“beberapa hari yang lalu, terlihat artis Kim
Yong Jin sedang berbicara dengan seorang yeoja di salah satu halte di daerah
Seoul, dan yeoja itu sangat mirip dengan yeoja beberapa waktu lalu”.
“apa-apaan ini?” ucap Dong Hoon ketika masuk ke dalam apartemen Yong Jin dan
membanting koran di tangannya. Sontak Yong Jin yang sedang makan pun terkejut
melihat Dong Hoon masuk dengan marah-marah.
“wae?” tanya Yong Jin.
“mengapa ini
terjadi lagi?” tanya Dong Hoon dengan menunjuk foto yang ada di koran.
“apa kau
bisa lebih tenang,” ucap Yong Jin.
“bagaimana aku bisa tenang? Kalau di koran
ini bukan yeoja pelayan itu aku tidak akan begini!”.
“apakah aku harus
menjalin hubungan dengan sesama artis? Apakah kau orang tuaku? Apakah kau
penentu hidupku?” bentak Yong Jin seketika.
Amarah Dong Hoon semakin menjadi-jadi apalagi setelah
mendengar bel berbunyi dan membukakan pintu.
“mian pagi-pagi menganggu, aku han-”.
Ucapan Soo Ra terputus ketika ia di tarik masuk oleh Dong Hoon.
“wae geurae!”
teriak Soo Ra.
“apa kau berani teriak setelah melihat ini? Mengapa kau selalu
membuat gosip tentang Yong Jin? Apa tidak ada artis lain ha?!” bentak Dong
Hoon.
“m-mwo-mwoya? bu-bukankah itu”.
“wae? Bukankah apa?
Dari awal semenjak aku bertemu denganmu aku memang punya perasaan tidak enak”. “j-j-jeosonghamnida..
aku tidak tau semua itu akan terjadi lagi,”. “dasi? Apa maksudmu?” nada bicara
Dong Hoon sedikit menurun.
“la la la.. makanan
ini pasti akan sedikit membuang beban oppa,” gumam Shin Min. “Soo Ra, sebaiknya
kau pulang saja, gwenchana,” ucap Yong Jin. “annyeong oppa..” ucap Shin Min
yang langsung masuk tanpa mengetuk pintu. “ohh, Soo Ra-ssi, kenapa kau ada
disini? Hya, Dong Hoon-aa, ada apa dengan wajahmu? Kau semakin terlihat tua,”
lanjut Shin Min. “gwenchana, mengantar sesuatu, aku permisi dulu, annyeong,,”
jawab Soo Ra. “ahh, arasseo, oppa, kenapa gosip yang tidak bermutu itu muncul
lagi? Hahh.. rasanya aku ingin berbicara dengan wartawan-wartawan itu kalau kau
nae namjachingu,” keluh Shin Min. “namjachingu? Kalian berpacaran?” ucap Dong
Hoon dengan keras hingga Soo Ra yang masih dekat dengan apartemen Yong Jin pun
mendengar.
“yeojachingu?” bisik
Soo Ra dalam hati.
“a-aniyo, Shin
Min-aa, kau bicara apa? Kapan aku bilang kita berpacaran? Ada-ada saja kau ini,
hah gosip itu memang tidak bermutu, kau benar sekali, tapi Dong Hoon selalu
percaya dengan semua itu,” balas Yong Jin. “hya oppa, bukankah aku pernah
mengatakan aku mencintaimu?” ucap Shin Min. “bukankah itu hanya untuk sebatas
ucapan dari adik kepada kakaknya? Naneun dongsaeng anieyo?” tanya Yong Jin
dengan santai. “oppa, apa kau tidak pernah mengerti perasaanku padamu?” tanya
Shin Min. “ne, arasseo, dangsini nae dongsaengiya,” jawab Yong Jin.
Seketika itu kotak
yang ada di tangan Shin Min pun terjatuh.
“oppa, dangsineun
agmaya!” bentak Shin Min yang langsung meninggalkan apartemen Yong Jin. “hya
Shin Min-aa! Gidarida!” teriak Yong Jin. Beberapa langkah setelah Yong Jin
berlari ia mendapatkan tangan Shin Min. “uljima, dangsineun silmang? Mianhae,”
ucap Yong Jin sambil memeluk Shin Min. “mianhae? Mian haessda? Kau tidak tahu
bagaimana perasaanku? Mengapa kau tidak pernah memahamiku?” bentak Shin Min. “mianata,
kau tetap bisa menjadi adikku, dorawa, uljima..” ajak Yong Jin.
“hah!! makanan
seenak ini kenapa di buang di lantai, sungguh menyusahkanku, semua orang
menyusahkanku,” keluh Dong Hoon ketika membersihkan lantai karena tumpahan
makanan yang di bawa Shin Min tadi.
“aku pulang saja,”
jawab Shin Min. “gwenchanayo?” tanya Yong Jin. Shin Min mengangguk. “aku tidak
yakin, dola gagi,” ucap Yong Jin yang langsung menarik tangan Shin Min. “hya
oppa!” teriak Shin Min. “kenapa kau pergi begitu saja tanpa membersihkan
makanan yang kau tumpahkan ha?” teriak Dong Hoon seketika saat melihat Yong Jin
dan Shin Min kembali.
“geureomnikka?” ucap
Shin Min tanpa menghiraukan teriakan Dong Hoon. “mwo?” tanya Yong Jin. “kau
hanya menganggapku adik, apakah ada yeoja yang kau sukai? Apakah dia secantik
aku? Atau lebih cantik?” tanya Shin Min. Yong Min tersenyum simpul. “hya! oppa!
Daedab!” teriak Shin Min. “apa jangan-jangan yeoja yang di beritakan bersamamu
itu yeoja yang kau suka?” tebak Shin Min. “hah!! geugeoseun
bulganeunghabnida!”
cletuk Dong Hoon dengan nada tinggi. “hya Dong Hoon-ssi, tidak ada yang
bertanya padamu, oppa, ppaleun chungjeon,” balas Shin Min. Yong Jin kembali
tersenyum simpul. “aku mau mandi dulu,” ucap Yong Jin. “hya oppa!”.
“rasanya seperti
sesak di dada,” cletuk Soo Ra tiba-tiba. “dangsineun apa?” tanya Song In.
“aniyo, hanya sedikit merasa- ah.. pelanggan sudah semakin banyak aku layani
dulu ne,”. “hya! Soo Ra-aa! Waeyo?” teriak Song In.
Hari semakin malam,
Soo Ra yang sedari pagi memikirkan tentang Yong Jin tak menyangka bahwa
perkerjaannya telah selesai. “apa kau mau lembur?” tanya Song In. “sudah jam
segini,” lanjutnya.
Melihat jam
dipergelangan tangannya pun Soo Ra terkejut. “sebenarnya kau kenapa?” tanya
Song In lagi. “gwenchana, kau pulang saja, biar nanti ku kunci,” jawab Soo Ra.
“arasseo,” balas Song In yang langsung meninggalkan Soo Ra.
Tak jauh dari tempat
bekerja Song In menunggu Soo Ra keluar, meskipun Soo Ra tak mengatakan apa-apa
ia tetap khawatir. Setelah beberapa menit menunggu, Soo Ra pun keluar, dan dari
arah berlawanan, Song In melihat Yong Jin yang tiba-tiba memeluk Soo Ra yang
baru saja keluar dari restoran, sontak Song In terkejut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar