Cast :
- Park Sun Yong as Shin Hyo Min
- Kim Hyun Joong as Kim Jeong Il
- No Min Woo as Park Min Ho
- Jun Ji Ae as Han Na Ri
- Jo Yoon Woo as Lee Dae Suk
Lenght : Oneshoot
Genre : Comedy - Romance - Sad
Author : MRin
Menunggu, menunggu, dan terus menunggu, setiap hari. Mungkin orang
disekitarnya menyebutnya hal yang tidak penting, bahkan ada yang menyebut itu
ritual. Namun di depan sekolahlah tempat ia selalu menunggu seseorang dan hanya
karena sebuah hal kecil ia melakukannya.
“kriiiiinggggg!!!”
Suara bel sebuah SMA di Seoul yang menandakan jam sekolah usai. Seluruh
siswa/i mulai berkeluaran meninggalkan sekolah.
“Han Na Ri,, jamkkanman!!!” teriak salah satu temannya dari kejauhan.
“palli!!!” teriak Nari kembali.
“sungan..”.
“kau mau apa??”.
“sunganjeogeulo...”.
Nari pun menuruti apa kata temannya tersebut, namun setelah lebih dari
30 menit temannya tak kunjung menghampirinya.
“hya!! Hyo Min-ah!! ppalleun!!!” teriak Nari dari gerbang sekolah.
“jamkkanman...”.
“sebenarnya kau mau apa??”.
“apa kau tadi melihat Jeong Il pulang??”.
“apa kau dari tadi menunggunya??”.
Hyo Min pun menyeringai.
“aigoo~ kalau begitu tunggu saja sendiri, aku mau pulang!!” teriak Nari
meninggalkan Hyo Min.
Beberapa saat kemudian Jeong Il pun keluar dari sebuah ruangan. Hyo Min segera menghampirinya, Sementara ia
tak sadar akan Nari yang meninggalkan dirinya di sekolah.
“aa~ Jeong Il-ssi?!! apa kau mau pulang??” tanya Hyo Min.
Jeong Il hanya berjalan tak memperdulikan pertanyaan Hyo Min, namun Hyo
Min mengikutinya sampai di gerbang sekolah.
“Kim Jeong Il??” panggil Hyo Min.
Jeong Il pun menoleh ke arah Hyo Min.
“omo!! Eh..” ucap Hyo Min tiba-tiba dan menyeringai.
“apa kau kurang pekerjaan setiap hari menungguku??” tanya Jeong Il.
Hyo Min kembali menyeringai.
“cepat pulang.. aku tidak mau diikuti seorang yeoja dibelakangku”.
Hyo Min yang setangah merasa salah tingkah hanya menuruti apa kata
Jeong Il.
Tak jauh dari sekolah, ada Nari yang menunggu Hyo Min. Saat Hyo Min
melihat dirinya, ia langsung meninggalkan Hyo Min lagi.
“Nari!! Nal gidaryeo!!” teriak Hyo Min.
Nari pun berhenti dan Hyo Min berlari menghampirinya. Nari terus
berjalan dengan mendengarkan cerita Hyo Min tentang Jeong Il, namun tak ada
yang ditanggapi oleh Nari.
“hya Hyo Min-ah!!” panggil Nari.
“ne,” jawab Hyo Min sambil tersenyum.
“apa kau tidak punya rasa capek menunggunya setiap datang dan pulang
sekolah??” tanya Nari.
“tidak!! Ohh ya Nari,,andai saja aku bisa satu kelas dengannya..dengan
gampang aku memandang wajahnya..aku berdoa tahun depan aku bisa satu kelas
deng-”.
“cukup!! Rumahku sudah dekat..naeil bwayo,,deo josim..” ucap Nari.
Hyo Min hanya menanggapi dengan senyumannya meskipun ia merasa sedikit
kesal.
...........
“ayah...”.
“angin apa yang membawamu kesini,, cepat duduk disini,, ayah ingin
memangkumu..”.
“presdire Shin,, Hyo Min sekarang sudah menjadi siswi SMA..”.
“ohh sudah SMA ya.. bolehkah aku memanggilnya dengan sebutan putri
kecil seperti dulu??”.
Hyo Min mendadak diam.
“Hyo Min??” panggil sang ayah.
“ohh.. ayah.. kau mengingatkanku akan ibu.. dulu dia juga sering
memanggilku dengan sebutan itu..”.
“bagaiamana kalau setelah ini kita makan di restoran langganan??” tanya
ayah Hyo Min mengalihkan pembicaraan.
“baiklah.. tapi,”.
“wae??”.
“aku ada pekerjaan sekolah..” jawab Hyo Min dengan menyeringai.
“ahh ara, biar nanti ayah bawakan makanan ke rumah, jadi tugas putri
kecil ayah bisa terselesaikan..”.
“ahh ayah..”.
“ne..”.
“oh ya ayah,, tad-”.
Tiba-tiba terdengar bunyi handphone berdering.
“ayah, sampai jumpa di rumah,, aku pulang dulu” pamit Hyo Min dan
segera meninggalkan kantor ayahnya.
Sikap Hyo Min yang tiba-tiba berpamitan pulang membuat ayahnya merasa
sikap Hyo Min hari ini tidak seperti biasanya.
.........
“aku berangkat..” pamit Jeong Il kepada ibunya.
“jamkkanman..”.
“wae??”.
“nanti kalau pulang jangan sampai di atas jam tujuh,, ibu mau
mengajakmu ke suatu tempat..”.
Jeong Il pun mengangguk dan pergi meninggalkan ibunya.
..........
Di gerbang sekolah Jeong Il melihat Hyo Min yang tersenyum-senyum
ketika melihat dirinya.
“joheun achim Kim Jeong Il..” sapa Hyo Min.
“joheun achim..”.
“apa kau tadi bangun tidak kesiangan??”.
Jeong Il terus berjalan tanpa menghiraukan pertanyaan Hyo Min.
“kau tadi sarapan apa?? Kau ke sekolah tadi n-”.
“Hyo Min-ah!!! kaja kemari!!” teriak Nari.
“annyeong,, aku dipanggil temanku..”.
“ppaleun,, ayo cepat masuk..” teriak Nari kembali.
Hyo Min langsung berlari menemui Nari dan segera memasuki kelas.
“Hyo Min?? Hyo Min-ssi?? aku baru mendengar namanya sekarang” bisik
Jeong Il dalam hati.
Ketika masuk ke dalam kelas, Hyo Min melihat orang asing.
“ak-”.
“jamkkanman!! nanti saja..”.
Hyo Min segera menghampiri orang asing tersebut.
“joh.. aa~ good morning..”.
“morning..”.
“murid baru??”.
Orang itu pun mengangguk dan tersenyum.
“what your name??”.
“Lee Dae Suk..”.
“i’m Shin Hyo Min..”.
“yea.. I know,, do you student in this class??”.
“eomeona!!” cletuk Hyo Min lirih.
“do you student in this class??”.
Tak lama bel masuk terdengar.
“aa~ yes..” jawab Hyo Min mengada-ada.
Hyo Min buru-buru duduk di bangkunya dan langsung menanyakan apa yang
diucapkan oleh Dae Suk kepada Nari.
“kalau menyapa lebih baik memakai bahasa sehari-hari..” ucap Nari
tiba-tiba.
“ohh ya, kau tadi mau bicara apa??” tanya Hyo Min tanpa menggubris
ucapan Nari.
“ani,,”.
...........
“Hyo Min-ssi, apa kau mau makan denganku di kantin??” tanya Dae Suk
tiba-tiba.
“ani,, Nari mungkin mau,, aku sudah membawa bekal,,” jawabnya sambil
menunjukkan kotak bekalnya.
Dae Suk tersenyum manis. Hyo Min bergegas meninggalkan Dae Suk dan Nari
temannya untuk menemui Jeong Il dengan membawa kotak bekalnya. Ketika sampai di
kelas Jeong Il, Hyo Min tak melihat Jeong Il. Ia langsung mencari di
perpustakaan, namun nihil. Ketika Hyo Min hendak ke kantin, ia melihat Jeong Il
sedang bercanda gurau dengan temannya di bawah pohon.
“Kim Jeong Il!!!” teriak Hyo Min yang langsung mengagetkan Jeong Il.
Tak hanya Jeong Il yang menoleh ke arah Hyo Min, melainkan teman Jeong
Il yang ada di sekitar Jeong Il.
Hyo Min bergegas menghampiri Jeong Il dengan wajah seperti orang baru mendapat
hadiah.
“bukankah dia yeoja di kelas 2 – 3??” bisik salah satu teman Jeong Il.
“ne, sepertinya dia menyukainya” jawab teman lain Jeong Il.
“annyeong yeoreobun.. aah Jeong Il-ssi, tiap aku membawa bekal untukmu
selalu tidak ada waktu memberikannya, baru sekarang aku bisa memberinya, apa
kau mau??”.
“mian, aku sudah kenyang”.
“sedikit saja, ini aku buatkan untukmu..”.
“makan saja sendiri, aku tidak lapar”.
“apa kau mau aku suapi??”.
Mendenga itu teman-teman Jeong Il tertawa lepas, tanpa menjawab Hyo
Min, Jeong Il langsung meninggalkan Hyo Min begitupun teman-temannya.
“kalau begitu buatku saja,,” pinta Dae Suk yang datang tiba-tiba
bersama Nari.
“hya Hyo Min-ah!! lebih baik kau mencari laki-laki lain saja, apa kau
tidak bosan terus mencari perhatiannya??” tanya Nari.
“tidak Han Nari,, kau tau, dia itu laki-laki yang sangat special yang
pernah aku temui sejak aku berada di sekolah ini,”.
“tapi kan sudah berjalan 2 tahun..”.
“dangsin saenggageun eottaeyo?? Dia menyukainya selama itu??” ucap Dae
Suk tiba-tiba.
“ahh sudah lahh, kau tidak mengerti Nari, apa lagi kau murid baru!!”.
“hya! Hyo Min-ssi,, you look very graceful..”.
“ahh sudahlah!!”.
Nari dan Dae Suk pun tertawa melihat Hyo Min yang sedikit marah.
..........
“kriiiiiiinnnggggg”.
“kaja pulang Hyo Min..” pinta Nari.
“sebentar,,”.
“aku lihat dia sudah pulang,,”.
“jeongmal??”.
“ne,,”.
“kau tidak bohong??”.
“anieyo,,”.
“baiklah..”.
Berjalan pulang dengan sesekali Hyo Min menengok kebelakang, ia
berharap ia melihat Jeong Il.
“kenapa dia pulang secepat itu??” ucap Hyo Min dalam hati.
“aku pulang...” ucap Jeong Il ketika sampai di rumah.
“kau sudah datang,,”.
“ada apa??”.
“cepat ganti baju lalu kita berangkat ke makam ayahmu,,”.
“tapi besok aku ada ujian,,”.
“ohh, baiklah ibu akan berangkat sendiri”.
Jeong Il terdiam sejenak.
“ahh jamkkanman,, aku ikut”.
“apa besok kau tidak ikut ujian?”.
“itu urusanku”.
Ibunya hanya tersenyum simpul pada jeong Il.
...........
Di depan gerbang sekolah Hyo Min menunggu kedatangan Jeong Il, namun
hingga bel masuk terdengar Jeong Il tak kunjung datang.
Ketika bel istirahat terdengar, Hyo Min sesegera mungkin meningalkan
kelasnya dan menghampiri kelas Jeong Il. Dae Suk yang melihat Hyo Min berlari
terburu-buru bergegas bertanya pada Nari.
“dia hanya melakukan hal yang tidak penting,,”.
Mendengar jawaban Nari, Dae Suk penasaran.
“kau tidak perlu penasaran, kau juga akan tau, kaja kita makan” ajak
Nari.
Dae Suk yang tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Nari, hanya bisa
mengikuti ajakan Nari.
“kau mencari siapa??” tanya seorang yeoja.
“Kim Jeong Il” jawab Hyo Min sambil menengok ke seluruh ruang kelas
Jeong Il.
“ohh, dia hari ini tidak ke sekolah, ujian tadi saja dia tidak ikut,,”.
“apa dia sakit? Apa dia ada masalah? Atau yang lain?”.
“aku tidak tahu,,”.
Perasaan sedih menghampiri Hyo Min. Tak henti-hentinya ia berbicara
sendiri mencari suatu hal yang menyenbabkan Jeong Il tidak datang ke sekolah.
“Nari-ssi!! Dae Suk-ssi!! nal gidaryeo” teriak Hyo Min ketika menyadari
bahwa jam sekolah sudah usai dan teman-temanya sudah meninggalkan kelas.
Hyo Min langsung berlari menyusulnya.
“hya! Nari-ssi apa kau sudah bosan denganku? Pulang dengan murud baru
ini” tanya Hyo Min sedikit kesal.
“Mwoya??” jawab Dae Suk.
“bukan begitu, kau sedari tadi memikirkan apa, sampai-sampai kupanggil
saja tidak dengar,,” cletuk Nari.
“apa kalian tau penyebab Jeong
Il tidak sekolah hari ini??”.
“karena dia bosan denganmu” cletuk Dae Suk.
“aku setuju dengan dia, kau selalu muncul di depannya, setiap hari
selama 2 tahun..” jawab Nari.
“tapi kan tidak 1 jam sekali..”.
“atau mungkin dia pindah sekolah..” cletuk Dae Suk kembali.
“MWO!!!” teriak Hyo Min tiba-tiba.
“ahh benar-benar.. bosan dan pindah sekolah,, bisa jadi itu,, dia bosan
melihatmu dan hasrat ingin pindah sekolah sudah tertanam ketika melihat
wajahmu,,” cletuk Nari.
“Nari... kenapa kau terus-terusan setuju dengan ucapan murid baru
ini...” rengek Hyo Min.
“tapi alasannya itu memang masuk akal,”.
“ahh sudah aku pulang dulu!” lanjut Hyo Min semakin kesal kepada Nari.
“ohh ya,, Hyo Min-ssi, besok dia pasti tidak ke sekolah lagi,” teriak
Dae Suk dan membuat Nari tertawa.
“deo josim..” teriak Nari dan Dae Suk kembali.
“hwanaeda!!” teriak Hyo Min.
..........
“apa kau tidak pulang hari ini saja?”.
“tidak mungkin aku meninggalkan ibu disini sendirian,,”.
“kalau begitu malam ini kita pulang,,”.
Jeong Il yang awalnya duduk disebelah ibunya langsung berbaring di
pangkuan ibunya.
“ibu tau,, di sekolah, seorang yeoja, mungkin namanya Hyo Min,”.
“waeyo?”.
“dia selalu muncul di depanku setiap hari semenjak aku masuk SMA itu,
dari aku datang sampai aku pulang, aku bersyukur tidak bertetangga dengannya,,”.
“jeongmal??”.
“uumbb,, dia juga bilang, mulai kemarin lusa dia akan membwakan bekal
untukku.. aku sedikti kesal dengan sikap kekanak-kanaknya,, tapi....”.
“ohh ibu tau,, dia jatuh cinta kepada Jeong Il kecil ibu..”.
Mendengar itu Jeong Il langsung bangun dan menatap ibunya dengan
tatapan kesal lalu tertawa.
“kenapa kau tertawa??”.
“sarang? Sarange ppajiji?? itu tidak mungkin,”.
“kenapa tidak mungkin?? Sekarang, mungkin dia bertanya-tanya kenapa
namja yang selalu ia tunggu tidak datang ke sekolah..”.
“sok tahu,, di kelasnya aku dengar ada murid baru,, kata yeoja di
kelasku murid baru itu lumayan tampan,,”.
“apa kau cemburu??”.
“mwoya,, kenapa dari tadi ibu menggodaku??”.
Ibu Jeong Il pun tertawa mendengar pertanyaan anaknya. Jeong Il juga
ikut tertawa dan ingin melupakan apa yang sudah ia bicarakan bersama ibunya
tadi.
..........
“ayah, aku berangkat dulu,, aku tidak jadi ikut miobil ayah,,” teriak
Hyo Min dari gerbang rumahnya.
Ayahnya hanya tersenyum kecil dan melanjutkan sarapannya. Secara
tiba-tiba ia menaruh sendoknya dan mengambil dombetnya.
“ibu Hyo Min, putri kita sekarang sudah menjadi siswi SMA,, di cantik
sama sepertimu” bisik ayah Hyo Min sendirian sambil melihat foto istrinya di
dompetnya.
“sebentar lagi aku akan membawanya ke USA, mungkin dalam waktu yang
lama,,” lanjutnya.
..........
Hyo Min sampai di sekolah lebih cepat dari Nari, ia melakukan kegiatan
rutinnya menunggu Jeong Il, tak lama dibelakangnya datang Dae Suk.
“seorang murid SMA berdiri di depan sekol-”.
Belum selesai bicara, Dae Suk melihat Hyo Min tersenyum dan
menyeringai.
“jeoheun achim Jeong Il-ssi,,” sapa Hyo Min.
Jeong Il hanya melempar senyuman dan menganggukkan kepalanya.
“lihat, dia tersenyum padaku..” cletuk Hyo Min kepada Dae Suk dan
langsung meninggalkan Dae Suk serta menyusul Jeong Il.
“hei, bolehkah aku bertanya padamu??”.
“mwoya??”.
“kau menjawabku lagi??” ucap Hyo Min ketika mendengar Jeong Il.
“menjawab apa??”.
“ahh ani,, kemarin kenapa kau tidak ke sekolah? aku menunggu dan
mencarimu,,sampai kesud-”.
“aku pergi ke suatu tempat..” jawab Jeong Il memotong ucapan Hyo Min.
“dimana itu??”.
Jeong Il hanya diam dan meninggalkan Hyo Min. Sementara Hyo Min tidak
sadar bahwa ketika ditinggal Jeong Il pergi bel masuk sudah berbunyi, ia teralu
terpesona dengan suara Jeong Il.
“kaja masuk!! Bel sudah berbunyi!!” ucap Nari yang muncul dari belakang
Hyo Min dan langsung menarik tangan Hyo Min.
“jamkkanman..” cletuk Hyo Min dan menghentikan langkahnya.
“wae??” tanya Nari.
“Han Nari! Apa kau bisa mencubit pipiku??”.
“wae?”.
“cepat cubit..”.
Nari pun menuruti apa kata Hyo Min.
“sakit.. Nari-ssi!!” ucap Hyo Min dengan menatap dan memegang pundak
Nari.
Nari yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi panik dengan tatapan
Hyo Min dan sesekali menelan ludah.
“berarti aku tidak mimpi.. aku mengobrol dengannya.. apakah tahun ini
tahun keberuntunganku? Ahh.. pasti memang iya,” lanjut Hyo Min dan langsung
masuk ke kelasnya dengan tersenyum kegirangan tanpa memerhatikan bahwa guru
sudah memulai pelajaran.
“Hyo Min-ssi!!” panggil Nari lirih.
“kaja duduk Nari..”.
“Shin Hyo Min!!” panggil sang guru.
“aku mau duduk di bangku ku,,”.
“Shin Hyo Min!! Kemari!!”.
“omo!!”.
Hyo Min langsung menoleh ke arah gurunya dan tersenyum lagi.
“seonsaeng..”.
“kerjakan tugas hal 27, harus selesai hari ini!! Dan kau Han Nari,
kerjakan hal 20.”.
“kenapa berbeda??” protes Hyo Min.
“tidak boleh protes!!!”.
..........
Tak terasa bel istirahat sudah berbunyi. Hyo Min terus mengerjakan
tugasnya dengan mendengarkan musik di telinganya tanpa menghiraukan bel yang
berbunyi.
“Hyo Min-ssi?!!” panggil Dae Suk.
“dia sedang serius,, seukaes.. kaja Dae Suk..” ucap Nari.
“apa dia tidak bisa diganggu??”.
Nari menggelengkan kepalanya.
...........
“kenapa yeoja itu tidak berkeliaran di sekitar kelasku??” bisik Jeong
Il dalam hati.
Merasa ingin melihat Hyo Min, tanpa sadar Jeong Il beranjak dari tempat
duduknya dan berjalan menuju kelas Hyo Min. Ketika sampai di depan kelas Hyo
Min, Jeong Il melihat Hyo Min yang dengan serius mengerjakan sesuatu.
“apa benar namanya Hyo Min??” tanya Jeong Il dalam hati.
Dari arah lain Nari melihat Jeong Il berdiri di depan kelasnya.
“benarkah cintanya sudah tidak bertepuk sebelah tangan??” tanya Nari.
“kenapa aku berada disini??” tanya Jeong Il dalam hati ketika melihat
tempat dimana dia berdiri.
Dengan cepat Jeong Il meninggalkan kelas Hyo Min dan kembali ke
kelasnya.
“kau bertanya padaku??” tanya Dae Suk kepada Nari.
Nari yang tak menggubris pertanyaan Dae Suk langsung pergi meninggalkan
Dae Suk dan menghampiri Hyo Min di kelas. Sementara Dae Suk yang bingung hanya
mengikuti Nari.
“akhirnya sudah selesai... yeahhh.... finish...” ucap Hyo Min.
“SHIN HYO MIN!!!” teriak Nari tiba-tiba.
“omo!! Kau ini apa-apaan??”.
“kau baru selesai??”.
“wae?? Iya aku tahu kau lebih cepat dari pada aku..”.
“bukan itu, berarti kau tadi tidak tahu,,”.
“tidak tahu apa??”.
“tadi Jeong Il menghampiri kelas ini, dia tidak memanggilmu??”.
“MWO!!!!” teriak Hyo Min yang mengagetkan Nari sekaligus Dae Suk yang
baru datang.
“jeongmal?? Museun geojismalhaji anhasseo?!!” lanjut Hyo Min.
“ne..”.
Hyo Min langsung menaruh handphone nya dan berlari menuju kelas Jeong
Il.
“dimana Jeong Il??” tanya Hyo Min ketika sampai di depan kelas Jeong
Il.
“tadi kelihatannya dia pergi ke toilet,,” jawab seorang namja.
Tanpa berpikir panjang Hyo Min langsung menyusul Jeong Il ke toilet.
Sebelum sampai di toilet ia sudah melihat Jeong Il. Hyo Min langsung
menyeringai.
“itu toilet pria,” ucap seorang namja yang berada tepat di depan Jeong
Il.
Hyo Min yang tak peduli dengan ucapan namja tersebut langsung
menghampiri Jeong Il.
“Ahh Jeong Il-ssi,, apa benar kau tadi menghampiri kelasku??”.
“ani” jawaban Jeong Il datar dan meninggalkan Hyo Min.
“benarkah??”.
Jeong Il terus berjalan dan tak mendengarkan pertanyaan Hyo Min. Tanpa
menyadari, Hyo Min tiba-tiba merasa sangat kecewa dengan sikap Jeong Il kali
ini.
..........
“annyeong Jeong Il-ssi,, naeil bwayo..” cletuk Hyo Min.
“apa namamu Hyo Min??” tanya Jeong Il yang sontak membuat Hyo Min
sekaligus Nari merasa kaget.
“ne,,”.
“hei, Hyo Min-ssi???”.
Hyo Min hanya menatap Jeong Il dari atas sampai bawah.
“bisakah kau berhenti menungguku dan memberiku salam ketika aku datang
dan pulang sekolah?? Apa kau tidak capek?? Aku sudah tidak tahan,, aku bosan
melihatmu yang terus-terusan muncul tiba-tiba di depanku,,”.
“tidak, kan aku menyukaimu bahkan mencintaimu,,” jawab Hyo Min sambil
menyeringai.
Mendengar itu Nari terkejut bahkan Jeong Il juga. Namun Jeong Il langsung
meninggalkan Hyo Min.
“ohh ya,,besok aku tidak mau melihatmu di depan gerbang ini lagi dengan
kata kekanak-kanakanmu” lanjut Jeong Il.
“kau memang tampan, kau memang namja yang aku sukai, aku sebenarnya
bosan terus-terusan menghampirimu, sampai-sampai ada yang bilang aku wanita
yang suka mencari perhatian,” teriak Hyo Min.
Jeong Il terus berjalan tanpa memperdulikan teriakan Hyo Min.
“baiklah kalau itu yang kau mau, aku tidak akan menunggumu di depan
gerbang sekolah lagi!!” lanjut Hyo Min dan meneteskan air mata.
“omo!! Hyo Min kau jangan menangis..” ucap Nari.
“aku pulang dulu, aku tidak bisa ikut denganmu ke toko roti,, annyeong,,”.
Nari hanya tertegun diam, membiarkan Hyo Min berlajan pulang dengan
meneteskan air mata.
“kenapa kau berbicara seperti itu? Apakah kau pribadi yang
menyebalkan?” gerutu Hyo Min.
...........
“Nari tunggu sebentar,,” ucap Hyo Min ketika sampai di depan gerbang
sekolah.
“kau mau apa lagi?? Bukankah kemarin kau sudah mendapat larangan
darinya??”.
Hyo Min menyeringai. Nari sedikit kesal dengan sifat yang tak
konsistennya Hyo Min. Beberapa menit kemudian Jeong Il datang dan kembali
melihat Hyo Min berdiri di depan gerbang sekolah. Namun Jeong Il tak
mempedulikannya.
“jamkaman,, besok sudah libur musin dingin, sebenarnya aku tidak mau
menyapamu lagi,, tapi aku yakin ini yang terakhir, aku tidak akan membuatmu
marah seperti kemarin.. dangsinui hyuga jaemineul barabnida..” ucap Hyo Min dan
langsung menarik tangan Nari pergi.
Jeong Il tersenyum mendengar ucapan Hyo Min, namun ia juga merasa bahwa
ia tidak akan melihat Hyo Min setelah liburan ini.
“kenapa kau bicara seperti itu tadi??” tanya Nari penasaran.
“bicara apa??” tanya Dae Suk tiba-tiba.
“kau jangan ikut-ikut!” jawab Nari.
“hya! Kau murid baru,, kau jangan berubah ya setelah liburan ini,”.
“apa maksudmu?”.
“baru beberapa hari kau di kelas ini, kurasa kau mempunyai sifat yang
gampang berubah,,”.
Dae Suk hanya tertawa mendengar ucapan Hyo Min tanpa membalas perkataan
Hyo Min lagi.
“Hyo Min-ssi, kau belum menjawabku,,” rengek Nari kesal.
“Nari sayangku.. aku tidak berbicara apa-apa”.
Nari semakin kesal mendengar jawaban Hyo Min dan meninggalkan Hyo Min
keluar kelas.
...........
“kriiinnggggg!!!”.
Hyo Min dan Nari bergegas meninggalkan kelas.
“jamkkanman Nari,” ucap Hyo Min menghentikan langkahnya.
“yeoreobun....” teriak Hyo Min.
Seisi kelas memperhatikan Hyo Min yang berdiri di depan kelas.
“dangsinui hyuga jaemireul barabnida.... annyeong....” teriak Hyo Min
yang langsung membuat orang seisi kelas tertawa, tak terkecuali Nari.
“kaja pulang, Han Nari..” ajak Hyo Min.
“kau tidak apa-apa??”.
“jelas aku baik-baik saja Nari,,”.
Ketika sampai di gerbang sekolah Nari menghentikan langkah Hyo Min.
“wae?”.
“apa kau tidak menunggu Jeong Il??”.
“aku takut dia melakukan hal seperti kemarin,,”.
“kau takut tidak bisa menyapanya lalu tidak diperhatikan olehnya,,”.
Hyo Min tersenyum dan langsung menarik tangan Nari untuk sesegera
mungkin meninggalkan sekolah. Sekitar 30 menit kemudian Jeong Il baru keluar
dari kelasnya, ketika sampai di gerbang sekolah ia tak melihat Hyo Min dengan
senyumannya. Jeong Il merasa sedikit aneh namun terus berjalan pulang.
..........
“ayah,, aku sudah pulang...”.
“bagaimana??”.
“apanya??”.
“sekolahnya donk..”.
“baik,, oh ya,, bagaimana dengan liburan musin kali ini?? Kita akan
pergi kemana??”.
Ayah Hyo Min terdiam sedikit lama.
“ayah?????” panggil Hyo Min.
“kita berlibur kemana??” lanjut Hyo Min.
“kita akan ke USA,,”.
“mwo!! Kenapa jauh sekali??”.
“kita kesana tidak untuk berlibur,, kita tinggal disana,,”.
Jawaban sang ayah membuat Hyo Min kaget dan mendadak diam.
“kau tidak mau??” tanya ayah Hyo Min.
“ahh,, ayah bisa saja, ayah berbohongkan??”.
Ayahnya menggeleng dan memberi tatapan serius pada Hyo Min.
“ayah akan ke USA, tidak mungkin ayah meninggalkanmu disini sendirian,,
lusa ayah akan urus perpindahan sekolahmu..”.
“aku ke kamar dulu,,” pamit Hyo Min.
Ayah Hyo Min tak berkata apa-apa, membiarkan Hyo Min meninggalkan ruang
tamu rumahnya.
..........
“kalau aku ikut ke USA, aku tidak bisa bertemu dengannya lagi.. kenapa
tadi aku langsung pulang..” ucap Hyo Min sendirian.
“ahh tapi tidak apa-apa,, mungkin disana hanya 1-2 bulan,, biar saja,
biar dia kangen denganku.. hahaha” lanjut Hyo Min kepedean.
Suara tertawa Hyo Min yang terdengar hingga telinga ayahnya yang ada di
ruang tamu, membuat Ayah Hyo Min menengok ke arah kamar Hyo Min dan
menghampirinya.
“apa kau tidak apa-apa??”.
“ada apa ayah?? Baik, aku akan ikut denganmu ke USA” jawab Hyo Min
sambi sesekali tertawa kecil.
Ayah Hyo Min yang berada di balik pintu hanya mengekspresikan keheranan
dengan sikap Hyo Min.
...........
“ayah,, apa ayah benar-benar ingin ke USA??” tanya Hyo Min setelah
menyantap sarapannya.
“ne,, apa kau benar-benar ingin ikut??”.
“benar presdire,,” jawab Hyo Min dan kembali menyantap makanannya.
“ahh ayah, kan sudah hari libur apa tidak susah mengurus surat
perpindahan sekolahku??”.
“sepertinya ada yang masih ragu-ragu ya,,”.
“nuguseyo??”.
“itu urusan ayah, kau hanya ditugaskan mengemasi barang, lalu ikut
berangkat..”.
“arata,, baiklah ayah, makanan sudah habis,, aku yang akan mencuci
piring,,”.
“baiklah,, setelah ini ayah mau keluar dulu,,”.
Hyo Min hanya tersenyum menanggapi perkataan ayahnya.
..........
“tok! tok! tok!”.
Hyo Min yang sedang di dalam kamarnya tidak mendengar ketukan pintu
rumahnya.
“heoga..” ucap Nari keras di depan rumah Hyo Min.
“ada orang,,” bisik Hyo Min.
“jamkkanman...” teriak Hyo Min.
Ketika Hyo Min membuka pintu rumahnya, ia melihat Nari yang berbeda
dari biasanya.
“apa kau benar Han Nari??”.
“jelas ini aku,, apa kau kira aku Jeong Il..”.
“gaja,,”.
“kemana ayahmu?” tanya Nari ketika masuk ke dalam rumah Hyo Min.
“dia bilang dia pergi keluar sebentar, tapi entah kemana aku tidak
tahu.,”.
“hya! Hyo Min-ssi!” cletuk Nari.
“wae??”.
“dalam perjalan kesini tadi aku melihat Jeong Il, apa kau bertetangga
dengannya??”.
“bertetangga?? Apa kau sudah gila, kalau aku bertetanggan tidak mungkin
a-ku mem-punyai keg-”.
“kegiatan rutin menunggu di depan gerbang sekolah..”.
Hyo Min langsung menyeringai.
“apa kau tidak mau memberiku minum??”.
“kau kesini tadi mencari minum?? Baiklah,, putri Han Nari ingin minum
air apa??”.
“air apa?? Tapi tidak usah, aku juga mau pulang, aku hanya ingin mengembalikan
sepatumu yang aku pinjam beberapa waktu lalu,,”.
“kau ambil saja,,”.
“jinjja??” tanya Nari tidak percaya.
“iya,, ambil saja,, siapa tau itu untuk kenang-kenangan dariku,,” jawab
Hyo Min sambil berjalan mengambilkan minum untuk Nari.
“maksudmu kenang-kenangan?? Apa kau akan pergi dari sini??”.
“ini minuman yang kau minta,, sudah ku campur dengan segala macam bumbu
dapur,,” ucap Hyo Min mengalihkan percakapan.
“wahhh bagus sekali,, rasanya juga segar,, apakah tadi tidak lupa kau
beri garam??”.
“sudah aku beri sebanyak lima sendok,,”.
Mereka pun terus bergurau hingga tidak sadar sore hari sudah menjemput.
“Hyo Min, aku pulang dulu,, ternyata sudah jam segini,,” ucap Nari.
“baiklah,,”.
“annyeong... ohh ya gomawo untuk sepatunya,,”.
“ne,, deo josim,,” jawab Hyo Min sambil tersenyum.
..........
“kau sudah siap??”.
“ne,,”.
“cepat masukkan barang-barangmu k dalam mobil,”.
“ayah,”.
“waeyo??”.
“berapa lama kita disana??” tanya Hyo Min ketika akan masuk ke dalam
mobil.
“untuk yang itu ayah tidak bisa memastikan.. cepat masuk”.
Sekali lagi Hyo Min menengok ke arah pintu rumahnya.
“kau kenapa??” tanya ayahnya.
“ohh tidak,,”.
Hyo Min langsung masuk ke dalam mobil ayahnya yang segera melaju ke
bandara Incheon.
..........
Beberapa hari kemudian sekolah kembali masuk, ketika Nari datang, ia
tidak melihat Hyo Min. Bahkan suara keras Hyo Min tidak terdengar sedikitpun.
Di lain tempat, seseorang sedang mencari-cari Hyo Min.
“awal masuk,, apa dia tidak kangen denganku??” bisiknya dalam hati.
..........
Tak terasa sudah 1 bulan Hyo Min di sekolah dan lingkungan baru.
“apa kau tidak kesulitan berada disini??” tanya ayahnya.
“sedikit,, dalam berbahasa ayah,, ayah tau kan kalau aku kurang bisa
berbahasa inggris,,”.
Mendengar jawaban anaknya, laki-laki yang berusia lebih dari 35 tahun
itu pun tertawa.
“kenapa ayah tertawa??”.
“cepat kau berangkat ke sekolah,, be careful,,”.
“baiklah,,” jawab Hyo Min sambil memeluk ayahnya dan tersenyum.
..........
“kringggggggg!!!”.
Bel sekolah terdengar.
“Dae Suk, apakah kau melihat Hyo Min??” tanya Nari.
“anieyo,,”.
“sudah satu bulan dia tidak pergi ke sekolah, rumahnya juga terlihat
tak berpenghuni?? Kenapa tidak ada kabar sedikitpun tentangnya?” bisik Nari
dalam hati.
“joheun achim yeoreobun,, apakah pagi ini ada yang ditanyakan??”.
Dengan cepat Nari mengankat tangannya.
“ada apa Nari?”.
“kenapa sudah 1 bulan terakhir Hyo Min tidak sekolah??”.
“kau tidak tahu??”.
“mwoya??”.
“bukankah dia pindah ke USA,,”.
Seisi kelas merasa kaget dengan jawaban gurunya, tak tertinggal Dae Suk
dan Nari. Nari sendiri merasa kecewa dengan keputusan Hyo Min untuk pindah ke
USA.
“apakah aku mempunyai salah padamu?? Kenapa kau tidak memberitahuku
tentang hal ini??” tanya Nari dalam hati.
..........
“good morning, whether you’re a new student at this school??” tanya
seorang laki-laki yang melihat Hyo Min berdiri di gerbang sekolahan.
“morning,, ne.. ehh yes..” jawab Hyo Min.
“cepat masuk,, sebentar lagi pelajaran akan dimulai,,” ucap laki-laki
tersebut.
“sudah berapa lama??”.
“1 bulan,,”.
“kenapa aku tidak mendengar kalau ada murid baru??”.
“mungkin kau susah beradaptasi,,” cletuk Hyo Min.
Laki-laki itu pun tertawa kecil kepada Hyo Min. Hyo Min pun membalas
dengan senyuman dan seringainnya.
“bye,, aku di kelas sebelah,, annyeong”.
Hyo Min kaget mendengar ucapan terakhir laki-laki itu, namun ia hanya
tersenyum dan masuk ke dalam kelasnya.
..........
“kau menunggu siapa Nari?? Kaja kita pulang..”.
“annyeong,,” ucap Jeong Il kepada teman-temannya.
Ketika itu juga Jeong Il melihat Nari berdiri di depan gerbang sekolah.
Jeong Il merasa ada yang aneh, namun ia terus melanjutkan langkahnya.
“hya! Jeong Il-ssi! kenapa kau pergi begitu saja?!!!” bentak Nari.
“apa kau menunggunya??” bisik Dae Suk kepada Nari.
“bukankah memang aku harus pergi?” tanya Jeong Il.
“menunggu disini itu sangat menyebalkan, entah apa yang ada d pikiran
Hyo Min hingga dia mau menunggumu setiap hari disini,”.
“Hyo Min?? Ohh, entahlah aku tidak tau,, aku mau pulang dulu,,
annyeong..”.
“mungkin dia memang sudah bosan menunggumu disini, itulah sebabnya dia
pindah ke USA”.
Nari langsung pergi meninggalkan Jeong Il. Dae Suk yang tidak mengerti
dengan apa yang dibicarakan Nari hanya mengikuti Nari yang berjalan pulang.
Saat mendengar Nari Jeong Il hampir menhentikan langkahnya, namun Jeong
Il tetap berjalan dan memikirkan apa yang dikatakan oleh Nari.
..........
“hey!!” panggil seorang laki-laki.
“kau, ada apa??” tanya Hyo Min.
“namamu siapa??”.
“Hyo Min, Shin Hyo Min..”.
“Park Min Ho..”.
“mari pulang,,”.
Hyo Min mengangguk.
“apakah kau dari korea??”.
“iya,, apakah kau juga?”.
“right,, tapi, mungkin aku sedikit lebih lama dari pada kau,,”.
“benarkah??”.
“ne, aku sudah disini 8 tahun lalu..”.
“8 tahun?? Itu tidak sebentar,, itu sangat lama,,”.
Mendengar Hyo Min, Min Ho pun tertawa kecil.
“memang ada yang lucu??”.
“kurasa sedikit,, terasa baru kemarin aku kesini,,”.
Hyo Min hanya menyeringai kecil.
“baiklah,,sampai disini dulu, aku akan naik taxi,, deo josim..”.
Hyo Min mengangguk dan tersenyum sambil melihat Min Ho masuk sebuah
taxi lalu kembali melanjukan langkahnya.
..........
Saat makan malam, Jeong Il kembali teringat dengan perkataan Nari.
“apa benar kau benar-benar pindah??” cletuk Jeong Il.
“siapa yang pindah??”.
“ahh bukan siapa-siapa ibu.. kaja makan,, hemmbbb enak sekali...”.
Melalui kaca jendela kamarnya, Hyo Min memandang langit dengan
mengingat-ingat Jeong Il kemudian tertawa sendiri.
“aku akan menemuimu setelah aku kembali ke korea, semoga kau masih
mengingatku, meski kau tidak menyukaiku, tapi suaramu membuatku bahagia,,”
bisik Hyo Min lirih.
“mungkin bulan depan aku akan kembali,, atau bahkan minggu depan,”
lanjutnya.
..........
1 bulan kemudian Hyo Min mendapat kabar dari ayahnya bahwa dia dan
ayahnya tidak akan kembali ke korea, kalau kembali mungkin butuh waktu
bertahun-tahun.
“ku kira aku akan kembali, tapi mungkin saat itu memang takdir kalau
aku tidak bisa mengucapkan kata-kata bodoh lagi,,” ucap Hyo Min mengingat Jeong
Il.
“mungkin aku juga berdosa kepadamu, Nari.. aku tidak memberitahumu
tentang semua ini” lanjut Hyo Min.
.........
1 tahun berlalu. Jeong Il benar-benar tak melihat sosok wanita yang
selalu menunggunya di depan gerbang sekolah. Semakin lama, Jeong Il semakin
teringat akan senyuman, perilaku, seringaian Hyo Min dengan tanpa sadar ia
mulai merasakan rindu kepada sosok Hyo Min.
Di tempat lain Hyo Min pelan-pelan tidak teringat Jeong Il, perkenalan
dengan Minho 1 tahun lalu ketika pulang sekolah membawa hari-hari Hyo Min di
USA serasa di korea. Minho selalu membantunya berbahasa bahasa inggris ketika
Hyo Min kesulitan.
........
Hari kelulusan tak bisa terhindarkan. Jeong Il kembali memandang
gerbang sekolah. Mengingat kembali hal yang pernah ia inginkan kepada Hyo Min
“tidak menunggunya lagi di depan gerbang sekolah”.
“apakah kau akan ke universitas setelah ini??” tanya Nari yang
mengagetkan Jeong Il.
“kau,, iya,,”.
“mungkin Hyo Min akan kembali ke gerbang itu, tapi hanya waktu yang
bisa menjawabnya,,” ucap Nari.
“kau bicara apa??”.
“selamat... kita semua sudah lulus...” terika Nari smabil merangkul
Jeong Il dan Dae Suk.
Jeong Il dan Dae Suk pun bingung dengan apa yang dilakukan Nari.
“kita akan ke universitas bersama-sama...” lanjut Nari.
Jeong Il hanya tertawa kecil.
“maaf, tapi aku tidak bisa,,” ucap Dae Suk.
“wae? Bukankah kau pernah bilang kau akan ke universitas yang sama
denganku?”.
“orang tuaku akan pindah ke jepang,, mianhaeyo..” jawab Dae Suk dan tersenyum
simpul.
“aku pergi dulu,, annyeong..” pamit Dae Suk kepada Jeong Il dan Nari.
Nari sedikit merasa ada yang berubah dari Dae Suk namun ia
memikirkannya dan mengajak Jeong Il untuk berteman.
Di tempat lain Hyo Min dan Minho juga merasakan bahagia atas
kelulusannya. Hari ini, di benak Hyo Min tidak terlintas Nari, Dae Suk, bahkan
Jeong Il. Ia merayakan kelulusannya bersama Minho dan ayahnya.
Hari itu juga Minho berkata pada ayah Hyo Min bahwa dirinya sudah
dibuat jatuh cinta oleh putrinya. Lantas Hyo Min yang mendegar itu pun tertawa.
“kau jangan tertawa,, ini serius..”.
“aku juga serius,,” balas Hyo Min.
“kalau begitu apakah kau juga mencintaku??”.
“kalau kalian mau berpacaran silahkan,,” timpal ayah Hyo Min.
“ayah,,” cletuk Hyo Min.
“ayah kan tidak berhak melarang, kalau putri kecil ayah memang sudah
ingin berpacaran,, silahkan..”.
Hyo Min hanya menyeringai dan memeluk ayahnya. Sementara Minho terseyum
kepada Hyo Min dan ayahnya.
“apakah kau tidak merayakannya dengan orang tuamu?” tanya ayah Hyo Min
kepada Minho.
“mereka sudah kembali ke korea 1 bulan lalu,, mungkin bulan depan
mereka ke USA lagi,,”.
“apa tidak capek??”.
“maklum ayah, mungkin orang tuanya mempunyai jasa trafel,,”.
Minho hanya tertawa mendengar ucapan Hyo Min yang kemudian membuat ayah
Hyo Min juga ikut tertawa.
..........
7 tahun kemudian
Gelar siswa sudah di lepas oleh Jeong Il dari 7 tahun lalu,bahkan gelar
mahasiswa pun sudah ia lepas, namun setiap pulang dari kerja barunya, tak ada
bosannya ia melihat keadaan gerbang sekolah SMA. Berharap Hyo Min kembali
menantinya.
“dangsinu geuriwo,,” ucap Jeong
Il lirih.
Keadaan di antara Hyo Min dan Minho juga berubah total, meski Hyo Min
masih sering teringat oleh perasaannya kepada Jeong Il dulu karena beberapa
bulan lalu, di USA, Hyo Min dan Minho melaksanakan pertunangan. Semua orang
juga merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Hyo Min dan Minho.
Begitupun dengan rencana setelah pertunangan, mereka berdua akan
menikah setelah kembalinya mereka ke korea, sebab Hyo Min hanya ingin merayakan
pernikahannya di korea dan bertempat di rumahnya.
..........
Beberapa bulan kemudian itu Hyo Min dan Minho memutuskan untuk kembali
ke korea sementara orang tua mereka sudah kembali beberapa hari yang lalu.
Sekitar pukul 7 malam, Hyo Min dan Minho sampai di bandara Incheon.
Mereka segera menuju ke rumah Hyo Min. Tiba-tiba sebuah kenangan akan Jeong Il
teringat oleh Hyo Min.
“kenapa Hyo Min tidak pernah menelfonku walau hanya sekali???” tanya
Nari ketika berjalan pulang dari tempat kerjanya.
“Han Nari!!!” teriak Jeong Il dari belakang.
“kau?? Ada apa??”.
“ini barang yang kau pesan kemarin,,”.
“wahh lucu,, gomawo..”.
“ne,, kau pulang dari kerja??” tanya Jeong Il.
“ne,,” jawab Nari.
“maaf sudah merepotkanmu,, oh ya, apakah kau merasa rindu kepada Hyo
Min??”.
“ne gwenchana,, rindu?? Mungkin ada,,”.
“kau menyukainya??.
“omo! Aku sudah terlambat,, mian,, annyeong”.
Melihat Jeong Il Nari pun tertawa.
“deo josim..” teriak Nari.
........
“ayah aku pergi dulu,, Minho sudah berangkat kesini,, annyeong”.
“ne,, annyeong.. deo josim,,”.
Saat keluar dari rumahnya ia melihat Minho sudah ada di depan rumahnya.
Hyo Min tersenyum melihat Minho.
“cepat sekali,,”.
Minho hanya terseyum.
“kita ke toko kue,,”.
“ak sudah tahu, di telfon kau juga bilang itu,,”.
“ahh Minho-ssi,,”.
“ne??”.
“maukah kau ku ajak kerumah temanku??”.
“baiklah”.
Hyo Min hanya tersenyum mendengar jawaban Minho.
“apa kau gila memesan kue sebanyak ini,, apa kau akan
menghabiskannya??” tanya Jeong Il kepada Nari.
Nari hanya mengangguk.
“aku lapar,,sudah cepat makan..”.
“apa tidak bisa membeli makanan saja??”.
“ini lebih enak,,”.
Saat ingin memakan kuenya, Nari tiba-tiba menaruh kemabali kuenya di
atas piring karena melihat seseorang yang mirip dengan Hyo Min.
“kenapa tidak jadi?? jangan khawatir rasanya enak,,”.
“jamkkanman Jeong Il,,” jawab Nari.
Ketika Hyo Min dan Minho masuk, Nari langsung memanggil Hyo Min. Jeong
Il pun terkejut. Tak hanya Hyo Min yang menoleh, namun Minho juga.
“Nari, Han Nari??” ucap Hyo Min.
“benarkah ini kau Hyo Min??”.
“ne,, nan dangsini neomu bogosipeoyo Nari...” Hyo Min langsung memeluk
Nari.
“jangan memelukku,”.
“wae??”.
“tidak pernah memberi kabar, pergi juga diam-diam, teman macam apa kau
ini,,”.
“jangan berdiri,, kaja duduk,,” ucap Minho.
“aku duduk disana,,” jawab Nari menunjuk temat duduknya.
Hyo Min dan Minho pun menghampiri tempat duduk Nari yang sudah ada
Jeong Il disana.
“Hyo Min,,” ucap Jeong Il.
“kau bersamanya??” tanya Hyo Min terkejut.
“eotteohkae Jinae??” tanya jeong Il tek menghiraukan pertanyaan Hyo Min.
“baik,,” jawab Hyo Min serambi duduk.
“dia siapa??” tanya Nari.
“dia,,” sambil sesekali Hyo Min melirik Jeong Il.
“dia tunanganku,,”.
Jeong Il sontak terkejut, namun tak ia perlihatkan, meskipun dia hampir
menjatuhkan kue di atas sendok yang sedang ia pegang.
“Park Minho,,” ucap Minho sambil mengulurkan tangannya ke pada Nari dan
Jeong Il.
“Han Nari,”.
“Kim Jeong Il,,”.
“aku yang akan membeli kuenya” bisik Minho.
Hyo Min hanya mengangguk.
“oh ya,, kemana si murid baru? Kenapa tidak bersama kalian??” tanya Hyo
Min.
“dia sudah pindah, ke jepang,, beberapa menit saat pengumuman kelulusan”
jawab Nari.
“jeongmal???” tanya Hyo Min sedikit tidak percaya.
“apa kau tidak percaya?” tanya Jeong Il sambil melirik Nari.
“Nari benar” jawab Jeong Il.
“apa kau sudah selesai, Hyo Min-ssi??” tanya Minho kepada Hyo Min saat
sudah mendapatkan kuenya.
Hyo Min menanggapinya dengan tersenyum.
“apa kau tidak mau tahu aku??” tanya Nari kepada Minho.
“aku sudah mendengar banyak tentangmu darinya,,” jawab Minho.
“berarti tiap detik dia bercerita tentangku??”.
“ne,, katanya, kau sep-”.
Hyo Min segera menutup mulut Minho.
“hya! Hyo Min-ssi, kenapa kau tutup mulutnya..”.
“karena dia s-”.
“jangan bicara lagi!” ucap Hyo Min kesal.
“ohh ya, Nari kau suka pesta kan??” tanya Hyo Min.
“waeyo?? Apa kalian akan menikah??” tanya Nari mengada-ada.
Minho hanya terseyum, sementara Hyo Min menyeringai, namun Jeong Il
merasa dirinya kini sudah menjadi orang masa lalu Hyo Min.
“dua hari lagi” jelas Hyo Min.
“apa dia pernah bercerita hal bodoh yang pernah dia lakukan??” tanya
Nari kepada Minho.
“ani,”.
“baiklah, akan aku ceritakan,,”.
“ahh baiklah,, aku tidak mau mendengarnya,, aku pulang dulu!!” ucap Hyo
Min kesal dan meninggalkan Minho dengan teman-temannya.
“baiklah,, aku pulang dulu,, annyeong” pamit Minho.
“ne,,” jawab Nari.
“apakah ini kenyataan??” tanya
Jeong Il ketika Minho pergi.
“jelas kenyataan,,” jawab Nari mantap.
“baiklah,,aku pulang dulu,,aku ada janji dengan ibuku”.
“hya! Hei Jeong Il-ssi!!!”.
Tak menghiraukan teriakan Nari, Jeong Il langsung pergi meninggalkan
Nari di toko kue.
“aku kira kau akan santai menanggapi semua ini,” bisik Nari.
.........
“pesta ini sangat mewah Hyo Min,,” ucap Nari.
“Jeong Il kemana??” tanya Hyo Min.
“molla,,”.
“ tapi sekali lagi selamat ya.. oh ya, kau Minho-ssi, Hyo Min orangnya
sedikit,, yahh sedikit begitulah,, bagaimana kau bisa menikahi wanita seperti
dia??” lanjut Nari.
“sedikit gila??” tanya Minho.
“mwo!!!” cletuk Hyo Min sambil memukul kepala Minho.
“Nar-”.
“maaf baru datang,, Hyo Min-ssi, Minho-ssi,, aku ucapkan selamat ya,,”
ucap Jeong Il.
Untuk yang pertama kalinya Hyo Min menjabat tangan Jeong Il.
“kau tau,, perasaan itu masih ada,, namun aku harus membuangnya sejauh
mungkin, sekarang kau temanku, ya temanku.. jika ada kehidupan lagi, aku berdoa
aku bisa bersamamu” bisik Hyo Min dalam hati.
“jika aku boleh memilikimu di hari nanti, aku akan menantinya,,” bisik
Jeong Il dalam hati.
Beberapa jam kemudian pesta tersebut usai. Nari dan Jeong Il berpamitan
pulang.
“Hyo Min, Minho, semoga kalian bahagia dan langgeng sampai akhir
hayat,, sekarang,,kita pulang dulu... annyeong...” ucap Nari.
“deo josim...” ucap Hyo Min dan Minho.
“semoga kau bisa menemukan pasanganmu yang lebih dariku, Kim Jeong Il,,
annyeong..” bisik Hyo Min dalam hati ketika melihat Jeong Il melangkah pergi.
Sesampai di rumah, Jeong Il menulis beberapa kata di dalam sebuah buku
yang pernah ia temukan di bawah meja Hyo Min. Ia sempat berfikir, kenapa Nari
tidak tau tentang buku itu. Tapi karena saat itu keadaan kelas Hyo Min kosong,
ia hanya melakukan 1 hal, yaitu
mengambilnya.
“Hyo Min, cinta ini akan aku simpan, berharap aku bisa bertemu denganmu
di kehidupan selanjutnya dan jika kesempatan datang kepadaku, aku tidak akan
melakukan hal bodoh seperti ini.. hari ini kau sudah menjadi miliknya.. semoga
hidupmu bahagia bersamanya.. Najunge bol su..”.
END.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar