Setelah melihat apa yang dilakukan oleh pemilik rumah kos, Soo Ra terhenyak tak percaya. Ia pun berangkat kerja dengan perasaan yang sangat kesal. “hahhh! aku tidak menyangka orang itu seperti itu.. bagaimana bisa aku dulu mengontrak di tempatnya..” keluh Soo Ra di jalan.
Sesaat setelah sampai di tempat kerjanya, Soo Ra langsung disuguhi pekerjaan.
“kau bisa mengantarkan makanan ini?” tanya salah
satu pegawai restoran.
“memang restoran ini membuka pesanan? Tidak kan?” tanya
Soo Ra kembali.
“bukannya satu minggu yang lalu sudah diumumkan kalau restoran
kita membuka pesanan selama satu bulan,” jelas pegawai tersebut.
“kenapa aku
tidak tahu,” tanya Soo Ra lagi.
“kau mau mengantarkannya atau tidak?!” bentak
pegawai itu.
Mendengar bentakan itu, Soo Ra terkejut dan langsung meminta
alamat pemesannya. Tanpa disadari Soo Ra, alamat pemesan itu adalah alamat
apartemen Yong Jin.
Sesampainya di depan pintu apartemen Yong Jin, ia
segera memencet bel apartemen tersebut. Betapa terkejutnya Soo Ra ketika yang
membuka pintu tersebut adalah Dong Hoon.
“neo!” teriak Dong Hoon.
“aishhh kenapa aku
bertemu dengan orang ini lagi?!” keluh Soo Ra dalam hati.
Soo Ra tersenyum
pahit ke Dong Hoon. Tak cukup dengan itu, Soo Ra melihat Yong Jin muncul dari
belakang Dong Hoon.
“eomeona!!” cletuk Soo Ra.
“wae?!!” tanya Dong Hoon kesal.
“mian, ini makanan yang kau pesan,” jawab Soo Ra.
Ketika Dong Hoon mau bicara
di dahului Yong Jin yang menyapa Soo Ra.
“kau wanita yang sempat memanggilku
malam itu kan?” tanya Yong Jin.
Soo Ra mengangguk.
“kamsahamnida sudah
mengantar makanannya, ini tip buatmu,” ucap Yong Jin sambil menerima
makanannya.
“mian, tapi aku sudah menerima gaji dari bosku,” balas Soo Ra
halus.
“jangan belagak tidak mau uang, dari wajahmu saja aku sudah tahu kau
sangat menyukai uang,” cletuk Dong Hoon.
“kau juga menyukai uang,” ucap Yong
Jin membela Soo Ra.
“mian, aku permisi dulu,” pamit Soo Ra.
“ah, ne..” balas
Yong Jin.
Soo Ra pun tersenyum-senyum sepanjang perjalanan
kembali ke restoran.
“kenapa kau tadi lebih membela yeoja itu?!” tanya Dong
Hoon.
“melihat tutur katanya, aku ingin berkenalan dengannya,” ucap Yong Jin
sambil menyantap makanannya.
“kalau kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu itu,
kau akan mati konyol di tanganku!” bentak Dong Hoon.
“wahh.. kalau begitu, nanti ada berita yang
mempunyai judul “seorang manager membunuh artisnya dengan ganas” aku tidak bisa
membayangkannya..” balas Yong Jin yang terus menyantap makanannya.
“me-me-menye- hahh!!!” bentak Dong Hoon lagi dan pergi meninggalkan Yong Jin.
“kulihat kembalinya kau dari mengantarkan makanan
tadi kau tersenyum terus, apa kau mendapat tip dari pemesannya?” tanya Song
In.
“anieyo..” jawab Soo Ra tesenyum kecil.
“lalu apa?” tanya Song In
penasaran.
“sesuatu yang tidak ku sangka.. ahh.. aku benar-benar tidak
menyangka dia membelaku,” jawab Soo Ra yang langsung melanjutkan pekerjaannya.
“kau harus memberitahuku, Soo Ra-aa...” panggil Song In.
“kau dari mana saja? mengapa juga kunci mobilku kau bawa, membuatku tidak bisa
pergi kemana-mana,” ucap Yong Jin ketika Dong Hoon kembali.
“ne, mianhae, ini
kunci mobilnya, aku mau tidur, menenangkan diri,” jelas Dong Hoon.
“apa kau
tidak bisa menghiburku?” panggil Yong Jin.
“hya!! Aku bukan pelawak!” teriak Dong Hoon.
“kenapa laki-laki itu selalu marah-marah?” tanya
Yong Jin sendirian.
“Soo Ra-aa, aku plang dulu, nanti kau kunci,”
ucap Song In.
“ne,,” jawan Soo Ra.
“Song In-aa jamkaman,,” lanjut Soo Ra.
“kenapa orang-orang di apartemen ini sangat
sibuk-sibuk semuanya??” tanya Yong Jin sendirian yang menuruni tangga apartemennya.
Ketika sampai di depan, dirinya melihat Soo Ra berjalan dengan wajah yang
senang meski sedikit terlihat lelah. “jamkaman..” panggil Yong Jin. Merasa ada
yang memanggil, Soo Ra berhenti dan menoleh. Dari arah belakang Soo Ra melihat
Yong Jin yang berlari ke arahnya dan memeluknya. Soo Ra pun terdiam dalam
pelukan Yong Jin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar