Jumat, 26 April 2013

Part 12



beberapa hari yang lalu, terlihat artis Kim Yong Jin sedang berbicara dengan seorang yeoja di salah satu halte di daerah Seoul, dan yeoja itu sangat mirip dengan yeoja beberapa waktu lalu”. “apa-apaan ini?” ucap Dong Hoon ketika masuk ke dalam apartemen Yong Jin dan membanting koran di tangannya. Sontak Yong Jin yang sedang makan pun terkejut melihat Dong Hoon masuk dengan marah-marah. 
“wae?” tanya Yong Jin. 
“mengapa ini terjadi lagi?” tanya Dong Hoon dengan menunjuk foto yang ada di koran.
“apa kau bisa lebih tenang,” ucap Yong Jin. 
“bagaimana aku bisa tenang? Kalau di koran ini bukan yeoja pelayan itu aku tidak akan begini!”. 
“apakah aku harus menjalin hubungan dengan sesama artis? Apakah kau orang tuaku? Apakah kau penentu hidupku?” bentak Yong Jin seketika. 
Amarah Dong Hoon semakin menjadi-jadi apalagi setelah mendengar bel berbunyi dan membukakan pintu. 
“mian pagi-pagi menganggu, aku han-”. Ucapan Soo Ra terputus ketika ia di tarik masuk oleh Dong Hoon. 
“wae geurae!” teriak Soo Ra. 
“apa kau berani teriak setelah melihat ini? Mengapa kau selalu membuat gosip tentang Yong Jin? Apa tidak ada artis lain ha?!” bentak Dong Hoon. 
“m-mwo-mwoya? bu-bukankah itu”.
“wae? Bukankah apa? Dari awal semenjak aku bertemu denganmu aku memang punya perasaan tidak enak”. “j-j-jeosonghamnida.. aku tidak tau semua itu akan terjadi lagi,”. “dasi? Apa maksudmu?” nada bicara Dong Hoon sedikit menurun.
“la la la.. makanan ini pasti akan sedikit membuang beban oppa,” gumam Shin Min. “Soo Ra, sebaiknya kau pulang saja, gwenchana,” ucap Yong Jin. “annyeong oppa..” ucap Shin Min yang langsung masuk tanpa mengetuk pintu. “ohh, Soo Ra-ssi, kenapa kau ada disini? Hya, Dong Hoon-aa, ada apa dengan wajahmu? Kau semakin terlihat tua,” lanjut Shin Min. “gwenchana, mengantar sesuatu, aku permisi dulu, annyeong,,” jawab Soo Ra. “ahh, arasseo, oppa, kenapa gosip yang tidak bermutu itu muncul lagi? Hahh.. rasanya aku ingin berbicara dengan wartawan-wartawan itu kalau kau nae namjachingu,” keluh Shin Min. “namjachingu? Kalian berpacaran?” ucap Dong Hoon dengan keras hingga Soo Ra yang masih dekat dengan apartemen Yong Jin pun mendengar.
“yeojachingu?” bisik Soo Ra dalam hati.
“a-aniyo, Shin Min-aa, kau bicara apa? Kapan aku bilang kita berpacaran? Ada-ada saja kau ini, hah gosip itu memang tidak bermutu, kau benar sekali, tapi Dong Hoon selalu percaya dengan semua itu,” balas Yong Jin. “hya oppa, bukankah aku pernah mengatakan aku mencintaimu?” ucap Shin Min. “bukankah itu hanya untuk sebatas ucapan dari adik kepada kakaknya? Naneun dongsaeng anieyo?” tanya Yong Jin dengan santai. “oppa, apa kau tidak pernah mengerti perasaanku padamu?” tanya Shin Min. “ne, arasseo, dangsini nae dongsaengiya,” jawab Yong Jin.
Seketika itu kotak yang ada di tangan Shin Min pun terjatuh.
“oppa, dangsineun agmaya!” bentak Shin Min yang langsung meninggalkan apartemen Yong Jin. “hya Shin Min-aa! Gidarida!” teriak Yong Jin. Beberapa langkah setelah Yong Jin berlari ia mendapatkan tangan Shin Min. “uljima, dangsineun silmang? Mianhae,” ucap Yong Jin sambil memeluk Shin Min. “mianhae? Mian haessda? Kau tidak tahu bagaimana perasaanku? Mengapa kau tidak pernah memahamiku?” bentak Shin Min. “mianata, kau tetap bisa menjadi adikku, dorawa, uljima..” ajak Yong Jin.
“hah!! makanan seenak ini kenapa di buang di lantai, sungguh menyusahkanku, semua orang menyusahkanku,” keluh Dong Hoon ketika membersihkan lantai karena tumpahan makanan yang di bawa Shin Min tadi.
“aku pulang saja,” jawab Shin Min. “gwenchanayo?” tanya Yong Jin. Shin Min mengangguk. “aku tidak yakin, dola gagi,” ucap Yong Jin yang langsung menarik tangan Shin Min. “hya oppa!” teriak Shin Min. “kenapa kau pergi begitu saja tanpa membersihkan makanan yang kau tumpahkan ha?” teriak Dong Hoon seketika saat melihat Yong Jin dan Shin Min kembali.
“geureomnikka?” ucap Shin Min tanpa menghiraukan teriakan Dong Hoon. “mwo?” tanya Yong Jin. “kau hanya menganggapku adik, apakah ada yeoja yang kau sukai? Apakah dia secantik aku? Atau lebih cantik?” tanya Shin Min. Yong Min tersenyum simpul. “hya! oppa! Daedab!” teriak Shin Min. “apa jangan-jangan yeoja yang di beritakan bersamamu itu yeoja yang kau suka?” tebak Shin Min. “hah!! geugeoseun bulganeunghabnida!” cletuk Dong Hoon dengan nada tinggi. “hya Dong Hoon-ssi, tidak ada yang bertanya padamu, oppa, ppaleun chungjeon,” balas Shin Min. Yong Jin kembali tersenyum simpul. “aku mau mandi dulu,” ucap Yong Jin. “hya oppa!”.
“rasanya seperti sesak di dada,” cletuk Soo Ra tiba-tiba. “dangsineun apa?” tanya Song In. “aniyo, hanya sedikit merasa- ah.. pelanggan sudah semakin banyak aku layani dulu ne,”. “hya! Soo Ra-aa! Waeyo?” teriak Song In.
Hari semakin malam, Soo Ra yang sedari pagi memikirkan tentang Yong Jin tak menyangka bahwa perkerjaannya telah selesai. “apa kau mau lembur?” tanya Song In. “sudah jam segini,” lanjutnya.
Melihat jam dipergelangan tangannya pun Soo Ra terkejut. “sebenarnya kau kenapa?” tanya Song In lagi. “gwenchana, kau pulang saja, biar nanti ku kunci,” jawab Soo Ra. “arasseo,” balas Song In yang langsung meninggalkan Soo Ra.
Tak jauh dari tempat bekerja Song In menunggu Soo Ra keluar, meskipun Soo Ra tak mengatakan apa-apa ia tetap khawatir. Setelah beberapa menit menunggu, Soo Ra pun keluar, dan dari arah berlawanan, Song In melihat Yong Jin yang tiba-tiba memeluk Soo Ra yang baru saja keluar dari restoran, sontak Song In terkejut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar