Tepat tengah malam, ketika Soo Ra akan tidur, ia
mendapat pesan masuk di handphonenya dan isi yang sama serta dari pengirim yang
sama.
“kenapa orang ini menyuruhku datang ke apartemennya?” tanya Soo Ra
sendirian. Karena Soo Ra tidak ingin datang ke apartemen Yong Jin, lantas ia
langsung menelpon Yong Jin.
“kenapa dari tadi tidak kau angkat!” ucap Yong Jin
ketika mengangkat telepon Soo Ra.
“hya kenapa kau berteriak seperti itu?” tanya
Soo Ra.
“apa kau tidak marah dengan pengakuanku yang tidak benar tadi?” |
“anieyo, tidak ada pihak yang dirugikan kan?” | “ah.. ne..” | “ya sudah aku
tutup dulu teleponnya,” | “jamkaman” panggil Yong Jin.
Lebih dari satu setengah
jam Soo Ra dan Yong Jin menghabiskan
waktu mengobrol ditelepon.
“oh.. kau,” ucap Lee Sang saat melihat Song In.
“ne, nugunde?” tanya Song In.
“kau ingat pembeli barangmu yang pecah?” tanya
Lee Sang kembali.
“ah.. ne ne ne.. eotteohkae jinaeyo?” cletuk Song In.
“baik,
kau disini mau apa?” tanya Lee Sang.
Ketika Soo Ra keluar dari rumahnya, ia
melihat Song In berbicara dengan Lee Sang.
“aku mencari dia,” jawab Song In
menunjuk Soo Ra.
“ohh, baiklah, aku mau pergi kerja dulu, annyeong.. Soo Ra-ssi
aku duluan,” pamit Lee Sang.
Soo Ra mengangguk mengiyakan.
“jamkaman, aku mau
pinjam sesuatu,” ucap Song In.
“sudah kaja berangkat.. sudah jam segini..” ajak
Soo Ra.
“Soo Ra-ssi..” rengek Song In.
“be rang kat! Kaja..” ucap Soo Ra
menarik tangan Song In.
“tumben sekali kau kunci,” ucap Dong Hoon ketika
masuk ke dalam apartemen Yong Jin.
“gwenchana, aku mau mandi dulu” ucap Yong
Jin kembali.
Sementara Yong Jin mandi, ia membersihkan apartemen Yong Jin dan
menemukan handphone Yong Jin tergeletak di atas meja makan samping piring
sarapannya. Dong Hoon mengambilnya dan tak sengaja memencet tombol di handphone
Yong jin. Awalnya Dong Hoon tak menghiraukan apa yang muncul di handphone Yong
Jin, namun setelah dilihat lagi di handphone tersebut tertulis nama 'Park' yang kemudian membuat Dong Hoon penasaran.
“Soo Ra, apa kau
berpacaran dengan orang tadi?” tanya Song In.
“Lee Sang maksudmu?” tanya Soo Ra
kembali.
“aku tidak tahu namanya,” jawab Song In.
“anieyo, dia orang baru di
lingkungan rumahku, baru beberapa bulan yang lalu, mengapa kau bertanya seperti
itu? Apa dia itu namjachingumu?” cletuk Soo Ra. “mwoya..” ucap Song In. “kalau
begitu, apa kau jatuh cinta pada pandangan pertama? Dia baik sekali, cocok
kalau denganmu,” balas Soo Ra. “ahh sudahlah.. siapa juga yang menyukainya,,”
jawab Song In yang kemudian beranjak dari duduknya dan pergi.
“P di teleponmu itu
siapa?” tanya Dong Hoon tiba-tiba yang kemudian membuat Yong Jin tersedak oleh
minumnya. “wae?” lanjut Dong Hoon. “ani, dia teman lamaku yang kuceritakan
waktu itu,” jawab Yong Jin yang masih sakit tenggorokannya karena tersedak. “P?
Bukannya kau katakan nama temanmu itu Ah In?” tanya Dong Hoon. “ne, Park Ah In,
sudahlah, kaja berangkat, bukankah kita harus datang sebelum jam 11 siang,”
ajak Yong Jin. Dong Hoon mengangguk menurut.
“hahh.. kenapa
lembur sampai tengah malam, apa tidak bisa besok saja lemburnya,” keluh Song
In. “lebih baik sekarang dari pada besok, kau tahu kenapa?” tanya Soo Ra.
“wae?” Song In mengarahkan pandangannya ke arah Soo Ra. “matamu bisa tidak
dikecilkan sedikit, besok itu rencananya membersihkan restoran ini karena malam
ini akan diadakan pesta ulang tahun.. saengil chukkahamnida..” jelas Soo Ra.
“jadi, yang ditugaskan besok, harus sampai di sini lebih awal 1 jam.. kau mau?”
lanjut Soo Ra. “sama-sama tidak enak,” ucap Song In. “lalu kenapa kau tadi
bertanya?” teriak Soo Ra. “kau sendiri yang membuatku bertanya,” jawab Song In
yang segera meninggalkan Soo Ra. Soo Ra memandang Song In kesal.
Waktu menunjukkan
pukul 17.45 KST. Setelah restoran dikosongkan, beberapa pegawai yang tidak di
tugaskan untuk lembur pulang lebih awal. Beberapa menit kemudian seseorang
wanita dengan postur tubuh yang indah memasuki restoran tersebut. “mianhae,
disini apa ada yang mempunyai nama Park Soo Ra?” tanya wanita tersebut kepada
Soo Ra. “ne, saya sendiri, waeyo?” tanya Soo Ra. “oh, joheun Yeon Shin Min
imnida,” jawab Shin Min. “annyeong, kenapa kau mencariku?” tanya Soo Ra lagi.
“kata pemilik restoran ini kau yang akan membantuku dalam pesta nanti,” jelas
Shin Min. “na?” cletuk Soo Ra yang tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.
“kau tidak usah begitu, dia memilihmu katanya kau sangat baik dalam bekerja,”
puji Shin Min. “ne, akan aku bantu.. kamsahamnida..” ucap Soo Ra. Shin Min
tersenyum lalu membalikkan badan lalu pergi. Soo Ra sendiri juga akan pergi
tapi Shin Min kembali memanggilnya. “ne?” tanya Soo Ra. “ah.. anieyo.. bantu
aku mengambil kue di mobilku..” cletuk Shin Min. Soo Ra mengangguk.
“bukankah kau
terkenal dekat dengan keluargamu? Mengapa kau merayakan ulang tahun ini tanpa
orang tuamu?” tanya Soo Ra. “ah.. mianhae, aku bertanya yang tidak sopan,”
lanjut Soo Ra. “gwenchana, mereka sedang tidak ada di korea, mereka hanya
mengirimiku kado, kau tahu aku ya?” tanya Shin Min. “artis secantik dirimu
siapa yang tidak tahu,” puji Soo Ra. Shin Min tersenyum manis mendengar pujian
Soo Ra. Ketika Soo Ra dan Shin Min akan masuk, Shin Min melihat Yong Jin
datang. “ah.. Yong Jin oppa, kaja..” panggil Shin Min. “annyeong..” sapa Soo Ra
yang kemudian masuk menaruh kue ulang tahun tersebut. “annyeong, wae?” tanya
Yong Jin. “kau tadi tidak mengorbankan jadwalmu untuk datang kesini kan?” tanya
Shin Min. “kaja ku bantu, anieyo, sudah di urus Dong Hoon, mengapa kau membawa
ini? Bukankah ini pihak restoran yang menyiapkan?” tanya Yong Jin. “nanti tidak
sesuai dengan keinginanku,” jawab Shin Min. “ne, aku tahu kau cerewet,” balas
Yong Jin. “hya! oppa,” cletuk Shin Min menendang kaki Yong Jin. “oppa? Ah ada
apa denganku,” bisik Soo ra dalam hati. “Park Soo Ra-ssi, kaja bantu kami,”
panggil Shin Min. Soo Ra pun menghampiri Shin Min dan Yong Jin. “oppa, kau
setuju tidak, kalau Soo Ra-ssi itu mirip dengan teman lamamu yang diberitakan
menjadi pacarmu waktu itu,” tanya Shin Min yang sontak membuat Soo Ra yang Yong
Jin menjawab bersamaan dan dengan kata yang sama. “anieyo,” ucap Yong Jin dan
Soo Ra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar