum yang sedari tadi hadir menghiasi wajahnya yang disinari oleh
matahari. Ia menatap langit yang sangat biru itu dengan bahagia. Ia teringat
akan Yuri yang mungkin sekarang sedang asyik dengan dunianya.
“ahh..
Bae Yu Ri. Kau benar-benar. Membuatku sendirian”
Di sudut pandangan matanya, di bawah
teriknya matahari, ia melihat bayangan seorang pria yang menyita pandangan Da
Jung. Ia mengalihkan pandangannya ke arah bayangan tersebut. Di balik T-shirt yang berwarna kuning dan rambut
yang kecoklatan, terdapat badan yang gagah. Tingginya mengingatkannya dengan
Hyun Joo. Matanya sangat menikmati gambaran laki-laki tersebut, hingga
seseorang memanggil Da Jung dan membuat laki-laki itu ikut menoleh.
“ohh!
Im Jae Hyun-ssi?! Benarkah itu kau?!” panggil kakak sepupu Da Jung yang
kemudian meninggalkan Da Jung menghampiri laki-laki tersebut.
“ohh..
hyeong-nim. Oeraenmaieyo?”
“wahh...
kau sekarang sudah tumbuh dewasa, bagaimana sekolahmu di Jepang? Kapan kau
kembali ke Korea?”
“oppa,
galke” pamit Da Jung pelan meninggalkan kakak sepupunya.
“hyeong,
nugunde?” tanya Jae Hyun.
“Da
Jung-aa, jamkkaman. Dia adik sepupuku, dia juga sebaya denganmu.”
Da Jung hanya mengamati perawakan
laki-laki tersebut dan menjabat uluran tangan tersebut. Da Jung mengucapkan
namanya dengan sangat formal hingga membuat Jae Hyun sedikit tergelitik.
“sepertinya
kau murid SMA Hannyoung, bukan?”
Da Jung spontan terkejut.
“eotteohkae
arasseo?”
“bukankah
murid-murid SMA Hannyoung terkenal?”
Da Jung hanya melirik licik kemudian
pergi meninggalkan laki-laki tersebut mengobrol dengan kakak sepupunya yang
sepertinya sudah kenal lama dengan laki-laki itu.
“Im
Jae Hyun? Sepertinya aku tak pernah mendengar nama itu di sekolah.” bisik
Da Jung di setiap langkahnya.
Yuri masih sibuk dengan bolpoin dan
buku-bukunya sedari tadi. membiarkan Hyun Joo semakin mengamati seluruh
foto-foto langit senja yang ia cetak beberapa tahun lalu. Sejenak Hyun Joo
menatap Yuri yang semakin menggilai beberapa lembar kertas yang di stappler
tersebut. Hingga tanpa sadar sepasang mata Hyun Joo dan Yuri bertemu, sangat
lekat. Hingga membuat Hyun Joo melepaskan tatapan tersebut dengan salah
tingkah.
“waeyo?”
“apakah
nantinya kau akan menikah dengan pekerjaan masa depanmu?”
“ani.
Wae? Kau berencana menikah dengan pekerjaan masa depanmu?”
“a-anieyo.
Mengapa kau berfikir sedangkal itu?”
“sudah
jam sembilan malam, apa kau mau menjadi penjaga rumahku?”
Dalam waktu sekejap, Hyun Joo pamit
pulang. Ia tak mengerti mengapa ia merasakan keanehan dengan dirinya sendiri
setelah matanya bertemu dengan mata Yuri. Namun, keanehan itu pun membuahkan
sebuah senyuman di wajah Hyun Joo. Saat Yuri menatap bola mata Hyun Joo dengan
tatapan polosnya tadi, menurut Hyun Joo sangat mengasyikkan.
Beberapa menit setelah Hyun Joo
benar-benar pergi dari rumahnya, bahkan mungkin jejak kakinya juga sudah
hilang, Yuri mulai membayangkan mata sipit Hyun Joo yang ia tatap beberapa
menit yang lalu hingga membuat Hyun Joo melangkah pergi. Sejenak ia pun teringat
akan seseorang yang pernah singgah di hatinya saat ia masih tahun pertama di
Hannyoung. Laki-laki yang ia temui di sebuah restoran tempatnya bekerja malam
itu.
Seseorang yang memiliki tinggi
melebihi Hyun Joo membuat malam itu seakan cepat berlalu. Meskipun jika di
sebut cinta pertama itu sangat aneh, namun Yuri selalu menyebutnya seperti itu.
Yuri ingat betul siapa nama laki-laki tersebut, nama yang Yuri ingin mengetahui
siapa sebenarnya laki-laki tersebut. Han Jun Ho. Nama itu, masih terkemas rapi
di otak Yuri bersama sepenggal rautan sejarah hidupnya selama ini.
“hari
ini, untuk yang pertama kalinya ada orang yang mengingatkan tentangmu, Han Jun
Ho – 17 Juli 2002”
㉷
Sebuah duka menghiasi rumah yang
mempunyai konsep berundak pagi ini, ibunya telah meninggalkan keluarga
tersebut. Ayahnya masih berada di sudut ruang tamu setelah upacara pemakaman
selesai. Ia sendiri masih memandang foto dengan senyuman polos tersebut.
Penyakit yang sudah di derita ibunya sekian lama itu, ia tak pernah mengetahui
akan hal tersebut.
“Ri
Ah-aa, gwenchana.” ayahnya berdehem.
“apa
eonni tahu tentang hal ini?”
Ayahnya menggeleng.
“itu
lebih baik. Yang jelas ia tak mengetahui kita disini”
Ayahnya memeluk Ri Ah erat. Sudah lebih
dari 3 tahun keluarga Yuri meninggalkan Korea. Selama 4 tahun terakhir di California,
baik ayah Yuri dan ibunya yang kini sudah meninggal, tak pernah menghubungi
Yuri sama sekali. Tentang alasan mengapa Yuri harus sekolah ke Seoul adalah
agar Yuri tidak mengetahui jika keluarganya akan pindah ke California tanpa
susah-susah mengajak Yuri.
Ujian masuk universitasnya sukses.
Yuri sekarang sedang semakin sibuk belajar tentang kebudayaan korea dari jaman Dinasti Jeoseon hingga sekarang.
Sementara Da Jung sedang sibuk dengan dunia hukum. Untuk yang pertama kalinya,
sejak Da Jung berteman dengan Yuri selama enam tahun lamanya, hari ini Yuri
mengajaknya makan malam setelah mereka saling sibuk dengan pekerjaan
masing-masing. Yuri yang telah mendapatkan beasiswa untuk masuk di
universitasnya kini tak membuat yuri mengurangi pekerjaan paruh waktunya yang
sudah lama ia jalani.
“apakah
hari kau libur?”
“ye”
jawaban yang di terima Da Jung selalu singkat. Bagaimana pun panjangnya
pertanyaan yang ia lontarkan ke Yuri.
Yuri yang sedang sibuk dengan
makanannya, tiba-tiba pandangannya di sita oleh kedatangan seorang laki-laki
yang kini tengah duduk dengan pria paruh baya. Han Jun Ho. Laki-laki itu. Malam
ini hadir kembali dalam pandangan mata Yuri setelah 3 tahun terakhir tak pernah
terlihat.
“nuguseyo?”
tanya Da Jung penasaran.
“geu
namja.”
Da Jung menoleh ke arah pandangan Yuri
bernaung. Laki-laki yang hanya terlihat punggungnya itu membuat Yuri tersenyum
begitu indah.
“kau
kenal? Ireumi?”
“aku
tidak mengenalnya, tapi namanya Han Jun Ho”
“Han
Jun Ho” alis Da Jung spontan terangkat begitu saja saat mendengar nama
tersebut. Han Jun Ho adalah nama kakak sepupunya yang hanya selisih dengan Da
Jung satu tahun.
“benarkah
namanya Han Jun Ho?” tanya Da Jung memastikan.
Yuri mengangguk. Mata Da Jung mulai
mengintidasi meja yang terdapat di sebelah barat mejanya. Dan tanpa sengaja, Da
Jung tersedak begitu saja saat melihat pria paruh baya yang sedang ia lihat
adalah ayahnya sendiri. Yuri tidak mengetahui jika pria paruh baya itu adalah
ayah Da Jung. Selama di Seoul ini, Yuri hanya pernah sekali singgah di rumah Da
Jung, dan saat itu juga ayah Da Jung tidak ada di rumah.
“bagaimana
kau bisa mengetahui laki-laki itu?”
“beberapa
tahun lalu dia datang di restoran tempatku bekerja, seseorang memanggil dengan
sebutan itu. wae? Apakah kau mengenalnya?”
Da Jung menggeleng ringan. Yuri hanya
tersenyum dan segera menghabiskan makanannya.
“ku
dengar Hyun Joo kuliah di Harvard. Benarkah itu?”
“ohh.
Dia pamit ke rumah sebelum berangkat.”
“Yuri-aa?
Apakah hubungan kalian sedekat itu?” mata Da Jung mulai mengintimidasi
Yuri.
“hya!
Bukan seperti yang kau fikirkan, dia hanya sekedar berpamitan. Kepergiannya pun
menguntungkan bagi diriku”
“wae?”
“aku
tidak susah-susah lagi menerima tamu yang selalu enggan pulang seperti dia”
Da Jung mulai tergelitik.
“bukankah
kau menyukainya? Mengapa bukan kau saja yang mendapat perlakuan ini?”
“hya!
Yuri-aa, jika aku teruskan akan menjadi cinta sepihak. Dan itu, neomu neomu
apayo”
“apakah
kau sudah memiliki penggantinya?”
Da Jung mengangguk. Memang terbilang
cukup cepat jika Da Jung bisa menghilangkan rasa sukanya terhadap Hyun Joo
setelah kedatangan Jae Hyun setahun yang lalu. Da Jung juga tak pernah
menyangka jika kehadiran Jae Hyun banyak membawa cerita di hidupnya.
“ireumi?”
tanya Yuri penasaran.
“Im
Jae Hyun”
“dia
satu kampus dengan kita? Mengapa kau tak memberitahuku?”
“bagaimana
aku bisa memberitahumu jika kau sibuk dengan duniamu?” keluh Da Jung kesal.
Pukul sembilan malam. Da Jung dan Yuri
baru saja keluar dari restoran tersebut, tak sengaja sebuah suara menghentikan
langkah Da Jung.
“appa?”
ucap Da Jung.
“nuguseyo?”
“ahh,
ayah ini Bae Yu Ri. Teman yang sering ku ceritakan padamu. Ayah sedang apa
disini?”
Belum sempat menjawab, dan Yuri yang
baru saja memberi salam pada ayah Da Jung, seolah ia dibuat terkejut dengan
keadaan yang sedang ia alami. Han Jun Ho, laki-laki yang sering berada dalam
pikiran Yuri kini tengah berdiri menengadah langit malam Seoul.
“ohh,
oppa. Ini temanku, Bae Yu Ri”
Sejenak Yuri mengangkat alisnya dan
menyebutkan namanya serta memberi salam.
“sepertinya
aku pernah melihatmu beberpa kali di kedai kopi Mango Six, bukan?”
Yuri menyeringai kecil. “ne, aku bekerja paruh waktu disana”
“hya!
Yuri-aa, itu milik Jun Ho appa.”
Spontan Yuri menelan ludahnya begitu
saja. Suara yang baru saja keluar dari mulut Da Jung membuatnya sangat
terkejut.
“apakah
kita akan kembali bersama-sama?” ucap ayah Da Jung menjemput keterkejutan
yang masih berada dalam diri Yuri.
Da Jung mengiyakan permintaan ayahnya,
Jun Ho pun demikian. Namun, Yuri menolak hal itu. mata Da Jung yang sesekali
merem melek membuat Yuri melirik Da Jung licik saat menumpangi mobil Jun Ho.
Suara gemuruh dalam mobil itu sejenak menghilang sesaat setelah Yuri menuruni
mobil tersebut.
“hari
ini aku baru menyadari, ternyata dia anak bosku sendiri. Aigoo – 17 Desember
2003”
㉷
Tanpa di duga-duga, setelah
perkenalannya di depan sebuah restoran keluarga tiga tahun yang lalu, hari ini
Yuri di ajak Jun Ho untuk pergi ke taman Jinhae. Sekitar pukul dua siang mobil
berwarna putih itu melaju kencang meninggalkan rumah Yuri. Setelah sekitar 3
jam dari Seoul, akhirnya mobil itu sampai di daerah Gyeongsangnam-do. Daerah
itu hanya memakan waktu satu jam jika Yuri mau mampir ke Busan. Namun wajah
tampan disampingnya membuat Yuri enggan cepat-cepat mengakhiri hari ini.
Meskipun wajah tampan itu milik anak dari mantan bosnya sendiri.
“apakah
kau pernah ke taman Jinhae sebelumnya?”
Yuri tersenyum kecil.
“ku
dengar dari Da Jung, kau menyukaiku?”
Sontak dua bola mata Yuri menoleh ke
arah Jun Ho.
“maksudmu?”
Yuri menaikkan alisnya.
Jun Ho tertawa tergelitik.
“ani.
Aku hanya menggodamu. Hanya saja-” Jun Ho tak melanjutkan ucapannya dan
membuat Yuri penasaran.
Hari ini bukanlah musim semi atau
musim panas. Bukan juga musim salju yang dimana sebuah musim yang sangat di
sukai oleh Yuri. Hari ini adalah musim gugur. Tepat di bawah bunga sakura yang
berjatuhan suara gagah Jun Ho mengejutkan Yuri. Juga tangan Jun Ho yang
mengambil sebuah kelopak bunga sakura yang sengaja mendarat di kepala Yuri,
semakin membuat Yuri salah tingkah.
“apakah
kau ingin mampir ke rumahmu di Busan?”
“ohh,
apakah boleh?”
“ne,”
“mengapa
tiba-tiba kau mengajakku kesini? Apakah aku satu-satunya pegawai paruh waktu
Mango Six yang di ajak anak bosnya keluar jalan-jalan?”
Sejenak Jun Ho menyeringai geli.
“ternyata
wanita ini sangat PD. Kau tau pegawai yang bernama Jenny? Dia lebih sering
keluar denganku. Bahkan dia sering berbagi kasur denganku”
“Jenny
Kim?”
“that’s
right! Bahkan kita sering tidur bersama. Juga kita pernah main suap-suapan,
tapi hanya sekali.”
Mata Yuri melotot. “hoksi?...”
“hya!
Kau usia berapa memang? Bukankah usia kita hanya selisih empat tahun? Bisa
tidak membuang pikiran kotor seperti itu?”
“bagaimana
aku tidak memikirkan itu. Bahkan kalian saja sering melakukan hal yang sama.
Bukankah dia itu juga sama denganmu?”
“berbagi
kasur dan tidur bersama, karena aku sering menginap di tempatnya”
“lalu
yang main suap-suapan?”
“saat
itu kita masih di bangku SMA. Sedang ada perlombaan.”
“hajiman..
kenapa aku merasa aneh dengan suasana itu? apakah mungkin kalian juga pernah
berciuman?”
Jun Ho tergelitik dengan pertanyaan Yuri.
“aigoo.
Mengapa bisa aku menyukai pria seperti ini?” bisik Yuri melihat tawa Jun Ho
yang muncul setelah ia bertanya hal aneh.
“hya!
Mana mungkin aku mencium pria. Aigoo.. meskipun kita sering bersama, kita tidak
mungkin melakukan itu. Meskipun Jenny terlihat seperti wanita, dia masih
normal. Arasseo?” jelas Jun Ho panjang.
“hanya
satu wanita di dunia ini yang mampu membuatku luluh.”
Yuri memandang wajah tampan Jun Ho
yang sedang membayangkan seseorang.
“geu
yeoja, nugunde?”
“dia
sekarang sedang sibuk dengan karirnya di dunia entertaintment”
“apakah
dia wanita yang kau maksud beberapa hari lalu tentang langit senja?”
“ne.
Dia sangat menyukai langit senja. Sejak pertemuan terakhir kita di Seoul
beberapa tahun silam, aku hanya bisa mengobrol dengannya saat dia menghubungiku.
Dia juga sebaya denganmu”
“apakah
dia, choem sarang?”
Jun Ho menggeleng.
“mungkinkah
ini cinta sepihak?”
Jun Ho tersenyum dan mengelak.
Meskipun wanita itu adalah cinta pertama Jun Ho, tapi Jun Ho selalu
menganggapnya adik. Terlebih setelah wanita itu memutuskan untuk tidak lagi
berhubungan dengan Jun Ho. Rasanya sedikit ada sebuah perbedaan yang tiba-tiba
dirasakan oleh Jun Ho akhir-akhir ini. Meskipun Jun Ho tidak memiliki rasa
cinta di hatinya untuk wanita tersebut. Namun selama perjalanan hidupnya, Jun
Ho selalu menginginkan wanita itu menampakkan dirinya di depan Jun Ho dengan
seorang pria yang ia gandeng dan berdiri di samping tubuh tingginya. Dan sampai
sekarang Jun Ho masih menantikan hal tersebut.
Sebuah angin pagi benua eropa kembali
membuka matanya setelah semalaman tertidur lelap. Sudah empat tahun ia
meneguhkan dirinya di Universitas terkemuka di dunia. Hari ini ia akan
mengikuti upacara kelulusan di Universitas. Orang tua dan kakaknya pun datang
jauh-jauh dari Korea untuk menyaksikan hari kelulusannya, dengan tubuh yang
semakin dewasa, Hyun Joo tersenyum lebar.
Seolah ia akan mendapat sebuah tiket
menonton pertunjukan dunia secara gratis, ia menggambarkan wajahnya betapa
bahagianya ia sekarang. Ia sudah menantikan waktu empat tahun ini, waktu untuk
kembali ke Korea dan menemui Yuri yang sudah lama ia rindukan.
Sebelum ia menaiki panggung, ia
memejamkan matanya sebentar. Mengucapkan sebuah nama yang sudah lama ia
rindukan. Sebuah nama yang sempat membuatnya tidak ingin berangkat ke Harvard.
Sebuah nama yang ia temui setelah dirinya menjadi siswa Hannyoung High School.
Sebuah nama yang selalu melekat di dalam otaknya.
Semalaman Yuri terjaga dalam tidurnya
di kamar tidur yang sudah bertahun-tahun tidak ia tempati. Wajah Jun Ho yang
masih menempel di bantal menjadi perhatiannya, bulu matanya yang panjang,
rambutnya yang hitam namun tidak pekat, sejenak membuat Yuri tersenyum kecil.
Keluarga yang tak pernah mengadakan kontak dengannya kini benar-benar pindah ke
California. Saat sampai di rumahnya semalam, Yuri tak merasa terkejut sama
sekali, karena sebelumnya ia sudah mengira hal ini akan terjadi.
“kau
tahu hal yang sangat menggamangkan fikiranku? Ketika keluargaku benar-benar
meninggalkanku – 17 Agustus 2006”
“ahjumma?
Jun Ho oppa, eoddiseo?” suara Da Jung menghiasi suasana rumah Jun Ho yang
masih sibuk menata taman di depan rumah.
“ohh
Da Jung-aa. Jun Ho sedang di Busan, wae?”
“Busan?”
Bibinya mengangguk.
“dengan
siapa? Lagi pula, bukankah oppa tidak punya teman di Busan?”
“dengan
Yuri. Ku dengar dia temanmu,”
Da Jung mengangguk. “apakah mereka berencana ke suatu tempat?”
“hya!
Da Jung-aa, kau kira oppamu suka di kontrol? Tanya saja dengan dia. Aigoo.”
keluh ibu Jun Ho.
“katanya
hari ini ingin menemui uri Im Jae Hyun oppa, nyatanya pergi begitu saja. Dasar
Jalang.” gerutu Da Jung selama di perjalanan kembali pulang.
8 tahun kemudian
Sudah 8 tahun berlalu, setiap orang
disekelilingnya telah berubah. Waktu dan keadaan pun berubah. Hanya satu hal
yang sampai sekarang belum berubah, hatinya. Hati seorang wanita yang kini
tengah duduk memandang hujan di luar. Beberapa orang yang berlalu lalang
menghiasi pandangannya dan membuatnya tersenyum. Setelah banyak hal yang sering
membuatnya bingung selama 6 tahun yang lalu, hari ini ia tersenyum karena mampu
menatanya kembali selama 2 tahun terakhir.
Da Jung, teman yang menemaninya sejak
SMP bulan depan akan melangsungkan pernikahan dengan laki-laki yang ia temui di
pantai beberapa tahun yang lalu. Laki-laki yang telah membuat Yuri merasa dunia
ini memang tak mampu berubah jika bukan dirinya sendiri yang merubah kini
tengah terbaring lemas di rumah sakit karena penyakit kanker. Dan laki-laki
yang dulu sibuk dengan perasaannya terhadap Yuri kini telah kencan dengan
seorang wanita lain.
“oraenmanida,
Bae Yu Ri-ssi”
“neo?”
“ada
apa dengan ekspresi itu? apakah kau tidak mengenalku?”
“Park
Ji Eum-aa?” wajah Yuri semakin tak percaya. Seorang teman SD nya yang
bahkan dulu sempat berkata akan tinggal di California kini tengah tersenyum di
depannya. Dengan busana yang elegan. Dengan profesi yang kini tengah ia jalani,
Yuri masih dalam keadaan terkejut.
“ku
rasa aku pernah melihat wajah ini. Bagaimana kau bisa menjadi seorang jaksa?”
“geuge,
ah. Eum, geunyang.”
“apakah
kau akan terus mengatakan, ah eum ah eum terus?”
“hya!
Bahasamu jelek sekali. Apakah seperti ini sikap seorang artis sepertimu?”
Ji Eum menyeringai kecil. Percakapan
itu serasa kembali ke jaman SD saat Ji Eum pamit atas kepergiannya ke
California. Keakraban di antaranya masih terasa. Meskipun sudah sekian lama
tidak bertemu. Keduanya terkesiap dalam memori masa lalu. Terus tertawa karena
hari-harinya dulu. Hingga hujan di luar pun kini tinggal setetes. Hingga Yuri
menyadari sesuatu yang sudah lama ia tinggalkan.
“apakah
kau pernah menengok Busan?”
“beberapa
kali. Disana suasananya sangat berbeda di banding 18 tahun yang lalu. Anak-anak
disana juga sering mengingatkanku tentang hari-hariku di SD dulu. Apakah kau
juga sering mengunjungi Busan?”
Yuri tersenyum dan sejenak menggeleng.
“aku kesana 9 tahun yang lalu”
“bagaimana
dengan keluargamu? Bagaimana bisa kau sekarang di Seoul?”
Yuri tercenung mendengar pertanyaan
yang keluar dari mulut Ji Eum. Sesekali Yuri mengetukkan jarinya ke atas meja.
Membuat Ji Eum heran. Sejenak pandangan Yuri menerobos keluar ke arah jalan
raya.
“geudaereul,
nan mollas” suara Yuri terhenti begitu saja setelah melihat seseorang yang
menyebarang jalan dengan baju kuning yang di padu dengan rok pendek warna hitam
tak lupa dengan sepatu keds.
“galke.”
“aish!
Hya! Hya! Eodiga? Hya!” Ji Eum terus memanggil Yuri yang semakin tak
mempedulikannya. Langkah Yuri sangat cepat. Seolah ia melihat seseorang yang
sudah lama ia rindukan. Langkah wanita itu semakin ia dekati dan punggung itu
pun mampu di raih Yuri. Dengan nafasnya yang terengah-engah, Yuri memanggil
nama wanita tersebut.
“Bae
Ri Ah-aa?”
Wanita itu membalikkan badannya dengan
santai. Matanya tiba-tiba membelalak setelah orang yang memanggilnya adalah
jaksa yang akhir-akhir ini muncul di tv dengan kasus yang tidak ringan.
“ke-ke-keomsanim?
Bagaimana anda tahu nama saya?”
Yuri tersenyum. Yuri merasa sebuah
kelegaan kembali mengampiri dirinya. Dengan cepat Yuri memeluk tubuh Ri Ah.
Tubuh wanita yang sudah sekian lama tidak ia lihat. Wanita yang sudah
menciptakan kerinduan yang dalam.
“oraenmanieyo?
Appa, eomma. Ottokhe Jinesimnika?”
Ri Ah kembali terkejut dan melepaskan
pelukan Yuri.
“neon,
Yuri eonni? Bae Yu Ri?”
Yuri mengangguk. Keduanya saling
berpandangan. Ri Ah masih tak percaya. Eonninya yang dulu pernah mengatakan
padanya bahwa ingin menjadi seorang ahli sejarah, kini telah menjadi seorang
jaksa.
㉷
Ada sesuatu di balik sweater rajutan
yang kini masih menempel di genggaman tangannya malam ini, seakan Tuhan memberi
yang lama dan mengambil yang baru. Sebulan setelah Yuri bertemu kembali dengan
adiknya, kabar mengejutkan dari keluarga Jun Ho. Laki-laki yang masih ia cintai
dan selalu menemaninya selama ini telah meninggal dunia. Yuri sangat tak
percaya dengan keadaan yang kini tengah ia alami. Bahkan ia kembali menanyakan
kepada Da Jung karena dua minggu yang lalu Jun Ho dikabarkan bisa pulang dalam
kurun dua hari. Namun, ada sebuah hal yang kembali membuatnya tak percaya. Park
Ji Eum. Wanita yang bulan lalu makan malam dengannya kini hadir dalam upacara
pemakaman Jun Ho hari ini. Bahkan orang tua Jun Ho pun mengenal baik Ji Eum.
Yuri melintaskan pandangannya ke arah Da Jung.
Da Jung menghela nafas pendek. “dia wanita yang dimaksud Jun Ho oppa”
“Ji-
Ji – Ji Eum-aa? Pak Ji Eum?”
Beberapa jam setelah upacara pemakan
Jun Ho berakhir, Da Jung masih menahan pertanyaan mengapa Yuri sampai mengenal
Ji Eum. Bahkan Da Jung pun tak pernah mengenalkan Ji Eum pada Yuri. Ekspresi
yang sempat ditunjukkan Yuri saat menyebut nama Ji Eum seolah Yuri sudah
mengenal Ji Eum lama.
“eomoni,
gaseyo” pamit Ji Eum meninggalakan keluarga Jun Ho. Seiring kepergian Ji
Eun yang ditemani managernya, Da Jung mulai mengahampiri Yuri yang juga akan
pergi. Namun, sebelum Da Jung sempat mengeluarkan suaranya memanggil Yuri, ibu
Jun Ho telah menghentikan langkah Yuri yang baru saja berpamitan.
“apakah
kau akan lama di kantor?”
“waeyo?”
“waeyo?”
“apakah
kau mau menemaniku hari ini?”
“eomoni.
Yuri akan sibuk dengan pekerjaannya, nanti akan ku temani” cletuk Da Jung
menyela Yuri.
Yuri mendekatkan tubuhnya ke arah ibu
dan ayah Jun Ho. “aku akan kembai setelah
pekerjaanku selesai. Gwenchanayo?”
Ibu Jun Ho mengangguk kecewa. Yuri
tetap meninggalkan keluarga Jun Ho dengan terpaksa. Sepasang mata bulat ibu Jun
Ho memandang langkah Yuri. Seorang wanita yang juga dekat dengan ibu Jun Ho.
Seorang wanita yang selalu menghiburnya saat ia putus asa akan Jun Ho yang kini
benar-benar meninggalkan mereka.
Pukul tujuh malam. Sebulan setelah
kematian Jun Ho. Aura kebahagiaan tak terelakkan setelah upacara pernikahan Da
Jung. Yuri yang akan menerima lemparan bunga Da Jung hingga saat ini pun belum
datang. Di kantor kejaksaan tinggi Seoul, Yuri masih duduk termenung karena
kasus yang kembali ditangani setelah 8 tahun lalu di lepaskan. Dan hari ini
Yuri masih tak percaya dengan yang ia alami. Semua bukti yang ia miliki
ternyata masih ada yang terlewatkan.
“apakah
kau tidak mau mengganti saja? Sebentar lagi dimulai”
“anieyo.
Aku juga ingin melihat wanita itu menikah sepertiku”
Sejenak Yuri melihat layar ponsel yang
menyimpan gambarnya dan Ri Ah. Ia tersenyum. Dan ia pun terkejut setelah
melihat bahwa jam yang muncul di ponselnya telah lebih jam tujuh. Ia baru saja
teringat akan sesuatu. Dengan segera ia melaju dengan mobil silvernya.
Sementara Yuri masih dalam perjalanan,
salah seorang teman Da Jung menyuruh Da Jung agar mengganti penerima bunga
tersebut. Namun Da Jung tetap tidak mau. Dan beberapa menit setelah penundaan,
tibalah Yuri dengan nafas yang terengah-engah namun dibarengi dengan senyuman
polos.
“waseo”
“ne.
Mianhae. Kaja.”
“mengapa
kau tidak mengganti saja? Bukankah sudah ku bilang kalau dalam up-”
“kau
jangan banyak bicara. Umurmu sudah berapa jalang?”
“hya!
Mengapa kau memanggilku seperti itu lagi?”
Seorang laki-laki yang berpakaian rapi
tengah berdiri di tepi jendela. Langkahnya berjalan mendekati tempat Yuri.
Senyum dan mata sipit tampak menghiasi wajahnya. Suaranya keluar memanggil
Yuri. Yuri yang masih sibuk dengan Da Jung pun terenyak. Matanya memastikan. Ia
terkejut melihat Hyun Joo tengah berdiri di ambang pintu.
“nan
ireojeul arasseo. Dia masih menunggumu. Dia sangat keras kepala, bukankah sudah
kau temukan dia dengan wanita itu?”
“Da
Jung-aa, apakah kau mengundang pria ini ke pestamu?”
“aigoo.
Kita sudah tidak bertemu berapa lama Yuri-aa. Apakah kau tidak merindukanku?”
“apakah
kau perlu untuk dirindukan?”
“hya!
Hya! Kalian ini, apa yang kalian lakukan! Mengapa adu pertanyaan. Ahh, Hyun
Joo-aa Yuri akan menikah. Dia tadi menerima bunga dariku”
Wajah Hyun Joo berubah gembira.
“aku
tidak akan menikah denganmu”
“arayo.
Kau akan menikah dengan pekerjaanmu. Arata, aratago.”
“hya!
Ssip-”
Da Jung hanya menghilang dari tempat
Yuri dan Hyun Joo. Dari jauh ia mengamati dua temannya tersebut. Seakan momen
lalu kini telah kembali. Suara ejekan yang berlangsung beberapa menit yang lalu
kini telah mencair. Entah apa yang dibicarakan Yuri dan Hyun Joo di tepi
jendela. Setidaknya Da Jung tahu satu hal, selama kurun waktu kurang lebih 9
tahun Da Jung mengenal Hyun Joo, hari ini ia baru melihat Hyun Joo menyikapi
sikap Yuri yang juga semakin hari semakin dewasa.
Ketiganya sempat tumbuh di kehidupan
yang sama. Dengan beberapa permasalahan yang selalu dihadapi dan enggan
bercerita satu sama lain. Da Jung juga mulai menyadari satu hal lain, bahwa
untuk jatuh cinta itu tak semudah yang ia kira. Yuri yang pernah mencintai
kakak sepupunya tak semudah itu melupakan semua itu dan memulai dengan Hyun
Joo. Beberapa menit berlalu, segera disurutkan pandangannya dan mulai mengahampiri
beberapa teman yang lain.
Sementara Yuri yang masih sedang berbincang-bincang
dengan Hyun Joo, gelas anggur yang ia pegang selama 5 menit yang lalu itu tak
tersentuh bibirnya sama sekali setelah mendengar ucapan Hyun Joo yang
mengejutkan. Baru kali ini, wajah Yuri menghangat karena ucapan tersebut. Ini
bukan yang pertama kalinya Hyun Joo mengucapkan keinginannya untuk hidup dan
tua bersama dengan Yuri. Pandangan Yuri seakan bertanya pada Hyun Joo, hingga
membuat Hyun Joo menghela nafas pendek.
“ahh!
Mungkin kebahagiaan itu tak sesederhana yang aku kira. Minumlah”
“ohh”
Di ujung jendela mobilnya, Yuri masih
mencerna segala ucapan yang sering ia dengar dari mulut Hyun Joo. Di tengah
waktunya menyetir, Hyun Joo mulai menyanyikan lagu aneh yang membuat Yuri
tersenyum. Laki-laki yang disebelahnya yang telah memberikan rasa. Bahagia,
rindu, kesal, tertawa – semuanya. Namun, Yuri yang memang menyadari itu cinta,
tak semudah itu mengucapkan sebuah kata yang kebanyakan orang menganggap
enteng.
“apakah
ini sisi Bae Yuri saat diam?”
“mengapa
kau tadi datang tanpa mobil?”
“aku
tahu kau akan datang dengan mobil ini, jadi buat apa aku susah-susah bawa mobil
jika aku ingin nebeng denganmu”
“jika
aku mengatakannya “IYA” apa yang kau lakukan?”
“besok
kita langsung menikah”
“micheosseo!”
“hajiman,
apakah kau akan mengatakan itu?” Hyun Joo dengan seenak hatinya
menghentikan mobilnya secara mendadak.
“hya!
I munjero naneun michil geosgatta! Jalankan lagi!”
“jika
kau mengatakan itu, aku akan sangat bahagia. Bahkan mungkin aku menggantikan
bumi mengitari matahari jika kau mengatakan itu.”
“eotteohkaeneun
geu yeoja?”
“jadi
kau yang membuatnya datang padaku?”
“bukankah
kau sangat ingin menikah?”
“hya!
Kau kira aku akan menikah dengan wanita yang ku kenal hanya dalam waktu
sehari?!”
“hajiman,
bukankah kau tau masa lalu ku sangat buruk jika aku menikah denganmu?”
“aku
tak peduli bagaimana masa lalumu kemarin. Yang kupedulikan hanyalah, apakah Bae
Yu Ri akan menerimaku?”
“hanya
itu?”
“apalagi
memang? Apakah aku harus mengungkit masa kelammu dengan keluargamu? Perlukah
itu? kurasa tidak!”
“rumahku
terlewatkan.”
“astaga!
Mian mian.”
“jalja..”
pamit Hyun Joo setelah sampai di rumah Yuri dan mulai mencari taksi untuk
pulang. Dengan senyuman yang mengantarkan Hyun Joo pulang, rasanya Yuri tidak
akan menyesali bagaimana masa lalunya yang menyedihkan. Masa lalu yang
membuatnya sulit untuk di mengerti. Masa lalu yang mengantarkannya bertemu
dengan beberapa orang yang sampai sekarang masih di sampingnya meskipun ia
kadang membuat onar. Minggu depan ia akan kembali menghadiri pesta pertunangan.
Ri Ah, wanita yang kini tengah menamatkan wajahnya di atas bantal.
“bahagia
itu sederhana. Apakah kau besok mau berlibur ke Busan?”
“hya!
Hyun Joo oppa, apa kau tidak tahu kasus yang di tangani eonni sangat berat?”
“maka
dari itu.”
“aku
tidak bisa, apakah kau perlu ku buatkan makanan baru kau enyah?”
“eonni,
galke.”
“ahh,
Ri Ah-aa. Keluarga Seo, tolong kau katakan padanya aku akan memenuhi
undangannya besok”
“waseo!
Waseo waseo! Gomapta eonni! gomapseumnida”
“keluarga
Seo? Nugunde?”
“apakah
kau perlu tahu?”
“geureom!
Bukankah aku akan menjadi masa depanmu? Marebwa,”
“mokkoyo.”
“baiklah
kalau tidak mau memberitahu. Arasseo”
Yuri hanya tersenyum memandnag Hyun
Joo yang tak pernah bosan mendatangi rumahnya meskipun kadang Yuri menolaknya
mentah-mentah. Di ujung pandangannya, Yuri mulai menyadari satu hal.
“seseorang
pernah mengatakan. Bahagia itu sederhana.”
“bukankah
itu kata-kataku? Benarkan?”
Yuri tahu, di atas langit masih ada
langit. Dan kebahagiaan sekarang yang ia rasakan tidak melebihi rasa bahagianya
di masa lalu. Serta kehidupannya sebagai seorang jaksa tidak pernah ia pikirkan
sama sekali. Bahkan untuk bersama Hyun Joo, dulu adalah sebuah hal yang lebih
tidak pantas untuk dipikirkan. Namun, setelah sebulan berlalu, Yuri kembali
menarik kata-kata itu. Bahwa bersama Hyun Joo adalah sebuah hal yang sangat
pantas untuk dipikirkan.
“saranghae”
“kau
mengucapkan apa barusan?”
“saranghae”
“dasi
hanbeon! Dasi hanbeon”
“saranghandago
sarang”
Hyun Joo merapatkan tubuhnya memeluk
Yuri. “hari ini, aku tidak ingin mengakhirinya.
Nado sarangahae Bae Yu Ri”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar